Mohabbat

Mohabbat
Bertemu



Siang itu, Dareen membawa mereka ke sebuah restoran sederhana sesuai permintaan Daisha. Menunggu kedatangan Bardy dari perjalanan bisnisnya. Mereka duduk berempat saling berhadapan, di depan masing-masing telah tersedia minuman kesukaan mereka.


"Apakah masih lama?" tanya Daisha gelisah.


Mencemaskan perjalanan kembali ke desa mereka. Jika berangkat sore kemungkinan tiba di desa larut malam nanti. Daisha tak ingin menunda kepulangannya lagi. Terlalu lama meninggalkan bisnis bunga mereka juga tidak baik.


Dareen melirik arloji di tangan memastikan kedatangan sang ayah yang dijemput supir pribadinya.


"Mungkin sebentar lagi, coba kita tunggu saja," jawab Dareen yang juga cemas.


"Jika berangkat dari sini sore, kemungkinan sampai rumah sana hampir tengah malam nanti. Apa tidak bisa dipercepat?" Laila turut gelisah.


Dareen menghela napas, berharap dalam hati ayahnya akan segera tiba dan mengusir kegelisahan dua gadis di hadapannya itu.


"Kalian jangan cemas, Alfin adalah supir yang dapat kalian andalkan. Daerah tempat tinggal kalian tak jauh dari daerah tempat tinggal orang tuaku dulu. Jadi, aku sudah hafal betul jalanan di sana," ucap Alfin dengan nada bangga yang tak ia sembunyikan.


Laila terperangah, sungguh tak menduga jika lelaki berparas lembut itu berasal dari daerah yang sama dengan mereka.


"Benarkah? Apa mereka masih tinggal di sana? Sesekali ajaklah kami berkunjung," sahut Laila antusias.


Senyum manis yang diukirnya membuat Alfin tertegun seketika. Kedua bibirnya terbelah tipis, sekejap saja hatinya mengagumi gadis lugu itu.


"Ekhem!"


Suara deheman Dareen menyadarkan Alfin dari lamunan. Ia mengedip-ngedipkan mata sambil berpaling, malu dan tak enak rasanya kedapatan menatap gadis remaja itu.


"Mmm ... mereka sudah tiada, lagipula rumah dan tanah di sana sudah tidak ada lagi. Terkena gusuran. Jadi, aku memutuskan untuk merantau dan bertemu dengan Dareen. Di sinilah aku sekarang," katanya setelah menetralkan perasaan.


Senyum Laila raib, menganggukkan kepala mengerti kemudian mengedarkan pandangannya lagi. Di pintu masuk sana, dua orang laki-laki dengan usia yang sama melangkah dengan elegan. Mata Laila memicing, penasaran karena kedatangannya begitu disambut oleh pekerja restoran.


"Siapa dua orang laki-laki yang baru masuk itu?" tanya Laila tanpa sadar. Matanya sama sekali tak berpaling dari mereka, terus mengikuti ke mana keduanya pergi.


Mendengar itu, Dareen dan Alfin sontak menoleh dan Daisha tiba-tiba menegang. Perasaannya bereaksi lain, seolah-olah akan bertemu dengan sesuatu yang besar.


Dareen lekas beranjak disusul Alfin, keduanya pergi menyambut kedatangan mereka. Laila mengerti setelah melihat interaksi keduanya. Laki-laki dengan setelan jas hitam itu memeluk Dareen dengan penuh haru. Ia bahkan menangis, sekilas Laila dapat melihat tangannya mengusap mata.


"Dia ayah kak Dareen," bisik Laila pada Daisha.


"Bagaimana parasnya?" tanya Daisha pula.


"Dia tinggi, sedikit gemuk, dengan janggut tipis di wajah. Rambutnya sudah banyak yang memutih, tapi masih terlihat segar meskipun terdapat keriput di beberapa bagian wajah. Dia tampan sama persis seperti kak Dareen," jelas Laila sambil mengamati laki-laki tersebut.


"Eh, mereka datang," katanya panik.


Laila tersenyum saat mata laki-laki hampir tua itu menatapnya. Dia balas tersenyum dengan ramah, kemudian pandangannya beralih pada Daisha yang hanya diam dengan tangan meremas ujung tongkat.


