
"Bibi, aku tidak tega melihatnya seperti itu. Dia tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa. Dia juga masih belum ingat tentang semua yang dilakukan kakaknya itu. Aku tidak bisa melihatnya seperti itu, Bibi. Aku mau pergi," ucap Daisha sambil terisak-isak pilu melihat keadaan suaminya yang menangis di kamar mereka.
Areta tidak mencegah, menatap punggung keponakannya yang kian menjauh.
"Jika kau datang sekarang, itu tidak akan memberinya pelajaran. Biarkan dia belajar merenungi kesalahannya dulu, biarkan dia mengerti tentang situasi yang terjadi. Kau bisa menemuinya setelah dia benar-benar menyadari kesalahannya."
Kalimat Areta yang terlontar pelan menjeda langkah Daisha. Ia gamang, antara pergi dan bertahan. Ia terjebak dalam situasi yang sulit, jika bisa istri Dareen itu tidak ingin memilih.
"Kejadian hari ini membuktikan bahwa cinta suamimu itu masih sekulit ari. Kau lupa, dia bahkan tidak membela saat wanita tua itu merendahkanmu, menghina dirimu yang notabene adalah istrinya, tanggung jawabnya. Sebagai suami seharusnya dia menjaga kehormatan wanita yang dinikahinya, menjunjung tinggi derajatnya, tidak membiarkan begitu saja istrinya dihina."
Areta menghela napas, mengingat wajah Dewi yang membara siang tadi, bergejolak rasa di hati. Ingin rasanya ia mencabik wajah jelek itu. Merusaknya dan memberinya luka abadi sehingga ia akan tertunduk di hadapan semua orang.
"Sudahlah, tunggu tiga hari atau selama yang dia perlukan. Tahan rasa cintamu, pakai logika. Istirahatlah, kau terlihat begitu lelah. Wajahmu pucat, tidur dan jangan pergi ke mana pun," pungkas Areta tak ingin dibantah.
Daisha mendesah, ia melanjutkan langkah dengan gontai menuju kamarnya di lantai dua. Oleh karena tak ingin tidur sendirian, Daisha pergi ke kamar Laila untuk menghabiskan malam dengan remaja itu. Mereka berada di villa Alejandro yang tersembunyi di balik pepohonan besar.
Areta menatap sedih keponakannya itu, seperti berkaca, menatap dirinya sendiri di dalam cermin. Diam-diam tersenyum, seperti itulah dia. Cintanya yang begitu besar kepada Alejandro meski harus menentang kedua orang tua. Dengan gigih menolak pengekangan juga peraturan yang dibuat keluarga untuknya.
Areta bahkan melarikan diri dari rumah dan memilih hidup bersama sang mafia itu. Ternyata hatinya memang tidak salah memilih. Alejandro menjadikanya ratu tak hanya di rumah, tapi juga di hatinya. Dia terus menabur cinta meski tahu Areta tak akan pernah memberinya keturunan.
"Kau sama persis seperti diriku, Daisha. Percaya saja pada hatimu, karena dia tidak pernah salah dalam memilih," gumamnya seraya beranjak meninggalkan ruang tengah villa besar itu dan berjalan ke belakang bangunan.
Di kegelapan malam, di bawah rintik gerimis yang turun, seseorang diikat pada sebuah tiang dan dibiarkan begitu saja dengan penjagaan yang ketat.
Dengan hanya mengenakan gaun tidur sekelam malam, Areta mengayunkan langkah dengan anggun. Tak peduli pada tetesan air yang sedikit demi sedikit membasahi kepalanya. Tanpa alas, kedua kaki jenjangnya itu menapak di atas rumput.
Berlenggok dengan anggun dan seksi, memercikkan air yang menggenang setiap kali menapak. Suara itu berhasil membuat Cakra yang berada di sebuah tiang menoleh. Kedua tangannya diikat di belakang tubuh, ia lemah tak berdaya.
Areta tersenyum tatkala lirikan tajam Cakra mengarah tepat di kedua maniknya. Berlanjut dengan memunculkan seringai aneh dan penuh ancaman. Areta berhenti di depan tubuh penuh lebam itu, mengangkat tangan dan meletakkan jari telunjuknya di dada Cakra yang tanpa busana.
"Bagaimana kabarmu, jagoan? Bagaimana pula perasaanmu setelah membunuh orang yang paling ditakuti oleh semua penjahat? Bagaimana malam-malam yang kau lalui setelahnya? Apakah ada ketenangan? Ataukah selalu mendapat mimpi buruk? Mimpi buruk yang perlahan akan menghancurkan duniamu," cecar Areta.
