
"Kau tunggu di sini, aku akan mengambil minuman dulu," pamit Dareen pada Daisha.
Suasana mulai dingin karena langit mulai berubah. Lembayung senja perlahan menampakkan diri, sedikit demi sedikit. Daisha menikmati sepoi angin yang menerpa kulit wajahnya, sambil meniti cerita kehidupan yang telah ia lalui.
Wajahnya mendongak, menghadap langit yang membentang luas tiada batas. Membayangkan wajah kedua orang tua yang tersenyum sambil menatapnya. Namun, seketika saja senyum orang tua itu lenyap berganti kemarahan yang nyata.
Daisha tersentak, tubuhnya membentur sandaran kursi dengan dada bergemuruh hebat. Ia mengurut dada dengan pelan sambil menarik napas pendek-pendek mengurai sesak yang tiba-tiba menghantam.
"Ada apa ini? Meski hanya bayangan, tapi kenapa terasa nyata sekali?" gumamnya sambil terus menenangkan jantung yang berdetak kencang.
Tadi itu memang hanya sekedar hayalan, tapi terasa seperti nyata dalam bayangan Daisha. Apakan sebuah pertanda? Ia sendiri tidak tahu. Semoga tak ada apapun yang terjadi untuk ke depannya.
"Oh, rupanya di sini gadis tak tahu diri itu."
Suara mencibir sekaligus menyindir, membuat tubuh Daisha yang sudah bergetar semakin menegang. Derap langkah kaki yang terdengar seperti berlomba mengusik telinga. Semakin membuat hatinya tak tenang dan gelisah.
Ada apa lagi?
Daisha meraba sofa mencari tongkat yang ia tinggalkan. Mengenakannya erat, seerat ia menahan getar di tubuh. Belum hilang bayangan amarah kedua orang tuanya, muncul lagi hantaman dari manusia-manusia yang tak punya hati.
"Siapa kalian? Aku rasa kita tidak memiliki urusan," ucap Daisha tanpa beranjak sedikit pun. Ia tetap duduk di sana, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Derap langkah yang mengusik telinga Daisha semakin mendekat, hawa panas menguar membuat tubuh Daisha semakin waspada. Mereka tepat berada di hadapannya. Ia tersenyum kecil saat mengendus suatu bau yang tak asing di hidungnya.
"Kau memang tidak berurusan dengan kami, tapi kau sudah menyakiti teman kami dengan merebut Dareen darinya. Kau tahu dia tunangannya, bukan? Kenapa kau tidak tahu malu sekali, berani merebut calon tunangan wanita lain," ucap salah satu dari mereka dengan nada angkuh.
Daisha bergeming, tetap terlihat tenang tak terbawa emosi sama sekali. Ia menghela napas pelan mengurangi rasa yang bergelenyar panas dalam dada.
"Lihat, dia sama sekali tidak merasa bersalah ... oh, apakah dia menyadari posisinya sehingga tak dapat menimpali perkataanmu tadi," sahut yang lain.
"Mungkin saja, dia sudah menyadari bahwa dia itu miskin juga buta dan tidak pantas bersanding dengan seorang pewaris. Haha ... seharusnya dia bercermin ... ups, aku lupa dia buta."
Mereka tertawa mengejek, tanpa sadar tawa Daisha pun turut mengiringinya. Sampai tawa mereka mereda, tapi Daisha masih saja tertawa. Mereka saling menatap bingung, mengira gadis buta itu sudah tidak waras.
"Apakah dia gila? Kenapa tertawa sendiri?" celetuk mereka bergidik ngeri.
Daisha menyusut sudut mata, meredakan tawa perlahan-lahan.
"Kalian kira aku gila? Pastinya begitu. Aku tertawa karena merasa lucu dengan sikap kalian. Bukankah kalian mengaku sebagai wanita terhormat? Tapi sikap kalian sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai wanita terhormat. Apakah seperti ini sikap seseorang yang terhormat? Merundung seorang tunanetra dengan kata-kata yang tak pantas diucapkan?" tegas Daisha menohok hati mereka.
Ia tersenyum tipis, hawa panas semakin terasa pertanda tubuh mereka tengah bergolak.
