Mohabbat

Mohabbat
Kabar Baik



Beberapa Minggu telah terlewati, Daisha hidup dengan tenang dan damai di rumah itu. Usai pertikaiannya dengan Cakra waktu itu, tak satu pun dari mereka berani mengusik Daisha. Baik Dewi maupun Aleena, keduanya seperti enggan mengganggu si Buta.


Sebulan sudah mereka menikah, tapi belum ada tanda-tanda Daisha hamil. Lagipula Dareen tidak ingin cepat-cepat istrinya itu mengandung. Dia sedang berusaha keras mencari donor mata untuk menyembuhkan Daisha.


Wanita itu sedang bersama Bibi dan dua pekerja lainnya di dapur, menyiapkan makan siang sesuai menu yang diinginkan seluruh anggota keluarga.


"Kudengar Minggu depan Tuan Cakra akan meresmikan hubungannya dengan Nona Aleena. Mereka akan menggelar pesta meriah," celetuk salah satu pekerja sambil memotong sayuran.


Daisha tidak bereaksi, Dareen sudah mengatakan hal itu padanya beberapa hari yang lalu. Mereka bahkan telah menyiapkan hadiah untuk pernikahan Cakra dan Aleena.


Pekerja yang lain menoleh ke kanan dan kiri juga ke segala arah. Memastikan hanya ada mereka di ruangan tersebut dan tak ada satupun anggota keluarga ... kecuali Daisha.


"Aku sering mendengar Nona Aleena muntah-muntah tanpa sengaja. Apa kau memperhatikan, wajahnya akhir-akhir ini pucat sekali. Dia seperti seseorang yang sedang hamil muda. Lagipula, dia yang meminta kita masak ini, bukan? Padahal, jarang sekali nyonya ataupun tuan meminta dimasakkan ini," bisik yang lain sambil mencuci potongan sayur.


Daisha tersenyum tipis, bukannya tidak memperhatikan, dia hanya malas membahas tentang wanita itu. Biarkan saja kedua orang itu melakukan apa yang mereka inginkan.


Keduanya melirik Daisha, pandangan mereka turun pada perut ratanya. Berpikir, seharusnya nyonya muda itu yang hamil karena mereka dia telah resmi menikah.


"Hei, apa yang kalian lihat! Perhatian pekerjaan kalian, sebentar lagi seluruh anggota keluarga akan tiba," tegur Bibi menyentak mereka berdua.


"I-iya."


Keduanya kembali pada pekerjaan, memulai masakan yang diinginkan Aleena. Daisha bersama Bibi memasak untuk yang lain, keduanya secara khusus memaksa untuk Aleena.


"Bagaimana? Apa kalian bisa memasaknya?" tegur Aleena yang tiba-tiba memasuki dapur.


Gadis itu sungguh tidak tahu malu, berada di rumah orang dan tinggal di sana, padahal mereka belum sah jadi suami istri. Namun, siapa yang berani mengusiknya, dia adalah kesayangan nyonya rumah itu. Mengganggu Aleena, sama saja dengan kehancuran karir mereka sebagai asisten di rumah besar itu.


"Akan kami siapkan, Nona. Sesuai dengan keinginan Anda," sahut salah satu dari mereka sambil membungkuk sopan.


Aleena melirik tajam pada Daisha, dia begitu membenci wanita buta itu.


Kau memang pantas berada di sini bersama mereka. Sama sekali tidak pantas untuk menjadi nyonya. Bermimpilah dan saat kau bangun nanti, kau akan melihat kenyataan pahit dalam hidupmu.


Aleena pergi meninggalkan dapur, menenteng banyak sekali belanjaan. Semua itu difasilitasi oleh Cakra dan Dewi. Daisha tidak pernah merasa cemburu. Baginya, cukup berasa di sisi Dareen, yang lain tidaklah penting.


"Kenapa wanita sepertinya suka sekali belanja. Padahal, yang mereka beli tidaklah terlalu penting. Paling hanya baju, tas, sepatu, dan seperti itu saja. Alangkah lebih baiknya, jika uang itu disimpan untuk keperluan mendadak," celetuk Daisha tanpa sadar.


Teringat pada kehidupannya dulu, pada semua teman-temannya yang hobi berbelanja seperti Aleena. Mereka pergi keluar masuk mal hanya untuk memuaskan hasrat belanja saja. Padahal, yang mereka beli bukanlah hal penting. Terkadang meminta Daisha untuk menjadi seperti mereka pula. Namun, gadis itu tidak menyukainya sama sekali.


