
Malam terasa semakin mencekam disaat Laila sendirian tanpa Daisha. Sejak pertemuan pertama mereka, tak sekalipun mereka berpisah. Namun, kalo ini, Daisha memintanya untuk tinggal di villa dan tidak pergi ke mana pun. Ada kemungkinan mereka akan pindah tempat tinggal ke Jakarta, bahkan Daisha memikirkan sekolah untuk Laila di kota tersebut.
Berkali-kali Laila mendesah guna menghilangkan rasa cemas yang bergumul di dadanya. Alfin yang sedang menerima perintah dari Dareen, melirik remaja itu dari tempatnya duduk.
Sesuai permintaan Daisha, dia ingin Alfin menjaga Laila selama tinggal di villa. Remaja itu sangat lemah dan ceroboh, dan Daisha tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.
"Ada apa denganmu?" tanya Alfin sembari memasukkan ponsel ke dalam saku.
Ia menatap Laila, mereka dipisahkan sebuah meja kaca yang di atasnya tersedia dua botol air mineral juga kudapan yang dibeli Alfin saat perjalanan menuju villa.
Laila mendongak ke arahnya, menggeleng pelan tak tahu harus menjawab apa. Dia cemas, memikirkan Daisha sendirian di rumah orang-orang yang membencinya.
"Tidak usai mencemaskan kakakmu, dia akan baik-baik saja. Tuan muda akan menjaganya seperti dia menjaga nyawanya sendiri," tutur Alfin setelah membaca raut wajah Laila.
"Aku ... aku tidak terbiasa ditinggal sendiri seperti ini. Aku selalu merasa cemas saat jauh dari kakak. Apa kau yakin kakak akan baik-baik saja?" Laila menatap Alfin sambil membasahi tenggorokannya yang teras mengering.
Tatapan mata remaja itu memancarkan kekhawatiran yang luar biasa. Alfin menyadari ikatan di antara Daisha dan laila bukanlah sembarangan. Mereka saling menyayangi dengan tulus, saling menjaga satu sama lain.
Alfin tersenyum, teringat akan masa kecilnya yang selalu takut ditinggal sendiri oleh mendiang sang ibu.
"Justru kakakmu sangat mengkhawatirkan dirimu, Laila. Untuk itu dia memintaku untuk berada di sini menjagamu. Dia gadis yang luar biasa, aku yakin dia tidak lemah seperti kebanyakan gadis lainnya. Kau percaya padanya, bukan? Seharusnya begitu karena kalian telah hidup bersama cukup lama."
Laila menunduk, yang dikatakan Alfin memanglah benar. Daisha bukan wanita yang lemah, dia percaya kakaknya itu akan dapat dengan mudah menghadapi setiap masalah. Hanya saja, yang dia cemaskan adalah dirinya yang tak terbiasa tanpa Daisha.
Laila menggigit bibir, semuanya tak lepas dari tatapan Alfin. Laki-laki berdarah Sunda itu semakin bersimpati pada Laila, dan terbersit rasa ingin melindungi dari marabahaya apapun. Sosoknya mengingatkan dia pada sang ibu yang juga lemah tanpa suaminya.
"Aku percaya pada kakak, tapi aku tidak percaya pada diriku sendiri. Aku takut kelemahanku justru akan menghancurkan hidup kakak. Aku tidak ingin menjadi kelemahannya, aku ingin menjadi kekuatan untuk kakak." Laila menangis, selama ini Daisha yang selalu menjaga dia dengan segala kekurangan yang dimilikinya.
Sementara itu, dia yang sempurna tak mampu melindungi dirinya sendiri. Justru selalu menyusahkan kakaknya itu. Kini, dia menyadari itu semua. Mulai saat ini, dia harus belajar mendiri, melindungi dirinya sendiri. Tidak melulu bergantung pada Daisha karena dia telah memiliki kehidupannya sendiri.
"Kau benar. Kau adalah satu-satunya orang yang dia miliki di dunia ini dan amat berharga untuknya. Aku ingin tahu, bagaimana dia bisa sehebat itu? Apakah dia belajar ataukah memang nalurinya sendiri? Apa kau tahu sesuatu tentangnya, Laila? Bukan apa-apa, aku hanya mengagumi dirinya saja," ungkap Alfin tak menyembunyikan rasa penasaran di hatinya tentang kebenaran seorang Daisha.
Laila menyusut air mata, membahas tentang kelebihan sang kakak adalah hal menarik baginya. Ia mengangkat wajah menatap sebuah figura yang baru beberapa waktu lalu dipasang. Gambar mereka berdua yang saling berpelukan dan tertawa bahagia, meski pandangan Daisha tak mengarah pada kamera.
