
Beberapa saat setelah kejadian di belakang rumah, Areta memasuki rumah besar itu dan menjumpai Dareen yang sendirian.
"Di mana istrimu? Kenapa kau sendirian?" tanyanya sembari celingukan ke kanan dan kiri.
"Bibi, dia ke kamar mandi," jawab Dareen yang selalu gugup bila berhadapan dengan Areta.
Tak lama, Bibi berlari mendatangi mereka dengan wajah yang panik. Memberitahu perihal Daisha yang memukuli Cakra.
****
"Dia membunuh pamanku juga yang membuatku buta. Dia ingin aku mati agar tidak ada lagi saksi atas kasus kematian Alejandro!"
Suara lantang Daisha yang bergetar menggelegar menyambar telinga semua orang. Acara yang seharusnya meriah dan penuh kebahagiaan, kini berganti dengan adegan balas dendam. Bagai drama dalam film, di mana seorang wanita yang dihancurkan kehidupannya oleh seorang laki-laki datang untuk membalas dan merusak semua kebahagiaan.
Wanita itu babai petir di siang bolong yang menyambar dengan tiba-tiba, memporak-porandakan semua yang ada, meluluh-lantakan keangkuhan manusia.
"Apa yang kau katakan? Apa kau mencoba membalas dendam terhadap keluargaku?" sentak Dewi sembari beranjak berdiri.
Wajahnya merah padam, penuh murka. Melangkah menyeret amarah mendekati Daisha. Tak terima dengan pernyataan sang menantu yang telah mencoreng nama baik Dewantara di hadapan semua orang, terutama teman-teman sosialitanya.
"Apa kau mencoba balas dendam karena tak dianggap sebagai menantu? Kau mau mencoreng nama baik keluarga suamimu sendiri dengan menyebarkan fitnah seperti ini? Begitu? Hhmm ... picik sekali!" Dewi mencibir.
Ia menatap tajam menantu yang tak diakui itu, semakin membuncah kebencian di dalam dada. Bergemuruh bagai ribuan kuda yang sedang berpacu. Sampai kapan pun dia tidak akan pernah menerima Daisha sebagai menantu meskipun dia sudah menjadi wanita normal.
Sementara itu, istri Dareen bergeming. Tatapannya terus terpaku pada sosok laki-laki yang telah merenggut paksa nyawa pamannya itu. Cakra menghindar, tatapan mata Daisha benar-benar bagai sembilu yang menghujam jantungnya.
"Kau ingin mendapatkan tempat di hati kami, hah? Kau ingin diakui? Sebagai seorang wanita yang derajatnya tinggi juga terhormat, bukan seperti ini caranya ... bukan!"
Dewi melirik Dareen yang tak berkutik, si Bungsu itu hanya diam mendengarkan. Hatinya mulai meragukan Daisha, meragukan istrinya yang berubah sejak bisa melihat lagi. Ia berpaling tatapan dari Dewi, melihat ke arah lain. Pada sang kakak yang bernapas berat sambil memegangi dadanya.
"Kau lihat Aleena! Dia dari kalangan keluarga terpandang, terhormat. Bersikap layaknya wanita terhormat dan berpendidikan. Berbicara dengan perkataan yang baik lagi sopan. Tidak seperti dirimu yang berkoar-koar memfitnah kakak ipar sendiri. Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kau bukan siapa-siapa dan keluargamu juga tidak jelas."
Daisha bereaksi, melirik dengan mulut terkunci rapat. Gerahamnya saling beradu, terpancing emosi oleh ucapan sang ibu mertua.
"Apa kalian tahu? Dia hanyalah seorang yaitu piatu yang dipungut oleh anakku. Seorang gadis desa yang hanya berjualan bunga di pinggir jalan untuk memenuhi kebutuhannya. Siapa keluarganya? Siapa orang tuanya? Dari mana berasal, tidak ada yang tahu. Entah apa tujuannya masuk ke dalam keluargaku ini? Mungkin saja dia anak seorang pelacur yang ditelantarkan di pinggir jalan. At-_
"Cukup, Nyonya!" bentak Daisha sembari mengepalkan kuat-kuat tangannya. Jika tak ingat yang dia adalah ibu dari suaminya, maka tinju itu sudah pasti melayang membungkam mulut lancangnya.
"Kau boleh menghinaku, mencaciku, menginjak-injak harga diriku. Kau boleh menyakitiku, kau boleh menyebarkan rumor tak benar tentangku, bahkan kau boleh menyebutku dengan sebutan apapun yang kau inginkan, tapi jangan sekali-kali merendahkan orang tuaku. Apalagi memberikan sebutan hina untuk mereka. Jangan pernah!"
