Mohabbat

Mohabbat
Bertemu Kakak



Ugh!


Daisha melenguh ketika sinar matahari menerpa wajahnya. Kelopak indah itu berkedut sebelum terbuka. Ia menghalau silau sang mentari dengan tangan sebelum beranjak duduk.


"Tubuhku ... rasanya sakit semua," keluhnya sambil memegangi bagian pinggang.


Tak disadari bahwa sehelai benang pun tak melekat di tubuhnya. Teringat kejadian semalam, meski tak dapat melihat Daisha bisa merasakan semuanya. Ia meraba bagian atas tubuh, sontak menutupi bagian itu dengan kedua tangan.


Rasa hangat menjalar hingga ke pipi, perlahan menarik selimut menutupi tubuh polosnya. Ia meraba samping tempat tidur, merasakan kehadiran Dareen. Sayangnya, laki-laki itu tidak ada di tempat. Ke mana dia pergi?


Daisha menajamkan telinga, mendengarkan bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi. Tak ada suara apapun dari dalam sana. Sunyi.


"Ke mana dia?" gumamnya menunduk sedih.


Daisha mendongak saat pintu berderit disusul langkah kaki memasuki ruangan. Ia mengeratkan selimut di dada, tubuhnya tegang waspada.


"Kak, kaukah itu?" tanya Daisha semakin mempertajam rungunya.


Dareen datang membawa sarapan, ia tersenyum melihat kedua tangan Daisha yang mencengkeram selimut dengan erat. Pelan meletakkan nampan di atas nakas, kemudian duduk di samping Daisha. Wanita itu tersentak, sontak menjauh dari sosoknya.


"Memangnya kau pikir siapa? Tidak ada yang bisa masuk ke kamar ini selain aku," ucap Dareen sembari menggenggam tangan Daisha yang masih berada di dada.


Daisha menghela napas lega, menurunkan kewaspadaan setelah mengetahui laki-laki di sampingnya. Ia membalas genggaman Dareen, sambil tersenyum manis.


"Aku takut orang lain yang masuk ke kamar ini. Karena aku buta, orang-orang terkadang seenaknya saja. Jangan pergi tanpa pamit lagi padaku, Kak," ucap Daisha dengan lirih.


Memang, manusia terkadang seenaknya saja. Hanya karena seseorang memiliki kekurangan, lantas mereka berbuat semaunya tanpa memikirkan perasaan orang tersebut.


Dareen mendesah, betapa dia mengerti posisi Daisha. Ia mendekat, menarik tubuh sang istri ke dalam dekapan. Mengecup ubun-ubunnya dengan lembut dan penuh cinta.


"Maafkan aku. Tadi aku hanya turun sebentar untuk mengambil sarapan, tidak tega membangunkanmu. Aku lihat kau begitu lelap, mungkin lelah karena semalam melayaniku. Maafkan aku," ucap Dareen sembari mengeratkan pelukan.


Daisha tersenyum, mengendus aroma tubuh sang suami yang tak lagi asing sejak semalam. Ia melepas pelukan, meraba dada Dareen sambil memainkan jemari di sana.


"Sekarang, bisa antar aku ke kamar mandi? Tubuhku rasanya remuk, sakit semua," pinta Daisha dengan manja.


Dareen tersenyum senang, melihat sisi lain dari istrinya yang selama ini selalu terlihat kuat dan mandiri. Ia sigap berdiri dan mengangkat tubuh Daisha yang tertutup selimut ke kamar mandi.


"Apa itu air hangat?" tanya Daisha.


Dareen mencelupkan tangannya ke dalam bathtub memastikan suhu air di dalam sana.


"Airnya sudah hangat. Kau bisa berendam, panggil saja aku jika sudah selesai. Aku menunggu di depan," katanya setelah meletakkan Daisha di dalam bathtub.


"Terima kasih."


Dareen mengecup dahinya sebelum keluar dari kamar mandi. Sengaja pintu itu tak ditutupnya, sementara ia mendekati ranjang menatap lekat bercak di permukaan kain putih tersebut.


Dareen melepas seprei yang terdapat noda merah tersebut. Meski sedikit, tapi cukup mencolok. Menggantinya dengan yang baru dan bersih. Dia menyimpan seprei tersebut ke dalam sebuah wadah yang disediakan pihak hotel. Lalu, duduk di ranjang memangku laptop memeriksa laporan.


"Lelahnya menjadi direktur, aku ingin menjadi orang biasa saja seperti saat tinggal di desa dulu bersama Daisha. Seandainya aku bisa menolak semua ini ...." Dareen menghela napas.


Terkenang masa-masa di desa dulu, membantu Daisha berjualan bunga. Kehidupan sederhana, tapi membuat hatinya bebas dan bahagia. Tidak terkekang oleh pekerjaan dan tak perlu tampil sempurna.


