
Hingga senja hari, Daisha dan Laila masih berada di taman. Malam nanti dengan dibantu oleh Dareen, mereka akan memindahkan barang-barang dari villa. Cukup Dareen dan Alfin yang tahu tempat itu, selebihnya akan menjadi rahasia untuk siapa pun.
"Kakak, jadi aku akan tinggal di rumah baru? Sendirian?" tanya Laila cemas.
Daisha tersenyum, ia mengusap tangan Laila yang menempel di pahanya. Menggenggamnya dengan lembut, menyalurkan ketenangan pada hati sang adik yang gelisah.
"Tidak perlu cemas, Kakak menempatkan beberapa pekerja di rumah untuk menemani dirimu. Oya, masalah toko bunga di desa, kau hubungi supir yang kemarin itu. Minta dia mengelola bisnis kita, bukankah dia sering datang membantu?" ucap Daisha teringat pada usaha kecilnya di desa.
Laila terhenyak dengan kerutan di dahi, seolah-olah ditarik dari kelalaian karena melupakan sesuatu. Selama di Jakarta, dia tidak berpikir tentang toko bunga mereka.
"Aku lupa toko bunga kita, Kak. Baiklah, secepatnya aku akan menghubungi dia. Padahal, ada beberapa pesanan masuk, tapi aku lupa menyampaikannya kepada Kakak." Laila menjatuhkan kepala di bahu Daisha.
Hampir saja usaha yang mereka bangun dari nol hancur karena kelalaian mereka sendiri. Daisha mengusap pipi remaja itu, hanya Laila harapannya untuk saat ini. Tak ada yang lain.
Sebuah mobil putih tiba bersamaan dengan sang mentari yang tenggelam di peraduan. Dareen keluar dan berlari dengan cepat menemui istrinya.
"Sayang, maafkan aku. Jadwal hari ini benar-benar padat. Kita langsung pergi saja," ucap Dareen dengan napas tersengal-sengal.
Daisha mengangguk seraya beranjak bersama Laila. Mereka pergi meninggalkan taman menuju villa Daisha untuk mengambil barang-barang dan berpamitan kepada Pak Deni juga istrinya.
"Bapak tahu apa yang harus dilakukan, bukan? Seperti biasa," pesan Daisha sebelum akhirnya pergi meninggalkan villa.
****
Di hadapan mereka, sebuah rumah sederhana terpampang apik. Rumah yang tidak besar, dan hanya satu lantai saja. Di kelilingi pagar tembok sehingga orang luar tidak dapat melihat ke dalam.
Ada banyak tanaman bunga juga beberapa pohon di halamannya yang cukup luas. Tempat yang asri persis seperti rumah mereka saat di desa dulu.
"Ini seperti rumah kita yang di desa, Kak. Bedanya, rumah ini dikelilingi pagar tembok, sedangkan di desa tidak. Aku suka," ucap Laila berbinar senang.
Daisha mendesah lega, pamannya itu tahu betul rumah sederhana seperti apa yang diinginkan keponakannya.
"Syukurlah. Ayo, masuk!"
Mereka melanjutkan langkah, dua orang telah berdiri di teras menyambut kedatangan mereka. Keduanya adalah sepasang suami istri, di mana sang istri akan bekerja sebagai asisten rumah tangga dan sang suami sebagai tukang kebun. Merapikan tanaman juga merawatnya.
"Selamat datang, Tuan, Nona. Saya Darsih, dan ini suami saya. Saya yang bertanggungjawab untuk kebersihan rumah ini. Silahkan, saya telah membersihkan setiap ruangan di rumah ini," ucap wanita tersebut sembari mengarahkan salah satu tangannya ke dalam rumah.
Pintu yang terbuat dari kayu jati itu terbuka lebar. Memiliki ukiran yang rumit, tapi unik. Seperti pintu-pintu yang terdapat di keraton zaman dulu.
"Terima kasih, Bibi. Mohon maaf karena harus merepotkan," sahut Daisha menunduk sopan tanpa gengsi.
"Jangan sungkan, Nyonya. Itu memang sudah kewajiban saya."
Wanita itu pula menunduk sebelum menuntun mereka semua masuk. Rumah dengan desain sederhana dan biasa, tapi terlihat nyaman dan bersih. Tata ruang yang rapi lagi tertib membuat nyaman sepanjang mata memandang.
Mereka duduk di sofa, Bi Darsih pergi mengambil minuman. Ada dua kamar utama di rumah itu, tiga dengan kamar milik suami istri tersebut. Minuman segar diletakkannya di atas meja, ia segera pamit undur diri.
