Mohabbat

Mohabbat
Kedatangan Sang Pewaris



"Kenapa kau membawa Ibu ke rumahmu?"


Dewi berjengit ketika mobil Dareen tiba di halaman rumah sederhana miliknya.


"Mau ke mana lagi? Aku lelah, Bu. Aku butuh tidur, hampir semalaman aku tidak tidur," jawab Dareen sembari mematikan mesin mobil dan turun darinya.


Ia menoleh ke bagian dalam mobil, tepatnya pada Dewi yang masih bergeming di sana.


"Ayolah, Bu. Apa Ibu ingin tidur di dalam mobil?" tanya Dareen sedikit kesal.


Dewi mendengus, saat ini hanya Dareen harapannya. Ke mana lagi dia harus pergi, dan siapa yang akan menolong selain anaknya itu. Ia turun meskipun hatinya menolak. Terus mengikuti langkah Dareen memasuki rumah sederhana milik mereka.


Seorang pekerja menyambut dan membukakan pintu, subuh datang begitu keduanya memasuki rumah.


"Antar Ibu ke kamarnya!" titah Dareen pada sang asisten.


Ia mengangguk seraya mengajak Dewi untuk mengikutinya. Rumah yang sangat kecil bagi seorang Dewi, hanya terdapat dua buah kamar saja. Dewi menempati kamar yang dulu ditempati Laila.


Dareen kembali ke kamarnya, melihat sang istri yang telah kembali terlelap dalam tidurnya. Ia tersenyum untuk kemudian merebahkan diri di samping Daisha dan memeluknya.


****


Pagi datang begitu cepatnya, Daisha telah terbangun dan menyiapkan sarapan untuk semua orang bersama sang asisten.


"Bi, jam berapa suamiku pulang semalam?" tanya Daisha di sela-sela menyiapkan makanan.


"Kurang lebih jam empat, Nyonya. Beliau tidak sendiri, datang bersama ibunya," beritahu pekerja itu sambil menilik wajah sang majikan.


Ia tahu permasalahan yang terjadi di antara mereka, mungkin saja Daisha keberatan Dewi tinggal bersamanya. Namun, melihat ekspresi wanita itu yang tidak berlebihan, sang asisten merasa lega.


"Sudah kuduga." Daisha menghendikan bahu seraya melanjutkan pekerjaannya.


"Bi, aku akan pergi sebentar. Jangan bangunkan mereka, biarkan mereka bangun dengan sendirinya," titah Daisha seraya melepas apron dan kembali ke kamarnya.


Ia keluar setelah membersihkan diri dan berpakaian dengan rapi. Layaknya seseorang yang akan pergi bekerja ke perkantoran. Ia juga mengambil kunci mobil Dareen dan mengendarainya.


"Beruntung, aku tidak lupa cara mengendarai mobil," gumamnya senang.


Mobil itu terus melaju di jalanan menuju sebuah gedung menjulang tinggi yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu saja.


Yeworks Company. Di dalam sana sudah berdiri sederet petinggi perusahaan di kanan dan kiri membelah menjadi jalanan. Di tengah-tengah mereka seorang laki-laki paruh baya memberi instruksi dengan serius.


"Hari ini, ketua baru kita akan datang. Aku harap kalian tidak membuatku malu di hadapannya. Lakukan tugas kalian dengan baik, laporkan tentang semua yang berjalan di perusahaan. Aku tidak ingin ada kesalahan sedikit pun. Kalian mengerti!" tegas laki-laki itu sambil menatapi satu per satu dari mereka yang berbaris di sana.


"Mengerti, Ketua!" sahut mereka serentak.


Mereka bersiap di posisinya, laki-laki itu maju ke depan menunggu kedatangan mobil Daisha. Sebuah mobil berwarna hitam melesat dengan kecepatan sedang dan berhenti di depannya.


Sebenarnya pihak perusahaan akan menjemput, tapi Daisha menolak dan akan datang sendiri. Laki-laki tadi membukakan pintu untuknya, Daisha perlahan keluar dengan mengenakan celana hitam panjang, kemeja putih dibalut blazer berwarna senada dengan celananya.


Kakinya yang jenjang dibungkus dengan high heels berwarna hitam pula. Sungguh berbeda dengan Daisha dalam kesehariannya. Seandainya Dareen di sana, mungkin laki-laki itu juga tak akan bisa langsung mengenalinya.


