Mohabbat

Mohabbat
Daisha dan Alejandro



"Apa yang bisa kau lakukan selain duduk?"


Seseorang menegur Daisha dengan sengit, wanita itu tak bereaksi hanya memutar bola mata ke samping di mana orang tersebut berada.


"Tidak ada. Untuk orang buta sepertiku tak ada yang bisa aku lakukan selain duduk dan menunggu. Apa lagi?" sahut Daisha dengan tenang di tempat duduknya.


Dewi dan Aleena menggeram kesal, mereka datang untuk merundung Daisha. Keduanya ingin istri Dareen itu angkat kaki dari rumah dan pergi selamanya.


"Sepertinya dia sangat berani melawan Ibu. Padahal Ibu adalah seorang Nyonya Dewantara yang dihormati," sindir Aleena sembari melipat kedua tangan di perut.


Daisha yang mendengar tersenyum tipis, tetap bersikap tenang seolah-olah tak ada yang mengganggu.


"Dasar perempuan tidak tahu diri. Aku heran kenapa Dareen sampai tergila-gila padamu? Sebenarnya apa yang kau lakukan padanya?" tanya Dewi menatap nyalang menantunya itu.


Daisha mendesah, menengadah pada langit meski tak dapat melihat arak-arakan awan di atas sana. Sungguh, ia sendiri pun tidak tahu dan tidak pernah menyangka akan jatuh cinta begitu dalam pada sosok Dareen. Terlebih, laki-laki itu pun mencintainya dan dapat menerima kekurangan yang dia miliki.


"Aku tidak tahu. Aku tidak melakukan apapun selain mencintainya. Selebihnya, Anda bisa tanyakan alasan tersebut kepada suamiku. Bukankah Anda adalah ibunya? Jadi, jangan sungkan untuk bertanya padanya," sahut Daisha semakin menabur minyak dalam api.


Aleena terkejut mendengarnya, sampai-sampai kedua tangannya yang melilit di perut terlepas dan mengepal dengan sendirinya. Rahang Dewi mengeras, bertambah kebencian di hati terhadap istri Dareen itu. Dia wanita buta, tapi bersikap selayaknya wanita normal biasa. Seandainya tidak buta, mungkin Dewi akan mempertimbangkan kehadirannya.


"Sudahlah. Percuma berbicara dengannya, hanya membuat emosi saja. Darahku bisa naik jika seperti ini terus setiap hari," ucap Dewi mengibaskan tangan dan pergi meninggalkan Daisha sendirian.


Aleena menghentakkan kaki kesal, ia mendekat pada Daisha. Wajahnya memerah tersulut emosi, teringin mencabik-cabik kulit mulus Daisha.


"Kau memang tidak tahu diri!" tudingnya dengan kesal.


Ia berbalik dan melangkah hendak pergi, tapi ucapan Daisha menghentikan langkahnya sesaat.


"Siapa yang tidak tahu diri? Aku atau kau yang memaksa masuk ke dalam keluarga ini meskipun sudah ditolak."


Daisha tersenyum, meski pandangan mengarah pada yang lain, tapi dia tahu saat ini Aleena tengah berbalik padanya dengan geram. Wanita itu melanjutkan langkah memasuki rumah dengan tidak tahu malu. Belum sah menjadi istri Cakra, tapi sudah tinggal satu atap.


Daisha menggeleng-gelengkan kepala, menghadapi orang-orang lemah yang penuh iri dan dengki di hatinya, tak membuat Daisha mengeluarkan tenaga sedikit pun. Cukup tenang dan berbicara sesuai fakta. Hal itu saja sudah cukup untuk membuat mereka ketar-ketir tak mampu melawan.


Tak lama, Bibi muncul membawakannya segelas minuman jahe yang diminta Daisha. Ia duduk menemani sang nona untuk sekedar berbincang riang. Para pekerja di rumah itu, enggan berbicara dengan Daisha karena Dewi melarangnya. Akan tetapi, semua itu tidak berpengaruh terhadap Bibi karena dia adalah pelayan pribadi Dareen dulunya sebelum kecelakaan itu terjadi.


"Mmm ... Nona, boleh saya bertanya sesuatu? Bagaimana Anda bertemu dengan tuan muda?" tanya Bibi membuka percakapan.


Daisha menyesap minuman jahe di tangannya, tersenyum mengingat persisnya seperti apa pertemuan mereka.


"Saat itu aku dan Laila sedang memetik bunga, kami tak sengaja menemukan sebuah tubuh yang terdampar di kebun bunga kami. Kukira itu mayat, tapi ternyata dia masih hidup dan hilang ingatan. Dia tinggal bersama kami selama ini," ucap Daisha mengisahkan secara singkat pertemuan mereka.


Bibi tersenyum melihat kebahagiaan di kedua manik hampa milik Daisha. Kebahagiaan yang sama yang ia temukan di wajah Dareen.


"Nona, apakah tuan muda membuat Anda susah dulu? Beliau sangat manja dan tidak pernah melakukan pekerjaannya sendiri. Bahkan pakaian saja, saya yang menyiapkannya. Saya hanya khawatir beliau merepotkan Anda ketika tinggal bersama dulu," ungkap Bibi disambut senyum aneh oleh Daisha.


