Mohabbat

Mohabbat
Terpuruk



Dua hari telah berlalu setelah insiden yang terjadi di villa Alejandro. Daisha telah pulih meski belum sempurna, ia sudah diperbolehkan pulang hari ini dan menjalani rawat jalan sampai luka di bahunya benar-benar sembuh dengan sempurna.


Daisha memandang Areta dengan sendu, ada sebuah permintaan yang ingin diutarakannya kepada wanita itu. Namun, ia ragu Areta akan mengabulkannya. Daisha menunduk, mengusap perut sambil membayangkan wajah Dareen ketika tahu kabar tentang kehamilannya.


Apa kau ingin bertemu ayahmu? Ibu juga merindukannya, kita akan menemui ayahmu setelah keluar dari sini. Ibu janji.


Daisha membatin seolah-olah berbicara dengan anaknya sendiri. Ia kembali mengangkat wajah, tatapannya berpijak pada dua insan yang tengah asik berbincang.


"Mm ... Bibi!" panggil Daisha yang merasa ragu untuk mengutarakan keinginannya pulang dan menemui Dareen.


Areta menoleh, tersenyum dari tempatnya melihat wanita hamil yang gelisah itu.


"Ada apa? Sepertinya ada yang ingin kau katakan kepada Bibi. Jangan ragu, katakan saja. Bibi akan dengarkan," sahut Areta sambil terus tersenyum. Kepalanya mengangguk meyakinkan Daisha yang masih terlihat ragu untuk berucap.


Daisha menunduk, menggigit bibirnya kuat-kuat. Tangannya tanpa sadar meremas seprei menahan gejolak yang membuncah dalam jiwa. Ia menghela napas dalam-dalam dan mengurainya secara perlahan.


Maniknya yang coklat menatap penuh kerinduan pada seseorang yang tengah jauh darinya. Areta mengerti keinginan sang keponakan, tanpa harus diminta memang Areta akan membawanya kepada Dareen.


Wanita itu mendekat, duduk di tepi ranjang Daisha yang menunduk. Tangannya dengan lembut mengusap kepala sang keponakan menyalurkan kasih sayang yang ia miliki untuknya.


"Kau akan bertemu dengannya, Bibi janji," lirih Areta dengan lembut.


Daisha mendongak, kedua matanya berbinar-binar dengan air yang tergenang di kedua sudutnya.


"Apa Bibi mengizinkan kami bertemu?" tanyanya penuh harap.


Areta mengangguk pasti seraya menyahut, "Tentu saja. Bibi tidak akan pernah memisahkan seorang ayah dengan anaknya. Bibi juga tidak tega memisahkan seorang istri dari suaminya. Bibi hanya ingin dia menyadari kesalahannya, mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi. Sekarang kita akan pulang ke rumah kalian dan menemui suamimu itu."


Kalimat yang diucapkan wanita itu benar-benar membawa kesejukan pada hati Daisha yang perih terluka.


"Terima kasih, Bibi. Terima kasih banyak."


****


Sementara di ruangan yang lain, Dewi tengah termenung menatap arak-arakan awan dari jendela ruangannya. Tak ada siapapun yang menemani kecuali bibi. Wanita itu tidak tega meninggalkan sang majikan tanpa ada yang menemani


"Nyonya, sebaiknya Anda makan dulu. Sudah hampir tiga hari Anda tidak memakan apapun. Jangan menyiksa diri Anda sendiri, Nyonya," ucap Bibi menatap sedih wanita angkuh yang selalu memarahinya itu.


Dewi bergeming, telinganya seolah-olah tak dapat mendengar suara-suara yang ada di sekitar tempatnya berada. Bibi mendekat, wanita itu benar-benar terlihat tak berdaya. Matanya memancarkan keputusasaan, tak ada harapan terlihat.


Bibi memandangi wajah pucat itu dengan sedih, ada banyak yang ingin ia ceritakan kepada sang majikan tentang keadaan rumah yang ditinggalkannya selama tiga hari itu.


"Nyonya, sadarlah, Nyonya. Anda harus kembali ke rumah dan mengambil alih posisi Anda lagi. Sadar, Nyonya," ucap Bibi.


Wanita itu tetap menjaga jarak meskipun ia tahu Dewi sangat membutuhkan teman. Ia tidak berani menyentuh meskipun ingin sekali memeluknya. Dia tidak selancang itu.


"Apa maksudmu? Memangnya apa yang terjadi di rumah selama aku berada di sini? Katakan! Apapun yang kau tahu, jangan merahasiakannya," ucap Dewi dengan suara yang bergetar.


