
"Apa yang ingin kau lakukan untuk pertama kali?" tanya Dareen di perjalanan mereka pulang menuju rumah sederhana Laila.
"Mmm ... aku belum memikirkannya," jawab Daisha setelah beberapa saat terdiam.
Dareen mendekap tubuhnya, membuat iri dua sejoli di depan. Alfin mendengus, melirik Laila yang diam-diam juga tengah meliriknya. Mereka berpaling dengan cepat, mengindari tatapan. Betapa malu kedapatan mencuri pandang satu sama lain.
Setibanya di rumah, Daisha menghirup udara segar pekarangan yang dipenuhi dengan tanaman bunga. Ia melihat-lihat sekeliling, mengingatkannya pada kebun bunga di desa.
"Aku sudah memikirkan apa yang ingin aku lakukan untuk pertama kali. Aku ingin mengunjungi kebun bunga di desa. Bisakah kita ke sana?" ucap Daisha sambil tersenyum lebar.
Entah hanya perasaan Dareen saja ataukah memang Daisha menjadi lebih ceria dari sebelumnya. Dareen berjengit, menilik wajah sang istri yang tampak bersinar.
"Siapa takut! Esok kita akan pergi ke sana," jawab Dareen dengan pasti.
"Pekerjaanmu, bagaimana? Bukankah sebagai seorang CEO kau disibukkan oleh setumpuk pekerjaan? Tidak apa-apa, aku akan pergi berdua dengan Laila-"
"Kau lupa? Besok hari Minggu, kantor tutup dan aku libur. Sekalian saja kita pergi berlibur. Mmm ... bagaimana?" Dareen memainkan alisnya naik dan turun. Menggoda Daisha untuk pergi bersamanya. Berbulan madu.
Daisha mengerutkan dahi, berpura-pura tidak mengerti. Lalu, berbalik dan terkekeh sebelum memasuki rumah.
"Kak, apa keluargamu belum ada yang tahu tentang aku?" tanya Daisha begitu tiba di dalam kamar mereka.
"Tidak, aku belum memberitahu mereka. Biarlah, mereka sedang sibuk dengan urusannya sendiri." Dareen menghendikan bahu, kemudian menjatuhkan tubuh di atas ranjang.
Lelah, dia meminta Daisha untuk ikut berbaring bersamanya. Beristirahat meregangkan otot yang kaku. Daisha tak lepas dari menatap Dareen, menilik setiap inci wajah laki-laki yang terpahat sempurna itu.
Kau begitu tampan, tapi wajah itu mengingatkan aku pada seseorang. Entahlah, semoga saja perkiraanku salah.
Hati Daisha bergumam, teringal satu wajah yang membawanya pada mimpi buruk seumur hidup. Dia yang sudah menghancurkan semuanya, meruntuhkan dunia tempat dia menemukan keindahan. Oh, siapakah?
Daisha memejamkan mata ketika Dareen menoleh dan menatapnya. Tidur dalam pelukan hangat dibuai alam mimpi yang indah.
****
"Kau yakin di sini rumahnya?" tanya seorang wanita pada wanita lainnya.
Mereka berdua berdiri tak jauh dari pagar rumah Daisha. Memperhatikan rumah sederhana yang kecil dan sempit itu.
"Sesuai dengan catatan di kertas ini. Mereka memang tinggal di sini," jawab wanita lain sembari menunjukkan kertas yang dibawanya.
Kertas berisi alamat rumah Daisha, yang diberikan seseorang kepadanya. Mereka berjalan semakin mendekati pagar rumah sederhana itu. Mengintip ke dalam, mencari-cari penghuni atau siapapun yang ada di dalam pekarangan rumah tersebut.
Seorang pekerja yang melihat, segera mendatangi gerbang. Menelisik kedua wanita itu dari kejauhan sebelum menghampiri.
"Maaf, Nyonya. Anda sedang mencari siapa?" tanya pekerja tersebut dengan sopan.
"Maaf, apa benar ini kediaman Daisha?" tanya sang wanita.
"Maaf, Anda siapa?" Kerutan di dahi laki-laki separuh baya itu menjelaskan dia sedang waspada terhadap orang asing.
"Jika benar ini rumahnya, saya adalah ibu dari suaminya. Segera buka gerbang ini dan biarkan kami masuk!" ketus wanita yang tak lain adalah Dewi.
Matanya membelalak marah, urat di wajahnya bermunculan karena luapan emosi.
"Tunggu sebentar, Nyonya. Akan saya sampaikan kepada Tuan," katanya dengan cepat berbalik dan berlari memasuki rumah hingga Dewi yang ingin memaki tidak memiliki kesempatan.
