Mohabbat

Mohabbat
Ancaman



Dareen yang memeluk Daisha tersentak ketika istrinya berdesis merasakan sakit pada luka yang tertimpa olehnya. Ia bersegera bangkit memeriksa keadaan sang istri. Disibaknya rambut Daisha yang menghalangi, disapunya peluh yang membanjiri.


"Sayang!" Ia memanggil dengan cemas, "kau terlihat kesakitan. Apa yang sakit, Daisha? Jangan menakutiku," lanjutnya bertanya dengan suara yang bergetar.


Daisha tidak menjawab, luka di kakinya berdenyut nyeri dan ngilu. Ia berpaling dari Dareen sambil menggigit bibir. Matanya terpejam, wajahnya mengernyit kesakitan.


Semakin cemas laki-laki itu dibuatnya, ia mengusap dahi Daisha yang terus mengeluarkan keringat. Tangannya erat mencengkeram selimut, tubuh berguncang menggigil.


"Bibi mengatakan kau pulang dalam keadaan pincang." Dareen melirik kaki sang istri yang ditutupi selimut.


Tanpa menunggu lama dan tidak bertele-tele, disibaknya selimut itu dan dilemparnya hingga jatuh ke lantai. Dareen membelalak ketika sprei putih di dekat kaki Daisha telah berganti warna menjadi merah.


Luka itu kembali terbuka dan berdarah. Bibir Dareen bergetar melihatnya, peluh dan air mata bercampur jadi satu. Reflek mengangkat tubuh Daisha dan membawanya menuruni anak tangga.


Mendengar suara langka yang terburu-buru, mereka yang sedang berkumpul di ruang keluarga, juga para pekerja yang baru saja hendak beristirahat, bergegas menuju sumber suara.


"Dareen!"


Teguran dari Bardy menghentikan kedua kaki Dareen yang melangkah dengan cepat.


"Ada apa dengan Daisha?" tanyanya sembari mendekat.


Daisha hampir tak sadarkan diri, wajahnya berubah semakin pucat, lesu tak bertenaga.


"Aku tidak tahu, Ayah. Aku akan membawanya ke rumah sakit," jawab Dareen dalam keadaan panik.


"Tuan, kaki Nyonya berdarah!" pekik Bibi ketika datang dan melihat perban di kaki Daisha telah berubah merah.


Dareen melirik, kemudian membelalak. Dia harus secepatnya pergi ke rumah sakit, tak ingin terlambat dan tak ingin kehilangan wanita yang dia cintai.


"Ayah, aku harus secepatnya pergi ke rumah sakit. Aku permisi, Ayah," katanya seraya kembali membawa langkahnya dengan cepat.


"Biar aku antar, kau tidak mungkin mengemudi dalam keadaan seperti ini," sambar Cakra dengan cepat.


Dareen mengangguk ragu, tak tahu apakah saat ini dia harus percaya ataukah tidak.


"Tidak! Kau di rumah saja temani istrimu. Biar Ayah yang mengemudi untuk Dareen," sergah Bardy dengan cepat.


Dewi dan Aleena saling menatap satu sama lain, sedangkan Cakra diam-diam mengepalkan tangannya. Padahal, ini adalah waktu yang tepat untuk menyingkirkan mereka berdua.


"Baik, Ayah."


Dareen mengangguk yakin, keduanya segera keluar rumah tanpa menunggu apapun lagi. Melesat cepat meninggalkan rumah beserta penghuninya yang tampak bingung.


"Kenapa dengan wanita buta itu? Apakah dia bisa terluka?" tanya Aleena sembari mencibir Daisha.


Dewi menghendikan bahu dan mengajak menantunya untuk duduk kembali. Dia sama sekali tidak peduli pada Daisha, hidup atau mati dia sama sekali tidak peduli.


"Sudahlah, biarkan saja. Ternyata dia bisa juga terluka, kukira memiliki ilmu kebal yang tak dapat ditembus senjata," cibir Dewi sambil tersenyum miring.


"Benar, tapi kenapa selama ini dia sombong sekali? Seolah-olah dia adalah wanita terkuat dan tidak takut apapun. Sekarang, coba lihat! Hanya luka kecil saja, sudah seperti akan meregang nyawa." Aleena ikut mencibir, mereka tidak tahu saja seberapa dalam luka Daisha.


Jika itu Dewi dan Aleena, keduanya pastilah tak akan pernah meninggalkan tempat tidur mereka. Mereka tertawa terbahak-bahak, menertawakan Daisha yang terluka.


Di jalanan, Bardy mengemudi secepat yang dia bisa. Sesekali melirik Daisha ketika wanita itu berdesis. Dareen memeluknya erat, menciumi dahinya sambil menguatkan sang istri.


"Aku tidak tahu, Ayah. Aku baru saja pulang dari kantor dan ingin memberinya kejutan, tapi Bibi mengatakan bahwa Daisha pulang dalam keadaan pincang," jawab Dareen apa adanya.


