Mohabbat

Mohabbat
Siapa Helen?



"Daisha, di mana pamanmu dimakamkan? Bibi tidak tahu di mana dia dan ingin mengunjunginya. Bisa kau beri tahu Bibi di mana?" tanya Areta setelah menikmati hidangan makan siang di villanya.


Daisha tercenung, teringat kembali pada saat ia terbaring di rumah sakit pasca kecelakaan. Seseorang mendatanginya mengaku sebagai pekerja Alejandro dan meminta persetujuan Daisha untuk memakamkan pamannya itu di belakang villa.


Namun, pada saat itu Daisha menolak dan meminta pak Deni memakamkan Alejandro di dekat orang taunya secara rahasia, dan sejak saat itu, makam ketiga orang tersebut menjadi rahasia yang tak banyak orang tahu.


"Aku bisa mengantar Bibi ke sana. Tempat ini tak banyak orang yang tahu, aku hanya tidak ingin makam ketiganya diketahui banyak orang. Bibi tenang saja, aku akan mengajak Bibi ke sana meskipun tidak dalam waktu dekat ini," sahut Daisha sambil tersenyum.


Dia hanya ingin memastikan bahwa wanita yang mengaku sebagai Areta adalah benar. Daisha harus tetap waspada meskipun tak merasakan bahaya bila berada di dekatnya.


Areta turut tersenyum, menyentuh lembut tangan Daisha berterimakasih padanya.


"Terima kasih, sayang. Tidak apa-apa, Bibi akan menunggu," katanya mengerti.


****


Di kantor, Dewi mendatangi Dareen dengan tergesa. Raut wajahnya terlihat tegang dan serius, langkahnya mengetuk lantai menggema di seluruh lorong. Tanpa mengetuk pintu, Dewi menerobos masuk ke ruangan Presdir.


Dareen yang sedang memeriksa dokumen mendongak, alisnya bertemu membentuk kerutan yang nyata. Tercenung dengan kedatangan Dewi yang tiba-tiba.


"Ibu, kenapa? Ada masalah?" tanyanya seraya menutup dokumen dan menunggu Dewi duduk di seberang mejanya.


Brugh!


Dewi meletakkan tasnya di atas meja Dareen, suara hantaman cukup menyentak laki-laki itu. Dareen meneguk ludah, mulai merasa cemas karena wajah Dewi yang merah padam.


"Ah ...."


Dareen menyela sebelum Dewi membuka mulutnya.


"Kebetulan aku ingin bertanya sesuatu kepada Ibu," katanya sambil tersenyum aneh.


Dewi mengernyit, wajah merah penuh amarahnya berubah menjadi bingung. Seketika emosi lenyap berganti dengan rasa penasaran.


"Apa?" ketus Dewi melipat kedua tangan di perut.


"Apa Ibu mengenal Nyonya Helen? Dua kali dia menghadiri pesta yang kita buat. Bukankah dia teman Ibu?" tanya Dareen mencari tahu soal Areta.


"Helen? Di mana kau mengenalnya?" Dewi memicing curiga. Kedua tangannya perlahan turun, merasa tertarik dengan pertanyaan sang anak.


Siapa yang tidak mengenal Helen, wanita berumur yang terlihat jauh lebih muda dari usia yang sebenarnya itu sukses membuat iri kelompok sosialita yang dikepalai oleh Dewi.


"Di pesta pernikahan Kakak kemarin. Dia terlihat elegan, seperti para bangsawan. Aku hanya ingin tahu dari keluarga apa Nyonya Helen?" jelas Dareen sembari menatap lekat kedua manik ibunya itu.


Dareen mengernyit, menelisik wajah ibunya dalam-dalam. Bukan karena Areta dari kalangan rendah, tapi Dareen melihat rasa iri yang terpancar di kedua mata coklat itu. Apakah Dewi merasa iri terhadap kecantikan Areta?


"Tapi aku lihat dia terlihat lebih muda dari usianya. Padahal yang aku tahu, usianya tak jauh beda dengan Ibu," tutur Dareen.


Dewi tertegun, bibirnya mengerucut panjang ke depan, tidak terima dengan pernyataan anak bungsunya itu.