Aku benci sepatu ini, aku benci tatapan menjilat mereka. Kenapa Bibi memintaku untuk menduduki kursi sialan itu? Aku hanya ingin menjadi diriku, Daisha yang sederhana. Gadis desa dan kampungan. Bukan Daisha seorang keturunan Damian dan pewaris kursi itu.


"Selamat datang, Ketua!" sapa mereka sopan.


Daisha berdiri menghadap mereka, ditemani laki-laki yang dulu memintanya untuk menduduki kursi. Ia melirik, sedikit mendengus tatkala melihat senyum yang mengembang di bibir keriputnya.


"Terima kasih atas sambutan kalian. Mohon kerjasamanya!" Daisha menunduk sopan setelah diperkenalkan laki-laki tadi.


Laki-laki tadi memperkenalkan mereka satu per satu kepada Daisha juga jabatan yang dipegangnya. Daisha mengerti, ia berbalik setelah laki-laki tua itu mengajaknya untuk memasuki gedung.


Di dalam, para karyawan pun telah berbaris menyambut kedatangannya. Ia diajak berkeliling dan diberi penjelasan sebelum menuju ke ruangannya.


Daisha duduk di kursi kebesarannya, berputar sambil mengagumi ruangan yang dulu dihuni ayahnya. Di seberang meja, laki-laki tua itu duduk sambil tersenyum menelisik wajahnya. Dia bersama putra sulungnya yang akan menjadi asisten Daisha kelak.


"Dulu, kau sangat senang bermain di ruangan ini. Di dalam sana bahkan masih tersimpan semua yang menjadi mainanmu saat kecil," ujar laki-laki tadi membuat Daisha menghentikan aksinya bermain kursi.


Kenangan tentang ruangan itu bersama kedua orang tuanya melintas dalam benak. Menghadirkan rindu yang menggebu, rindu akan kebersamaan mereka yang dulu amat bahagia.


Daisha tak ingin berlarut dalam kenangan, ia menetralkan perasaannya, menghadap laki-laki tadi dengan serius.


"Paman, berikan aku daftar perusahaan yang berada di bahwa naungan perusahaan kita. Aku ingin melihatnya," pinta Daisha bersikap selayaknya seorang pimpinan.


Auranya menguar begitu kuat, mereka seperti melihat Damian yang bangkit kembali. Laki-laki tadi meminta kepada sang putra, sebuah dokumen diserahkannya kepada Daisha.


Istri Dareen itu membukanya dan membaca satu per satu setiap huruf yang tertera di atasnya. Di dalamnya tercantum perusahaan milik sang suami, milik keluarga Nugraha, milik Dewantara, perusahaan Cakra juga milik orang tua Aleena.


Ia tersenyum sinis, itu bagus. Meletakkan dokumen tersebut ke atas meja seraya beranjak.


"Hei, kau mau ke mana? Pekerjaanmu sebagai CEO barulah dimulai," sergah laki-laki tadi ketika melihat Daisha yang hendak keluar dari ruangan.


Wanita itu menoleh, sambil tersenyum ia menghela napas.


"Bukankah aku sudah menjalankan bagianku? Sekarang, aku serahkan kembali kepada Paman dan ... siapa dia namanya?" Daisha menunjuk anak laki-laki itu.


"Rian, Nyonya. Nama saya Rian," jawabnya sambil menunduk.


"Ya, Rian. Selamat bekerja untuk kalian. Bekerjalah dengan sepenuh hati!" ucap Daisha sembari mengangkat kepalan tangannya ke atas.


Ia melengos begitu saja meninggalkan mereka berdua yang termangu menatapnya. Yang membuat mereka terheran adalah wajahnya yang terpasang tanpa berdosa sama sekali.


"Kenapa dia manis sekali?"


Tanpa sadar Rian bergumam lirih mengagumi Daisha.


"Ingat! Dia atasanmu dan dia sudah menikah," ingat sang ayah.


Pemuda tadi terkekeh sembari mengusap tengkuknya.


"Aku tahu."


Mereka harus kembali bekerja seperti biasanya, padahal berharap hari itu Daisha akan langsung menjalankan tugasnya. Bagaimana jika nanti Areta bertanya? Sedangkan wanita itu juga sedang dalam perjalanan menuju gedung.