Mohabbat

Mohabbat
Daisha Terluka



Ketiga mobil itu mengelilingi mobil Areta, mendesaknya untuk berhenti. Di sebuah tanah lapang yang dikelilingi gedung terbengkalai, Areta menghentikan laju mobilnya. Mereka duduk menunggu di dalam, memperhatikan setiap orang yang turun dari ketiga mobil itu.


"Berapa, Bibi?" tanya Daisha.


"Masing-masing empat orang. Kau yakin bisa mengatasi mereka, sayang? Bibi kira mereka membawa senjata," jawab Areta mencengkram kuat kemudi.


Daisha tersenyum miring, baginya mereka semua hanyalah semut yang mudah dibasmi.


"Kenapa mengkhawatirkan aku, Bibi? Seharusnya pikirkan saja kulit Bibi yang mulus itu karena membutuhkan biaya mahal untuk merawatnya," ejek Daisha sambil terkekeh kecil.


Areta membelalak, tapi tawa menyusul kemudian. Dia memang menghamburkan uang hanya untuk merawat kulitnya. Untuk itulah ia tampak lebih muda dari usia sesungguhnya.


"Kau benar. Hati-hati dengan kulitku!" Ia mengusap kulit tangannya yang masih terlihat kencang.


Para lelaki bertubuh besar telah mengelilingi mobil Areta. Wanita itu melirik satu demi satu setiap wajah yang terlihat sangar. Berpura-pura menjadi lemah sepertinya akan menyenangkan.


Sementara itu, Daisha terus diam tak melakukan apapun. Hanya kedua tangannya saja yang terlihat meremas ujung tongkat di depan wajah.


Tok-tok-tok!


"Keluar!"


Salah satu dari mereka mengetuk jendela dan meminta kedua wanita di dalam mobil untuk keluar. Bibi merubah riak wajah menjadi gadis polos yang penakut. Ia membuka jendela, menatap takut-takut pada semua laki-laki yang berada di dekat mobilnya.


"Tu-tuan, ada apa? Kenapa kalian mengepung kami?" tanya Areta gugup dengan raut wajah berpura-pura takut.


Dia bahkan membuat bibirnya gemetaran, seolah-olah benar-benar takut kepada mereka.


"Kami menginginkan wanita buta itu. Jika kau memberikannya kepada kami dengan sukarela, maka kami akan melepaskan dirimu," ucap laki-laki tersebut sembari menunjuk kepada Daisha yang tak bergerak.


Areta menoleh dengan wajah tercengang, tapi wanita buta itu tetap tak bereaksi. Dia tidak suka bermain peran, dan tidak pernah berbasa-basi.


"Kenapa kalian menginginkan dia? Dia hanya akan membuat kalian susah. Percaya padaku," ujar Areta bersungguh-sungguh.


Daisha hampir terpingkal karenanya, tapi sekuat tenaga menahan diri agar tidak sampai tertawa.


"Serahkan saja dia kepada kami, jangan banyak bertanya jika kau tak ingin kulitmu yang mulus itu aku gores," ancamnya sambil mengeluarkan sebuah belati tajam yang berkilat karena terpaan sinar matahari.


Areta memeluk dirinya takut, kemudian menangkup wajah sendiri, menggeleng sambil memelas.


Dia tertawa terbahak melihat kepolosan Areta, terbersit niat buruk di hatinya untuk melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan. Laki-laki itu menatap temannya yang berada di sisi Daisha, memberi perintah hanya lewat gerakan kepala saja.


Sigap, laki-laki lain membuka pintu mobil di sisi Daisha. Tepat saat pintu itu dibuka, tongkat Daisha melayang menghantam perut laki-laki tersebut. Tubuhnya terpental jauh, sampai terbatuk dibuatnya.


Di sisi lain, Areta yang melihat laki-laki di sisinya tercengang, tersenyum licik. Diam-diam membuka pintu mobil dan menghantamkannya ke tubuh laki-laki itu. Tidak begitu kuat karena hanya membuat tubuhnya termundur beberapa langkah saja.


Areta mendengus, bersama-sama mereka keluar. Daisha dengan tongkat di tangannya, sedangkan Areta tidak membawa apapun.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Daisha mematung dengan pandangan mata lurus ke depan.


Kedua manik itu terlihat hampa, kosong, dan seharusnya menjadi kelemahan. Mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.


"Kami ingin kau ikut dengan kami," jawab mereka.


Daisha memiringkan kepala ke arah sumber suara. Tersenyum sinis mencibir keinginan mereka.


"Hanya jika kalian bisa mengalahkan aku, barulah bisa membawaku bersama kalian," ucap Daisha terlihat tenang dan lemah.


Seperti halnya air yang terlihat tenang mengalir, tapi diam-diam menghanyutkan. Menarik para manusia pada kelemahannya sendiri.


"Mmm ... sombong! Dasar wanita tidak tahu diri, tak sadarkah kau seorang yang buta? Masih saja bersikap angkuh," ejek laki-laki lain dengan geram.