"Apakah Nyonya tidak suka berbelanja?" Dua pekerja tadi saling melirik satu sama lain.


Daisha tersenyum, ia baru saja duduk setelah mencicipi masakannya.


"Bukan tidak suka. Tak ada wanita yang tidak suka berbelanja termasuk kita. Hanya saja, jika berbelanja harus dipastikan dulu apa yang akan kita beli. Apakah bermanfaat ataukah hanya untuk kepuasan semata? Jika bermanfaat, lakukan! Jika tidak, maka lebih baik ditabung saja. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hadapan," jawab Daisha membuat keduanya tercenung.


Belum lagi masalah internal, korupsi dan lain sebagainya. Semua orang memilki potensi untuk melakukannya.


"Sudah, jangan melamun. Cepatlah masak jika tak ingin dia marah."


Mendengar ucapan Bibi, keduanya melanjutkan pekerjaan memasak. Sup jagung ala restoran. Dari baunya saja Daisha sudah bisa menebak. Ia tak banyak berkomentar, membiarkan mereka melakukan pekerjaan sampai selesai.


****


"Daisha!"


Lagi-lagi Dareen membuka pintu kamarnya dengan cukup keras. Membuat wanita yang baru saja berpakaian berpaling dengan cepat.


"Ada apa, Kak? Kenapa akhir-akhir ini kau selalu membuka pintu dengan keras? Membuatku jantungan," sungut Daisha sambil mendaratkan bokong di tepi ranjang.


Jantungnya berdebar karena terkejut, jika Dareen sering melakukan itu maka tak menutup kemungkinan dia akan memiliki riwayat penyakit jantung.


"Maaf, sayang."


Dareen menutup pintu dengan pelan, melangkah tergesa dan memeluk istrinya. Daisha tentu saja tidak heran, laki-laki itu memang selalu melakukannya secara tiba-tiba. Namun, kali ini terasa berbeda, ada sesuatu yang dibawa Dareen untuknya. Entah itu kabar baik, ataukah kabar buruk?


Dareen melepas pelukan, mengusap wajah Daisha dengan lembut. Disapunya kedua mata yang terpejam itu, dikecupnya dengan mesra.


"Aku telah mendapatkan donor mata untukmu. Hanya saja, tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat ini. Kau tak apa menunggu sebentar lagi, bukan?" ucap Dareen.


Daisha tertegun, lelakinya itu memang bersungguh-sungguh mencarikannya pendonor. Air menetes dari pelupuk, hatinya dipenuhi rasa haru yang membuncah. Ia memeluk Dareen, menumpahkan rasa syukur yang tak bertepi.


Tidaklah mudah mencari pendonor mata, tapi berkat kegigihan laki-laki itu dia berhasil mendapatkannya untuk Daisha meskipun harus membayar mahal. Uang tidak masalah baginya, yang penting untuk saat ini adalah kesembuhan Daisha.


Dareen ingin istrinya itu bisa melihat lagi, menikmati keindahan dunia. Dia ingin mengajaknya pergi menikmati pemandangan senja hari. Berbulan madu ke tempat yang paling apik, menyusun rencana untuk masa depan mereka.


Untuk inilah Dareen tidak ingin terburu-buru memiliki anak. Dia ingin menghabiskan waktu bersama Daisha melihat-lihat keindahan sebelum si kecil hadir dalam kehidupan mereka.


"Kau akan bisa melihat lagi, sayang. Aku akan membawamu ke tempat-tempat yang ingin kau kunjungi. Menikmati senja bersama, menghabiskan waktu dengan berbulan madu. Kau mau, bukan?" tanya Dareen dengan perasaan yang tak dapat digambarkan melalui kata-kata.


Daisha mengangguk cepat, tangannya yang gemetar meraba wajah sang suami.


"Aku mau, tapi jangan sampai orang lain tahu tentang ini. Cukup hanya kita berdua dan Laila. Aku hanya ingin melihatmu dan adikku itu, yang lain biarkan saja," pinta Daisha.


Bukan tanpa alasan, jika semua orang tahu perihal pendonor itu, maka tak menutup kemungkinan segala hambatan akan mereka dapatkan.


"Tentu, sayang. Aku tidak akan memberitahu siapapun tentang semua ini ... ah, mungkin Alfin pengecualian karena dia yang berhasil membawa berita ini," ucap Dareen diangguki Daisha.


Alfin tak mengapa, lagipula dia semakin dekat dengan Laila. Mungkin mereka berjodoh di kemudian hari. Tidak ada yang tahu, bukan?