Mohabbat

Mohabbat
Tidak Ingat



Di dalam sebuah ruangan, Aleena mulai terlihat gelisah. Rasanya tak sudi menunggui wanita paruh baya itu bangun dari pingsan. Berjalan mondar-mandir sambil menggigit kuku, berdecak kesal tak sabar.


"Aku harus keluar, aku perlu tahu apa yang terjadi di dalam pesta. Kenapa tidak ada yang datang ke sini untuk menggantikan aku," gerutunya kesal.


Aleena menatap Dewi yang terbaring, sejak tadi kelopak yang dibingkai bulu mata palsu itu terpejam dan tidak ada tanda-tanda akan terbuka.


Aleena melepaskan ekor gaunnya dan membiarkan teronggok begitu saja. Dia berjalan cepat keluar ruangan, menuju tempat diadakannya pesta.


Para tamu telah memadati tempat tersebut, ia celingukan mencari keberadaan orang tuanya juga Dareen. Aleena merubah raut wajah menjadi menyedihkan, ia bahkan memberi tetesan obat mata pada matanya agar terlihat seperti habis menangis.


Dia berlari mendekati orang tuanya yang muncul dari balik sebuah tembok. Sambil menangis sesenggukan, memeluk sang ibu hendak mengadu.


"Ada apa, sayang? Kenapa kau tiba-tiba menangis?" tanya sang ibu, seraya melepas pelukan dan mengusap wajah putrinya itu.


Aleena masih berpura-pura, tersedu-sedan sambil menunduk.


"Jangan menangis, bukankah ini adalah hari pertunangan kalian. Kau seharusnya tersenyum," timpal sang Ayah sambil mengusap rambut Aleena.


Wanita licik itu mengangkat wajah, menatap kedua orang tua dengan mata basahnya.


"Siapa yang akan bertunangan, Ayah, Ibu? Dareen membawa gadis lain ke pesta ini dan dia mengaku sebagai tunangannya. Dia bahkan lupa padaku, bagaimana aku tidak menangis? Aku malu," ungkap Aleena masih berpura-pura menangis.


Beberapa gadis seusianya yang menjadi teman Aleena terperangah mendengar itu. Mereka tak menduga gadis secantik Aleena yang menjadi primadona di kalangan para jutawan akan mengalami hal tragis dalam suatu hubungan.


"Apa?" Ibu Aleena memekik, wajahnya tegang tidak terima.


"Di mana Dewi? Aku harus membicarakan ini dengannya. Beraninya dia mempermalukan putriku ini," geramnya sambil mengedarkan pandangan ke segala sudut ruangan mencari Dewi.


"Tante Dewi tidak ada di sini, Bu. Lagipula ini bukan kesalahan Tante, tapi gadis gatal itu yang sudah menggoda Dareen dan sengaja membuat dia semakin lupa padaku, Bu. Tante bahkan pingsan karena syok dan sampai sekarang belum sadarkan diri," ucap Aleena mulai mengadu domba.


Mata wanita paruh baya itu membelalak, menatap Aleena tak yakin.


"Bagaimana dengan Bardy? Apa dia tahu?" tanyanya ketika tak sengaja melihat laki-laki yang dimaksud sedang berbincang di kejauhan.


Aleena menggigit bibir, dia memang pantas mendapatkan gelar sebagai aktris terbaik.


"Paman tahu, dan dia mendukung mereka. Entahlah, Bu. Aku tidak tahu harus apa, gadis itu benar-benar membuat aku tersingkir dari hati Dareen." Aleena menutup wajah dan kembali menangis.


"Apa kurangku? Aku setia dan sangat mencintai dia, tapi dia dengan mudahnya berpaling dan menggantikan aku dengan gadis buta itu. Aku tidak mengapa jika saja dia gadis sempurna sepertiku, dia buta, Bu. Gadis itu buta dan berhasil mengadu domba kami," cerocos Aleena sambil sesenggukan.


Hati ibu mana yang tak sakit mendengar anaknya diperlakukan tak adil. Dada wanita itu memanas, begitu pula dengan sang ayah. Mereka menatap liar setiap kepala di pesta tersebut. Mencari-cari sosok Dareen.


"Kau tetap di sini, Ibu akan memberi laki-laki itu pelajaran. Enak saja dia menyakiti anakku, menggantikan posisinya dengan gadis buta." Ibu Aleena pergi dengan kesal diikuti ayahnya pula. Berkeliling mencari sosok Dareen untuk diberi pelajaran.


Beberapa gadis mendekat, menghibur Aleena agar tidak terlalu bersedih. Mereka merasa iba atas apa yang terjadi padanya. Terus menghibur Aleena untuk tetap bersikap tenang.


