Mohabbat

Mohabbat
Penyusup Lagi



"Bagaimana lukamu, sayang? Kudengar lukamu berdarah lagi," tanya Areta sembari mendaratkan bokong di kursi samping ranjang Daisha.


Wanita di atas ranjang itu tersenyum, ia tak melihat ke mana pun karena ke mana saja matanya bergerak hanya kabut yang terlihat. Oh, sungguh malang.


"Aku sendiri tidak tahu, itu tepatnya ketika Kak Dareen datang. Kakiku berdenyut nyeri, kukira tak apa. Ternyata, jahitannya terbuka kembali," jawab Daisha sambil mengingat rasa nyeri yang dia rasakan tadi.


Areta mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap wajah yang selalu terlihat sama. Mata hampa dan kosong menyedihkan, siapa saja yang bertemu dengannya pastilah akan mencibir. Dia cantik, tapi hilang kesempurnaan oleh karena keserakahan manusia.


"Kalian harus meninggalkan rumah itu. Tinggallah di mana saja karena di rumah itu tidak ada kebahagiaan untukmu, sayang," ucap Areta sembari mengusap dahi Daisha yang berkeringat.


Daisha tertegun, memang benar di rumah itu ia tak pernah menemukan kebahagiaan kecuali bersama Dareen. Yang ada hanya kesakitan dan penderitaan ia dapatkan dari rasa iri juga dengki orang-orang di dalamnya. Begitu dahsyat penyakit yang satu itu.


Seseorang akan melakukan segala macam cara untuk mengobati penyakit dengki di hatinya. Apapun itu, yang terpenting untuknya adalah memuaskan hati setelah melihat orang yang dia benci menderita.


"Aku tidak tahu, Bibi. Aku sendiri tidak mengapa tinggal di sana. Lagipula, beberapa waktu ini tak satu pun dari mereka menggangguku. Entah, apakah mereka sudah tidak tertarik ataukah sedang menyusun rencana lain? Itu hanya mereka sendiri yang tahu," sahut Daisha sembari mengingat apa saja yang terjadi di rumah.


Sejak pergulatannya dengan Cakra di belakang rumah, tak satu pun dari mereka mengganggunya. Mungkin karena nama Alejandro disebut, mereka segan mengusik. Atau mungkin juga mereka sedang menyiapkan sesuatu yang besar untuk memberinya kejutan. Siapa yang tahu?


Daisha hanya gadis buta, memiliki keterbatasan dalam melakukan sesuatu. Tidak seperti mereka yang sempurna dan dapat melakukan apa saja.


"Yah, kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Ini hanya menurut Bibi saja, sebelum operasi itu dilakukan sebaiknya kalian menjauh dari mereka. Ada banyak hawa kejahatan di dalam sana," saran Areta mencemaskan keadaan keponakannya.


Daisha kembali tercenung, karena itu juga dia meminta Dareen untuk merahasiakan tentang si pendonor itu. Tidak menutup kemungkinan saat semua itu diketahui, mereka akan melakukan segala macam cara untuk mencegah operasi.


"Kau benar, Bibi. Aku pun merasa demikian. Entahlah, kita lihat saja ke depannya nanti," pungkas Daisha mengakhiri obrolan.


Rasa kantuk kembali datang menyerang, menggelayut di pelupuk. Areta membantunya berbaring dan menyelimuti tubuh itu. Ia sendiri akan tidur di sofa, berjaga-jaga khawatir kejahatan lain akan datang tak terduga.


Malam kian larut, semua orang telah hanyut. Termasuk Daisha dan Areta yang terlelap dibuai alam mimpi. Di tengah kesunyian itu, sesosok tubuh datang mengendap-endap. Mengintip dari kamar ke kamar mencari keberadaan seseorang.


Dia berpakaian serba hitam, sesuatu bertengger di pucuk kepalanya. Berkali-kali kepala itu menoleh kian kemari sebelum mengintip isi ruangan dari kaca kecil di pintu.


Senyumnya terbit dikala ia temukan yang dicari. Diturunkannya kain dari pucuk kepala guna menutupi wajah. Ia membuka pintu perlahan, melangkah pelan nyaris tanpa suara. Daisha dan Areta sama-sama terhentak di alam mimpi.


Kedua wanita itu memang tidur, tapi mereka selalu waspada meskipun dalam keadaan terlelap. Hal-hal yang tak diinginkan terkadang datang tak terduga. Berupa kejahatan dari sifat dengki seseorang. Kejahatan di malam hari, di mana semua orang terlelap dan hilang kesadaran.


Areta berpura-pura di sofa, dan Daisha di ranjangnya. Sesekali wanita badas itu membuka mata mengintip dia yang sedang merayap tanpa suara mendekati ranjang Daisha.