Sesekali dia akan melirik ke kamar mandi, memastikan Daisha yang sedang berada di dalamnya. Bibirnya tersenyum setiap membayangkan malam pertama mereka yang berjalan sukses tanpa hambatan.


Pekerjaan yang menumpuk dan harus secepatnya diselesaikan. Padahal, Alfin ada di sana menggantikan dirinya.


"Kak! Ada pakaian untukku? Aku lupa membawa pakaian," tanya Daisha yang sudah melangkah keluar sambil meraba udara.


Dareen terhenyak, gegas meletakkan laptop dan berlari menyambutnya. Beruntung, dia sempat membeli beberapa pakaian tadi. Dareen memapah sang istri mendekati ranjang, membantunya duduk, sebelum mengeluarkan pakaian dari tempatnya.


"Ini, pakailah! Aku membelinya tadi. Kita akan di sini selama tiga hari, setelah itu kita akan pulang ke rumah. Kau tidak keberatan tinggal di rumahku, bukan?" ungkap Dareen mewanti-wanti ketidaksiapan Daisha untuk berada di satu atap yang sama dengan Dewi dan Aleena.


Namun, tak dinyana, wanita itu tersenyum menyambutnya. Daisha mengenakan gaun yang dibelikan Dareen, laki-laki itu benar-benar pengertian. Ia bahkan membelikan pakaian dalam dengan ukuran yang pas di tubuhnya.


"Tidak masalah, tinggal di mana pun aku tidak akan merasa keberatan. Asal bersama suamiku karena aku yakin, laki-laki yang menikahiku kemarin akan melindungi aku dari semua marabahaya," jawab Daisha yakin.


Kedua maniknya yang hampa memancarkan keyakinan yang pasti. Tak ada keraguan meski hanya sedikit saja. Dia begitu percaya kepada Dareen, juga pada dirinya.


"Itu sudah pasti, sekarang sebaiknya kita sarapan dulu. Kau harus mengisi tenaga untuk pertempuran selanjutnya," bisik Dareen di telinga istrinya.


Pipi Daisha menghangat, rona merah perlahan muncul dan terlihat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Mereka memakan sarapan seadanya, makanan yang disediakan pihak hotel.


****


Tiga hari berlalu, di villa, Laila terburu-buru menuruni anak tangga. Seragam sekolah melekat di tubuhnya, hari itu Alfin akan mengajaknya mendaftarkan diri di sebuah sekolah ternama di Jakarta. Meski tak ditemani Daisha, tak mengapa. Laila sedikit kecewa sebenarnya, tapi ia harus semangat demi cita-cita yang diimpikan kakaknya itu.


"Kau sudah siap?" tanya Alfin yang sudah menunggu di lantai satu.


Laki-laki itu terlihat seperti paman Laila, dewasa dengan setelan jas hitam. Sesuai perintah Dareen, Alfin harus mengajak Laila mendaftarkan diri ke sekolah.


"Kak, apa Kakak benar-benar tidak datang? Bukankah ini sudah tiga hari Kakak meninggalkan aku? Kenapa tidak menemuiku dulu?" Laila memberengut sedih.


Ia meremas tali tas yang dipakainya sambil menggigit bibir menahan getar di hati. Alfin tersenyum, mendekat seraya menepuk bahu remaja itu.


"Jangan bersedih, hanya pastikan bahwa kau baik-baik saja. Jangan membuatku terlihat buruk di depan mereka. Aku yang bertanggungjawab atas dirimu selama kau jauh dari Nona," katanya terdengar seperti sebuah permintaan.


Laila mengangkat wajah menatap Alfin dengan mata yang melebar.


"Bagaimana aku melakukannya? Sementara, kita memang tak bisa akrab," sungut Laila sambil menurunkan bahu ke bawah.


Alfin menepuk bahu gadis itu lagi, kali ini cukup kuat membuat Laila meringis.


"Ayo, mereka menunggu di depan."


"Kakak!"


Alfin mengangguk. Laila berlari keluar, kedua matanya berbinar melihat sang kakak berdiri di teras. Laila berhambur memeluk Daisha, menumpahkan kerinduan juga menepis rasa cemas yang merundung hatinya.


"Aku rindu Kakak." Suara Laila terdengar lirih dan bergetar.


"Kakak juga rindu padamu, sayang. Bagaimana? Apa kau baik-baik saja?" sahut Daisha sembari mengusap-usap punggung Laila.


Gadis itu tidak menyahut, hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


****


Tanpa mereka ketahui, para pekerja di hotel tengah menjadikan mereka bahan perbincangan. Soal bercak merah di seprei yang ditinggalkan Dareen entah sengaja atau tidak.