Mohabbat

Mohabbat
Keluarga Mafia



"Ibu! Ibu ...." Dareen berteriak, tapi tak ada yang mendengar.


"Panggil ambulans! Cepat!"


Suara tinggi itu melengking putus asa, bagai ringkikan keledai yang berada di ambang kematian. Air mata tak henti berjatuhan, bercampur dengan peluh yang juga deras mengucur. Keadaannya kusut dan tak sedap dipandang. Sungguh, dia sendirian sekarang.


Bibi sigap memenuhi yang diinginkan tuannya, Dewi dan Aleena dilarikan ke rumah sakit dan mendapat perawatan yang intensif. Kondisi Dewi yang drop karena terlalu syok, dan Aleena hampir kehilangan bayinya, sedangkan Dareen seperti mayat hidup yang tercenung sendirian.


Tatapannya hampa pada udara kosong, tak ada asa yang terpancar. Air mata menggenang di pelupuk penuh penyesalan. Dia yang berjanji kepada istrinya, dia pula yang tak mampu menepatinya.


Dareen terisak kala mengingat pancaran kekecewaan dari kedua manik Daisha. Ia melihat kesedihan mendalam di dalamnya. Siapa yang memberikan? Dia. Ya, laki-laki yang dulu berjanji akan menjaga senyumnya.


"Daisha, maafkan aku, sayang. Kumohon, jangan pergi jauh. Jangan!" ratapnya sambil menutup wajah.


Ia berada di depan ruang IGD menunggu tim medis menangani kedua wanita itu bersama dua orang lainnya yang menahan geram dalam kesedihan.


"Untuk apa kau meratapi wanita jahat itu? Dia sudah menyebabkan ibumu sakit dan hampir membunuh cucuku bahkan nyawa anakku pun hampir melayang karenanya. Wanita seperti itu tidak pantas untuk diratapi. Lagipula, aku tidak menyangka bahwa keluarga Dewantara memiliki anak seorang pembunuh. Malangnya nasib anakku harus menikah dengan seorang pembunuh," ucap ibu Aleena sembari menyusut air matanya.


Dareen bergeming tidak menyahut, pesta penyambutan bayi yang seharusnya meriah berubah dramatis berganti judul dengan pesta penyambutan pembunuh. Ia menunduk, bayangan Daisha terus menari di pelupuk, menghantui pikirannya.


Ingin rasanya dia berlari dan mendatangi rumah sang istri. Bersujud meminta maaf, dan kembali seperti semula. Melupakan kejadian tadi, kemudian menjalani kehidupan seperti biasa. Apakah bisa? Luka itu jelas terlihat di sana, memancar lewat sorot mata yang selalu damai dan menenangkan.


Akankah dia dapati kembali? Ataukah tak akan pernah ia jumpai lagi?


"Maafkan aku, istriku."


Tanpa mempedulikan ucapan wanita tadi, Dareen terus saja meratap. Tersedu sambil menunduk menutupi wajahnya. Bayangan kekecewaan Daisha benar-benar membuat hatinya hancur. Memupus asa untuk mereguk bahagia, menjauhkannya dari kata damai.


"Kau benar-benar tidak peduli pada keluarga sendiri, Dareen. Ibumu sekarat di dalam, dan kakakmu dibawa pergi entah ke mana? Kau malah asik meratapi wanita iblis itu. Di mana hati nuranimu, Dareen? Kau lebih menyayangi wanita sampah itu daripada keluargamu sendiri."


Bentakan itu tak ia pedulikan, seandainya ada Bardy di sana dia tak akan duduk menunggu.


"Aku heran kepadamu, Dareen. Kau lebih mempedulikan wanita buta itu daripada meratapi ibumu. Benar-benar tidak punya perasaan," lanjutnya sambil berdecak.


Ia menghela napas memikirkan nasib anaknya kelak. Sang suami di samping menenangkan, tapi amarahnya benar-benar meluap dan sulit dikendalikan. Dareen membuka tangan dan mengepalkannya.


Hatinya tidak bisa menerima Daisha dihina. Ia menemukan sosoknya sebagai permata di tengah himpitan kerikil jalanan. Terjaga dsn suci, selalu menenangkan ketika bersitatap, dan tersenyum ketika masalah menimpa. Daisha selalu memiliki solusi ketika dia buntu dalam mencari jalan. Tak akan pernah ia temukan kembali wanita sepertinya.


"Dia istriku, dan dia wanita terhormat. Anda harus ingat, Nyonya, bagaimana kelakuan putri Anda sebelum menikah dengan Kakak. Dia bahkan lebih hina dan lebih pantas disebut sampah. Bukan istriku," tolak Dareen dengan tegas.


