
"Dia datang lagi!"
Tubuh Daisha yang menegang juga suaranya yang penuh dengan tekanan, membuat Dareen turut waspada meskipun tidak mengerti siapa yang dimaksud istrinya itu.
"Siapa maksudmu, sayang? Siapa yang datang lagi?" tanya Dareen sembari menatap Daisha yang mereguk ludah sendiri.
"Dia, aura yang sama seperti seseorang yang menaruh racun di makanan saat pesta pertunangan Kakak waktu itu," jelas Daisha memutar sedikit bola matanya kepada Dareen.
"Dia? Di mana?" Dareen menelisik setiap tamu undangan, tapi tak satu pun yang mencurigakan.
Semua orang terlihat normal dan seperti biasa. Mereka berbincang, tertawa bahkan saling berbisik menggosipkan kabar berita terbaru. Tidak ada yang aneh, juga tidak ada yang terlihat mencurigakan.
"Tepat di arah jam dua belas! Dia ada di antara mereka. Coba Kakak lihat, adakah yang memiliki ciri-ciri sama seperti sosok yang Kakak lihat?" ucap Daisha.
Telunjuknya lurus ke depan, mengarah pada sekelompok orang yang asik berbincang sambil tertawa. Dareen tak bisa menemukan sosok yang dimaksud Daisha. Di matanya tidak ada yang aneh.
"Tidak ada, sayang. Mereka hanya rekan-rekan Ayah dan Ibu, lagipula aku tidak melihat sosok yang sama seperti waktu itu," sahut Dareen disambut helaan napas oleh Daisha.
"Salah satu dari mereka berkaitan dengan Aleena. Mungkin saja dia tidak terima karena Kakak menolak pertunangan dengannya, tapi saat ini dia terlihat bahagia karena Aleena tetap dipersunting keturunan keluarga ini. Itu yang aku rasakan."
Dareen menoleh dengan cepat, menatap ngeri istrinya. Apakah dia cenayang? Peramal? Atau sejenisnya? Mengapa dia bisa tahu?
Dareen meneguk ludah gugup, dan kembali pada perkumpulan itu. Di antara mereka ada yang tertawa lebih lepas, garis wajahnya memperlihatkan kepuasan. Mungkinkah dia?
"Benar, itu dia. Apa Kakak mengenalnya?" tanya Daisha menebak isi hati Dareen.
Laki-laki itu kembali menoleh pada Daisha, wajahnya pucat pasih karena rasa terkejut dengan setiap kalimat yang diucapkan sang istri.
"Dia pemilik gedung yang Nyonya sewa waktu itu. Maka dari itu, dia bisa menghilang dan tidak tertangkap kamera pengawas. Dia hafal betul di mana letak kamera sehingga mudah saja baginya menghindar."
Lagi-lagi, kalimat penjelasan yang dituturkan Daisha membuat Dareen tersentak kaget. Darimana gadis itu tahu perihal semua itu? Namun, dia kembali pada kesadarannya, dan menatap lekat-lekat laki-laki dengan setelan jas hitam itu.
"Seingatku, dia adalah paman dari ibu Aleena. Aku pernah bertemu dengannya satu kali dan kami tidak terlalu akrab. Aku tidak percaya dia akan melakukan tindakan sekotor itu. Apa kita perlu lapor polisi?" cerocos Dareen tak sabar.
Daisha tersenyum, dia memang tidak bisa melihat, tapi bisa merasakan. Apakah polisi akan percaya pada keterangannya semata? Sementara untuk pergi ke kamar saja dia dibantu dengan tongkatnya.
"Silahkan saja jika Kakak ingin melaporkannya pada polisi? Tapi apakah bukti yang Kakak miliki cukup untuk menyeretnya masuk ke dalam penjara? Jika iya, secepatnyalah Kakak laporkan. Jangan pernah menunda lagi," sahut Daisha dengan tenang dan senyum manis tersemat.
Dareen terhenyak di sandaran kursi. Benar dia tidak mempunyai bukti apapun. Mengusap wajah gusar, merasa tidak berguna sama sekali. Namun, ia segera bangkit dan mendekati Daisha.
"Bukankah kau bisa memberikan keterangan? Katakan semua yang kau ketahui di hadapan polisi. Aku yakin itu berguna karena kasus ini memang sedang diselidiki," ungkap Dareen.
Daisha tertawa kecil, kemudian menarik napas panjang. Teringat dulu, dia pun pernah memberikan keterangan kepada polisi, tapi mereka tidak pernah percaya.
"Orang buta sepertiku? Apakah mereka akan percaya pada keterangan seseorang yang tidak bisa melihat? Perlu kau tahu, Kak. Dulu, saat aku menemukan pelaku yang hampir merenggut kegadisan Laila, aku menyeret mereka ke kantor polisi dan menjelaskan siapa dua orang itu. Akan tetapi, cukup mereka berkilah saja dan mengatai aku salah menangkap orang karena buta, polisi menganggapku gila. Jadi, aku tidak bisa memberikan keterangan apapun."
