Mohabbat

Mohabbat
Daisha Melihat Lagi



Hari yang dinanti Daisha akhirnya tiba, di mana semua persiapan telah dilakukan dengan sangat sempurna sesuai arahan dokter. Laila dan Alfin tak lupa berkumpul di hari bahagia yang akan mereka temui.


Untuk hari itu, Laila sengaja meminta izin pihak sekolah untuk menemani Daisha operasi. Wanita itu terlihat gelisah menunggu giliran, meski ia tetap diam dan mencoba untuk menahan diri agar tidak terbawa suasana. Tetap saja, sikap diamnya tak dapat menyembunyikan semua fakta bahwa dia tengah risau.


"Kakak! Kakak terlihat tegang sekali," tegur Laila sembari bergelayut di lengan Daisha.


Sudut bibir wanita itu tertarik ke atas meski gemetar. Lidahnya kelu untuk beberapa saat tak mampu digerakkan.


"Begitukah? Apa sangat jelas terlihat?" tanya Daisha, bahkan suaranya pun terdengar bergetar. Dia benar-benar gugup.


"Dengar, suara Kakak bahkan gemetar. Apakah Kakak sangat gugup?" Laila balik bertanya sambil memperhatikan riak wajah sang kakak.


Daisha lagi-lagi tersenyum meski terkesan memaksa. Ia meneguk ludah, jemarinya yang tersembunyi di balik selimut saling meremas dan terasa lembab.


"Kau benar, Kakak gugup sekali." Dia menghela napas panjang. Mengurangi debar di jantungnya.


"Tenang, Kak. Yakinlah, semuanya akan baik-baik saja dan akan berjalan tanpa hambatan. Kak Dareen membawakan Kakak seorang dokter yang profesional di bidangnya. Kakak jangan cemas," ucap Laila menyemangati kakaknya itu.


Mereka hanya berdua di ruang tunggu, sementara Dareen dan Alfin sedang di ruang dokter.


"Apa kak Dareen belum kembali?" tanya Daisha semakin gelisah, "Laila, Kakak takut sekali. Apakah operasi ini akan berhasil? Bagaimana jika gagal? Mungkin Kakak tidak akan pernah bisa melihat lagi," sambung Daisha dengan perasan cemas yang semakin memuncak.


Perlahan berubah menjadi rasa takut. Hal-hal yang membuatnya takut satu per satu mulai hadir dan mengisi hatinya.


"Tenang, Kak. Di saat-saat seperti ini, ada baiknya Kakak mengingat kenangan menyenangkan dalam hidup Kakak. Coba Kakak bayangkan, pada masa itu semua terlihat indah," cetus Laila berbisik di telinga Daisha.


Wanita itu tertegun sejenak, kemudian menghela napas panjang mengurai rasa takut yang menghimpit rongga dada. Perlahan, kenangan indah muncul dalam benak. Rasa damai kembali mengisi hatinya, mengenyahkan semua kecemasan.


Wajah kedua orang yang amat dia rindukan, tersenyum di sana. Di atas sebuah batu, di pinggir pantai. Mereka melambai memanggilnya, Daisha tertegun. Apakah mereka nyata?


Gemuruh dalam dada berangsur-angsur menghilang. Pergi membawa segala ketakutan yang membuai alam bawah sadarnya. Daisha bertekad, dia harus kembali seperti dulu. Melihat indahnya dunia, menikmati setiap waktu yang dilewati.


Ia kembali menghembuskan napas, tersenyum lega. Tangannya mengusap pipi Laila yang menempel di bahu. Gadis itu memang manja saat bersama dirinya.


Saatnya tiba, Dareen dan Alfin muncul bersama beberapa tenaga medis. Laki-laki itu mendekat, berjongkok di depan Daisha yang duduk di atas ranjang. Ia menggenggam tangan sang istri, mengecupnya dengan penuh cinta.


"Kau sudah siap? Saatnya tiba untukmu masuk ke ruang operasi," ucap Dareen sembari menatap lekat wajah wanita yang amat dicintainya itu.


Daisha menghela napas, bukannya ia tak takut. Hanya saja, dia sudah bertekad untuk mengembalikan harapannya. Mengembalikan dunianya yang benderang penuh dengan cahaya dari kegelapan yang terus merundung.


Daisha mengangguk, memaksa sudut bibirnya untuk tersenyum. Menenangkan hati suaminya itu.


