Mohabbat

Mohabbat
Menguntit



"Alejandro? Bukankah laki-laki itu sudah meninggal lima tahun yang lalu? Apa kaitannya dengan wanita buta itu?"


Aleena merajut alis, tak habis pikir setelah mendengar kabar dari Cakra soal Daisha. Siapa yang tidak mengenal Alejandro. Seorang gembong mafia yang ditakuti semua kalangan, bahkan di negara asalnya kepolisian tak berani menyentuh bisnis kotor miliknya.


Dia datang ke Indonesia karena satu alasan yang tak diketahui oleh banyak orang. Di mana tempat tinggalnya, bahkan makamnya tak satu pun yang tahu. Termasuk wanita yang sedang mencari tahu tentang Daisha.


"Aku juga tidak mengerti, tapi melihat dari keberanian si Buta itu tidak menutup kemungkinan jika mereka saling berkaitan satu sama lain. Mungkin saja si Gadis Buta itu dahulu bawahannya, atau anteknya, atau kaki tangannya. Bisa saja, bukan?" ujar Cakra sembari meletakkan jari di dagunya.


Memikirkan setiap kemungkinan yang ada, dan berwaspada untuk segala yang akan terjadi ke depannya. Tidak menutup kemungkinan Daisha akan membalas dendam atas perundungan yang dia terima.


"Lalu, bagaimana? Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Aleena terlihat cemas.


Wanita itu menggigit kukunya sambil menatap liar ke segala arah. Dia pernah menerima perlawanan dari gadis buta itu. Tenaganya tak biasa, tidak seperti wanita kebanyakan.


"Entahlah, aku akan mencari tahu dulu hubungannya dengan laki-laki itu. Baru setelah itu aku bisa menyusun rencana selanjutnya," ucap Cakra sembari membanting diri di sofa.


Aleena turut mendaratkan bokong di sampingnya, termenung memikirkan satu orang itu.


"Bukankah yang ingin kau singkirkan adalah Dareen? Kenapa harus repot mengurusi si Buta itu? Jika Dareen tiada, aku yakin gadis itu pun akan pergi dengan sendirinya," saran Aleena kembali pada tujuan mereka.


Cakra tampak termenung, tujuan awalnya memang Dareen yang ingin dia singkirkan. Hanya saja, saat ini akan terasa sulit karena kehadiran Daisha di sisinya. Wanita itu yang menjadi hambatannya untuk menggapai semua yang dia inginkan.


"Aku akan memikirkannya lagi. Untuk sekarang biarkan aku beristirahat. Kau pergilah ke kamarmu," usir Cakra sambil merebahkan diri di sofa.


Aleena tidak membantah, dia beranjak dan pergi keluar kamar Cakra. Secara kebetulan Daisha pun keluar dari kamarnya. Meski dipisahkan jarak, tapi Aleena masih dapat melihat dengan jelas pintu kamar Dareen.


Seharusnya aku yang menempati kamar itu, bukan dia. Seandainya waktu itu aku lebih berhati-hati dan Dareen tidak sampai tahu tentang perselingkuhanku, semua ini tak akan pernah terjadi. Sial!


Aleena mengumpat dalam hati, satu kecerobohan membuatnya tersingkir dari hidup Dareen, bahkan tergantikan posisinya. Daisha menutup pintu, memakai gaun selutut tanpa lengan dilapisi blazer. Ia juga membawa tas, sepertinya akan pergi keluar.


Mau ke mana dia?


Daisha mengayunkan tongkat menuju anak tangga. Sebelah tangannya meraba pegangan tangga menuruni undakan itu setapak demi setapak. Aleena terus memperhatikan sampai sosoknya menghilang di lantai satu. Buru-buru mendatangi kamar Dareen, dan mencoba membuka pintunya.


"Sial! Dikunci!" umpatnya kesal.


Diam-diam Daisha tersenyum, memasukkan kunci ke dalam tasnya. Ia melangkah dengan pelan, ketukan tongkat di lantai mengusik ketenangan Dewi yang berada di ruang tengah rumah.


"Mau ke mana kau sendirian? Memangnya kau tahu jalan pulang?" cibir Dewi melirik sinis menantunya itu.


Daisha berhenti sejenak, tapi tak menoleh pada mertuanya itu. Ia tersenyum lembut sama sekali tidak tersinggung.


"Aku hanya pergi sebentar, bertemu Laila. Lagipula, teman kak Dareen datang menjemput," sahutnya dengan pelan seolah-olah mereka tidak bermasalah.