"Sialan! Dasar orang miskin yang tidak tahu sopan santun. Kurang ajar si buta itu, mengapa dia membuat aturan menyebalkan seperti ini?" gerutu Dewi dengan rahang yang mengeras.
"Ibu? Aleena? Kenapa kalian datang ke sini?" tanya Dareen sembari membuka gerbang tersebut untuk mereka. Mata Dareen melirik perut sang kakak ipar yang sedikit membuncit. Dalam hati tersenyum mencibir kelakuan mereka.
"Kenapa? Apa tidak boleh seorang ibu mengunjungi anaknya?" ketus Dewi tak senang.
"Bukan begitu, Bu. Ibu tahu dari mana alamat rumah ini?" tanya Dareen semakin membuat Dewi kesal.
"Kau tidak perlu tahu Ibu tahu dari mana. Sekarang, kau pecat saja pegawai yang tak memiliki sopan santun itu. Dia sudah membiarkan Ibu menunggu lama di sini."
Dewi menuding pekerja yang menundukkan kepala karena takut.
"Maaf, Tuan, Nyonya, saya tidak tahu jika yang datang adalah Nyonya Besar," ucap pekerja tersebut tetap menunduk tak berani mengangkat wajahnya.
"Sudahlah, Pak. Tidak apa-apa," katanya dengan ramah.
Pekerja itu mengangguk seraya meninggalkan mereka. Dewi mendengus, Dareen menghela napas melihat keangkuhan ibunya. Ia mengajak mereka untuk masuk, mencoba bersabar dengan sikap kasar dari wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ke mana istrimu, Dareen? Kenapa dia tidak menyambut?" tanya Aleena sembari menatap punggung Dareen yang berjalan di depan mereka.
"Ada, dia sedang membersihkan diri," sahut Dareen singkat, "silahkan, duduk!" lanjutnya menunjuk sofa di ruang tamu.
Sepi. Tak ada Laila ataupun Daisha di rumah itu. Alfin mengajak Laila untuk pergi ke alun-alun kota, menikmati malam panjang anak muda.
Daisha keluar dengan mengenakan piyama panjang, berjalan tanpa tongkat mendekati mereka di ruang tamu.
"Ibu, apa kabar?" sapanya dengan sopan.
Ia menilik wajah sang ibu mertua juga kakak iparnya itu.
Wajah-wajah menyedihkan ini, mereka selalu bersikap angkuh dan ingin selalu dihormati. Sungguh miris hidup kalian, ingin diakui oleh semua orang.
"Hei, kenapa kau melihat kami seperti itu? Tunggu dulu ... kau ...?" Suara Aleena tercekat di tenggorokan, mulutnya terbuka lebar mata ikut membelalak saat menyadari manik Daisha berlabuh tepat di maniknya.
"Apa? Apa kau selama ini berpura-pura buta?" pekik Dewi terkejut.
"Ah? A-apa yang Ini katakan? Aku tidak melihat apapun, sungguh." Daisha meringis, selanjutnya tersenyum aneh.
Kedua matanya kembali hampa, berpura-pura buta sepertinya menyenangkan.
Dewi dan Aleena menjatuhkan rahangnya tak percaya. Istri Cakra itu bahkan mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah Daisha, memastikan bahwa wanita itu masihlah buta.
"Kakak, aku sedang mencari tongkatku. Apa kau tahu di mana benda itu?" tanya Daisha pada suaminya.
Dareen tersenyum, ia mengambilkan tongkat sang istri yang disimpannya di belakang sofa. Daisha pergi ke dapur untuk membuatkan mereka minuman.
"Dareen, datanglah ke rumah besok. Kakakmu akan mengadakan acara untuk anak mereka. Sebagai adik, kau harus datang pada acara besok," titah Dewi tidak menerima bantahan.
Dareen tertegun, besok dia pun memiliki janji dengan Daisha. Pergi ke kebun bunga mereka di desa sekaligus berbulan madu. Ia dilema, bagaimana caranya berbicara dengan Daisha.
"Acara itu sangat penting untuk menjalin ikatan persaudaraan di antara kalian. Pergilah, Kak. Jika kau mengizinkan aku akan temani," ucap Daisha yang datang sembari membawa sebuah nampan dan meletakkannya di atas meja.
Dareen melirik istrinya, berpikir tentang janji yang ia ucapkan padanya. Pastilah Daisha sangat kecewa, tapi senyum meyakinkan dari wanita itu membuatnya berani mengambil keputusan.
****
Ada kejutan di acara itu, guys. Kita lihat besok, ya.