Mohabbat

Mohabbat
Tangisan Dareen



Di malam yang dingin, hujan mengguyur bumi, petir menyambar menggelegar, angin bertiup begitu kencang. Gemuruh dari langit tak henti-hentinya memperdengarkan suara yang begitu menakutkan. Akan tetapi, semua itu tidak berlaku untuk dia seorang.


Laki-laki itu tidak peduli seluruh pakaiannya basah, tenggorokan kering kerontang, bibir pucat menggigil. Ia berdiri di sana, di pagar sebuah rumah sederhana yang pernah ia tempati bersama sang istri.


Dareen menangis, mencengkeram pagar dengan kuat sebelum membukanya. Namun, baru saja hendak membuka pagar tersebut, sebuah barikade menghalangi laju kakinya. Mata itu menyalang sekaligus bingung ketika menatap seluruh wajah di hadapannya.


"Kenapa kalian menghalangiku?" hardik Dareen yang semakin lama semakin menyala kedua matanya.


"Kami diperintahkan Nyonya untuk mencegah Anda masuk, Tuan. Anda tidak diterima di rumah ini lagi. Silahkan pergi, dan jangan kembali," ucap salah satu dari mereka dengan tegas.


"Apa? Kenapa? Aku suaminya, kenapa dia melarangku? Minggir! Aku tidak peduli, aku mau masuk!"


Dareen mengibaskan tangannya, mendorong barisan tersebut sekuat tenaga, tapi tetap saja tak membuka jalan untuknya. Wajah pucat itu berubah merah, mata pun menyala penuh amarah. Dareen mengepalkan tangannya kuat-kuat, rasa panas yang menjalar di hati menepis dinginnya udara yang dihantarkan oleh hujan dan angin.


Ia mengangkat wajah, menatap pada pintu rumah yang tertutup rapat. Cahaya di rumah itu padam, seolah-olah telah ditinggalkan pemiliknya.


"DAISHA! IZINKAN AKU MASUK, KITA HARUS BERBICARA!" teriaknya menggema di dalam hujan.


Beberapa saat menunggu, sosok yang ia harapkan kemunculannya tak kunjung keluar dari rumah itu. Dareen menggeram, kembali mencoba menerobos barikade tersebut. Sayang, mereka begitu rapat dan saling berpegangan satu sama lain.


"Sial! Menyingkir dari jalanku!" teriaknya seperti orang gila yang tak peduli pada keadaan sekitar.


Setelah beberapa saat bergelut, akhirnya pintu rumah itu terbuka. Dareen tersenyum, merangsek ke depan tak sabar. Seseorang muncul dari dalam rumah, seseorang yang dia harapkan akan menyambutnya dengan penuh cinta.


Namun, semua itu hanya ada dalam angannya saja. Senyum itu raib, pancaran mata penuh cinta pun pergi entah ke mana? Dareen tertegun melihat sosok itu, kepala asisten rumah tangga yang dipekerjakan Daisha untuk merawat Laila. Dialah yang muncul dari balik pintu yang terbuka itu.


Menatap tak ramah pada suami sang majikan, mencibir dengan jelas. Ia berjalan pelan di teras dengan angkuh. Tak perlu takut, begitu yang diperintahkan Areta kepada mereka.


"Maaf, Tuan. Anda tidak diizinkan untuk memasuki rumah ini. Silahkan pergi saja, lagipula Nyonya tidak ada di sini," ucapnya dengan tegas. Tangan itu dengan sopan menunjuk gerbang yang terbuka, mengusir Dareen dari tempat tinggal yang selama beberapa hari itu ia tempati bersama istrinya.


Dareen meradang, matanya menjegil hampir keluar. Tak menduga bahwa dia akan mendapat perlakuan tak baik seperti saat ini.


"Akur tidak percaya, biarkan aku masuk. Aku akan memastikannya sendiri, biarkan aku masuk!" teriak Dareen sambil kembali mencoba menerobos barisan pertahanan manusia itu.


Sang asisten menghela napas, ia tetap terlihat tenang seolah-olah telah terlatih dan profesional.


"Biarkan dia masuk!" titahnya pada mereka.


Hanya satu kali perintah darinya, barisan tersebut melepaskan Dareen dan memberinya jalan. Suami Daisha mendengus, menatap tajam satu per satu wajah manusia yang menghalangi jalannya. Mengingat mereka atas kejadian tadi, tapi tak satu pun dari mereka yang menunduk. Semua kepala itu tegak, menatap lurus ke depan.


Dareen mengambil langkah berlari memasuki rumah. Tak sabar ingin memastikan sendiri bahwa Daisha tak lagi berada di rumah itu.