Ia melirik orang tua Aleena, manik mereka beradu saling memancarkan api kebencian. Menyerang lewat sorot mata yang tajam.


"Kenapa? Apa kau belum bisa melupakan Aleena? Atau kau menyesal karena tidak menikah dengannya, dan justru malah kakakmu yang menikahinya. Hanya katakan saja bahwa Aleena lebih baik daripada wanita buta itu," sahut ibu Aleena tak ingin mengalah.


Dareen meradang, kepalan tangannya menguat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan.


"Jangan pernah merendahkan istriku, jika kau tak ingin hidup terlunta di jalanan," pungkas Dareen, seraya beranjak dan meninggalkan tempat itu.


Pikirannya yang jenuh bertambah keruh mendengar kata-kata kasar dari wanita yang mengaku memiliki kehormatan itu. Malas berdebat dengannya karena pasti tak akan pernah mengalah.


Di tengah perjalanan, dia melihat dua sosok yang berlawanan arah. Bardy berjalan dengan tergesa-gesa, bersamanya seorang laki-laki berusia tak jauh beda turut mengimbangi langkah. Yang Dareen tak habis pikir, di belakang keduanya seorang wanita lebih muda dari Dewi berjalan mengikuti.


Siapakah?


Namun, Dareen tak peduli untuk saat ini, dia bahkan mempercepat langkah meninggalkan rumah sakit. Bardy yang melihatnya mengernyitkan dahi, ia memapak langkah sang putra bungsu


"Kau mau pergi ke mana?" tanyanya sedikit cemas.


"Bukan urusan Ayah, Ibu di IGD dan membutuhkan kehadiran suaminya. Cepatlah, Ayah," katanya dengan cepat.


Dareen melirik wanita itu, kedua matanya menjegil mendengar perihal Dewi. Dareen tak lagi berucap, dia kembali membawa langkah meninggalkan rumah sakit. Ingin mencari Daisha, berharap dalam hati semoga Areta tidak membawa istrinya itu pergi jauh.


Bardy yang melihat kedua orang tua Aleena bergegas menghampiri, bertanya tentang keadaan menantu juga istrinya. Ia juga meminta mereka untuk menceritakan dengan jelas perihal kejadian tadi.


"Seperti itulah, Tuan. Kami juga tidak tahu harus bagaimana, yang pasti wanita itu mengacau di dalam pesta yang seharusnya meriah dan bahagia. Semuanya berubah karena menantu Anda itu," ucap ibu Aleena dengan ketus.


Hatinya selalu bergolak ketika teringat pada Daisha. Dia mengancam akan membalasnya suatu hari nanti jika mereka bertemu secara kebetulan, ataupun mendatangi dirinya langsung ke tempat dia tinggal.


Bardy menghela napas berat. Mulai berpikir keliru tentang Daisha, ia sendiri tidak tahu Cakra terlibat dalam pembunuhan paman wanita itu. Sekarang bagaimana? Dia masih belum bisa memikirkan apapun.


Wanita yang bersamanya hanya diam mendengarkan sepanjang kisah kejadian di halaman belakang rumah itu. Hal tersebut mengundang kecurigaan dari besannya itu. Ayah Aleena menilik penampilannya dari atas hingga bawah. Dia terlihat seperti seorang wanita karir.


"Maaf, Tuan, siapa wanita ini?" tanyanya tanpa menurunkan kecurigaan.


Bardy melirik, lama mereka saling menatap seolah-olah sedang melemparkan kode rahasia.


"Dia sekretarisku. Kami sedang mengadakan meeting bersama klien saat aku mendengar kabar tentang kekacauan di rumah. Jadi, wanita itu membawa Daisha dan Cakra pergi? Apa kalian tahu siapa dia?" ucap Bardy yang kemudian bertanya mengalihkan pembicaraan.


"Dia mengaku sebagai istri Alejandro, dan membawa Cakra begitu saja dengan kejam. Kenapa dia bisa sampai berurusan dengan keluarga mafia itu? Jika dia mengaku sebagai pamannya, maka menantu Anda itu adalah keponakan seorang mafia."


Bardy tercenung mendengarnya, permasalah semakin rumit. Dia mengenal kedua orang tua Daisha, tapi sama sekali tidak mengenal keluarganya. Dia tahu tentang Alejandro, tapi tidak tahu jika mafia itu adalah paman menantunya.


Bardy mendesah, dadanya terasa sesak.


****


Maafkan Kakak semua, belum bisa up seperti biasa. Terima atas semua doa, maaf juga belum bisa balas komentar. Terima kasih banyak. Sayang kalian.