Daisha kembali memutar kepala ke arah si pemilik suara.


Bersiap menerima serangan dan balik menyerang. Di sisi lain, laki-laki yang terpukul mundur menggeram marah. Wajahnya menghitam dan berubah semakin jelek. Ia mengepalkan kedua tangan, maju melangkah mendekati sosok Areta.


"Beraninya kau memukulku!" geramnya sembari melayangkan kepalan tangan hendak menghantam wajah Areta.


Dengan gerakan cepat, wanita yang tak lagi muda itu menghindar sekaligus memberikan serangan balik. Di pukulnya leher laki-laki itu hingga ia tersungkur menghantam badan mobil.


Tak berhenti di sana, Areta memberikan tendangan pada bokongnya hingga jatuh terjerembab di tanah.


"Kau mau lagi?" katanya seraya berbalik saat mendengar suara lain mendekat. Sisi Areta sudah dimulai.


Daisha masih mematung, bergeming menunggu pergerakan. Ia menajamkan telinga, mengesampingkan indera lainnya. Hanya itu yang bisa dia andalkan. Pendengaran.


Daisha bersikap waspada, ketika dua orang mulai bergerak. Keduanya menyerang secara bersamaan, mengarahkan kepalan tangan pada Daisha. Akan tetapi, wanita itu dengan cepat dan tepat menghindar.


Ia memegang tangan salah satu dari mereka, menariknya dengan kuat, kemudian menghantamkan tongkatnya tepat di ketiak laki-laki itu. Terdengar rintihan darinya, Daisha berayun, sambil bertopang pada tongkat mengarahkan tendangan pada laki-laki lain yang kembali menyerang.


Keduanya tersungkur sambil memegangi dada. Mereka terkesima melihat aksi Daisha yang luar biasa.


"Hati-hati, Bibi. Mereka memiliki senjata," ingat Daisha sambil menerima serangan, menangkis, dan menyerang.


Areta mulai berhati-hati, beberapa dari mereka telah tumbang dengan cairan merah yang mengalir di salah satu sudut bibir. Yang tersisa mulai mengeluarkan senjata, berupa belati kecil yang tajam.


Daisha menggerakkan tongkatnya, memperkokoh senjata itu. Kuda-kuda terpasang dengan kuat tak tergoyahkan, mereka tidak boleh melarikan diri tanpa luka.


Pergulatan kembali terjadi, cukup membuat istri Dareen itu kewalahan lantaran mereka menyerang bersama-sama dengan senjata. Terpaksa Daisha menggunakan seluruh tenaganya untuk membuat mereka lebih cepat tumbang.


Napasnya tersengal dan berat, tapi ia masih berdiri dengan tegak. Sementara lawannya sudah tidak bertenaga sama sekali. Di sisi lain, Areta tak perlu mengeluarkan seluruh tenaga untuk membuat mereka semua tumbang.


Daisha melangkah pada salah satunya, hanya dia yang terdengar masih sadarkan diri. Yang lain, mereka terkapar meskipun hanya hilang kesadaran. Daisha menginjak punggung laki-laki itu, menekannya dengan kuat. Membuat dia menjerit dan memburu udara karena sesak.


"Katakan, siapa yang telah menyuruh kalian untuk menculikku?" tanya Daisha sambil memutar pijakan kakinya di punggung laki-laki itu.


"Di-dia ... di-dia. K-kau mengenalnya. Yah ... o-orang yang menaruh dendam pada-mu ...." jawabnya dengan napas memburu berat.


Daisha tercenung, berpikir tentang siapa saja yang menaruh dendam padanya. Ada banyak kandidat di otaknya yang berkeliaran bebas.


Laki-laki tadi melirik belati yang tergeletak di tanah, diam-diam mengambilnya. Lalu, menusukkannya pada kaki Daisha.


"Argh! Sial!"


"Daisha!" Areta memekik.


Daisha mengumpat, menggeram marah. Memusatkan tenaga pada kakinya, satu kali tendangan saja. Membuat tubuh laki-laki itu melayang jauh dan menghantam tembok gedung yang usang.


Tulang punggungnya patah, dia bahkan memuntahkan darah yang banyak. Jantung dan hatinya remuk, ambruk di tanah tanpa nyawa.


Daisha terjatuh, meraba belati yang menancap di kaki, seraya mencabutnya tanpa takut.


"Argh!"


"Daisha! Sayang, kau tak apa?" Areta mendekat dengan cepat.


Ia memeluk Daisha sambil menangis.


"Sudahlah, Bi. Ini hanya luka kecil, dua atau tiga hari pasti akan sembuh. Hanya jangan katakan pada suamiku sebab terjadinya luka ini," ucap Daisha membuat Areta tertegun.


Napasnya memburu berat dan terbata-bata dalam mengucap.


"Please!" Areta menghela napas, ia membawa Daisha ke rumah sakit terdekat. Setelah ini, apa lagi yang akan terjadi?