
Gelegak tawa terdengar dari salah satu ruangan di rumah sakit, malam yang sunyi menjadi ramai oleh suara wanita-wanita yang terdengar bahagia karena satu kekonyolan yang sempat terjadi. Tawa yang membuat orang terheran-heran saat mendengarnya dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi di dalam sana.
"Apa kau benar-benar lupa tadi?" tanya Areta diiringi sisa tawa yang membuatnya terpingkal beberapa saat lalu.
"Iya, Bibi," sahut Daisha dengan wajah yang memerah malu.
"Astaga, aku tidak menduga jika Kakak lupa cara membuka mata. Ini benar-benar konyol," timpal Laila pula ikut terbahak menertawakan Daisha yang tak ingat bagaimana cara membuka kelopak mata.
Istri Dareen itu menunduk, malu sekali rasanya. Ia sempat berpikir kembali menjadi buta akibat biji mesiu yang menghantam bahu kirinya.
"Apa aku memang terlihat konyol? Aku benar-benar ketakutan tadi. Kupikir aku kembali buta dan tidak dapat melihat lagi, tapi aku pasrah pada hidupku. Bagaimana takdir mempermainkan aku juga perasaanku. Aku tidak akan menuntut lebih lagi," katanya sembari menghela napas berat.
Pandanganya lurus ke atas menatap langit-langit ruangan sambil memikirkan keadaan Dareen. Apa kabar suaminya itu? Apakah dia sudah berhenti meratap?
"Jangan seperti itu, perjalanan hidupmu masihlah panjang. Kau bahkan akan memulai mimpi baru setelah ini ... ah, bagaimana lukamu? Apa tidak terasa sakit? Kau terlihat biasa saja. Mengapa tidak meringis?" cecar Areta dengan kerutan di dahinya.
Ia memperhatikan lilitan perban di bahu kiri sang keponakan, membayangkan sendiri bagaimana rasa sakitnya ketika bagian tangan itu digerakkan. Daisha turut menoleh pada bagian kiri tubuhnya, melirik luka yang tertutup dan mencoba untuk menggerakkannya.
"Mmm ... sudah tidak terlalu sakit, hanya sedikit ngilu saja. Mungkin besok atau lusa akan sembuh," katanya sambil menggerakkan tangan ke atas dan bawah.
Sudah lebih baik daripada saat timah panas itu baru saja mendarat di sana. Terasa mati rasa dan kebas, rasa ngilu dan nyeri datang secara bersamaan, membuatnya merintih saat itu. Hanya satu wajah yang ia lihat pada waktu dunia hampir menggelap, Dareen, suaminya.
Areta dan Laila mendesah karenanya, mereka mengurut dada penuh syukur.
"Bagaimana dengan perutmu?" tanya Areta lagi setelah beberapa saat menelisik wajah keponakannya.
"Perut?" Daisha mengulangi ucapan bibinya, tatapan mata penuh kebingungan.
Daisha melirih perutnya sendiri, tak ada luka ataupun lebam di sana. Dia sudah memastikan beberapa kali dan mengusap-usapnya mencari-cari rasa nyeri di atas permukaannya.
Daisha kembali mendongak, menatap keduanya dengan dahi yang mengkerut. Ia menggelengkan kepala, mengangkat bahu tak acuh merasa baik-baik saja. Melihat reaksi Daisha yang kebingungan, Areta faham bahwa keponakannya itu tidak mengetahui ada kehidupan di dalam rahimnya.
"Perutku baik, Bibi. Akhir-akhir ini aku bahkan malam dengan lahap, tidak seperti biasanya. Bibi tidak perlu merasa cemas seperti ini," jawab Daisha sambil tersenyum menenangkan.
Namun, helaan napas yang dihembuskan Areta juga Laila yang hanya diam tak menyahut, membuat Daisha bertanya-tanya sendiri. Ia menyibak pakaian dan memperlihatkan keadaan perutnya yang tampak normal dan tak ada luka ataupun lebam di sana.
"Bibi lihat! Perutku baik-baik saja, tidak ada luka. Kenapa Bibi terlihat cemas?" tanya Daisha lagi semakin menuntut jawaban.
Matanya bergulir ke kanan dan kiri, menatap bergantian pada bibi dan adiknya yang masih bungkam belum berbicara.
"Kau yakin tidak apa-apa? Tidak merasa mual ataupun tak enak di perut? Katakan, apa yang kau rasakan di bagian dalam perutmu?" tanya Areta lagi kian membuat bingung orang yang ditanyanya.