Bibi tertunduk, ia mengatakan itu hanya untuk memancing reaksi Dewi, tapi tak diduga sang majikan justru menuntut jawaban. Lidahnya tak mampu menjawab pertanyaannya sendiri, padahal semua jawaban berkumpul di otak dan siap untuk ditumpahkan.


Dewi mendengus, kembali berpaling pada jendela, menatap langit cerah hari itu. Ada kesedihan yang menggumpal dalam dada, mengoyak sebuah rasa yang bernama kepercayaan.


"Kau tahu di mana suamiku? Kenapa sejak aku siuman dia tidak pernah terlihat berada di sini?" tanya Dewi dengan sedih.


Ada yang bergetar kala mengingat tentang laki-laki itu, sesuatu menusuk-nusuk merajam rasa dalam jiwa. Ketidakhadiran Bardy sejak ia membuka mata menjadi pukulan terbesar untuk seorang Dewi. Hatinya terus bertanya-tanya apakah dia masih dibutuhkan? Ataukah sudah diasingkan?


Oh, bila mengingat itu, rasanya mati lebih baik daripada menjalani kehidupan yang tidak diinginkan. Kesetiaan, cinta juga kasih sayang yang selama ini dijaganya, tak pernah mendapatkan balasan yang serupa. Bardy tidak pernah menghargai kehadirannya.


"Sa-saya tidak tahu, Nyonya. Tuan selalu mengatakan jika ia sedang banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Beliau juga menitipkan pesan, jika Nyonya bertanya Tuan akan datang bila waktu sudah senggang. Hanya itu, Nyonya," jawab Bibi tergagap dan gugup.


Sebuah rahasia besar yang disembunyikannya dengan baik dan tak ingin nyonya di hadapannya itu tahu. Diam-diam melirik Dewi yang bergeming pada jendela kaca. Tak ada ekspresi ataupun reaksi yang berlebihan, masih sama seorang dulu. Hanya diam, dan seolah-olah tak peduli. Padahal, hatinya remuk redam karena tidak dipedulikan.


Helaan napas panjang menjadi akhir dari perbincangan mereka, Dewi merebahkan diri di ranjang. Menarik selimut dan menutup mata. Pertanda ia tak ingin diganggu lagi. Mengingat Cakra yang dibawa Areta, bagaimana nasib si sulung itu?


Air mata Dewi jatuh, tapi ia sembunyikan dari dunia. Cukup dia yang mengetahui tangisannya sendiri. Bibi menggelengkan kepala, merasa iba melihat keadaan sang majikan. Kedua anaknya tiada, suaminya pun tak kunjung datang. Dia sendirian, berjuang melawan kesedihan.


Yang sabar, Nyonya. Sebenarnya Anda orang yang baik, hanya saja orang-orang yang berada di sekitar Anda yang tidak baik sehingga menjadikan Anda seperti ini. Sabar, Nyonya. Semoga Anda bahagia.


Bibi berbalik dan kembali duduk di sofa. Menunggu dengan sabar sambil berharap keajaiban.


Di ruangan lain, tangis Aleena pecah karena harus menerima kenyataan bahwa dia telah kehilangan bayinya. Kondisi istri Cakra yang terguncang itu membuat janin di dalam rahimnya melemah dan tak dapat bertahan. Sebuah kenyataan pahit pula mereka dapatkan, perusahaan sang ayah dalam keadaan kritis.


"Ibu, aku sudah kehilangan suamiku, aku tidak ingin kehilangan anakku, Bu. Aku tidak mau. Kenapa semuanya jadi begini? Kenapa harus anakku, Bu?" racau Aleena.


Ia memeluk sang ibu menumpahkan kesedihan, kehilangan bayi sama saja kehilangan harapan untuk bertahan dalam keluarga Dewantara juga hilang sudah kesempatan untuk memperbaiki keadaan perusahaan.


"Semua ini karena wanita buta itu! Dia yang sudah menyebabkan aku menjadi seperti ini. Dia harus mati, Bu. Dia harus mati! Aku tidak ingin dia ada di dunia ini, Bu. Dia harus mati!" racau Aleena merutuki Daisha.


Ia menghentikan tangisan, mata merahnya semakin menyala memancarkan kobaran dendam yang membara. Bertekad membalas dendam terhadap adik iparnya itu, dia harus merasakan kehilangan sama seperti dirinya.


"Jangan ceroboh, semua harus dipikirkan secara matang-matang agar tidak menjadi bumerang untuk kita."


Aleena melirik pada ibunya, mengangguk patuh seperti seekor kucing.


****


Maaf Kakak-kakak semua, karena sistem review yang lama update jadi berantakan begini. Terima kasih banyak dukungannya.