Daisha menggelengkan kepala kala mata mereka beradu pandang. Peluh membanjiri wajahnya yang merah menyala, bagai kobaran api yang menjilat-jilat.
"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh merendahkan keluargamu? Jika memang mereka orang terhormat, maka kau tidak perlu menutup-nutupinya," sahut Dewi tetap dengan sikapnya yang angkuh.
Daisha memejamkan mata, menghela napas dalam-dalam dan melepasnya dengan pelan. Ia membuka mata, melirik suaminya yang hanya diam dan membiarkan Dewi mencacinya. Mata itu bergulir pada sang ibu mertua, menyalang tajam tepat di kedua maniknya.
Bibirnya tersenyum, penuh dengan ancaman. Sekilas Dewi bergetar mendengarnya, bahkan Dareen pun beralih pendangan pada sang istri. Entah seperti apa saat ini perasaannya.
"Beraninya kau mengancamku!"
Daisha menangkap tangan Dewi yang mengudara hendak menamparnya. Mencengkeram erat dan menurunkannya dengan paska. Dewi meringis, Dareen gelagapan dibuatnya.
"Aku bisa. Aku tentu saja bisa. Aku bahkan bisa menghancurkan perusahaan milik semua orang yang ada di sini. Aku bisa. Yah, aku bisa!" tekan Daisha.
"Cukup, Daisha! Lepaskan Ibuku!" bentak Dareen sembari mengurai cengkraman tangan Daisha pada ibunya.
"Jangan pernah menyakitinya? Lagipula, bukti apa yang kau miliki sehingga menuduh Kakak membunuh pamanmu itu?" hardik Dareen sembari menuding Daisha.
Wanita itu tertegun sejenak, sungguh terkejut dengan suara keras suaminya. Ia menatap Dareen dengan mata berkaca dan bibir yang gemetar. Selanjutnya, tertawa getir, pahit dan perih meremas jantungnya.
Lihat wajah Dareen, sesaat ia merasa kesal terhadap istrinya, tapi saat mengingat cerita hidup Daisha ia berubah menyesal. Tawa itu ungkapan kegetiran hidup yang ia jalani selama ini.
Daisha menghentikan tawa, menyusut air mata yang menggenang. Pandangannya kembali dijatuhkan pada Dareen, tersirat kekecewaan juga kesedihan yang mendalam sedalam rasa cinta yang dia miliki untuk laki-laki itu.
"Tentu saja. Tentu saja kau akan membelanya. Tentu saja kau akan melindungi ibumu. Tentu saja. Sebagai anak yang berbakti kau bahkan rela menutup nuranimu. Istrimu direndahkan di hadapan semua orang, kau hanya diam. Akan tetapi, saat aku membela diri kau justru menghardikku. Siapa lagi yang akan membelaku selain diriku sendiri!"
Daisha memejamkan mata untuk beberapa detik lamanya, perlahan terbuka lagi dan menatap Dareen kecewa. Senyum terukir di bibirnya yang hari itu sengaja ia poles dengan gincu berwarna nude.
"Kau memberiku penglihatan ini untuk memudahkan aku menemukan pembunuh keluargaku, bukan? Aku sudah menemukannya satu, tapi kau justru menjadi penghalang balas dendamku. Jangan cemas, aku akan tetap mengucapkan terima kasih kepadamu atas semua yang telah kau lakukan untukku. Bagaimanapun, ini semua tidak menutup kenyataan bahwa dia adalah pembunuh," tutur Daisha dengan manik yang berembun.
"Dia kakakku, Daisha." Dareen melirih.
"Kau akan menyesali ucapanmu ini, Dareen. Suatu saat ketika semuanya terungkap, kau akan menyesalinya," sahut Daisha sembari menahan getaran dalam jiwa.
Areta yang tak kuasa menahan diri, melangkah maju ke hadapan. Ia meminta Laila untuk bersama Daisha, agar wanita itu tenang.
"Maaf, aku menyela," ucap Bibi dengan gayanya yang anggun. Ia berdiri di depan Daisha, berhadapan dengan Dewi yang arogan.
"Siapa kau hingga turut campur dalam masalah ini?" tanya Dewi ketus.
"Oh, kukira saat ini siapapun bisa ikut campur karena kami melihatnya. Aku benar, bukan?" sahut Areta sembari menatap semua orang yang berkumpul di halaman belakang itu.
Ia kembali menatap Dewi, mengibaskan kipasnya menutupi wajah. Itu khas seorang Areta alias Helen yang dikenal Dewi.
"Apa maumu?"
"Hanya satu, aku hanya ingin membawanya pergi bersamaku," jawab Areta sembari menunjuk Cakra yang membelalak mendengarnya.
Tak hanya dia, tapi semua orang.