"Alfin?" Alis Dewi terangkat.


"Ah, iya. Aku hampir lupa namanya. Dia Alfin, aku permisi keluar sebentar, Nyonya. Jika Anda bosan, pergilah ke spa memanjakan diri," pamit Daisha seraya memasang kacamata hitamnya dan melangkah pergi.


"Spa? Bagus juga, tapi dari mana gadis kampungan itu tahu soal spa? Apakah Dareen sering mengajaknya ke tempat itu?" pikir Dewi sambil memikirkan apa yang akan dia lakukan selama berada di spa.


Ketukan langkah yang terdengar cepat menuruni anak tangga, kembali mengalihkan perhatiannya. Ia menoleh dan melihat Aleena yang tergesa.


"Aleena, mau ke mana kau? Kenapa terburu-buru sekali?" tegur Dewi yang menautkan alisnya dalam-dalam.


"Mmm ... tidak ke mana-mana, Bu. Aku hanya ingin mengikuti wanita itu saja. Ingin tahu ke mana dia pergi," katanya terburu-buru.


Mendengar itu Dewi cepat beranjak, menguntit Daisha sepertinya lebih menarik daripada berdiam di spa. Lagipula, seminggu lalu dia baru saja dari tempat itu.


"Ibu ikut. Tunggu sebentar!" katanya seraya berjalan tergesa menuju kamar. Menyambar tas juga kunci mobil dan memberikannya kepada Aleena.


"Gunakan mobil ini, Alfin tidak akan curiga," katanya lagi yang diangguki Aleena. Keduanya terus berlari garasi, memasuki mobil yang jarang dibawa keluar rumah.


"Ayo, cepat! Jangan sampai tertinggal," ucap Dewi melihat mobil Alfin yang terhalang beberapa mobil di depannya.


Aleena menunjukkan kemampuan mengemudinya, menyusul mobil Alfin dengan menyalib beberapa kendaraan. Kini, hanya ada satu mobil yang menjadi penghalang di antara mereka.


"Ada yang mengikuti kita," ucap Daisha tiba-tiba.


Alfin melirik spion tengah, tak ada mobil yang mencurigakan di belakangnya. Ia menganggap ucapan Daisha hanyalah sebuah omong kosong.


"Aku yakin dua wanita di rumah itu yang mengikuti," ucap Daisha lagi membuat Alfin penasaran. Kembali laki-laki itu melirik spion memastikan kendaraan yang berada di belakangnya.


"Ganti lokasi, jangan pergi ke villa. Aku tidak ingin tempat itu diketahui orang lain, terutama mereka. Tolong hubungi Laila, pinta dia datang ke taman kota. Aku ingin ke tempat itu," titah Daisha dengan tegas.


Alfin kian merasa bingung, tapi tak berani membantah. Dareen memintanya untuk mendengarkan wanita itu. Dia berbelok menuju jalan ke taman kota.


"Sebenarnya mau ke mana dia?" Aleena berdecak, kemudian ikut berbelok.


Di sana Alfin menyadari sesuatu, ia meneguk ludah gugup sendiri. Benar yang dikatakan Dareen, dia harus mendengarkan Daisha.


"Tenang saja, mereka mertuaku dan calon istri kakak ipar. Bukan orang jahat," ucap Daisha saat merasakan kepanikan Alfin.


Lagi-lagi laki-laki itu tertegun dibuatnya, ia menarik napas dalam dan menghembuskannya. Mengambil ponsel menghubungi Laila untuk datang ke taman kota.


"Untuk apa dia ke taman?" tanya Dewi saat melihat mobil Daisha berhenti di parkiran taman. Aleena turut menghentikan mobil, sedikit jauh. Mereka menunggu di dalam sana, penasaran apa yang akan dilakukan gadis buta itu.


"Tidak tahu, mungkin dia akan bertemu seseorang," sahut Aleena sambil memperhatikan Daisha yang keluar setelah Alfin membukakan pintu untuknya.


Tak lama, sebuah motor datang dengan pengemudinya berseragam hijau. Laila turun dan menghampiri kakaknya.


"Tidak penting, ternyata mereka hanya akan bermain di sini. Kembali saja, ke spa sepertinya lebih menarik. Ayo!" ajak Dewi yang disambut binar bahagia di mata Aleena.


Tanpa mereka ketahui, Daisha bertemu dengan seseorang.