Wanita itu mengangkat dagu Cakra dengan jari telunjuknya hingga mata mereka saling melayangkan tatapan tajam yang bersiap menikam apa saja.
Areta bergerak cepat ketika Cakra meludahinya, ia tertawa bagai seorang penyihir yang kejam. Lalu, berjalan memutari tubuh Cakra sambil meraba permukaan kulitnya. Cakra memejamkan mata, menahan segala gejolak yang membuncah.
Tubuhnya yang terasa remuk redam, membuatnya sesekali meringis ketika Areta sengaja menekan di beberapa bagian.
"Bukankah di sini kau membunuh Alejandro? Membunuh cintaku?"
Pertanyaan yang sukses membuat mata Cakra membelalak. Lalu, kembali meringis ketika Areta menekan tanda biru di tangannya.
Cakra meneguk ludah, melirik betapa Areta memang cantik dan seksi. Di usianya yang sudah memasuki kepala empat, dia masih segar dan memilki tubuh yang indah lagi mengiurkan.
"Ingat, istrimu sedang mengandung. Sebentar lagi kebahagiaan kalian akan sempurna. Sangat disayangkan jika seandainya wanita itu berjuang sendirian melahirkan anak kalian, bukan? Momen yang paling dinantikan semua pasangan dalam kehidupan berumahtangga. Jika kau bersedia bertangungjawab, maka aku akan membebaskanmu," tawar Areta sembari menyeringai.
Cakra gelisah, teringat pada Aleena yang menangis siang tadi dan memohon untuk tidak membawanya. Terbayang perut wanita itu yang sudah membesar dan kewalahan dalam melakukan aktivitasnya.
"Aleena!" lirihnya pilu.
Ia menunduk, menumpahkan ketidakberdayaan lewat tangisan. Sungguh tak menyangka dia akan dikalahkan oleh seorang wanita. Tidak! Daisha bukanlah sembarang wanita, dia keturunan Alejandro sang mafia.
"Ya, Aleena. Wanita angkuh dan sombong itu ... rasanya aku ingin merobek mulutnya yang lancang setiap kali dia menghina keponakanku. Juga ibumu itu, boleh aku memotong lidahnya? Untuk kujadikan koleksi di ruang tengah?" Areta mendekatkan wajahnya pada Cakra.
Laki-laki itu membelalak mendengar ucapannya, terlebih ketika ia melihat kesungguhan di wajah yang cantik itu. Cakra meneguk ludah, menggelengkan kepala menolak ucapan Areta.
Tak lama, tawa menggelegak darinya. Tawa yang menyiratkan ancaman serius. Areta melangkah, pergi menjauh dari tiang yang mengikat tubuh Cakra.
"Cambuk dia sebanyak lima puluh kali!" perintahnya sembari terus melanjutkan langkah memasuki villa.
Seorang laki-laki bertubuh paling besar, kulitnya hitam dan wajahnya seram. Sosoknya tak pernah tersenyum, tak ramah pada siapapun. Ia memegang sebuah cambuk di tangan yang begitu panjang dan mengerikan. Cakra mengkerut, meringis dan membasahi tenggorokannya berkali-kali tatkala tangan kekar itu mengibaskan cambuk.
"Argh!"
Satu cambukan mendarat di tubuh Cakra. Areta memejamkan mata, mengendus bau penderitaan Cakra. Ia membentang kedua tangan menikmati air yang menimpa tubuhnya kala jeritan kedua Cakra menggema memenuhi jagat.
Areta tertawa puas dan lantang menyambut jeritan Cakra yang selanjutnya. Lalu, melanjutkan langkahnya memasuki villa. Terus menuju kamarnya sendiri. Kamar yang dulu selalu hangat oleh sentuhan Alejandro, kini terasa dingin dan mencekam.
Areta menceburkan diri ke salam bathtub yang berdiri air hangat, menenggelamkan dirinya untuk beberapa saat sebelum menikmati kehidupannya yang sendirian. Ia terpejam, mencoba membayangkan kehidupan saat bersama Alejandro dulu.
Betapa dia merindukan sosoknya, sentuhannya, dan segala sikap manisnya. Juga taburan cinta yang tak pernah ada batasnya. Tak akan pernah ia jumpai lagi laki-laki seperti dirinya. Tidak akan!
Sementara itu, di kamarnya Daisha gelisah memikirkan Dareen. Matanya enggan terpejam, selalu terbayang keadaan suaminya yang kacau.
"Aku tidak bisa tinggal di sini, aku harus menemuinya."
****
Terima doanya teman-teman, insya Allah hari ini aku akan up rutin seperti biasa. Targetnya bulan ini Daisha akan tamat. Terima kasih banyak sekali lagi. Love you all.