"Aku siap, dan memang seharusnya aku selalu siap," sahut Daisha dengan yakin dan tegas.


Dareen beranjak setelah mendaratkan kecupan di dahi sang istri, membiarkan tim dokter melakukan tugasnya memberi dunia baru pada seorang Daisha.


Mereka bertiga duduk menunggu, harap-harap cemas. Tak henti hati mereka berdoa untuk kelancaran operasi Daisha. Semoga setelah ini, hanya kebahagiaan yang akan dia lihat.


****


"Jadi, dia keponakannya Alejandro? Tidak mungkin!" gumamnya pelan.


Ia meneguk ludah guna membasahi tenggorokannya yang teras kering. Mengingat laki-laki yang telah meninggal dunia lima tahun yang lalu, ia merasa ditarik kembali pada masa di mana dia berjaya dan membuat iri semua orang.


Bisnis apapun yang dijalankan Alejandro, tak pernah mengalami kegagalan. Untuk itulah, selain ada banyak orang yang mencintainya karena sebuah kebaikan, banyak pula yang membencinya dan ingin menyingkirkan dia.


"Jika dia setan kecil Alejandro ... ah, mengapa rasanya aku tak ingin percaya. Apa dia masih ingat kejadian dulu? Sial!" Ia memukul udara dengan kesal.


Karena kematian Alejandro, dia menjadi pemimpin salah satu kelompok mafia di tanah air. Berbisnis secara diam-diam dan tidak terlalu menonjol. Berbaur bersama masyarakat berpura-pura menjadi rakyat biasa. Padahal, dia menawarkan sesuatu yang tak biasa diperjual-belikan.


"Aku harap tak ada yang sudi mendonorkan mata untuknya. Biarlah dia terus buta untuk selamanya." Tangannya mengepal dengan kuat.


Dia beranjak meninggalkan tempat tersebut menuju sebuah gedung terbengkalai yang dijadikannya sebagai markas.


****


Di rumah sakit, setelah menunggu beberapa saat lamanya, akhirnya operasi selesai dilakukan. Daisha dibawa ke ruangannya dalam keadaan mata yang tertutup. Duduk menunggu waktunya untuk dibuka.


"Kau tegang?" tanya Dareen saat tangan Daisha meremas kuat jemari mereka yang bertaut.


"Hmm ... aku tidak tahu. Apakah setelah ini aku dapat melihat lagi?" bisik Daisha sembari menjatuhkan kepala di pundak suaminya.


Laila memperhatikan keduanya dari jarak yang tidak terlalu dekat, berdiri berdua dengan Alfin. Laki-laki yang selalu ada ke mana pun Dareen pergi.


"Tenang, sayang. Setelah ini kau pasti akan dapat melihat lagi. Aku akan mengajakmu ke tempat-tempat indah yang ingin kau kunjungi," sahut Daren sembari melepas tautan jari mereka dan beralih memeluknya.


Daisha mengangkat kepala, kedua tangannya meraba wajah Dareen sambil mengingat-ingat. Ia menghela napas panjang.


"Aku ingin sekali melihat wajah ini, setampan apa dirimu? Atau apakah aku menikahi pria jelek dan hitam?" Daisha tertawa kecil.


Apapun keadaan Dareen nantinya, dia akan tetap mencintai laki-laki itu. Cintanya tidak memandang fisik, tidak peduli dia memiliki harta ataupun tidak.


"Sebentar lagi. Jangan bayangkan aku seperti para artis di dalam televisi. Aku tidak sama seperti merasa," ujar Dareen mewanti-wanti.


Daisha kembali terkekeh, belum sempat menyahut, tim dokter masuk ke ruangan. Mereka akan membuka perban yang menutupi kedua mata Daisha.


Setelah menjelaskan semuanya yang terkait dengan kondisi mata Daisha, Dokter tersebut membuka perban itu dengan hati-hati. Dareen dan dua orang lainnya tak berkedip dari menunggu reaksi Daisha yang dapat melihat lagi.


"Silahkan dibuka pelan-pelan matanya, jika terasa buram dan perih tutup dulu sebentar. Setelah itu, Anda bisa lanjut membukanya lagi," perintah dokter dengan sangat jelas.


Perlahan Daisha membuka mata, ia menghalau cahaya yang masuk pada korneanya dengan kedua tangan ketika terasa menyilaukan. Mata itu terbuka sempurna. Dia menatap satu per satu dari mereka, seketika menangis sesenggukan.


"Daisha!"


"Kakak!"