Mohabbat

Mohabbat
Persiapan



Villa tersebut dijaga ketat oleh orang-orang bersenjata, sebagian membawa Cakra yang tak sadarkan diri ke dalam dan menempatkannya di sebuah ruangan dengan penjagaan yang tak biasa.


Mereka mengambil posisi mendengar laporan dari mata-mata yang dikirim Areta untuk mengetahui posisi musuh saat ini. Tanpa musuh sadari, para pemanah handal sudah bersiap di tempatnya masing-masing. Memperhatikan setiap gerak-gerik musuh yang kian mendekat.


Pakaian yang serba hitam, menyembunyikan mereka di dalam kegelapan malam. Leluasa mengawasi kedatangan musuh yang begitu mencolok. Lampu-lampu senter yang menyorot, juga derap langkah yang tergesa, dan suara-suara manusia yang banyak, menandakan kedatangan mereka tanpa persiapan sama sekali.


Orang-orang itu menyebar ke segala arah, tapi tak satupun berada di jalan yang benar. Tak hanya di sekitar villa, orang-orang Areta bahkan sudah mengepung mereka di jalanan besar. Mereka hanya tinggal menunggu perintah untuk menghabisi musuh.


Sebagai prinsip yang sudah lama ditanamkan Alejandro pada mereka adalah, siapa saja boleh datang, tapi hanya mereka-mereka yang diizinkan olehnya yang bisa kembali dengan selamat. Sisanya, tak akan ada yang dibiarkan kembali begitu saja.


"Bagaimana? Apa mereka sudah menemukan jalannya?" tanya seseorang yang berdiri di tepi jalan dekat mobil-mobil milik musuh.


"Entahlah, kenapa lama sekali? Apakah memang sesulit itu?" sahut yang lain diakhiri decakan lidah kesal.


"Apa kau ingin merasakannya sendiri? Pergilah, dan temukan villa siluman itu."


Setengah kesal menyahut karena memang tidak mudah menemukan villa Alejandro. Semua orang bertanya-tanya bagaimana lelaki mafia itu bisa membuat bangunan di tempat terpencil dengan jalan yang begitu rumit.


"Tidak! Aku hanya ingin menunggu saja di sini, lagipula bukan tugasku mencari jalan. Itu tugas mereka semua sebagai bawahan yang tak memiliki kemampuan apapun," cibirnya begitu meremehkan.


Rekannya melotot tak percaya, tapi enggan menanggapi. Ia menjauh dan memperhatikan keadaan dalam hutan, berharap seseorang akan muncul memberinya laporan. Akan tetapi, sekian lama menunggu hanya kesunyian yang mereka dapati.


Sementara di dalam hutan, musuh yang tersebar ke segala arah memudahkan tim pemanah milik Areta untuk membunuh mereka satu per satu. Posisi mereka yang berada di ketinggian pohon dan tersembunyi, membuat orang-orang di bawah sana tak menyadarinya.


Ia memasang anak panah pada busurnya, membidik dua orang yang hendak melintasi pohon tempatnya bersembunyi. Lalu, anak panah itu ditembakkan sebanyak dua kali tepat mengenai kepala mereka. Baru saja mendongak, anak panah itu sudah menancap di dahinya.


Sigap, orang-orang yang berjaga di bawah menyeret tubuh itu ke dalam semak dan kembali bersembunyi menunggu mangsa datang.


Di dalam villa, Areta muncul dengan pakaian serba hitam terbuat dari kulit hewan yang dirancang secara khusus oleh Alejandro sendiri. Ia membawa senjata bersamanya tersembunyi di tempat tertentu. Mungkin itu akan menjadi peperangan yang pertama untuknya.


Ia gugup saat menatap deretan orang-orang terlatih dengan senjata di tangan mereka masing-masing. Areta menghela napas, mengurangi rasa gugup di hati yang amat mengganggu.


"Mereka hanya semut, Nyonya. Datang tanpa persiapan yang matang. Sepertinya orang yang kita tawan itu adalah pemimpin kelompok ini, Nyonya," lapor salah satu mata-mata yang terdengar seperti bisikan di telinga Areta.


"Bagus, laporkan terus situasinya, agar kita bisa lebih waspada dan bersiap menyambut mereka ketika berhasil menemukan tempat ini," sahut Areta pula dengan suara yang pelan.


"Baik, Nyonya!"


Areta kembali menghela napas, semua lampu villa sengaja dimatikan dan hanya mengandalkan cahaya rembulan yang hilang timbul karena awan mendung di langit. Gerimis masih turun meski sedikit, untuk mendinginkan hati yang memanas.


Di kamarnya, Daisha berjalan mondar-mandir gelisah, sedangkan Laila duduk di ranjang sambil menatap sang kakak yang sesekali kedapatan bergumam tak jelas. Daisha tak akan membiarkan Areta berjuang sendirian, tapi ia tak tega meninggalkan Laila seorang diri di dalam kamar.


