Mohabbat

Mohabbat
Kecewa



Mendengar permintaan Areta, Aleena tidak terima. Entah mengapa perasaannya mengatakan Areta akan membawa Cakra pergi. Apa yang akan dilakukan wanita itu, tak ada yang tahu.


"Apa maksudmu?" ketus Dewi menilik Areta tak senang. Tatapan matanya mencibir, merasa paling berkuasa dan paling tinggi derajatnya.


"Kurang jelas sepertinya. Aku akan membawa pembunuh itu bersamaku. Apa lagi?" ucap Areta menjelaskan permintaannya.


Dewi membelalak, begitu pula dengan dareen dan Aleena. Ia melirik Cakra, laki-laki itu menggeleng menolak permintaan Areta. Tatapan matanya memelas pada sang ibu untuk menyelematkan dia dari keinginan wanita itu.


Dewi menggeram, berpaling murka pada Areta yang tetap bergeming tak beranjak sedikit pun.


"Apa hakmu hingga kau ingin membawa anakku?" tanya Dewi.


Areta terkekeh, kepalanya menggeleng sambil menyunggingkan senyum di bibir tipisnya.


"Hak? Kau membicarakan hak, Nyonya? Jika begitu apa hak Anda menahan seorang pembunuh? Sedangkan dia harus menerima hukuman atas perbuatannya itu," sahut Areta.


Sikapnya yang tenang semakin menyulut emosi Dewi yang sudah mencapai puncaknya. Ia berjalan mendekati bibi Daisha itu, dan langsung melayangkan tamparan yang cukup keras jika saja berhasil mendarat dengan baik di pipi Areta.


Namun, tangan itu berhenti di udara, tertahan dan tak dapat bergerak lebih jauh. Areta terkekeh melihat ekspresi Dewi yang menggeram, tapi tak dapat tersalurkan.


"Kau tidak akan pernah bisa menyentuhku, Nyonya Dewantara. Tidak akan bisa!" bisik Areta sembari menghempaskan tangan itu cukup kuat hingga Dewi termundur sambil meringis memegangi pergelangan tangannya.


"Ibu!" Dareen berhambur mendekati ibunya, menahan tubuh Dewi agar tidak terjatuh ke tanah.


Dewi meronta hingga tangan Dareen terlepas dari tubuhnya. Ia kembali berdiri tegak, mempertahankan keangkuhan.


"Dia anakku, sampai kapan pun aku tidak akan memberikannya padamu," sentak Dewi tetap membela anaknya.


Areta tersenyum, membuka kipasnya dan menutupi wajah. Melangkah dengan anggun layaknya seorang model. Hanya beberapa jengkal saja dari tempatnya semula.


"Dia kini menjadi milikku, aku akan tetap membawanya ... dengan atau tanpa izinku," tegas Areta dengan mimik wajah serius.


"Tidak! Kau tidak memilik hak untuk membawanya!" teriak Dewi sambil menangis kesal.


"Sedari tadi kau terus saja membicarakan tentang hak. Aku berhak karena dia sudah merenggut dengan paksa nyawa suamiku. Dia harus bertanggungjawab atas perbuatannya itu, dan kau tidak bisa menghalangi."


Dewi menjatuhkan rahang, kedua matanya berkedip-kedip tak percaya. Suami? Kata suami itu yang membuatnya terkejut.


"Dia suamiku. Kau tidak bisa membawanya, aku sedang mengandung dan dia sebentar lagi akan menjadi ayah. Jangan bawa suamiku!" jerit Aleena sambil memeluk Cakra yang sudah pasrah pada takdirnya.


Areta memalingkan wajah, menatap tak peduli pada wanita hamil itu. Baginya, hutang nyawa tetap harus dibayar nyawa, dan ia tidak berniat memberi kemudahan pada Cakra untuk mati.


"Aku tidak peduli. Kau tanyakan saja padanya, apakah dia peduli pada keluarga orang yang dibunuhnya? Apa dia memikirkan istri dan anak laki-laki yang dia ambil nyawanya? Tanyakan padanya, apakah dia peduli? Apakah dia PEDULI?!" bentak Areta berapi-api.


Wanita yang biasanya lemah lembut itu, kini tak bisa menahan perasaannya sendiri. Kabar kematian tentang suaminya yang ia dengar tanpa melihat jasad itu bahkan untuk terakhir kali benar-benar membuat Areta frustasi. Dia tidak berniat mengampuni pembunuh Alejandro siapapun orangnya.


"Kalian memang tukang fitnah yang ulung. Dia bilang bahwa Cakra membunuh pamannya, dan kau bilang bahwa dia membunuh suamimu. Hebat! Apa kalian bekerjasama untuk merusak nama baik keluargaku? Aku akan membawa kasus ini ke ranah hukum. Lihat saja, kalian akan mendapat hukuman," ancam Dewi tidak main-main.


Bukannya takut, Areta justru tertawa. Daisha bahkan tersenyum, seolah-olah tidak takut pada ancaman itu. Dia tidak masalah jika harus mendekam di dalam bui yang penting para pembunuh itu sudah mendapatkan hukuman.


