Mohabbat

Mohabbat
Hari Pernikahan



"Kuharap kau tidak membuat kekacauan di pesta nanti, Dewi. Karena aku tak akan segan mengusirmu dari sana," tegas Bardy sembari merapikan jasnya di depan cermin.


Sebuah peringatan keras yang membuat Dewi tidak bisa berkutik. Rencana-rencana yang telah disusunnya, harus menguap begitu saja mendengar ancaman sang suami. Ia diam tak menyahut, sibuk dengan gejolak di hatinya. Menatap nyalang dan tajam punggung Bardy seolah-olah ingin menikamnya.


Ah, seandainya tatapan mata setajam sebilah samurai, sudah pasti punggung kekar itu akan robek dan tercabik. Dewi mendengus disaat Bardy menoleh padanya. Mata laki-laki itu menyalang, tajam menusuk dan membuat perih kedua kornea Dewi.


"Kuharap kau mendengarkan aku kali ini," tegas Bardy sekali lagi.


Ia berjalan lebih dulu meninggalkan kamar mereka, persiapan pesta pernikahan Dareen telah rampung dalam waktu satu Minggu. Segala sesuatu diatur dengan sempurna oleh ahli. Dewi beranjak dengan kesal, ia mengenakan kebaya putih dengan sanggul besar menghiasi kepalanya.


Tetap tampil cantik dan elegan meskipun pesta pernikahan itu sangat bertolak-belakang dengan hatinya.


Di kamar lain, seorang pemuda berdiri dengan senyum sinis tersemat di depan cermin besar. Dia sedang memuji ketampanan dirinya, juga wibawa yang dia miliki. Itu memang bukan pestanya, tapi dia harus tetap tampil dengan sempurna melebihi sang pemilik hajat.


"Kau memang tampan, Cakra. Bukankah kau sudah siap untuk hari ini? Oh, ayolah! Tersenyum dan berbahagia untuk adik bodohmu itu!" Dia kembali tersenyum pada dirinya sendiri di dalam cermin.


Membayangkan wajah Dareen yang bodoh dalam pandangan matanya, sungguh membuatnya bahagia.


"Semoga saja kau tetap bodoh seperti itu, Dareen. Kau tidak pantas menjadi keturunan Dewantara. Kau lemah dan mudah sekali dikelabui, kau bahkan tidak ingat kejadian itu. Tetaplah begitu, Dareen, hingga aku menguasai semuanya," ucapnya lagi sambil berbisik pada cermin di depannya.


Dia mengambil sisir dan untuk ke sekian kalinya memastikan tampilan rambut yang telah sempurna. Cakra merapikan jas sebelum beranjak meninggalkan cermin.


Di lain kamar, Dareen ditemani Alfin berdiri dengan gelisah. Pernikahan itu yang dia inginkan, tapi juga membuatnya gugup setengah mati. Peluh bercucuran di wajah dan leher, berkali-kali lidahnya berdecak mengusir debar di dada. Sesaat lagi ikrar suci pernikahan ia ucapkan, di hadapan penghulu juga para saksi.


"Tenangkan dirimu, Dareen. Semuanya akan baik-baik saja. Bukankah kau sudah belajar dan menghafalnya? Kau hanya harus menyebut namanya. Tenanglah!" ucap Alfin jengah melihat Dareen yang tidak mau diam di hadapannya.


"Aku harus bagaimana, Alfin? Aku gugup, bagaimana jika ... ah, aku akan malu padanya, Alfin," gerutu Dareen sambil mengusap wajah gusar.


Alfin tersenyum, beberapa kali dia menyaksikan orang-orang menikah, tapi baru pertama kali melihat secara langsung kegugupan pengantin laki-laki. Dareen yang selama ini selalu bersikap tenang, hari itu ketenangannya raib entah ke mana.


Alfin berdiri dan mendekati Dareen, menepuk bahu laki-laki itu hingga membuatnya menoleh.


"Ayo, sudah waktunya," katanya, seraya mempersilahkan Dareen berjalan lebih dulu meninggalkan ruangan.


Di tempat lain pula, seorang gadis tengah menangis tersedu-sedan di kamarnya yang seketika saja berubah menjadi hamparan medan tempur. Ia duduk memeluk lutut di sudut ruangan dengan tampilan yang berantakan.


Rambutnya kusut dan kusam, mata sembab karena menangis. Sungguh memilukan. Ia bahkan tidak peduli kapan terakhir dia mandi dan berdandan cantik. Orang tuanya menatap sedih ketika memasuki kamar tersebut.


Sang ibu menghampiri, berjongkok di depan putrinya. Tangan tua itu mengusap lembut rambut kepala sang anak, menenangkannya dari keterpurukan.