Bardy menghela napas, berpikir ke mana saja Daisha seharian ini dan bersama siapa. Sudah pasti sesuatu terjadi karena ada banyak orang yang tidak menyukai menantunya itu.


"Ke mana dia seharian ini?" tanya Bardy.


"Seingatku dia pergi bersama nyonya Helen, dia adalah bibi dari Daisha," jawab Dareen sedikit meragukan wanita bangsawan itu.


Bardy kembali mendesah, ia pikir wanita itulah yang membuat Daisha seperti ini. Mobil tiba di parkiran rumah sakit, Dareen bergegas turun dan membawa Daisha ke dalam. Di ruang IGD, mereka menunggu dengan cemas.


"Kau tahu bagaimana cara menghubungi wanita itu?" tanya Bardy lagi.


"Aku tidak tahu, Ayah. Mungkin Daisha menyimpan nomor teleponnya di ponsel, tapi ponsel itu di rumah." Dareen menyesal tidak membawa serta ponsel sang istri.


Bagaimana dia akan ingat? Sementara melihat wajah Daisha saja sudah membuatnya panik.


"Lalu, sekarang bagaimana? Hanya wanita itu yang tahu apa yang terjadi pada istrimu," ucap Bardy membuat Dareen dilema.


Ia ingin kembali ke rumah, tapi bagaimana jika para tenaga medis telah selesai menangani Daisha. Tak lama suara ketukan sandal di lantai mengusik telinga mereka, keduanya menoleh dan melihat seorang wanita yang mengenakan jubah tidur hitam berjalan mendekat.


"Itu nyonya Helen, bagaimana bisa dia ada di sini?" Dareen menatap bingung.


Keduanya berdiri menyambut kedatangan wanita bangsawan itu.


"Apa yang terjadi dengannya? Apakah lukanya kembali terbuka?" tanya Helen tanpa menyapa sebagai basa-basi.


"Benar, Bibi. Lukanya berdarah, tapi bagaimana Bibi tahu dia ada di sini?" Dareen bertanya penasaran.


Areta atau Helen menghela napas, ia mengintip dari celah pintu ingin melihat keadaan Daisha.


"Aku menelpon, tapi asisten di rumah itu yang mengangkatnya. Dia mengatakan bahwa kaki Daisha kembali berdarah dan dilarikan ke rumah sakit," jawab Areta sambil mendaratkan bokong di kursi.


Ia menghubungi Daisha beberapa saat setelah Dareen keluar dari rumah dan Bibi memasuki kamarnya untuk mengganti sprei. Awalnya ingin bertanya tentang kondisi luka keponakannya itu, tapi yang didengarnya sungguh membuat panik. Tanpa sempat mengganti pakaian, Areta bergegas ke rumah sakit. Sesuai perkiraan, ia datang di rumah sakit yang tepat.


"Apa yang telah terjadi? Kudengar menantuku pergi bersama Anda seharian ini," tanya Bardy sambil menilik wajah Areta yang tak dipoles make-up.


Wanita berambut pirang itu mengangkat wajah, menatap manik Bardy yang terlihat cemas.


"Oh, sebelum itu izinkan aku memperkenalkan diri. Sepertinya kita belum bertemu. Aku Helen, bibi Daisha. Salam kenal, Tuan Dewantara," ucap Bibi dengan sopan.


Layaknya para bangsawan, Bibi berdiri sambil menekuk salah satu kakinya. Bardy tercengang, sikap seperti itu hanya ada dalam kerajaan di negara luar sana.


"Anda memang benar, seharian ini aku mengajaknya pergi bermain di rumahku. Kami sudah lama sekali tidak bertemu sejak pamannya meninggal dunia. Akan tetapi, pada saat di perjalanan pulang, mobil kami dikepung ... tiga mobil sekaligus." Areta menatap Bardy dan Dareen sambil mengangkat tiga jarinya.


"Di dalam mobil itu berisi para preman, mereka menyerang kami. Lebih tepatnya Daisha, seseorang mengirim mereka untuk menculik keponakanku itu. Dia berhasil membunuh salah satunya, tapi mendapatkan luka yang tidak ringan." Bibi memutar kepala pada Dareen.


Menegaskan pandangan pada suami keponakannya itu. Keduanya tercengang mendengar cerita Helen.


"Kau harus lebih berhati-hati, Dareen. Ada banyak orang yang menginginkan istrimu celaka, bahkan aku yakin, di dalam rumah itupun ada yang ingin membuatnya celaka. Jika sesuatu terjadi padanya, maka aku akan membawanya jauh dari kalian. Jaga gadis kecilku itu, dia sudah menjadi yatim piatu diusianya yang masih sangat belia," ingat Helen dengan tegas.


Dareen meneguk ludah, bahaya sedang mengancam dirinya dan Daisha. Jika seperti itu, keadaan sepertinya sudah tidak aman. Bagaimana selanjutnya? Tak ada siapapun yang dia percayai di rumah itu, selain Bibi tentunya.


Apakah aku harus membawa Daisha keluar dari rumah itu?