Laila mengalihkan pandangan pada Alfin, menatap lekat laki-laki berparas manis itu. Mencari kejujuran di kedua maniknya yang berwarna coklat.
"Kakak adalah sosok istimewa yang aku miliki. Apa Kau bisa menjaga rahasia, Kak? Akan aku ceritakan siapa Kakak," ungkap Laila dengan manik menajam menghujam jantung Alfin.
Pemuda itu seketika gugup, menerka-nerka dalam hati tentang siapa sosok Daisha sebenarnya. Apakah dia seorang yang besar? Rahasia apa yang tersimpan dalam kehidupannya?
"Baik, aku berjanji. Aku berjanji akan menjaga rahasia besar ini." Alfin berucap dengan lantang dan yakin.
"Kakak adalah ...."
Ia tidak sanggup membuka rahasia sang kakak pada sembarangan orang. Laila menutup pintu cukup keras, menguncinya seraya membanting diri di atas kasur. Berharap Tuhan akan menjaga Daisha dari kejahatan manusia di siang dan malam.
Sementara itu, Alfin termangu tak percaya. Merasa telah dibodohi oleh remaja itu. Sungguh, dia sudah menantikan kisah Daisha. Lagipula mana mungkin seorang adik membocorkan rahasia sang kakak pada orang lain. Sekalipun mereka telah dekat akhir-akhir ini.
Alfin menghela napas, merebahkan dirinya di sofa. Menopang kepala dengan kedua tangan sambil menatap langit-langit ruangan. Pikirannya mengelana pada sosok Daisha saat mengungkapkan racun dalam makanan.
"Ah, bisa-bisa aku mati penasaran karena memikirkan siapa gadis yang dinikahi Darren?" gerutunya sambil mengusap wajah dan meletakkan salah satu tangan di dahi. Mencoba terpejam menjelajahi alam mimpi.
****
Di hotel, acara berakhir di pukul dua puluh dua malam. Semua tamu undangan telah meninggalkan gedung hanya tersisa dua keluarga itu saja.
"Apa kalian akan menginap di sini?" tanya Cakra berbasa-basi pada sepasang pengantin baru itu.
"Tidak tahu, jika Daisha tidak keberatan kami akan menginap," jawab Dareen sambil melirik istrinya.
"Tidak masalah, lagipula sayang untuk ditinggalkan karena kamarnya sudah dirias sedemikian rupa," sahut Daisha sambil tersenyum malu-malu.
Hal tersebut membuat hati Aleena memanas, dan membuat Dewi jengah, tapi justru membuat Bardy tersenyum melihat kemesraan mereka berdua.
"Ayah harap kalian akan segera memberikan kami cucu, rasanya sudah lama sekali tangan ini tidak menggendong bayi sejak Cakra dan Dareen tumbuh dewasa," ungkap Bardy sejujurnya.
Dewi menahan kekesalan, wajahnya memerah bagai udang rebus, hidung kembang-kempis karena luapan emosi dalam jiwa.
Siapa yang sudi memiliki cucu dari gadis buta sepertinya. Aku berharap Aleena lebih dulu memberikan aku cucu daripada dia.
Dewi meluapkan kekesalan dalam hati pada sisi lainnya. Menatap garang suaminya yang nampak bahagia. Dia tidak suka melihat senyum itu, senyum yang ditujukan untuk Daisha.
"Terima kasih doanya, Tuan. Semoga keinginan Tuan dikabulkan Tuhan," tutur Daisha sedikit menunduk berterimakasih.
"Ah, sayang. Kau saat ini sudah menjadi bagian keluarga kami. Panggil aku Ayah seperti Dareen memanggilku karena kau juga anakku sekarang," sela Bardy sedikit kecewa mendengar panggilan Daisha.
Istri Dareen itu tidak menyahut, ia melipat bibir sambil menunduk. Apakah kedua orang tua itu sedang bersaing, ingin menunjukkan pada lawan sesuatu yang dipilihnya.
"Tidak apa-apa, sayang. Ayah benar, jangan panggil tuan," timpal Dareen berbisik di telinga Daisha.
"Biarlah, Ayah. Terima kasih atas doa yang Ayah berikan untuk kami," ulangnya yang sukses menerbitkan senyum Bardy.
Dewi semakin kesal, mengepalkan tangan kuat-kuat, teringin mencabik-cabik wajah laki-laki tua itu.
Awas kau, Bardy!