"Tidak sama sekali. Kakak adalah orang rajin, pekerja keras dan berhati lembut. Dia bahkan tidak membiarkan aku mengangkat keranjang bunga, atau pun melakukan pekerjaan berat lainnya," jawab Daisha terbayang masa-masa di desa dulu ketika mereka bersama-sama berjualan bunga.


Sungguh, kebahagiaan seperti dahulu tak akan mereka temukan di mana pun. Sayang, semua rusak saat seorang penguntit mengintai kedai mereka. Kecemasan dan rasa takut menguasai hati terlebih saat Laila hampir mati di tangan laki-laki itu.


"Saya tidak menyangka tuan muda bisa melakukan pekerjaan. Beruntung sekali tuan bertemu dengan Anda, Nona." Bibi tersenyum.


"Aku juga beruntung dapat menemukannya dulu. Laki-laki dengan hati yang lembut, tak akan pernah aku dapatkan di mana pun. Dia tidak pernah menghinaku, dia tidak pernah mengatai aku buta. Hanya dia seorang yang tak pernah merendahkan aku seperti yang dilakukan orang-orang."


Daisha tersenyum, mengingat sikap Dareen selama ini terhadapnya. Seperti apa wajahnya, dia ingin sekali melihat. Apakah setampan yang dikatakan Laila? Apa dia laki-laki asing yang terkadang hadir di dalam mimpi.


Perbincangan hangat mereka terganggu oleh datangnya Cakra. Laki-laki itu mengusir Bibi dari sisi Daisha dengan satu isyarat tangan.


"Nona, mohon maaf, tapi saya harus kembali ke belakang untuk menyelesaikan pekerjaan. Saya permisi," ucap Bibi diangguki Daisha.


Wanita paruh baya itu beranjak, menunduk sebentar sebelum pergi dengan kepala menatap lantai meninggalkan Daisha. Si Gadis Buta tahu seseorang berdiri di belakangnya, dia dapat mencium dengan jelas aroma tubuh yang khas itu. Cakra telah ditandai Daisha sejak di desa dulu.


"Apa kau datang untuk merundung aku juga, Kakak ipar? Mengapa hanya berdiri di sana?" ucap Daisha yang menyentak tubuh Cakra.


Mata laki-laki itu memicing curiga, menerka-nerka tentang siapa sebenarnya Daisha? Tak hanya dirinya, tapi hampir semua orang mencari tahu tentang siapa Daisha.


"Kau memang patut diacungi jempol. Luar biasa. Kau memiliki kepekaan yang luar biasa hingga kehadiranku bisa kau rasakan," ucap Cakra yang perlahan mengikis jarak.


Daisha tersenyum, ia mengangkat tongkat ke depan tubuh dan menumpuk kedua tangan di ujungnya.


"Katakan padaku siapa kau sebenarnya, Gadis Buta!" tekan Cakra setelah berada cukup dekat dengan sang adik ipar.


Daisha tertawa ringan seraya menyahut, "Tentu saja aku ini adik iparmu, istri dari adikmu tersayang. Memangnya siapa lagi?"


Daisha tertawa lagi dan kembali melanjutkan kalimatnya, "Bagaimana rasa ayamnya? Apa kalian menyukainya? Perlu kau tahu, Kak. Masakan itu aku yang membuatnya."


Cakra membelalak, kedua tangan mengepal kuat. Apakah gadis itu sedang menghinanya? Tidak! Dia harus tahu siapa Daisha yang sebenarnya?


"Tak perlu menjelaskan bahwa kau istri adikku. Hanya katakan siapa dirimu, dan apa tujuanmu menikahi Dareen? Perlu kau ingat, apapun rencanamu aku tak akan pernah tinggal diam," ungkap Cakra penuh penekanan.


Daisha beranjak, berdiri membelakangi kakak iparnya itu.


"Kau ingin tahu siapa aku? Aku khawatir jantungmu akan terlepas saat mengetahui fakta tentang siapa aku? Lagipula, kau salah bertanya, Kakak. Kenapa tidak kau tanya calon istrimu apa yang dia rencanakan?" sahut Daisha sembari melangkah hendak meninggalkan Cakra.


Namun, laki-laki itu tak merasa puas hati, ia menghadang langkah wanita itu.


"Kau tidak bisa pergi sebelum mengatakan yang sebenarnya kepadaku, Daisha. Jangan pernah memutar-balikkan fakta hanya untuk bersembunyi dariku. Katakan, siapa sebenarnya dirimu!" tuntut Cakra tak sabar.


Daisha menghela napas dan bertanya, "Kau ingin tahu? Sebelumnya aku ingin bertanya padamu, apa kau mengenal sang legenda Alejandro? Haha ... aku yakin kau sangat mengenalnya, bukan?"


Daisha tersenyum sinis dan kembali melanjutkan langkah. Tubuh Cakra membeku mendengar sebuah mana disebut Daisha. Bergetar tak terkendali sampai-sampai peluh bermunculan membanjiri wajahnya.


"Alejandro? Apa hubunganmu dengannya?" Cakra berbalik, tapi Daisha tak lagi di sana.


"Sial! Ada hubungan apa dia dengan laki-laki itu?"