Mohabbat

Mohabbat
Menghilangkan Jejak



Di malam yang sama, di bawah terpaan sinar lampu taman yang temaram, sekelompok orang berjalan memasuki pekarangan rumah besar milik seorang jutawan. Dua orang membawa tandu, di atasnya tergolek tubuh seseorang ditutupi sebuah kain gelap.


Mereka melangkah dengan kepala tertunduk, berdiri menunggu sang tuan rumah membukakan pintu. Seseorang berdiri di paling depan, menatap pintu kayu berdaun dua yang perlahan terbuka.


Dua orang tuan rumah muncul dengan senyum tersemat di bibir mereka. Tampak sumringah menyambut kelompok itu dengan tangan terbuka lebar.


"Wah ... kalian telah kembali? Bagaimana? Aku yakin kalian tidak akan mengecewakan aku. Haha ...." Dia tertawa sambil menuruni tiga anak tangga di teras rumahnya.


Tawanya semakin terbahak, tatkala melihat tandu yang mereka letakkan di atas tanah halaman.


"Haha ... kalian tidak hanya menculiknya, tapi langsung membunuhnya juga? Haha ... bagus, bagus. Aku suka kerja kalian," katanya lagi sambil menepuk bahu orang yang berdiri di paling depan.


Mereka semua bergeming, tak satu pun yang beranjak atau menyahuti ucapan si pemilik rumah. Tak sadarkah dia bahwa mereka tengah berduka? Atau dia tidak melihat wajah mereka yang lebam dan memar. Sungguh, terlalu tinggi dirinya berangan.


"Kita harus merayakan keberhasilan ini. Aku secara pribadi mengundang kalian untuk makan malam di rumahku. Ayo, aku sudah menyiapkan semuanya. Mari, jangan sungkan," ajaknya sambil melangkah dengan tawa yang menggema. Sebuah tawa kemenangan atas tersingkirnya batu penghalang mereka.


Dia terus saja berjalan menapaki kembali anak tangga tersebut tanpa peduli pada mereka yang masih tertunduk dalam duka karena kehilangan satu rekan.


"Ayah, sepertinya ada yang salah dari mereka. Coba perhatikan, mereka semua menunduk dan tak satu pun ada yang bergerak," sergah Lilia setelah memperhatikan kelompok tersebut yang tak berkutik sedikit pun.


Laki-laki yang tak lain adalah Tuan Nugraha itu menjeda langkahnya, tawa yang sejak tadi menggema terhenti seketika. Senyum yang diukirnya raib berganti guratan bingung di antara kedua ujung alis.


Ia berbalik, menatap kelompok tersebut dengan saksama. Pandangannya beralih pada sesosok mayat yang terbaring di tanah halaman. Senyum miring tercetak, ia pikir mereka menyesal telah membunuh seorang wanita buta yang lemah. Itu wajar, karena wanita itu tidak melakukan apapun yang membuat mereka merugi.


"Oh, aku tahu. Kalian pasti telah menyesal karena membunuh seorang wanita, bukan? Ayolah, dia hanya batu kerikil yang layak disingkirkan. Tak perlu kalian sesali, justru aku akan melipatgandakan bayaran kalian karena telah membawa mayatnya ke hadapanku," ungkap Tuan Nugraha dengan kejamnya.


Ia kembali terbahak, tak memperhatikan setiap wajah dari orang-orang suruhannya itu.


"Ayo, kita berpesta. Tinggalkan saja mayat itu di sana. Nanti buanglah ke dalam hutan agar binatang buas memakan tubuhnya," titah Tuan Nugraha dengan kejam.


Pernyataan tersebut sontak saja membuat mereka mengangkat kepala, menatap keji pada sang majikan yang memberikan sebuah perintah kejam.


"Kenapa kalian masih berdiri di sana? Oh, aku tahu. Haha ... kalian pasti menginginkan minuman, bukan? Tenang saja, aku akan menyediakannya khusus untuk kalian. Sekarang, segeralah masuk jangan hanya mematung di sana," lanjut Tuan Nugraha mulai geram dengan tingkah mereka yang hanya seperti patung.


"Maafkan kami, Tuan, tapi kami tidak bisa berpesta di atas mayat saudara kami sendiri," timpal salah satu dari mereka dengan tegas dan yakin.


