
"Kau di mana? Apa bisnismu itu lebih penting daripada anakmu sendiri?"
Suara seorang wanita yang melengking tinggi penuh emosi menggema di dalam sebuah kamar. Dewi berteriak melalui sambungan telepon, mengubungi suaminya yang sejak tiga hari lalu pergi untuk melakukan perjalanan bisnis.
"Aku tidak tahu apakah bisa pulang atau tidak. Kalian jangan menungguku. Bersenang-senanglah!"
Kalimat Bardy sekaligus mengakhiri percakapan mereka. Dewi yang sudah emosi semakin memuncak.
"Bardy! Jangan pergi kau! Sialan!" Dewi membanting ponselnya ke atas ranjang, meremas sprei dengan kuat seolah-olah itu adalah sosok suami yang sering pergi meninggalkannya.
"Sialan kau, Bardy! Kau memang tidak pernah peduli pada keluarga. Dari dulu kau selalu mementingkan dirimu juga bisnismu. Sebenarnya apa yang kau lakukan di luar sana? Berbisnis ataukah hanya menghindari kami?"
Dewi menggerutu sembari mengeraskan rahangnya. Mata merahnya menyala penuh kebencian, kepalan tangannya memutih meremas kain sprei yang ia duduki.
Acara penyambutan si jabang bayi hari itu akan dilaksanakan di rumah mereka. Dewi mengundang semua teman sosialitanya juga rekan bisnis sang suami. Begitu pula dengan Aleena dan Cakra, mereka mengundang semua orang yang dikenal.
"Kau memang tidak pernah mencintaiku, Bardy. Kau hanya mencintai bisnis dan pekerjaanmu saja. Untuk apa semua harta ini, jika kini menjadikanmu seorang yang lupa daratan. Kau berubah sejak bisnismu melonjak, jarang di rumah, tak peduli pada anakmu, juga tak pernah tahu tentang perasaanku. Kau membuatku kecewa, Bardy."
Tangis Dewi pecah di hari bahagia sang putra sulung. Ia menangis sesenggukan menumpahkan luka di hati yang ditorehkan suaminya sendiri. Kenangan indah saat mereka hanya menjadi orang biasa, terbersit dalam ingatan.
Di mana dulu, Bardy hanyalah seorang biasa. Bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan temannya. Dia laki-laki yang penyayang, penuh perhatian, juga kasih sayang terhadap keluarga. Namun, setelah dia mendapatkan pinjaman modal untuk mengembangkan usaha sendiri, dia mulai disibukkan dengan bisnisnya.
Semakin berkembang, semakin menjauh dan keserakahan jelas terlihat pada sikapnya. Jarang sekali di rumah, semua waktu hampir dia habiskan di luar rumah untuk bisnis dan usahanya. Perlahan, posisi keluarga tergantikan oleh pekerjaan.
Namanya kian melambung tinggi di dunia bisnis. Mengalahkan Presdir dari perusahaan ternama Yeworks Company. Apalagi kursi Presdir di perusahaan itu kosong menunggu sang pewaris yang pergi entah ke mana.
"Dulu kau berjanji tak akan pernah disibukkan oleh dunia, sekarang kau justru semakin jauh dan melupakan keberadaan kami. Ke mana Bardy yang aku kenal dulu? Ke mana perginya suamiku?"
Dewi meremas sprei semakin kuat, air mata berjatuhan dari pelupuk membasahi kain putih tersebut. Gejolak hatinya memanas, kesakitan semakin nyata terasa. Luka itu kian hari kian menganga dan tak terobati. Semakin perih mengikis rasa yang ada. Menggantikannya dengan kebencian juga dendam yang kian tumbuh subur.
Dia wanita yang menyedihkan, hatinya sekarat dan hampir mati. Akan tetapi, semua itu ia pendam sendiri dan disembunyikan lewat keangkuhan. Lagipula, semua temannya adalah orang-orang angkuh. Mengaku sebagai pemilik kehormatan, padahal nyatanya mereka adalah manusia yang paling kesepian di dunia.
Meski harta bergelimang, tapi jiwanya hampa dan kosong. Tak ada kehidupan di dalam sana, bagai padang pasir yang tandus.
Tok-tok-tok!
Di tengah tangisannya, suara ketukan pintu memaksa Dewi untuk menjadi dirinya yang sekarang. Ia menghapus air mata, memperbaiki mimik wajahnya. Tak ingin seorang pun tahu tentang kesedihan yang selama ini dia pendam seorang diri.
