
Di malam hari, laki-laki itu menghadap seseorang yang telah menyuruhnya memata-matai toko Daisha. Sambil berdesis merasakan perih di salah satu sudut bibirnya yang sempat terkena pukulan si Gadis Buta, ia membanting diri di sebuah kursi rotan.
"Rasanya perih sekali, aku sudah salah menduga. Kukira dia hanya wanita biasa dan tak becus apa-apa, nyatanya dia sangat peka," gumamnya sambil memegangi bibir.
"Aw! Tanganku, ngilu sekali." Dia kembali memekik saat menggerakkan tangan yang lain langsung disambut rasa ngilu di tulang telapak tangannya.
Ia menatap bekas tongkat Daisha yang membiru di telapak tangan. Sungguh luar biasa gadis itu, mampu membuat kulit tebalnya mendapatkan bekas hantaman.
"Sekuat apa tenaganya? Bukankah dia hanya seorang gadis, dan gadis tidak lebih kuat dari laki-laki. Ah, sial!" umpatnya sambil mengibas-ngibaskan tangan yang terasa ngilu.
Teringat pada seringai yang tercipta di bibir Daisha, ia bergidik ngeri. Seolah-olah baru saja berhadapan dengan seorang penjahat berhati dingin. Cukup sudah dia menerima pekerjaan itu karena tak ingin lagi berurusan dengan si Gadis Buta.
"Ada apa denganmu? Kau terlihat kesakitan, siapa yang sudah memukuli laki-laki bertubuh besar seperti dirimu ini?" tanya Dewi seraya duduk di samping laki-laki tersebut.
Ia berdesis diakhiri decakan kesal. Wajahnya berpaling kala Dewi hendak memeriksa.
"Kau bertengkar? Tapi siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Dewi lagi menganggapnya hanya sebagai pertengkaran anak muda biasa.
Lagi-lagi pertanyaan Dewi disambut dengan decakan. Kesal sendiri bila mengingat kejadian tadi siang, di mana ia dengan mudanya dikalahkan Daisha.
"Semua ini karena gadis buta itu, aku tidak menduga dia memiliki gerakan yang begitu cepat. Jika tahu, tak akan aku bersikap ceroboh seperti tadi," sungutnya dengan raut wajah kesal yang tak ditutupi.
Alis Dewi terangkat, tak merespon untuk beberapa saat saja sampai tawanya memecah kesunyian taman kecil itu. Laki-laki tadi mendengus kesal, tak senang ditertawakan oleh wanita di sampingnya.
"Kenapa kau tertawa? Kau senang melihatku babak belur begini? Puas!" hardik laki-laki tadi dengan kesal.
Ia kembali berpaling menatap air mancur yang menebarkan bunyi gemericik di kesunyian. Tangannya saling meremas satu sama lain, amarah semakin membuncah tak terkendali. Ingin dia datang lagi dan membuat perhitungan dengannya. Namun, Daisha hanyalah seorang gadis, lagipula gadis buta itu sama sekali tak membuat masalah.
Dewi meredakan tawa, menyusut air mata yang menggenang akibat tawa yang ia perdengarkan.
"Kau ini lucu sekali, laki-laki sepertimu bisa dikalahkan oleh gadis buta. Apa saja yang kau lakukan hingga kau bersikap lengah. Lihat akibatnya, wajahmu lebam, juga ... apa ini? Astaga! Apakah ini juga perbuatannya?" pekik Dewi saat tak sengaja melihat telapak tangan laki-laki itu yang kebiruan.
Ia menarik dengan cepat tangan yang dipegang Dewi menyembunyikannya agar wanita itu tidak melihat.
"Katakan padaku, bagaimana caranya melakukan itu padamu?" tanya Dewi menyelidik.
Laki-laki berjanggut tipis itu menghela napas, melempar pandangan ke depan, mengingat-ingat kembali kronologi kejadian saat ia dijatuhkan Daisha.
"Entahlah, semua itu terjadi begitu cepat. Dia tahu aku mengintai tokonya, bahkan dia seolah-olah tahu siapa yang menyuruhku. Sebaiknya kau harus berhati-hati, aku merasa dia bukanlah gadis sembarangan. Dia bukan gadis lemah meskipun buta, dia berbahaya," ucapnya sambil menatap serius kedua manik Dewi.
Mata wanita yang tak lagi muda itu berkedip, masih tak percaya pada apa yang didengarnya. Sungguh di luar logika, bagaimana mungkin seorang yang buta bisa tahu siapa saja yang hendak berbuat jahat padanya.