"Kita orang-orang terhormat tidak pantas diperlakukan seperti ini, apalagi dia hanya gadis buta yang derajatnya berada di bawah kita. Dareen memang keterlaluan, dan gadis itu harus diberi pelajaran," ucap salah satu dari mereka dengan geram.


"Kau benar, gadis buta itu harus kita beri pelajaran agar dia tahu di mana seharusnya dia berada," sahut yang lain menimpali.


"Kau tenang saja, Aleena. Kami tidak akan membiarkan ketidakadilan ini."


Aleena tersenyum, mengangguk sambil mengusap air yang jatuh dari matanya. Dalam hati bersorak berhasil mendapatkan sekutu.


"Ayo, kita cari gadis itu."


Dengan semangat menggebu, mereka pergi bersama-sama mencari Daisha. Gadis itu tidak ada di dalam pesta, entah ke mana perginya.


"Apa benar kita di atas atap?" tanya Daisha masih tak yakin.


"Kau bisa merasakan anginnya, Bukan? Di sini juga sepi tak ada suara-suara. Memangnya kenapa?" tanya Dareen balik.


"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya merasa dejavu, rasanya dulu aku pernah duduk di atas sebuah gedung bersama seseorang. Entahlah, apakah itu memang nyata ataukah hanya halusinasi semata," sahut Daisha menggelengkan kepalanya tak tahu.


Dareen terdiam, menelisik wajah yang dipoles make-up tipis itu. Dia pun sama seperti Daisha, tak mengingat masa-masa dulu sebelum hilang ingatan. Hanya sebagian saja yang muncul, dan sebagian lagi hilang entah ke mana.


Di saat sunyi seperti itu, pekikan tinggi seorang wanita mengalihkan perhatian mereka.


"Gadis tidak tahu malu, bisa-bisanya merebut calon tunangan orang lain!"


Suara tinggi itu membuat Dareen menoleh, ia membelalak melihat kedua orang tua Aleena yang datang melabrak mereka.


"Siapa kalian? Dan gadis mana yang kalian katakan tidak tahu malu?" tanya Dareen bingung.


Untuk situasi yang seperti saat itu, berpura-pura hilang ingatan adalah cara terbaik. Biarlah mereka menganggapnya hilang ingatan untuk melindungi Daisha.


Orang tua Aleena saling menatap satu sama lain dengan kedua mata membelalak dan mulut yang terbuka lebar.


"Apa kau benar-benar tidak ingat kepada kami?" Suara mereka merendah saat mengetahui kebenaran tentang Dareen yang amnesia.


Pemuda itu mengangguk polos, raut bingung jelas terlihat di wajahnya yang tampan.


"Kami orang tua Aleena. Kau ingat?" tekan ayah Aleena sembari mendekati sofa yang diduduki Dareen.


Alis Dareen semakin terajut rumit, ia memiringkan kepala untuk mencari sebuah ingatan. Mereka tersenyum menunggu, tapi raib begitu saja ketika Dareen kembali menggeleng.


"Siapa Aleena? Aku tidak mengenalnya," ucap Dareen lagi semakin membuat mereka linglung.


Niat ingin memarahi pemuda itu, hilang seketika oleh sikap Dareen yang berpura-pura lupa.


"Kau juga tidak mengingat Aleena? Dia tunanganmu, Dareen. Apa yang menyebabkanmu lupa padanya juga kepada kami?" tanya ibu Aleena.


Mereka tak habis pikir, tapi saat mengingat cerita Aleena tentang kecelakaan yang dialami Dareen, mereka jadi mengerti. Mungkin karena kepalanya terbentur yang menyebabkan laki-laki itu hilang ingatan.


"Jadi, kau benar-benar tidak mengingat kami?"


Sekali lagi Dareen menggeleng. Ayah Aleena menghela napas, mereka melirik Daisha yang hanya diam tak bereaksi. Gadis itu terlihat tenang sambil memegangi tongkat di tangan. Menyalahkan gadis itu juga tak baik, yang ada hanya akan membuat Dareen semakin benci dan semakin menjauhi mereka.


Tanpa berkata-kata lagi keduanya berbalik pergi, diam-diam Dareen tersenyum licik. Berhasil mengelabui orang tua itu. Tunggu sampai saatnya tiba, kebusukan Aleena akan dibongkarnya.


"Kau berbohong, Kak. Sebenarnya kau mengingat mereka, bukan? Kenapa harus berpura-pura?" tanya Daisha setelah memastikan kepergian mereka.


Dareen kembali berbalik, menghela napas lega karena tak lagi ada yang mengganggu.


"Aku hanya tidak ingin mereka menyakitimu. Dengan berpura-pura amnesia, mereka tidak akan menyalahkanmu," ucap Dareen.


Apa yang dia lakukan semata-mata hanya untuk melindungi Daisha.


"Terima kasih."


Dareen menarik tubuh Daisha, memeluknya dengan erat.


"Jangan berterimakasih."