Mohabbat

Mohabbat
Perang Dimulai



"Nyonya, apa kita akan kembali ke rumah?" tanya Bibi dalam perjalanan pulang mereka.


Dewi menghela napas, bahkan untuk pulang saja dia harus menggunakan taksi karena tak ingin Bardy mengetahuinya.


"Yah, sebaiknya kita pulang saja. Lagipula, ini sudah larut malam. Mau ke mana lagi selain ke rumah," jawab Dewi dingin.


Sikapnya yang dulu angkuh kini semakin dingin terlihat. Wajahnya kusut dan ada banyak beban pikiran yang nampak di setiap garisnya. Bibi melengos, tak lagi bertanya karena tak ingin menambah beban pikiran sang majikan.


Mobil terus melaju di kegelapan malam yang sunyi, mungkin saja Bardy di rumah ataupun di luar bersama gundiknya. Hati Dewi sakit, perih bagai dicabik-cabik sekumpulan binatang buas. Dewi memejamkan mata mencoba untuk menghilangkan semua prasangka yang membuatnya gelisah.


Bibi yang merasa cemas, diam-diam memperhatikan. Menelisik wajah kuyu Dewi yang semakin terlihat kerutannya di beberapa bagian. Mobil terus memasuki area perumahan di mana mereka tinggal, terus melaju hingga berhenti di depan gerbang tinggi nan kokoh berwarna hitam.


"Nyonya, kita sudah sampai." Bibi membangunkan Dewi yang tertidur lelap.


Sebenarnya dia tidak tega, tapi mereka sudah tiba di rumah dan taksi harus kembali. Dewi terbangun dan segera turun dari mobil, perlahan berjalan memasuki rumah yang tampak sepi tidak seperti biasanya.


"Bi, kenapa sepi sekali? Ke mana semua orang?" tanya Dewi sembari menatap sekeliling mencari-cari tukang kebun yang biasanya duduk di taman menunggu sang majikan.


Ia melirik samping rumah, biasanya beberapa pekerja perempuan ada di sana saling berbincang satu sama lain. Malam itu tampak lain, semua orang tidak terlihat.


"Itulah, Nyonya. Tuan memecat beberapa pekerja dengan alasan perusahaan sedang dalam masalah dan tidak dapat menggaji para pekerja. Jadi, mereka dipecat bahkan tidak mendapat pesangon," jawab Bibi seraya menunduk teringat pada rekan-rekannya yang dipecat secara sepihak tanpa diberi uang tambahan.


"A-apa?" Dewi membelalak, tak menduga semuanya akan berubah begitu cepat.


Selama ini dialah yang menggaji para pekerja, dia yang memegang keuangan. Kenapa tiba-tiba berubah? Dan tak ada pemberitahuan kepadanya. Kecurigaan Dewi semakin merajalela, dia yakin jika itu bukanlah Bardy yang melakukannya.


"Kenapa semua jadi begini?" gumamnya seraya menghela napas lelah sebelum memasuki rumah.


Dua orang pekerja membukakan pintu untuk mereka, hanya ada mereka di rumah itu. Keduanya terlihat sedih, menunduk di hadapan Dewi.


"Selamat datang kembali, Nyonya. Kami senang Anda kembali ke rumah ini," sapa mereka berdua dengan sesungguhnya.


Selama hampir sepekan Dewi dirawat di rumah sakit, hanya Bibi yang memiliki kebebasan untuk keluar masuk rumah.


"Terima kasih. Bagaimana kabar kalian?" tanya Dewi penuh perhatian.


"Kami baik, Nyonya. Bagaimana dengan Anda?"


"Yah, seperti yang kalian lihat. Ikutlah denganku, ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian," pinta Dewi seraya berjalan lebih dulu menuju ruang tamu.


Mereka duduk di sofa saling berhadapan. Kedua pekerja itu tidak ada yang berani mengangkat wajah. Mereka tertunduk seolah-olah ada sebuah rahasia besar yang disimpan di rumah itu.


"Di mana suamiku? Apa dia di rumah?" tanya Dewi membuka pembicaraan.


