Mohabbat

Mohabbat
Melepas Rindu



Daisha berdiri di pintu villa saat mendengar deru suara mobil. Ia tak mengira Dareen akan datang dengan cepat. Senyum manis di bibirnya menyambut kedatangan sang kekasih, rindu yang terpendam pun terus saja terurai.


"Daisha!" panggil Dareen begitu turun dari mobil.


Laki-laki dengan kemeja putih dan celana hitam itu berlari dengan cepat dan memeluk Daisha erat. Sungguh, ia merindukan gadis itu dan tak menduga jika akan bertemu.


"Aku merindukanmu, sayang. Tak kusangka kau akan ke Jakarta hari ini. Maaf karena aku belum bisa datang ke rumahmu," ucapnya penuh sesal.


Daisha membalas tak kalah erat, menghirup aroma tubuh dari laki-laki yang membuat harinya selalu gelisah.


"Aku juga merindukanmu, bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah sudah selesai?" tanya gadis tersebut seraya melepaskan pelukan.


Senyum di bibir tak surut, terus berkembang dan sedikit bersemu. Ikatan cinta dalam hati keduanya teramat kuat, membuat rindu yang menggebu dalam jiwa.


"Yah, hanya tinggal sedikit lagi saja, tapi tidak masalah. Alfin yang akan menyelesaikan semuanya. Aku tidak sabar ingin bertemu denganmu," jawab Dareen sembari membelai pipi sang pujaan hati. Ia juga memberikan kecupan di dahi gadis itu, lembut dan penuh cinta.


"Kenapa menyerahkannya kepada Alfin? Apa tidak apa-apa?" tanya Daisha sedikit bingung.


Dareen tersenyum, merangkul bahu sang kekasih seraya membawanya masuk ke dalam.


"Tidak apa-apa. Oya, di mana Laila? Kubaca statusnya dia ingin bermain di gedung." Dareen celingukan mencari sosok gadis remaja yang selalu riang gembira.


"Benar, tadinya aku akan mengajak Laila bermain di mall. Yah, selama tinggal bersamaku dia tidak pernah pergi bermain. Jadi, aku ingin memenuhi keinginannya hari ini," sahut Daisha lirih.


Ada kesedihan yang terpancar di raut wajahnya, menyesal karena belum juga bisa membuat sang adik menikmati masa-masa remajanya. Disaat itu, sebuah kecupan mendarat di pipi, membuyarkan lamunan Daisha tentang kehidupan yang selama ini mereka jalani.


"Apa-apa yang sudah lalu janganlah kau pikirkan. Biarkan saja seperti itu, dan mulai sekarang hanya pikirkan masa depan. Kehidupan seperti apa yang kita inginkan. Jangan bersedih lagi, aku tidak suka melihat wajah cantik calon istriku murung," ucap Dareen sembari menangkup wajah gadis di depannya.


Garis bibir Daisha kembali terangkat, membentuk senyuman yang tak dimiliki wanita lain. Senyum yang selalu membuat jantung Dareen berdebar tak karuan. Laki-laki itu menatap dalam bagian ranum dari wajah Daisha, meneguk ludah dengan berat. Teringin mereguk manisnya kedua belah bagian itu.


Tanpa ia sadari, wajahnya semakin mendekat. Hembusan hangat dari napas yang menerpa kulit wajah Daisha, membuat gadis itu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, ketukan langkah milik Laila, menghentikan semuanya.


Dareen dengan cepat menjauhkan diri, mengusap tengkuk mengalihkan rasa malu. Wajah keduanya merona, membuat remaja yang baru saja muncul itu memicingkan mata curiga.


"Ada apa dengan kalian? Kenapa wajah kalian merah seperti itu?" tanyanya berpura-pura polos. Padahal dia tahu kedua kakaknya itu sedang menahan rasa malu.


Entah apa yang terjadi, Laila memang tidak melihat, tapi sepertinya gadis remaja itu tahu.


"Ah, bukankah kau ingin bermain-main di gedung tinggi di sini. Aku bisa mengajak kalian memasuki salah satunya," ucap Dareen mengalihkan pembicaraan.


Laila membeliak senang.


"Benarkah? Jadi, kita akan pergi bersama? Lalu, bisakah kita pergi sekarang juga?" katanya sambil meremas tangan Dareen dengan kuat.


Tak sabar ingin segera mengetahui seperti apa bagian dalam gedung-gedung tinggi di Jakarta. Matanya berkedip dengan binar yang memancar terang. Siapapun tak akan tega menolak semangat yang berkobar dari dirinya.


"Tentu saja, Ayo!" Dareen menggandeng tangan Daisha, melangkah lebih dulu.


Laila menyusul sambil melompat-lompat dengan riang. Mendahului kedua sejoli yang tersenyum melihat tingkah kekanakannya.


"Dia bersemangat sekali, seperti anak-anak," celetuk Dareen sambil terus memperhatikan Laila yang melompat sampai ke dekat mobilnya.


"Terima kasih, Kak. Dia memang masih anak-anak. Usianya masih belasan tahun, tapi dia tidak pernah menikmati masa remajanya," tutur Daisha penuh syukur.