"Hmm ... biasa saja. Paling dia melakukan operasi plastik untuk membuatnya tetap awet muda. Aslinya dia itu lebih tua dari Ibu." Dewi mendengus, berpaling dari Dareen menghindari tatapan anaknya.


Laki-laki itu terkekeh tanpa suara, mengulum senyum melihat bibir Dewi yang komat-kamit tak jelas. Mungkin saja dalam hatinya dia sedang menggerutu, mengumpati Dareen yang memuji kecantikan Areta.


Dewi menghentikan kekonyolannya, ia menurunkan tangan dan berpaling pada Dareen. Pandangan matanya telah berubah, tajam dan menusuk. Ia mendekat, bahkan sedikit membungkukkan tubuh mendekati Dareen.


Dareen tersenyum menampakkan sederet giginya yang putih dan bersih. Mood Dewi kembali marah, kulit wajahnya merah padam nyaris menghitam.


"Kudengar kau menolak lamaran Tuan Nugraha? Kenapa? Kau menghilangkan kesempatan emas untuk bergabung dengan perusahaan besar itu. Kau bodoh, Dareen. Benar-benar bodoh," cibir Dewi menuding wajah anaknya dengan geram.


Dareen mendesah, menjatuhkan punggung pada sandaran kursi mengurai rasa lelah. Ia sudah bisa menebak, kedatangan Dewi pastilah akan membahas tentang lamaran terkutuk itu.


"Ibu, aku sudah menikah, aku tidak menginginkan wanita lain untuk menjadi istriku. Cukup Daisha seorang yang akan menjadi istriku sampah aku mati, Bu," jelas Dareen tak terdengar keraguan dari setiap kata yang diucapkannya.


Dewi membelalak, kedua bola matanya hampir melompat keluar menghantam manik Dareen. Dia geram, emosi yang telah memuncak semakin meluap hingga tumpah ruah tak terkendali.


"Kau memang tidak menyayangi Ibu, Dareen. Wanita itu jauh lebih sempurna dari istrimu. Lagipula yang Ibu dengar dia tidak memintamu bercerai, hanya menginginkan posisi nyonya Alvaro untuknya. Itu saja. Apa susahnya, hanya menerima lamaran. Lalu, kalian menikah dan Ibu bisa tenang," saran Dewi yang jelas-jelas ditolak Dareen langsung.


Dareen menggelengkan kepalanya, sungguh tak habis pikir seorang Ibu akan merusak kebahagiaan anaknya sendiri.


"Ibu berniat menghancurkan rumah tanggaku. Merusak kebahagiaan yang telah aku dapatkan dan menggantinya dengan hal yang belum jelas. Dengar, Bu ...."


Dareen menjeda ucapan, menunduk sebentar sebelum kembali menatap kedua manik berkabut milik Dewi.


"Daisha adalah duniaku saat ini, dan masa yang akan datang. Dia yang bisa membuatku merasakan kebahagiaan yang nyata. Apa Ibu tega merusaknya? Memaksaku untuk menikah dengan wanita lain dan menyakiti Daisha. Itu tidak akan pernah terjadi. Selamanya, hanya Daisha yang akan menjadi nyonya Alvaro."


Dareen tidak lagi bersikap lemah di hadapan Dewi. Dia bukan lagi seekor kerbau yang dicocok hidungnya. Sama sekali bukan. Dareen ingin menjadi dirinya sendiri, tak ingin diatur dengan peraturan yang sifatnya egois. Hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan kebahagiaan orang lain.


"Kau tidak bisa menolak, Ibu sudah merencanakan semuanya. Kau akan tetap menikah dengan Lilia, jangan pernah membantah Ibu, Dareen," ucap Dewi tidak menerima penolakan.


Dareen kembali mendesah, dia tidak khawatir ataupun resah mendapati pasangan yang memiliki banyak kekurangan di mata orang lain. Baginya, Daisha-lah wanita paling sempurna di dunia ini.


"Kenapa tidak Ibu saja yang menikah dengannya? Jika Ibu menginginkan bergabung dengan keluarga itu, maka jangan pernah korbankan aku, Ibu. Sekarang, sebaiknya Ibu pergi karena aku sedang banyak pekerjaan," ucap Dareen tak ingin berlama-lama lagi bersama Dewi.


"Kau memang bodoh. Keterlaluan!" sengit Dewi sebelum beranjak dan pergi.