Kesan pertama yang ia berikan, gadis itu cantik dengan rambut yang bergelombang menambah kesan anggun pada dirinya. Seandainya dia seperti gadis lain, sudah pasti banyak lelaki yang ingin melamarnya.


Ia beralih menatap Daisha, tersenyum karena gadis itu tetap diam dan mendengarkan.


"Daisha, ini ayahku."


Gadis buta itu berdiri, membungkuk sebentar sebelum mengulurkan tangan ke hadapan ayah Dareen. Tepat, meskipun tak melihat tangan itu berada di depan dirinya.


"Hallo, Tuan. Saya Daisha, senang bertemu dengan Anda," katanya sopan dan penuh percaya diri.


Laki-laki itu tertegun, ia melirik putranya yang hanya diam menunggu. Bukankah dia buta? Begitu kira-kira pertanyaan yang kini ada dalam benaknya. Ia berdiri, membungkuk sebentar seperti yang dilakukan Daisha sebelum balas menjabat tangannya.


"Saya ayah Dareen, senang juga bertemu dengan gadis secantik dirimu. Pantas saja putraku ini tergila-gila dan merengek untuk dinikahkan secepatnya ... kau cantik, Nak. Kau juga terlihat baik, aku bahkan langsung menyukaimu meski baru pertama bertemu," ungkap laki-laki itu sembari menggenggam hangat tangan Daisha.


Gadis buta itu tertegun, kulit pipinya terus saja merona tanpa dapat ia kendalikan. Sungguh tak menduga, dia akan diterima oleh ayah Dareen.


"Mmm ... terima kasih, Tuan." Ia berucap lirih. Tak tahu harus apa, Daisha menyelipkan anak rambut ke belakang telinga untuk menekan rasa gugup.


Mendengar sang ayah menggoda, Dareen berpaling dengan hati yang berbunga-bunga. Rasanya, ia ingin menahan Daisha untuk kembali dan langsung saja menikah. Oh, senangnya rasa hati.


"Silahkan duduk! Kita nikmati makan siang dulu, jangan sungkan," ucapnya seraya melepaskan genggaman.


Hidangan pun datang, tersaji dengan sempurna. Kali ini, Daisha diam dan membiarkan Dareen mengambilkan makanannya. Makan siang yang berkesan, diisi oleh celoteh dan tawa riang gembira. Hati kedua gadis itu menghangat, setelah beberapa tahun hanya makan berdua, terasa lain saat berkumpul dan bercerita seperti saat ini.


****


"Jadi, kalian akan langsung kembali ke desa? Kenapa tidak menginap lebih lama lagi saja? Aku ingin mengenal lebih jauh calon menantuku yang cantik ini," katanya sambil tersenyum menatap Daisha.


Laila bisa merasakan jika laki-laki itu selalu memperhatikan Daisha. Ia kedapatan mencuri pandang pada gadis buta itu, pikiran buruk pun terus saja berdatangan.


"Benar, Tuan. Kami sudah terlalu lama meninggalkan usaha kami di desa, kami tidak bisa berlama-lama di sini," jawab Daisha kali ini lebih tenang dan nyaman.


Laki-laki itu berbinar mendengar jawaban sang calon menantu.


"Benarkah? Usaha apa jika boleh tahu?" tanyanya antusias.


Dareen bahkan tak diberikan kesempatan untuk berbincang dengan Daisha. Ia cemberut, tapi hatinya merasa senang karena telah mendapatkan restu dari sang ayah.


"Hanya kios kecil saja, Tuan. Kami menjual bunga segar di sana," jawabnya lagi sambil tersenyum.


"Wah, luar biasa. Kalian memang hebat, aku bangga kepada kalian. Anakku memang tidak salah memilih calon istri, sudah cantik, mandiri, dan menyenangkan. Secepatnya Ayah akan menyusun rencana pernikahan kalian."


Dareen berbinar mendengar itu, tapi Daisha justru menunduk malu. Kenapa harus cepat-cepat? Bagaimana dengan Laila? Ia ingin adiknya itu melanjutkan sekolah dan menjadi manusia sesungguhnya.


"Terima kasih, Ayah. Ayah memang yang terbaik," ucap Dareen sambil memeluk sang ayah.


Hari itu mereka berpisah, Alfin dan Dareen mengantar mereka kembali ke desa. Semenjak pertemuan itu, ayah Dareen selalu terbayang wajah si Gadis Buta.