Semut. Beraninya kau datang ke sarang pemangsamu. Apa yang ingin kau lakukan terhadap gadis kecilku?


Areta bergumam dalam hati, bersiap untuk menangkap basah si penjahat itu. Sosok yang tak diketahui siapa berdiri di samping ranjang Daisha. Matanya menyalang pada wajah damai di bawahnya.


"Kau memang tidak bersalah, tapi kehadiranmu benar-benar menghalangi keinginanku. Kenapa kau tidak mati saja? Kenapa harus kembali dalam keadaan hidup dan baik-baik saja. Kau memang menyebalkan, tapi tenang saja malam ini aku akan mengakhiri semuanya. Semuanya ... kau tak akan pernah bisa melihat lagi."


Tanpa ia sadari Areta telah duduk bersilang kaki, kedua tangan terlipat di perut. Ia tersenyum sambil mengawasi.


Sosok tersebut mulai memasukkan jarum suntik ke dalam tutup botol. Menarik cairan di dalamnya hingga terkumpul dan siap disuntikan. Ia akan menyuntikkan cairan pada selang infus tempat biasa dimasukkannya obat-obatan.


Perlahan tubuhnya membungkuk, meraba tangan Daisha yang diinfus bersiap memasukkan cairan aneh itu.


"Hallo, Tuan. Apa yang sedang Anda lakukan? Bagaimana mungkin ada dokter yang memakai penutup wajah?" tegur Areta dengan tiba-tiba.


Sosok itu terkejut bukan main, kepalanya sontak terangkat, mata yang tertutupi kain itu membelalak. Tak menduga aksinya akan diketahui.


Di bawahnya, Daisha bereaksi. Menjauhkan tangan dari jarum suntikan dengan hati-hati. Dia tahu itu adalah cairan beracun yang jika masuk ke dalam kulit tentunya akan menghancurkan sel kehidupan di dalam dirinya.


"Aku di hadapanmu, Tuan. Apakah dokter akan mengendap seperti itu saat memasuki ruangan pasiennya? Baru kali ini aku menemukan seorang dokter yang bertingkah aneh seperti dirimu. Apa kau memiliki kebiasaan aneh, Tuan Dokter? Yah, untuk menakuti pasien atau untuk menghiburnya?"


Sosok tersebut menggeram, ia menatap Areta yang terlihat duduk santai sambil menggigiti kukunya. Jubah tidur yang dikenakannya tersingkap, memperlihatkan kedua bagian paha yang begitu putih dan mulus. Sekilas, dia memang terlihat seperti wanita penghibur.


Cairan tersebut tanpa sadar merembes dari ujung jarum suntik. Menetes pada seprei di dekat Daisha. Wanita buta itu menendangnya hingga ia termundur dan jatuh tersungkur karena ketidaksiapannya untuk menahan serangan.


Daisha beranjak duduk, dan Areta sigap berdiri dari kursinya. Sosok itu berdiri tegak, kepulan asap bermunculan dari kepalanya.


"Kurang ajar! Kau harus mati malam ini juga!" geramnya. Suara yang ingin didengar Daisha tersamarkan karena tekanan kain pada bibirnya.


"Berbaringlah, Daisha. Biarkan Bibi yang bermain-main dengannya," titah Areta sambil melangkah mendekati ranjang Daisha.


Sosok tersebut berlari mendekati ranjang Daisha, bersiap menyuntikan cairan itu padanya. Namun, tubuh Areta melayang cepat melewati ranjang tersebut, menendang dadanya hingga kembali mundur meski tidak jatuh seperti sebelumnya.


Areta berdiri sambil tersenyum menggoda, dia tidak terlihat panik sama sekali. Sosok itu kembali menyerang, sigap Areta menangkap tangan yang memegang jarum suntik. Memutarnya sampai benda itu terjatuh di lantai.


Dia menjerit kesakitan, tapi sebelum tangan Areta mencapai penutup wajahnya, di berhasil melepaskan tangan dari cengkeraman wanita itu. Dia juga berhasil menendang perut bibi Daisha hingga termundur beberapa langkah.


Merasa ada kesempatan, sosok dibalik topeng itu berlari keluar dengan cepat.


"Jangan dikejar, Bibi. Biarkan saja, sepertinya aku tahu siapa dia," sergah Daisha menyurutkan niat Areta untuk mengejarnya.


Wanita itu mendengus, kembali ke sofa dengan Bibir yang memanjang ke depan.


"Padahal, aku yakin dapat mengejarnya," sungutnya tak senang.


Daisha terkekeh, ia tahu seperti apa bibinya itu. Pastilah terlihat lucu ketika dia bersungut-sungut seperti sekarang ini.