"Ada apa sebenarnya, Bi? Kenapa Bibi terus bertanya tentang keadaan perutku? Apa yang aku rasakan? Aku merasa baik-baik saja, lukaku ada di sini, bukan di perut," sahut Daisha menunjuk bahu mulai kesal karena merasa dipermainkan.
Areta melirik Laila, remaja itu mengangkat bahu tak tahu. Ia belum belajar tentang kehamilan juga kehidupan di dalam rahim. Ia juga tidak tahu seperti apa perasaan wanita hamil. Areta kembali memandang Daisha, menilik manik kecoklatan yang hangat dan mendamaikan itu dengan teliti.
"Apa kau tidak merasakan kehidupan di dalamnya?" tanya Areta mendekati.
"Kehidupan? Kehidupan seperti a-"
Daisha tidak melanjutkan kalimatnya, ia tercengang mendengar lidahnya berucap tentang sebuah kehidupan di dalam perut. Pelan-pelan Daisha menunduk, memandangi perutnya sendiri. Areta tersenyum, merasa Daisha mulai mengerti ke mana arah pembicaraan mereka.
"Kehidupan? Apakah di dalam perutku? Kehidupan?" gumamnya sambil mengusap perut sendiri dengan gerakan memutar.
"Yah, kehidupan di dalam sana. Seseorang akan tumbuh dan berkembang di sana, apa kau menyadarinya? Atau kau sendiri tidak mengetahuinya?" jelas Areta sembari tersenyum haru melihat tangan Daisha mengusap perutnya sendiri.
Istri Dareen itu mengangkat wajah, menatap Areta dengan air yang telah menggenang di pelupuk.
"Apa maksud Bibi, aku ini sedang hamil? Mengandung seorang anak, begitu?" tanya Daisha.
Suara yang keluar dari bibirnya terdengar bergetar, keharuan seketika memenuhi relung hati tatkala Areta menganggukkan kepala menjawab pertanyaan darinya. Daisha mendesah berat, air mata tumpah jatuh berurutan.
Ia pandangi kembali perutnya yang masih rata dan tampak normal itu, rasa tak percaya sebuah kehidupan telah hadir di dalam sana. Sebuah kehidupan yang diinginkan Dareen, awal baru membangun impian. Ia mendekap perutnya sendiri, menunduk sambil tersedu-sedu.
Areta dan Laila memeluknya, turut merasa haru atas karunia yang diberikan Tuhan kepada mereka. Satu kehidupan telah hadir, bertambah anggota keluarga baru dalam rumah mereka.
"Aku harus bagaimana, Bibi? Aku tidak mengerti tentang kehamilan?" tanya Daisha cemas.
Areta terdiam, ia pun sama seperti dirinya karena belum pernah merasakan kehamilan.
"Kau tenang saja, Bibi pernah menemani ibumu di masa dia mengandung dirimu. Sepertinya Bibi sedikit mengerti. Jika tak salah mengingat, di awal kehamilannya, ibumu sering merasa mual di pagi hari. Dia bahkan memuntahkan seluruh makanan yang baru saja menyambangi lambungnya, tapi kau jangan cemas. Semua itu normal bagi wanita hamil sepertimu," jelas Areta yang tidak menenangkan, tapi justru membuat takut Daisha.
"Jangan menakutiku, Bibi. Penjelasan Bibi membuatkan takut. Apa Ibu memang seperti itu?" ucap Daisha meringis takut dan ngeri mendengar penjelasan bibinya.
Areta berpikir, mengingat-ingat kembali masa-masa di mana ibu Daisha mengandung. Ia diminta Damian menemaninya karena harus melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri bersama sang suami.
"Seingat Bibi memang seperti itu, sampai-sampai Bibi mengira ibumu itu sakit. Bibi membawanya ke rumah sakit dan dokter mengatakan dia tidak apa-apa. Lalu, sebuah kabar gembira datang kepada kami. Sudah lama sekali rasanya dalam keluarga tak mendengar suara tangisan bayi sampai kau dilahirkan ke dunia ini, sayang. Ibumu baik-baik saja dan ayahmu amat terlihat bahagia. Kau akan melihat wajah bahagianya pada suamimu saat dia dilahirkan nanti," tutur Areta sambil mengusap perut Daisha.
Benarkah? Aku akan melihatnya? Dia pasti sangat bahagia mendengar kabar kehamilan ini. Aku akan memberinya kejutan nanti.
Daisha tersenyum senang membayangkan wajah sumringah sang suami.