"Rasanya aku tidak percaya, semua yang kau katakan itu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin dia melakukannya? Bukankah dia tidak bisa melihat? Lalu, apakah dia menghajarmu menggunakan tongkatnya itu?" cecar Dewi lagi antusias.
Sang lawan bicara memalingkan wajah sambil menghirup udara malam yang sejuk. Tumbuhan yang ditanam di sana memberikan udara segar membuat paru-paru merasa lega.
"Kau benar, dia memang menggunakan tongkatnya untuk memukul ulu hatiku. Rasanya perih dan panas, sampai sekarang pun aku masih bisa merasakan perihnya." Dia menunjuk bagian ulu hatinya yang masih terasa perih.
"Lalu, bagaimana? Apa kau masih mau melanjutkan pengintaian? Ataukah kita sudahi saja sampai di sini. Aku tak ingin lagi terlibat dengan gadis buta itu," katanya mengungkapkan kegelisahan.
Dewi menghendikan bahu, ia tak ingin berhenti begitu saja sampai apa yang dia inginkan tercapai. Dareen dan gadis buta itu tidak boleh bersatu, dan berpisah selama-lamanya.
"Aku tidak akan berhenti sampai tujuanku berhasil. Dia harus menjauh dari kehidupan Dareen, memang seharusnya dia tidak pernah ada," kecam Dewi dengan manik yang berkilat-kilat.
Lagi-lagi lelaki berjanggut itu hanya menghela napas, Dewi memang wanita yang keras kepala. Dari sejak kecil, apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan meskipun akan menyakiti perasaan orang lain.
"Dan bagaimana dengan rencanamu yang itu?" tanya laki-laki tadi sambil memperhatikan raut wajah wanita itu.
"Apa lagi? Tentu saja harus berhasil, tidak ada yang boleh menggagalkan rencanaku. Tidak boleh!" tegas Dewi dengan mata yang memicing tajam.
Tanpa mereka sadari satu sosok laki-laki lainnya tengah memperhatikan dari balik jendela kaca. Dahinya mengernyit penasaran teringin tahu apa yang sedang diperbincangkan dua orang di kursi taman tersebut.
Dia melangkah meninggalkan tempatnya bersembunyi. Dengan langkah pelan dan nyaris tanpa suara, semakin mendekat pada keduanya. Alisnya bertaut sempurna saat mendengar kata 'rencana' keluar dari mulut wanita di sana.
"Rencana? Rencana yang yang sedang mereka susun?" Dia bermonolog sambil terus melangkah semakin mendekat.
"Ekhem! Kalian asik sekali berbincang sampai-sampai lupa padaku," tegur laki-laki yang tak lain adalah Bardy, suami Dewi.
Kedua manusia itu menegang seketika, bahkan napas mereka berhenti untuk beberapa saat lamanya.
"Dewi! Kenapa diam? Apa aku boleh duduk di sini bergabung dengan kalian? Sudah lama sekali rasanya sejak Dareen menghilang. Kehangatan di rumah ini tak aku rasakan," pinta Bardy diakhiri helaan napas membuang beban berat di atas pundaknya.
Dewi gugup, gelagapan tak mampu menjawab.
"Si-silahkan, sayang. Lagipula siapa yang melarangmu? Kau bisa duduk di mana saja sesuai kursi yang kau inginkan," ucap Dewi bergetar dan tergagap.
Bardy tersenyum, mengangguk pelan sebelum menarik kursi untuk dia duduki.
"Terima kasih, sayang. Kau memang penuh pengertian," sahut Bardy setelah duduk di kursinya.
Ia meraih tangan Dewi dan menggenggamnya, mengecupnya tanpa segan sebagai ucapan terima kasih atas semua perhatian yang dia berikan.
Dewi tersipu, tersenyum malu sambil menunduk. Namun, laki-laki yang tadi berbincang dengannya itu justru mencibirkan bibir kesal.
"Jangan sungkan, aku ini istrimu," katanya malu-malu.
"Oya, bagaimana hari pertama Dareen menjabat sebagai Presdir?" Dewi bertanya penasaran.
"Mmm ... cukup bagus untuk ukuran orang yang pertama kali menjabat. Kau patut bangga sebagai ibunya," katanya yang lagi-lagi memuji Dewi.
Rayuan demi rayuan, kata-kata romantis yang disusun menjadi kalimat, benar-benar membuat Dewi hanyut dan mabuk kepayang. Padahal, itu salah satu rencana Bardy untuk meluluhkan hati Dewi yang keras.