"Ternyata selain tidak tahu diri kau juga pandai membela diri. Jika sadar betul kau hanya seorang tunanetra, maka bersikaplah selayaknya orang-orang buta di luar sana. Jangan bersikap angkuh dan sombong, tidak mengukur baju di badan sendiri," sahut teman Aleena tidak terima dengan kalimat yang dilontarkan Daisha.
Dalam hati mereka mengumpat, sekaligus memuji keberanian gadis tunanetra itu.
"Siapa? Kau masih tidak menyadarinya?" Teman Aleena tertawa miris.
Sementara yang punya perkara, hanya diam mendengarkan sambil mengepalkan tangan kuat-kuat.
"Dasar gadis buta tidak tahu diri. Masih saja berkilah, jelas-jelas dia bersalah," timpal mereka lagi dengan geram.
"Ingatlah, Nona. Kualitas diri kalian dinilai dari apa yang kalian ucapkan. Percuma berpendidikan, percuma gelar besar, jika kalian sama sekali tidak bisa menjaga lisan. Lebih baik si lemah, tapi dia selalu berhati-hati dalam berucap."
Daisha tersenyum, ia beranjak membuat Aleena termundur beberapa centi. Tangan yang mencengkeram tongkat kayu itu amat kuat, dan dia sudah merasakannya.
"Kalian adalah orang terpandang, jangan runtuhkan gelar kehormatan kalian hanya karena menindas orang lemah sepertiku. Jika seseorang melihat, apalagi pemburu berita, aku yakin harga diri kalian dipertaruhkan di sini. Kehormatan keluarga kalian akan terkikis dan perlahan akan keluar dari lingkaran bisnis."
Dia berdiri tegak, menghela udara sangat dalam.
"Aku nasihati Anda sekalian, Nona-nona. Jika kalian tidak tahu betul permasalahan seseorang maka jangan jadi pahlawan untuk membelanya. Sebaiknya cari dulu seperti apa jelas masalah itu, baru setelahnya kalian bisa mengambil tindakan. Bersikap ceroboh adalah perbuatan setan, dan hanya akan menjerumuskan."
Daisha tersenyum usai menasihati mereka. Sebagian dari mereka berpikir, tapi sebagian lagi justru menggeram kesal.
"Kau pikir kau siapa? Beraninya menasihati kami yang jelas-jelas memiliki kasta lebih tinggi darimu. Kau terlalu lancang, tidak ada yang mengizinkan gadis rendahan sepertimu untuk memberikan petuah kepada kami. Tidak pantas!" hardik mereka dengan tegas dan angkuh.
Kedua tangannya terkepal, siap berayun kapan saja ke pipi Daisha. Namun, gadis itu tetap berdiri tegak, tak ada tanda-tanda untuk menghindar.
"Seorang bijak mengatakan, ambillah yang baik sekalipun itu keluar dari mulut binatang. Belajarlah dari mereka, Nona. Meski hanya duduk sambil berayun, tapi pengalaman hidup mereka jauh lebih berharga dari apapun."
"Kau ...."
"Cukup! Jangan pernah berani menyentuhku jika kau tidak ingin merasakan kesakitan sepertinya. Kau tentu tidak ingin kulit yang kau rawat itu rusak karena menyentuhku, bukan? Lagipula, kalian tidak tahu siapa aku. Jangan pernah berbuat macam-macam denganku."
Siapa ramah dan tenang Daisha raib berganti dengan mata memicing dan kepalan tangan menguat di tongkat. Tangan yang terangkat ke atas hendak menampar pipi gadis itu terhenti di udara. Mengepal kuat sebelum sang empu menariknya kembali.
Kalah? Mereka kalah dari gadis buta itu? Oh, sungguh hal yang sangat memalukan. Pintu lift terbuka, Dareen muncul bersama seorang pelayan yang membawa sebuah nampan. Matanya sontak saja melebar melihat Daisha dirundung empat wanita.
Ia mengambil langkah lebar dan cepat, rasa cemas membuat napasnya berhenti beberapa saat.
"Apa yang kalian lakukan pada calon istriku?"
Mereka tersentak, segera mundur menjauhi Daisha, tapi tidak dengan gadis itu. Dia tetap berdiri, bergeming pada tempatnya.