Kerutan di dahi tuanya kian menumpuk, nyaris menyatukan kedua ujung alisnya. Dia menatap lekat pada laki-laki yang berbicara tadi, kemudian tatapan beralih pada sosok yang tertutupi kain hitam tersebut.


"Apa maksudmu? Bukankah yang kalian bawa itu adalah dia, si gadis buta?" tanya Tuan Nugraha menunjuk mayat di atas tandu itu.


Laki-laki tersebut menggelengkan kepala lemah, sorot matanya memancarkan kesedihan dan kekecewaan yang dalam. Juga rasa sesal yang teramat.


Gemetar kaki laki-laki tua itu, begitu pula dengan putrinya yang tercengang mendengar cerita mereka. Tak satu pun dari mereka yang tahu bahwa Daisha terluka karena semua tak sadarkan diri.


"Omong kosong! Bagaimana mungkin kalian satu kelompok bisa dikalahkan oleh seorang wanita buta? Rasanya itu sangat mustahil. Terdengar seperti lelucon yang konyol di telingaku," ucap Tuan Nugraha tak percaya.


Ia tertawa getir, meragukan keterangan orang-orang yang disuruhnya. Semua yang dia dengar tidak dapat diterima logikanya.


"Dia tidak sendirian, Tuan. Dia dibantu seorang wanita yang tak kalah kejamnya. Mungkin jika mereka mau, kami semua telah mati dibuatnya. Percayalah pada kami, Tuan. Lawan kita itu bukanlah orang sembarangan," sahut mereka meyakinkan Tuan Nugraha tentang apa yang mereka alami siang tadi.


Laki-laki itu menahan napasnya beberapa saat, untuk kemudian memburu udara tersengal-sengal. Langkahnya berayun menuruni anak tangga, terus mendekat pada tandu yang berisi satu sosok tak bergerak.


Ia menghela napas sebelum menyibak kain yang menutupi sosok tersebut. Matanya membelalak hampir-hampir keluar, mayat itu bukanlah Daisha, melainkan orang suruhannya yang mati mengenaskan.


Luka lebam hampir memenuhi seluruh wajahnya, sabetan tongkat Daisha mengoyak pakaiannya memperlihatkan luka yang meninggalkan jejak darah di seluruh kulit tubuh laki-laki itu.


Tuan Nugraha berhenti bernapas, tubuhnya termundur beberapa langkah. Ia tampak syok, rasanya semua itu hanyalah mimpi. Dia ingin terburu-buru bangun dari tidurnya. Bagaimana mungkin seorang wanita buta dibantu satu wanita pula dapat mengalahkan sekelompok preman pilihan, bahkan salah satu di antara mereka mati mengenaskan.


"Tidak mungkin!"


"Mayat di depan Anda adalah bukti bahwa lawan kita bukanlah orang biasa. Mereka memiliki keahlian tak biasa, gerakan mereka terlatih dan tak dapat dibaca. Sebaiknya Anda berhati-hati, Tuan, karena tidak menutup kemungkinan mereka akan menuntut balas," ucap mereka membuat gemetar tubuh laki-laki tua itu.


Dia mengangkat kepalanya cemas, peluh bermunculan membanjiri wajah merembes hingga ke lehernya. Rasa takut mulai merambat menjalari hatinya. Berkumpul membentuk mimpi buruk yang akan datang menghantui setiap malamnya.


"Kau benar, untuk itu kita perlu melakukan persiapan. Untuk saat ini, kita tidak perlu melakukan apapun agar jejak kita tidak diketahui. Kalian mengerti?"


Tuan Nugraha gelisah, mengusap wajah gusar. Begitu pula dengan Lilia, mendengar hal itu dia pun menjadi cemas. Khawatir orang-orang tersebut menandai dirinya dan mencelakai dia di jalan.


"Ayah, aku takut," katanya seraya berhambur memeluk ayahnya.


Tuan Nugraha mengusap rambut Lilia sampai ke punggungnya. Menenangkan gadis itu dari semua kegelisahan.


"Kau tenang saja, sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Untuk sementara, tinggallah di rumah dan jangan berkeliaran. Ok?"


Lilia mengangguk. Mau tidak mau, dia harus berdiam diri di rumah.


"Hahaha ... terlambat! Kurasa semuanya sudah terlambat!"


Orang-orang itu tersentak mendengar suara asing yang muncul tiba-tiba.