"Ibu! Sudah banyak tamu yang datang, mereka semua menanyakan keberadaan Ibu. Apa Ibu ingin pergi bersamaku?" Suara Aleena terdengar dari luar kamar Ibu.
Dewi tercenung, mulai berpikir apakah semua itu penting? Ketidakhadiran Bardy selalu menjadi momok memalukan baginya. Ketika ditanya soal keberadaannya, Dewi selalu mencari berbagai alasan untuk menutupi kesakitan.
Ia menghela napas, mungkin itulah dunianya sekarang yang harus ia terima dan jalani dengan benar.
"Ya, sayang. Sebentar, Ibu akan bersiap," sahut Dewi dengan suara yang lantang.
Namun, dialah sang pemenang. Laki-laki yang tak banyak bicara, tapi dengan cepat dan tepat memberi bukti bahwa dia mampu memenuhi kebutuhannya. Untuk itulah, Dewi menerima lamaran Bardy dan mengarungi hidup bersamanya.
Kini, kulit kencang itu mulai mengendur. Timbul kerutan di beberapa bagian tertentu, kelopak mata sedikit turun, rambutnya pun telah memutih beberapa bagian. Oh, apakah dia sudah setua itu? Tua itu tidak dapat dicegah, bila sudah datang, tua itu pasti.
Dewi memoleskan make-up menyamarkan kerutan di wajah juga tanda penuaan yang lainnya. Rambut disanggul dan diberi jepit rambut berbentuk bunga di bagian belakang. Ia berdiri memperhatikan setiap detail penampilannya di depan cermin sebelum pergi menemui semua tamu undangan.
Dewi menarik napas kembali, menormalkan perasannya sebelum menarik tuas pintu. Membukanya, dan berjalan keluar kamar. Benar, rumah itu telah dipenuhi oleh para tamu undangan, bahkan Dareen dan Daisha pun telah tiba bersama tamu yang lainnya.
Wanita itu datang dengan digandeng oleh suaminya, mendapat cibiran dari beberapa wanita yang ada di dalam pesta. Istri-istri para pengusaha yang menyayangkan Dareen karena telah menikahi seorang gadis buta.
"Dia memang cantik, tapi sayang buta."
"Benar, kenapa Tuan Muda itu mau saja menikah dengannya? Padahal masih banyak wanita lain yang lebih sempurna."
"Mungkin wanita itu ingin naik derajatnya. Biasalah, orang kampung memang selalu begitu."
Cibiran serta sindiran ia dapatkan dari mulut wanita-wanita itu. Daisha yang mendengar, menoleh pada mereka. Tersenyum sambil menatap satu per satu wajah tersebut. Ia mengedipkan salah satu matanya, tersenyum lebih lebar sebelum berpaling kembali ke depan.
Mereka menjatuhkan rahang, bola mata pun turut membelalak. Apa yang terjadi? Dalam pikiran mereka semua sama, Daisha benar-benar menatap tidak seperti orang buta.
Keduanya terus melangkah semakin memasuki rumah. Di antara orang-orang itu, perasaannya kembali bereaksi. Ia merasakan kehadiran seseorang yang tak asing. Seseorang yang telah memberinya kegelapan dan menghancurkan segala impian.
Di mana kau bersembunyi?
Mata Daisha awas menilik sekitar, mencari sosok yang mendebarkan jantungnya. Semakin dekat semakin sesak terasa, bayangan kematian sang paman pun semakin nyata dalam ingatan.
Daisha tertegun, langkahnya terhenti seketika saat ia melihat satu sosok tersembunyi di balik kerumunan manusia. Sosok yang dibalut jas hitam, dengan bawahan berwarna senada. Juga sepatu yang mengkilap, sukses membangkitkan dendam Daisha.
Dareen mengernyit sambil memperhatikan sang istri yang menggeram penuh amarah.
"Sayang, ada apa?" tanyanya.
Daisha membelalak, merubah ekspresinya kembali menjadi senyuman. Oh, dia pandai berakting.
"Ah, tidak apa apa-apa. Aku hanya sedikit mual, boleh aku pergi ke kamar mandi?" ucap Daisha sambil berkedip lucu.
Dareen tertegun dibuatnya, sejak dia bisa melihat lagi sosoknya berubah menjadi ceria. Apakah dulu Daisha memang seperti itu?
"Yah, tapi jangan lama-lama. Kau masih ingat di mana letaknya?"
Daisha mengangguk, buru-buru berbalik dan meninggalkan Dareen sendirian. Matanya melirik sosok itu yang juga meninggalkan keramaian.
Kau tak akan pernah aku lepaskan!