"Sebaiknya, kumpulkan bukti yang banyak. Setelah bukit-bukit terkumpul, aku akan memberikan keterangan pada pihak kepolisian."
Dareen mengangguk mendengar saran Daisha. Manusia di dalam gedung tersebut membelah menjadi dua. Cakra dan Aleena memasuki ruang pesta sambil melangkah bergandengan tangan.
Aleena tetap melangkah dengan tenang dengan pandangan ke depan meskipun ia mendengar selentingan tak enak dari para tamu. Sungguh, siapa yang menduga, ditolak adiknya diterima kakaknya.
Tubuh Daisha kembali menegang, kali ini Dareen tidak memperhatikan dan gadis buta itu juga hanya diam tidak mengatakan apapun. Setiap kali berada di satu momen yang sama dengan Cakra, dia merasakan kehadiran seseorang yang dulu mengganggunya di kedai.
Sosok yang ingin mencelakai Dareen, tapi tidak pernah bisa. Hati Daisha bertanya-tanya, jika tidak ada masalah di antara mereka, tak akan Cakra menyembunyikan keberadaan Dareen dari orang tuanya? Sudah pasti dia membawa Dareen pulang saat pertama kali menemukan adiknya itu.
"Ayo, Kakak sudah datang. Ayah juga memanggil kita," ajak Dareen sambil menyambar tangan Daisha dan mengajaknya mendekati podium. Berkumpul bersama Dewi dan Bardy dalam satu meja yang sama.
Wanita itu tampak terlihat bahagia karena pada akhirnya bisa memiliki Aleena sebagai menantu. Dengan pernikahan bisnis itu, posisi mereka menjadi lebih kuat di dunia bisnis.
Namun, ketika pandangannya jatuh kepada Daisha, senyum itu hilang berganti dengan cibiran. Sampai kapan pun Dewi tak akan pernah menerima Daisha sebagai menantu. Dia sudah membuatnya malu dan hampir menghancurkan harga dirinya.
Acara pertunangan berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. Gemuruh tepuk tangan menyambut usai pemasangan cincin di kedua jari pasangan itu. Mereka terlihat bahagia. Banyak di antara para tamu yang memuji mereka serasi, tapi tak sedikit pula yang mencibir Aleena.
Acara dilanjutkan dengan berbincang-bincang ringan sambil menikmati makanan yang ada dan mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan oleh artis kenamaan di kota tersebut.
Kini, di meja yang sama mereka duduk. Dua keluarga besar menjadi satu, termasuk sosok yang menaruh racun di dalam makanan di acara pesta satu Minggu yang lalu. Dareen tak lepas dari menatapnya hingga membuat laki-laki itu merasa tidak nyaman.
Dewi mengeluarkan sebuah kotak perhiasan sebagai hadiah untuk pertunangan Aleena dan Cakra.
"Selamat, sayang. Selamat datang di keluarga kami, ini ada hadiah kecil untukmu," ucap Dewi dengan nada bahagia yang sengaja dibuat-buat.
Matanya melirik Daisha yang terdiam seperti orang bodoh. Dia memanas-manasi gadis itu. Membuktikan padanya bahwa hanya Aleena yang pantas diterima bukan Daisha. Dewi bahkan tidak memberikan hadiah untuk pernikahan mereka.
Namun, Daisha tidak peduli pada itu semua. Sekalipun Dewi memberikan seluruh hartanya kepada Aleena, Daisha tak akan pernah merasa cemburu. Yang penting baginya, hidup damai dan tenang berdua dengan Dareen.
"Wah, ini indah sekali, Tante! Terima kasih," pekik Aleena sambil memamerkan kalung berbandul berlian yang berkilau.
"Mulai sekarang, jangan panggil Tante. Panggil Ibu saja karena kau sekarang adalah menantuku," sahut Dewi sambil mendelik memutar bola mata pada Daisha.
"Ah, iya, Ibu." Malu-malu Aleena mengatakan itu, tapi matanya turut melirik Daisha.
Dareen terhenyak, buru-buru menggenggam tangan Daisha yang terasa biasa saja. Lalu, melirik wajah sang istri yang juga terlihat tenang, bahkan sesekali Daisha akan memakan buah yang tersedia di depannya.
"Jangan cemas, aku tidak cemburu sama sekali. Justru aku merasa khawatir, cinta yang terlihat saat ini akan berubah nantinya," bisik Daisha dengan lirih.
Dareen tersenyum dan mengangguk pelan. Semua orang memperhatikan mereka berdua yang terlihat selalu mesra dan romantis. Laki-laki itu bahkan meletakkan jemari mereka yang bertaut di atas meja sambil menatap semua orang dengan senyuman.