"Daisha!" Dia berteriak memanggil nama istrinya berulang-ulang kali.


Semakin lama suaranya terdengar semakin putus asa. Dareen membuka pintu kamar mereka dengan cepat dan tak sabar.


"Sayang!"


Namun, sayang, sosoknya hilang begitu saja ketika kedua tangan Dareen merengkuhnya. Hilang bagai ditelan udara, tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Dareen tercenung menatap hampa pada tepian ranjang yang baru saja diduduki istri tercintanya.


"Daisha!"


Suara Dareen bergetar menyebut namanya, air jatuh dari pelupuk begitu saja tak terelakkan. Sungguh, hatinya perih bagai diremas dan diperas hingga kering tak berdarah.


"Daisha!"


Ia meraba-raba ranjang mereka, mencari-cari sosok wanita itu. Sambil menangis berurai mata, berharap sang kekasih hati hadir menjadi pelipur lara.


"DAISHA!" Ia berteriak sekuat mungkin, jatuh di lantai penuh lara.


Tangannya menarik seprei saksi pergulatan mereka tadi malam, meremas dan memeluknya menumpahkan kesedihan hati yang terasa pilu dan menyayat.


"Kenapa kau pergi meninggalkan aku, Daisha? Sayang, seharusnya kau jangan pergi. Seharusnya kau tetap di sini menungguku. Sayang ... Daisha. Ke mana kau pergi?" tangisnya sembari membenamkan wajah pada kain putih tersebut.


Menangisi kepergian sang kekasih hati akibat kebodohan yang dia lakukan. Penyesalan perlahan mulai hadir, memenuhi relung jiwanya. Sepi, hampa, dunia kosong tanpa adanya dia di sisi. Dareen terpuruk, putus asa, tapi dia belum menyerah.


"Ke mana aku harus mencarimu? Ke mana?" rintihnya pilu.


Ia berteriak sembari melempar apa saja yang ada di hadapannya. Seketika saja kamar itu berubah jadi berantakan, kamar yang sebelum kepergian mereka ke acara pesta dirapikan Daisha.


Kenangan indah setiap malam yang mereka lalui, melintas penuh duri, menikam jiwanya yang perlahan menjadi rapuh. Apalah Dareen tanpa adanya Daisha?


Kepala asisten yang menyaksikan kepedihan Dareen, merasa tidak tega melihatnya. Ia menatap nanar laki-laki itu dari balik celah pintu yang terbuka. Niat ingin mengusirnya dari kamar, tapi urung karena tangis memilukan yang seolah-olah sengaja diperdengarkan Dareen kepada semua penghuni rumah yang ada.


Ia berbalik membiarkan Dareen meratapi kepergian istrinya. Juga memberi perintah pada semua orang yang ada untuk membiarkan Dareen melepaskan kesedihan di kamar tersebut.


Yang mereka tahu, Dareen adalah sosok majikan yang baik, laki-laki yang bertanggungjawab, penuh cinta dan kasih sayang yang terbatas. Mereka juga menjadi saksi betapa besar cintanya kepada Daisha.


Dalam hati dia berdoa semoga semua permalasahan mereka segera selesai dan dapat bersatu lagi seperti dulu. Mereka pasangan yang saling melengkapi satu sama lain, saling menyempurnakan kekurangan masing-masing.


Sementara itu, di tempat lain. Bardy tengah menatap Dewi dengan perasannya yang tak menentu, tak tega melihat wanita yang telah memberinya dua orang putra terbaring tak sadarkan diri, tapi juga tak tega membiarkan wanita yang datang bersamanya itu hanya duduk menunggu dengan wajah kesal.


Ia menghela napas, berbalik dan mendekati wanita tersebut. Mengusap bahunya dengan lembut, tapi wajah itu justru berbalik cemberut.


"Aku antar kau ke rumah, tinggallah di sana sementara waktu. Di rumah itu hanya ada asisten saja. Ayo!" katanya dengan lembut.


Wanita itu beranjak meski kesal, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya sejak kedatangan mereka di rumah sakit. Bardy meninggalkan Dewi sendirian di ruangannya, tanpa siapapun yang menunggu.


Berjalan keluar sambil memeluk pinggang wanita itu dengan mesra. Secara kebetulan, hal tersebut dilihat oleh ayah Aleena. Ia memicing, menatap penuh curiga pada dua orang yang berjalan menjauh di lorong.


"Istri sakit, dia malah asyik masyuk dengan wanita lain. Benar-benar tidak berperasaan. Aku yakin, sebentar lagi berita tentang anaknya yang membunuh mafia itu akan tersebar. Perlahan dia akan hancur dan hilang begitu saja," gumamnya sembari mengukir senyum jahat.