"Kak, aku ingin menginap. Tidak masalah untukmu, bukan?" pinta Daisha karena terlalu lelah setelah seharian tidak merebahkan diri sama sekali.
"Tidak masalah, lagipula ini malam pertama Laila berada di rumahnya. Kita akan menemaninya untuk malam ini," jawab Dareen setuju.
"Terima kasih, Kak, Kakak ipar. Kalian memang pengertian sekali," ucap Laila sambil memeluk sang kakak.
Malam itu, mereka akan menginap karena esok Daisha ingin mengantar Laila ke sekolah untuk hari pertamanya.
"Kamar di rumah ini hanya ada dua, aku akan tidur di mana?" celetuk Alfin sambil mendengus kesal.
Dia memeluk bantal sofa dengan wajah cemberut. Berpaling ketika Dareen menoleh ke arahnya.
"Benar, di sofa atau depan televisi sana. Jomblo di mana pun berada, dia tetap kesepian," ejek Dareen yang langsung dilempar bantal oleh Alfin dan Laila.
"Tidak bisakah aku tidur dengannya saja."
"Tidak!" tolak Daisha tegas.
"Aku berjanji tidak akan berbuat macam-macam."
"Tidak!"
"Kunci kamarmu, Laila. Jangan biarkan kucing liar ini mengintip tempat tidurmu!" titah Daisha tegas dan mengancam.
"Siapa juga yang mau tidur dengan laki-laki tua itu," bisik Laila lirih, tapi kedua matanya melirik Alfin dan tersenyum simpul.
****
Keesokan harinya, Daisha dan Dareen kembali ke rumah setelah mengantar Laila ke sekolah. Seperti biasa, tidak ada sambutan yang mereka terima. Kecuali dari Bibi dan Ayah jika sedang di rumah.
"Apa kau akan langsung ke kantor, atau ke rumah dulu, Kak?" tanya Daisha sebelum mobil mereka memasuki halaman rumah.
Dareen melirik jam tangan memastikan waktu yang dia miliki. Dia mendesah berat, mengumpat dalam hati kenapa waktu berjalan begitu cepat?
"Sepertinya aku langsung ke kantor. Pagi ini ada meeting dengan utusan dari Yeworks Company."
Daisha tertegun sejenak, kemudian mengangguk. Bukankah paman mengatakan malas berurusan dengan Dewantara? Lalu ... apa rencana paman?
Daisha bergumul dengan hatinya, bertanya-tanya rencana tersembunyi laki-laki tua yang dijumpainya kemarin.
"Baiklah, berhati-hatilah. Jangan pulang terlalu larut," ucap Daisha.
Mobil berhenti di halaman rumah mereka, Daisha bersiap turun, tapi Dareen mencegahnya.
"Tutup matamu!" titahnya pada Alfin.
Laki-laki jomblo itu menutup rapat mata dan telinganya. Adegan berbahaya untuk seseorang yang masih sendiri. Oh, tidak! Kenapa masih terdengar saja? Sial!
Suara pintu terbanting menyentak Alfin dari alam bawah sadarnya. Ia membuka mata dengan cepat dan menarik udara sebanyak-banyaknya setelah beberapa saat menahan napas.
Daisha melambaikan tangan melepas kepergian Dareen bekerja. Tanpa mereka ketahui, sepasang mata tengah memperhatikan. Ia diam tak bergerak, tapi segera mengambil langkah saat melihat Daisha memasuki rumah.
Ketukan tongkatnya menggema di rumah besar itu, membuat semua para penghuni tahu tentang keberadaannya. Akan tetapi, baru beberapa saat melangkah di ruang tengah sebuah tangan mencengkramnya dan menarik paksa Daisha menuju suatu tempat.
"Lepaskan aku! Apa yang ingin kau lakukan padaku?" bentak gadis itu sembari meronta mencoba melepaskan diri dari cengkeraman kasar tersebut.
Brugh!
Tubuh Daisha terbanting ke lantai, ia meringis sambil memegangi tangannya.
"Kau pikir dengan melakukan ini aku akan merasa takut?!" bentak Daisha seraya beranjak duduk.
Tak ada sahutan, keadaan hening dan sepi, tapi Daishs tahu dia ada di depannya. Hawa panas dapat ia rasakan dari emosi yang meledak.
"Bodoh!" cibir Daisha.
Tanpa terduga, sebuah tarikan tangan ia rasakan pada rambutnya.