Remaja itu tidak memiliki bekal bela diri ketika musuh berhasil menerobos masuk ke dalam villa. Ia dilema, dan mulai memperhatikan setiap detail ruangan yang selama ini mereka tempati.


Daisha berjalan mendekati jendela, seingatnya Alejandro memasang keamanan di sana. Ia menarik sebuah besi yang menonjol, dan jeruji besi mirip sangkar pun muncul sebagai pelindung.


Daisha tersenyum, ia melakukan semua itu pada setiap jendela yang ada. Lalu, berlari keluar mendatangi para pekerja perempuan yang berkumpul di dapur.


"Ibu!"


"Nona! Ada apa? Kenapa keluar?" tanya kepala pelayan dengan cemas.


"Bu, apa semua jendela sudah terlindungi?" tanya Daisha dengan cepat.


"Sudah, Nona. Saya sudah memastikan semua jendela dan pintu terlindungi," katanya yakin.


Daisha tersenyum senang. Ia menatap kepala pelayan dengan manik yang berbinar.


"Sekarang, kalian berkumpullah di satu titik bersama Laila. Aku akan membantu Bibi melawan para musuh itu. Ambil apa saja sebagai senjata untuk saling melindungi. Lindungi adikku, dia tidak bisa melindungi dirinya sendiri," titah Daisha memelas lewat sorotan mata.


"Kami memilikinya, Nona," ucap kepala pelayan sambil mengangkat sebuah senjata api diikuti yang lainnya, "kami dibekali masing-masing satu senjata oleh mendiang Tuan Alejandro. Tak hanya kami, semua orang yang bekerja di villa ini akan terjamin keamanannya," sambungnya membuat Daisha sedikit tertegun mendengar itu.


Namun, ia tersenyum dan mengangguk. Meminta mereka untuk mendatangi Laila di kamarnya. Sementara ia, berjalan keluar setelah menyambar sebuah senjata laras panjang dari dalam sebuah cermin. Tak lupa membawa biji mesiu bersamanya pula.


"Bibi!"


Areta tersentak mendengar suara keponakannya yang tiba-tiba dari belakang. Ia menoleh dengan mata sedikit melebar, tak senang melihat Daisha berada di sana.


Namun, emosinya berganti bingung tatkala melihat mata Daisha yang berbinar.


"Wah, pakaian Bibi keren sekali! Dari mana Bibi mendapatkannya? Aku suka sekali melihatnya, sangat pas di tubuh Bibi," puji Daisha membuat Areta mendengus.


Ia berbalik sambil tersenyum diam-diam, melirik tubuh sendiri yang dibalut hadiah Alejandro.


"Kau hanya merayu saja, bukan? Baiklah, tetap di sini dan jangan melakukan tindakan ceroboh seperti tadi. Semuanya harus dipikirkan secara matang, Daisha. Jika kau bersikap sembrono seperti tadi, itu akan membuatmu celaka sendiri," ucap Areta yang seketika saja membuat Daisha tertunduk.


Ia melangkah gontai, berdiri di samping sang bibi. Menghela napas berat, menatap kedua kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit. Lalu, melirik Areta yang mengenakan sepatu kulit mengkilap. Ia iri dan ingin memilikinya juga.


"Maafkan aku, Bi," lirihnya pelan.


Areta menarik udara, menghembuskannya dengan pelan. Ia menoleh pada Daisha sambil tersenyum.


"Sudahlah, jangan diingat lagi. Lagipula berkata kau yang melarikan diri kita memiliki persiapan untuk menyambut kedatangan musuh," sahutnya sembari memutar kepala kembali ke depan.


Daisha mengangkat wajah, melirik sekilas untuk kemudian menghadap ke depan seperti Areta.


"Kami berhasil membunuh beberapa dari mereka, tapi sepertinya mereka telah berhasil menemukan tempat kita, Nyonya. Sebisa mungkin kami akan mencegah mereka di sini, Nyonya," lapor salah satu tim pemanah yang berjaga di luar.


"Terima kasih karena sudah bekerja dengan baik. Tidak perlu memaksakan diri, kami di dalam sini telah bersiap menyambut kedatangan mereka," sahut Areta dengan pasti.


Mendengar itu Daisha tahu, mungkin saja mereka telah menemukan villa pamannya ini.


"Perhatian semuanya, bersiagalah! Jangan biarkan satu pun dari mereka berhasil meloloskan diri dari sini. Bunuh mereka semua!" perintah Areta pada semua orang-orangnya.


"Siap, Nyonya!"


"Penjaga gerbang! Jika melihat mereka datang, buka saja! Jangan sampai mereka merusak peninggalan suamiku, giring mereka ke hutan belakang villa, aku akan menunggu di sana!" Perintah selanjutnya.


Areta dan Daisha berbalik, berjalan memutar ke belakang bangunan tersebut.