Mohabbat

Mohabbat
Gagal Melarikan Diri



Gerimis masih menyiram jagat malam itu, gelegar petir di kejauhan masih samar terdengar dan menggetarkan. Namun, semua itu tak menyurutkan langkah seorang wanita yang berlari menerjang kegelapan. Dengan hanya mengenakan sandal rumahan, ia terus berlari menembus gelapnya hutan.


Hanya jalan setapak yang ia lalui, jalan yang sangat jarang dilalui manusia. Gelap, sunyi, sepi, tak ada sedikitpun penerangan di sana. Hanya terdengar suara sekawanan hewan malam yang seharusnya cukup menggetarkan hati setiap yang melintasinya.


Suara burung hantu yang bertengger di pepohonan tanpa terlihat, membuat bulu kuduk berdiri dengan sendirinya. Darah berdesir hingga ke ubun-ubun, bergejolak karena rasa yang tak menentu.


Rasa rindu menjelaga menciptakan gelap dalam relung kalbu. Seolah tak peduli pada keadaan tubuh yang telah menggigil, bibir merah alami itu bahkan gemetar dan memucat. Berkali-kali ludah diteguk, untuk membasahi tenggorokan yang mengering.


Daisha memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri hutan, keluar dari wilayah villa Alejandro karena khawatir akan membangunkan seisi rumah terutama Areta yang selalu waspada meski dalam tidurnya.


"Apa jalanan masih jauh? Kenapa paman membuat tempat tinggal di hutan terpencil seperti ini?" gumam Daisha sambil terus berjalan berharap jalan besar akan segera tiba.


Jalanan yang rumit dan bercabang dengan tujuan masing-masing tempat, seolah-olah sengaja dibuat untuk mengecoh para manusia yang ingin memasuki kawasan miliknya.


Daisha pernah diberitahu Alejandro ke mana saja arah jalanan bercabang itu. Hanya satu yang mengarah ke villanya dan itu pun jika beruntung. Sambil mengingat-ingat jalan mana yang mengarah ke jalan besar, Daisha terus mengayunkan langkahnya.


Ia tersenyum samar ketika lampu jalanan mulai samar terlihat. Tak hanya itu, lamat-lamat telinganya juga mendengar suara deru mobil di kejauhan, bahkan suara banyak manusia juga derap kaki yang tak sedikit mulai memenuhi indera pendengarannya.


"Cepat cari, kudengar villanya ada di sekitar sini!"


Sebuah suara bernada memerintah mulai membuat ketenangan Daisha terusik. Ia menghentikan langkah, ada banyak sorot lampu di kejauhan yang mengarah ke dalam hutan.


"Siapa mereka? Dan apa yang mereka cari?" gumamnya sembari terus memperhatikan cahaya-cahaya itu menyebar ke segala arah.


"Jalannya bercabang! Ke mana kami harus berjalan?" Suara tanya seseorang berteriak.


Daisha semakin menghening, mulai menyusun strategi jika saja hal yang tak diduga terjadi.


"Susuri saja semuanya, temukan bangunan itu! Di dalam sana hanya ada satu bangunan dan itu yang kita cari!" Jawaban itu semakin memperjelas tujuan mereka datang.


Daisha menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari ranting pohon yang berjatuhan. Ia dengan cepat mengumpulkan ranting pohon tersebut, menumpuknya dengan dedaunan meski harus merelakan tangannya dipenuhi lumpur basah.


Daisha menutup jalan satu-satunya yang mengarah ke villa membuatnya seolah-olah adalah jalan buntu dengan sempurna. Satu-satunya jalan yang dihimpit banyak pohon besar. Mereka tak akan menemukan jalannya, karena mobil yang mengarah ke villa berada di jalanan lain.


"Mereka tidak boleh menemukan jalan ini. Tidak! Bagaimana dengan villa jika mereka berhasil menemukannya? Apakah Bibi akan tahu?" Daisha bergumam gelisah sambil menggigit bibirnya kuat-kuat.


Berjalan mondar-mandir sambil berpikir apa yang harus dilakukan?


"Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus kembali?" tanyanya pada diri sendiri.


Matanya berbinar ketika sebuah ide muncul. Ia mengumpulkan banyak dedaunan kering yang telah basah. Menabur daun-daun tersebut di sepanjang jalan kembali. Daisha memutuskan kembali ke villa untuk memberi tahu tentang kedatangan orang-orang itu.


Jalanan tertutup dengan sempurna. Daisha menyibak tanaman merambat yang berbentuk seperti dinding. Begitu tebal dan banyak juga menyatu dengan pepohonan besar di sekitar tempat tersebut sehingga tak mengundang rasa curiga dari siapa saja yang datang.