"Bersiaplah, sayang. Kau harus bisa menunjukkan kepada mereka bahwa kau baik-baik saja. Tuan muda Cakra datang menjemput, dia berada di ruang tamu sedang menunggu. Ayo, dia bahkan jauh lebih baik dari laki-laki itu," ucap wanita paruh baya itu dengan lembut.


Wanita yang tak lain Aleena itu mengangkat wajah. Menatap sendu pada ibunya.


"Ayo, jangan biarkan dia menunggu terlalu lama. Kau tidak ingin kehilangan lagi, bukan?" ucap sang ibu seraya membantu Aleena untuk beranjak.


Dibantu ibunya pula, ia bersiap dan didandani dengan sempurna. Dia yang memang sudah cantik, semakin terlihat cantik dengan gaun mewah yang melekat pas di tubuhnya.


"Kau tidak perlu menangisi laki-laki itu. Dia amat bodoh karena telah melepasmu," ucap Dareen sesaat setelah ia membukakan pintu mobil untuk Aleena.


Wanita itu mengangkat wajah, membalas senyum Cakra dengan sebuah kecupan singkat di pipinya.


"Terima kasih," katanya.


Wajah Cakra memerah, ia mengangguk seraya menutup pintu mobil dan berjalan menuju kemudi. Cakra sudah memutuskannya semalam, ia akan mempersunting Aleena menggantikan Dareen. Rumit memang, tapi itulah keinginannya. Membawa Aleena masuk ke rumah itu, untuk melancarkan rencananya.


Di sepanjang perjalanan, tangan mereka saling bertaut satu sama lain. Beberapa saat lalu, Aleena menjadi wanita paling menyedihkan di dunia. Kemudian berubah disaat Cakra datang membawa harapan. Laki-laki itu jauh lebih baik daripada Dareen, setidaknya itulah penilaian orang-orang.


****


Di depan cermin, gadis cantik itu sedang membayangkan dirinya sendiri yang saat ini memakai riasan pengantin. Gaun putih dengan ekor yang menjuntai, bertabur mutiara yang secara khusus dirancang untuknya. Rambut digulung tinggi dengan beberapa helai dibiarkan di kanan dan kirinya.


Tangan yang dilapisi sarung tangan tipis itu terasa lembab dan bergetar. Saling meremas satu sama lain. Sesekali akan menggigit bibir menahan rasa gugup yang menyerang hati. Oh, hati tenanglah! Semua akan baik-baik saja.


Ayah, Ibu, seandainya kalian ada di sini dan menyaksikan aku menjadi pengantin, tak akan aku segugup ini.


Dia Daisha, menunduk menyembunyikan kesedihannya. Secantik apapun dirinya saat ini, tak dapat dia kagumi. Dia sendirian di sebuah ruangan, meminta untuk ditinggalkan semua orang setelah dinyatakan sah sebagai nyonya Dareen Alvaro.


Kamar hotel yang disediakan untuk malam pengantin mereka, ditaburi kelopak mawar yang menebarkan aroma khas. Semerbak harum membuat mereka terhanyut dalam buai keromantisan.


Seandainya dia bisa melihat, tapi hanya dapat mencium baunya saja. Daisha tak beranjak, hanya duduk di depan cermin besar di ruangan tersebut.


Tak lama, kesunyian di ruangan itu terusik dengan bunyi pintu yang berderit. Berselang, ketukan langkah mengiringi, semakin mendekat dan berhenti di belakang tubuhnya.


"Apa yang kau pikirkan, sayang? Semuanya sudah berlalu dan kita telah bersama. Kau tahu, aku gugup sekali tadi sampai-sampai Alfin tak berhenti mengejekku," ucap Dareen sembari meremas lembut kedua pundak Daisha dari belakang tubuhnya.


Gadis itu tersenyum setelah mendengar suara sang suami. Dareen mendekatkan tubuhnya hingga pipi mereka saling menempel.


"Kau cantik sekali. Boleh aku mengambil gambar kita?" bisiknya seraya mengecup pipi Daisha.


Ia mengangguk malu, beberapa kali Dareen mengambil gambar mereka untuk disimpannya sendiri.


"Mmm ... Daisha, kenapa aku merasa tidak asing dengan nama ayahmu? Damian. Sepertinya aku mengenal seseorang yang bernama Damian, tapi aku lupa," ucap Dareen sembari menilik wajah cantik sang istri di cermin.


Daisha tersenyum, ia menyahut dengan lembut, "Orang yang bernama Damian itu tak hanya satu. Ada puluhan bahkan mungkin ribuan di dunia ini, dan salah satunya adalah orang yang Kakak kenal. Bisa saja, bukan?"


Dareen tercenung, lalu tertawa dan kembali mencium Daisha.


"Kau benar. Oya, nanti malam acara akan dialihkan pada Kakak. Dia akan bertunangan," beritahu Dareen membuat tubuh Daisha menegang.


"Kakak?"