Dewi diam, bergeming sambil menatap pekerja yang menjawab pertanyaannya. Ia menghela napas, sudah menduga hal itu.


"Apa wanita itu tinggal di sini? Ada beberapa yang berubah di rumah ini," tanya Dewi setelah menelisik setiap detail sekitar rumahnya.Tata letak semua pajangan banyak yang berpindah tempat termasuk foto keluarga yang terlihat miring.


Dewi kembali menjatuhkan pandangan pada dua orang itu juga Bibi yang masih bungkam belum menjawab soal itu.


"Tidak apa-apa, katakan saja. Jangan sungkan, sebagai nyonya di rumah ini saya berhak tahu siapa saja yang datang ke rumah selama saya tidak ada," tekan Dewi lagi menegaskan posisinya di rumah itu.


"Maafkan kami, Nyonya. Kami harus mengatakan ini, dia wanita yang sombong. Selalu memerintah kami dan memarahi kami, bahkan uang gaji kami dipotongnya. Katanya, selama Nyonya di rumah sakit keuangan dipegang oleh Tuan. Kami hanya bisa pasrah, Nyonya," ucap pekerja itu meski takut dan ragu.


Untuk ke sekian kalinya Dewi membuang napas, melepaskan beban yang bergelayut di pundaknya.


"Jadi, wanita itu yang memecat para pekerja? Atas dasar apa dia melakukan itu semua? Lalu, bagaimana dengan suamiku? Apa dia diam saja dan membiarkan wanita itu berbuat semaunya," cecar Dewi semakin jelas dan terbuka.


"Be-benar, Nyonya," jawab mereka.


"Baiklah, aku minta pada kalian untuk bersikap biasa saja seolah-olah aku tidak ada di rumah."


"Baik, Nyonya."


Sementara di rumah besar Bardy disibukkan oleh keadaan yang memaksa, sedangkan Daisha sedang menikmati waktu berdua bersama suaminya.


"Sayang, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal atas semua yang terjadi. Aku sadar, seharusnya aku menghentikan Ibu kemarin. Bukan justru malah membiarkannya. Tolong, maafkan aku, Daisha," ungkap Dareen sembari menatap istrinya dari bawah.


Daisha menunduk, tersenyum manis menikmati kehidupan mereka sambil berharap untuk ke depannya tak akan ada masalah lagi yang merintangi jalan mereka.


"Aku senang kau akhirnya menyadari semua. Kau tahu, aku tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah. Selama bertahun-tahun kasus kematian paman dan kedua orang tuaku terbengkalai karena aku tidak bisa melihat dan tidak bisa memberikan keterangan. Sekarang, siapa yang akan mendukungku jika kau balik menyerangku? Rasanya aku ingin menghilang dari dunia ini saja," sahut Daisha sambil mengusap dahi suaminya.


Pandang mereka bertemu, saling menatap penuh arti. Dareen dalam dilema, di satu sisi Cakra adalah kakaknya, di sisi lain ia tak ingin kehilangan Daisha. Mungkin untuk saat ini, ia tak akan memikirkan Cakra terlebih dahulu.


"Aku akan mencoba menerima semua. Bantu aku, dan jangan pergi lagi dariku. Katakan pada bibimu itu untuk tidak membawamu pergi dariku. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Daisha," pinta Dareen.


Daisha terkekeh, rasanya Bibi memang akan selalu melakukan itu jika ada yang membuat hatinya tak merasa nyaman dan damai.


"Aku akan membicarakannya kepada Bibi nanti. Sekarang, sebaiknya kau tidur agar segera pulih secepatnya. Bukankah esok kau harus bekerja?" ucap Daisha seraya membantu Dareen beranjak dan merebahkan diri.


Kau harus sehat agar dan tidak boleh sakit, sebentar lagi kita akan memiliki anak. Hal yang begitu kau inginkan. Tenang, sayang. Ibu pasti akan memberi tahu ayahmu, tapi tidak sekarang.


Batin Daisha bergumam, ia merapatkan tubuh pada suaminya mencari kenyamanan dan ketenangan ketika harus menutup mata dan menyembunyikan diri dalam kegelapan.


Dan di rumah Bardy, perang akan dimulai.