Dareen meliriknya, khawatir wajah gadis itu kembali murung. Ia merasa lega karena Daisha justru tersenyum penuh kebahagiaan.


"Kakak, cepatlah!" teriak Laila sambil melambaikan tangannya.


Kedua pasang manusia itu terkekeh geli melihat tingkah Laila. Dareen membukakan pintu mobil untuk keduanya, Daisha ia tempatkan di kursi samping kemudi. Laila duduk sendiri di kursi belakang gelisah karena tak sabar.


Seruan kekaguman dari remaja di belakang membuat senyum Daisha terus tersemat sempurna.


"Kakak, kita akan ke gedung yang mana? Semua gedung terlihat sama di mataku, aku jadi bingung mau memasuki gedung yang mana dulu?" pekik Laila menunjuk satu per satu gedung yang mereka lintasi.


"Kita tidak bisa memasuki semua gedung, sayang. Kebanyakan di sini gedung perkantoran ataupun hotel juga hunian. Kita akan pergi ke mall dan kau bisa bermain sepuasnya di sana. Kau juga bisa belanja apa saja yang kau inginkan di dalam sana," sahut Daisha meremas gemas tongkat di tangan.


Laila membelalak, menatap Daisha dengan manik yang semakin bersinar.


"Benarkah?"


"Tentu saja. Sekalian kau bisa membeli seragam sekolah di sana, sepatu dan apa saja yang kau perlukan untuk sekolah. Biar aku yang membayar semuanya," timpal Dareen sembari melirik remaja itu dari spion tengah.


Daisha merasa tak enak, dia sendiri sanggup membelanjakan semua itu untuk Laila tanpa bantuan dari Dareen. Ia tak nyaman dengan semua itu. Daisha tahu harga barang-barang di mall.


"Aku rasa tidak perlu, Kak. Aku bisa membayar semuanya," sahut Daisha gugup.


Dareen meraba tangan gadis itu dan menggenggamnya, meyakinkan Daisha bahwa ia tak perlu lagi menanggung semua beban sendirian.


"Tidak apa-apa, sayang. Aku yakin kau memang sanggup untuk membayar semua, tapi untuk kali ini biarkan aku yang melakukannya. Anggap saja sebagai hadiah karena telah membawamu ke Jakarta dan mengobati rinduku."


Jawaban Dareen benar-benar mengalirkan rasa hangat pada hati Daisha, seandainya bisa melihat dia ingin sekali menatap lama wajah laki-laki yang telah mencurahkan cinta padanya itu. Sayang, membayangkan saja ia tak mampu. Hanya bersyukur yang dapat ia lakukan untuk saat ini, tidak lebih.


Mobil mereka tiba di parkiran mall, Laila menatap takjub gedung menjulang tinggi itu. Mall terbesar yang terdapat di Jakarta.


"Jangan pergi seorang diri, Laila. Di dalam sana kau akan melihat banyak pengunjung. Jangan sampai terpisah dari Kakak," ingat Daisha sebelum mereka memasuki gedung tersebut.


Laila berlari mendekati mereka berdua, merangkul tangan sang kakak dan berjalan diiringi Dareen. Ia seperti seorang pengawal yang siap siaga menjaga sang tuan.


Seperti halnya seorang anak kecil yang selalu antusias melihat segala permainan, begitu pula dengan Laila. Dia asik bermain sendiri, diawasi Dareen yang duduk bersama Daisha.


"Kau akan menginap?" tanya Dareen memecah hening.


Daisha menggeleng, memang tak berniat menginap.


"Tidak, Kak. Kami akan segera kembali setelah menerima bayaran sore nanti. Aku merasa tidak enak pada orang yang kusewa sebagai supir," jawab Daisha.


Dareen mendesah kecewa, tapi mau bagaimana lagi? Mendengar alasan yang diucapkannya, ia dapat mengerti. Genggaman tangan laki-laki itu semakin menguat, rasanya tak ingin berpisah lagi. Jika saja bisa, dia ingin mengikat Daisha saat itu juga.


Getar ponsel Dareen mengganggu waktu mereka. Ia merogoh saku dan melihat si penelpon. Lidahnya berdecak kesal merasa terganggu.


"Yah, ada apa?"


Dareen terdiam mendengarkan.


"Memangnya ada apa di sana? Kenapa aku harus ke sana?" tanya Dareen. Kerutan di dahinya jelas memperlihatkan yang ia tak senang.


"Baiklah, baiklah, tapi aku tidak bisa janji akan datang tepat waktu," pungkasnya seraya menutup sambungan.


"Siapa, Kak?" tanya Daisha, "jika penting, datangi saja. Aku tidak apa-apa di sini," lanjutnya meskipun sedikit kecewa.


"Bukan siapa-siapa, hanya orang rumah dan tidak penting. Sudah, jangan dipikirkan," katanya.


Ia menarik kepala Daisha dan menempatkannya di bahu. Mengecup ubun-ubun sang kekasih penuh cinta dan kerinduan.


Setelah ini apa yang akan terjadi?