"Hukuman? Aku tidak takut sama sekali. Perlu kau tahu, Nyonya. Yang dia bunuh adalah suamiku sekaligus pamannya. Alejandro mengangkat anakmu dari bukan siapa-siapa hingga menjadi sekarang ini. Lalu, apa balasannya? Kematian? Apakah sepadan? Tidak! Hari ini tidak ada yang bisa mencegahku!" seru Areta dengan lantang.


Semua orang terbelalak mendengar itu. Mereka yang selalu merendahkan Areta dalam perkumpulan, seketika memucat begitu mengetahui siapa sosoknya.


"Bawa dia, dan ikat di tempat dia membunuh suamiku!" perintahnya entah pada siapa.


Kelima orang itu mendekati tempat Cakra, tangis Aleena semakin menjadi. Ia memeluk tubuh Cakra dengan erat. Menolak berpisah dengan suaminya itu.


"Jangan! Jangan bawa suamiku!" katanya memohon.


Namun, mereka tidak peduli, dan hanya mendengar perintah dari bibi Daisha saja. Dua orang menarik tangan Cakra, satu lainnya memisahkan Aleena. Wanita itu tersungkur di tanah meronta dan menjerit untuk suaminya.


"Jangan bawa anakku!" Dewi berteriak lantang.


Ia mengejar mereka, tapi salah satu orang mencekalnya. Dareen pun menggeram, terus membawa dirinya berlari untuk mencegah mereka membawa Cakra. Akan tetapi, langkahnya terhenti saat Daisha menghalangi.


"Kau tidak bisa mencegah Bibi membawa mereka. Jika kau ingin mencegahnya maka kau harus berhadapan denganku dulu!" ucap Daisha sembari memasang kuda-kuda bersiap melawan Dareen.


Laki-laki itu melirik rombongan yang membawa Cakra, kemudian berdecak kesal karena istrinya menjadi penghalang.


"Kau istriku dan aku tidak bisa menyakitimu. Yang dibawa itu Kakakku, Daisha. Aku harus mencegah mereka, menyingkirlah!" sahut Dareen menahan luapan emosi di dalam dada.


Daisha menegakkan kakinya lagi, memandang Dareen tak percaya. Pancaran kekecewaan masih jelas terlihat di kedua maniknya yang menyala terang. Sungguh bukan ini yang dia inginkan.


"Dia membunuh pamanku. Apa kau masih ingat dengan janjimu dulu, kau mengatakan akan membantuku mencari pembunuh mereka. Untuk itu kau ingin aku secepatnya bisa melihat. Sekarang, aku sudah menemukannya satu. Kenapa kau justru menjadi penghalang untukku?" sentak Daisha mengingatkan Dareen pada janjinya dulu.


Semua ini diluar dugaan Dareen, ia tak pernah menduga bahwa pembunuh yang dicari Daisha adalah kakaknya sendiri. Dareen dalam dilema, antara menunaikan kewajiban janjinya ataukah menyelamatkan sang kakak.


"Dareen, cepatlah kau cegah mereka membawa kakakmu!" teriak Dewi panik karena orang-orang tersebut telah meninggalkan halaman belakang.


Dareen bereaksi, tapi Daisha dengan cepat mencegah. Ia memukul mundur suaminya tanpa segan. Suami yang telah berkhianat kepadanya.


"Daisha! Aku suamimu!" bentak Dareen dengan mata menajam.


"Aku bukan ingin menyakiti suamiku, tapi aku sedang mencegah seseorang yang menghalangiku," sahut Daisha bergeming dengan wajah kecewanya.


Laila tak dapat melakukan apapun, hanya melihat dengan air mata berjatuhan. Kebahagiaan sang kakak harus lebur dengan kenyataan pahit itu. Areta mendesah, melangkah mendekati Daisha dan mengusap bahu wanita itu.


"Tinggalkan saja tempat ini, tinggalkan laki-laki tak berguna itu. Ikutlah dengan Bibi, sampai kapanpun dia akan tetap menjadi penghalang," ucap Areta sukses membuat Dareen terkesiap.


"Kau tidak bisa membawanya, dia istriku!" bentaknya dengan kedua tangan yang terkepal.


Areta maju selangkah ke depan, menilik Dareen yang tengah termakan emosi.


"Aku bibinya, bukankah sudah aku katakan kepadamu. Jika kau berani menyakitinya, aku tak akan segan membawa Daisha bersamaku. Sekarang, renungkan kesalahanmu. Setelah itu, kau bisa datang menjemputnya!" pungkas Areta seraya berbalik sambil menggandeng tangan Daisha dan Laila.


"Tidak! Daisha!"


Dareen berlari, tapi dua orang Areta dengan cepat mencegahnya. Daisha berbalik, menatap kecewa pada laki-laki itu. Mungkin jarak akan membuatnya sadar bawah kenyataan harus diterima sepahit apapun.


"Lapor pada polisi, cepat!" teriak Dewi frustasi.


Namun, bukannya bersimpati, semua orang justru meninggalkan tempat itu. Dareen ambruk di tanah, menyesali tindakannya. Aleena menangis sambil memegangi perut dibantu kedua kedua orang tuanya.


Dewi tersedu-sedan mengejar orang-orang itu, tapi kakinya terasa lemas tak dapat bergerak lagi. Ia jatuh tak sadarkan diri.


****


Maafkan author semalam gak up. Dikarenakan kondisi tubuh yang tiba-tiba drop. Terima kasih banyak pada semuanya.