Ia membuka sebuah pintu, dan menutupnya kembali dengan hati-hati. Daisha memutuskan untuk memanjat sebuah pohon yang tumbuh tinggi di dalam sana. Hanya ingin melihat siapa saja yang datang. Sayangnya, pandangan Daisha terbatas di kegelapan hutan.


Ia turun kembali dan berlari ke dalam villa. Tak dinyana, Areta tengah menunggunya di depan villa bersama sekelompok laki-laki berseragam hitam. Daisha memelankan langkah, terheran-heran melihat keadaan sekitar villa.


Ia malu setengah mati, berjalan sambil menunduk mendekati bibinya itu. Di sampingnya, Laila menatap tak percaya pada Daisha. Remaja itu menangis karena mengkhawatirkan keadaan sang kakak.


"Kakak!" Ia berlari dan berhambur memeluk Daisha.


Menangis sesenggukan menumpahkan segala kecemasan.


"Kakak pergi ke mana? Mengapa melarikan diri dari villa?" tanyanya sambil tersedu-sedu.


Daisha mengecup pundak Laila, mengusap punggung remaja itu dengan penuh penyesalan.


"Sudah, jangan menangis. Kita datangi Bibi, Kakak punya berita penting untuk disampaikan," ucap Daisha sembari mengurai pelukan.


Keduanya berjalan mendekati Areta, Laila penasaran berita apa yang dibawa Daisha sehingga wajahnya begitu terlihat panik.


"Bagaimana? Kau sudah bertemu dengannya?" sindir Areta yang berbalik hendak meninggalkan halaman.


Daisha menggigit bibir, merasa bersalah juga menyesal karena tak mendengarkan perkataan sang bibi.


"Umh ... Bibi, ada yang ingin aku sampaikan. Ini penting, tapi melihat banyaknya penjaga aku pikir Bibi sudah mengetahuinya," ucap Daisha meski ragu, tapi ia harus tetap menyampaikan apa yang dia lihat di dalam hutan.


Areta menghentikan langkah, melirik ke samping tubuh sebelum berbalik menghadap Daisha kembali.


"Katakan, apa yang kau temukan di hutan?" tanya Areta sembari berpangku tangan di belakang tubuh.


Daisha dan Laila mendekat, berdiri di sisi kanan dan kiri Areta.


"Ada banyak orang di hutan sana, mereka sedang mencari jalan ke villa ini, Bibi. Aku tidak tahu siapa saja dan dengan maksud apa mereka datang?" ucap Daisha dengan panik.


Areta menghela nafas dengan dagu terangkat, seperti telah terbiasa dengan kejadian yang dilaporkan Daisha, ia diam beberapa saat. Perlahan kedua tangan mengepal erat, amarahnya bergejolak.


"Bibi sudah menduganya, mereka pasti datang, tapi Bibi tidak menyangka akan secepat ini. Masuklah, jikapun mereka berhasil menemukan tempat ini, Bibi pastikan tak akan ada satu pun dari mereka yang selamat."


Sekilas Daisha melihat bara dendam di wajah cantik itu, tanpa membantah ia mengajak Laila untuk memasuki villa dan melindungi adiknya itu.


Sementara itu, Areta mulai mengumpulkan orang-orang yang dia miliki di villa. Memerintah mereka untuk waspada, juga mengutus mata-mata handal untuk mengawasi kawasan hutan.


Penjagaan diperketat terutama di tempat Cakra ditawan. Laki-laki itu tertunduk lemah, untuk bersuara saja ia tak mampu. Setelah tubuhnya dirajam lima puluh cambukan, Cakra semakin tak berdaya.


Areta memasuki villa, terus langsung ke kamar. Ia membuka lemari yang hampir seumur hidupnya tak pernah ia buka. Mengeluarkan sebuah koper, menariknya keluar. Sebuah hadiah ulang tahun pernikahan mereka dari sang pujaan hati.


Areta mengusap permukaan koper tersebut yang bertuliskan 'happy anniversary my sweety'. Bibirnya tersenyum manis, tapi mata tergenang air. Ada kerinduan yang membuncah dalam dada, menyeruak meminta dilepaskan.


"Kau memintaku untuk mengenakan ini, bukan? Tapi aku belum siap memakainya waktu itu. Aku terlalu takut dan juga lemah. Sekarang, kau lihatlah, sayang. Aku akan mengenakan hadiah darimu ini. Lindungi aku dari tempatmu, aku harus berjuang sendirian tanpa dirimu," lirih Areta sembari membuka kunci koper tersebut.


Air mata jatuh tak terkendali saat ia melihat isi kopernya.