
Hari-hari berjalan dengan semestinya, tak ada lagi drama pengintaian di toko Daisha. Semua nampak normal dan biasa saja. Pesanan bunga yang mereka terima bahkan hampir setiap hari, terpaksa Daisha meminta bantuan warga sekitar yang ia kenal untuk bekerja di toko.
Hari yang ditunggu Laila tiba, hari untuk mengantarkan pesanan bunga ke Jakarta. Anehnya, tak ada rangkaian bunga yang bertuliskan selamat atau apapun dari pesanan tersebut.
Malam hari remaja itu sudah membersihkan mobil yang akan mereka bawa, terlihat antusias dan bersemangat. Ia bahkan telah menyelesaikan semua pekerjaan di waktu yang sama.
"Kau bersemangat sekali, Laila. Sepertinya perjalanan kali ini adalah yang paling menyenangkan untukmu. Apa kau sudah menghubungi orang yang akan membantu kita mengemudi?" ucap Daisha sambil tersenyum mendengar Laila terus bersenandung sepanjang menata rangkaian bunga di mobil.
Mobil mereka sulap menjadi tertutup agar sinar matahari tak membuat bunga-bunga menjadi layu.
"Tentu saja, ini perjalanan terjauh sepanjang sejarah mengantar bunga." Dia tertawa.
Daisha menggelengkan kepalanya, ia duduk di teras menunggu seorang tetangga yang dimintai tolong untuk mengemudikan mobil mereka.
"Kau sudah mengecek keadaan mobilnya? Kakak khawatir di tengah jalan mobil kita ngambek," tanya Daisha memastikan keadaan mobil mereka.
"Sudah aman, Kak. Kemarin sepulangnya mengantar bunga, aku bawa ke bengkel. Jadi, kita bisa tenang," jawab Laila sembari mengikat tali dengan kuat untuk menahan penutup agar tidak terbang.
"Selesai." Dia menepuk-nepuk tangan sebelum berjalan mendekati sang kakak. Duduk menunggu supir di keremangan dini hari.
"Kenapa lama sekali?" gerutu Laila setelah beberapa saat duduk bersama Daisha.
"Sabar, mungkin dia sedang melakukan sesuatu di rumahnya. Kita tidak tahu, bukan?" Daisha mengingatkan.
Hanya saja, Laila memang tak sabar untuk segera pergi ke kota yang membuatnya takjub dengan banyaknya bangunan pencakar langit. Remaja itu ingin memasuki salah satu gedung dan bermain di dalamnya.
"Kakak, apa bisa kita masuk ke salah satu gedung tinggi di Jakarta? Aku ingin melihat bagian dalamnya," tanya Laila setelah berpikir cukup dalam.
Daisha tertawa mendengar celoteh sang adik, dia memang tidak tahu keadaan kota tempatnya tinggal, tapi setidaknya pastilah terdapat gedung yang sama seperti di Jakarta.
"Bukankah kau sering mengantar bunga ke gedung di sini? Sama saja dengan yang ada di Jakarta, bukan?" Daisha balik bertanya dengan heran.
Tak jarang mereka menerima pesanan bunga dan mengantarnya ke gedung. Bukankah sama saja? Daisha tak habis pikir dengan adiknya itu.
"Beda, Kak. Gedung di kota kita ini tidak ada yang tinggi seperti di Jakarta. Di sana, manusia terlihat seperti semut. Jadi, aku hanya ingin tahu seperti apa bagian dalam gedung tersebut," sahut Laila membayangkan gedung-gedung yang ia lintasi saat perjalanan menuju rumah Dareen.
"Benarkah? Kakak kira sama saja, ternyata lain. Baiklah, Kakak akan mengajakmu masuk ke sebuah gedung setelah kita mengantar bunganya," ucap Daisha yang disambut sorak bergembira dari gadis remaja itu.
Tak lama seseorang yang mereka tunggu muncul, ia meminta maaf atas keterlambatannya memenuhi permintaan Daisha. Namun, gadis itu tidak mempermasalahkan sama sekali. Jadi, tanpa menunggu lebih lama lagi mereka pun segera berangkat mengantar bunga dengan mengandalkan GPS.
Sesuai arahan dari penunjuk jalan itu, mereka tiba saat matahari telah naik sepenggalan. Disambut tiga orang laki-laki berseragam serba hitam dan rapi. Sebuah gedung bertingkat tinggi, di sanalah pesta diadakan.
"Maaf, jika boleh tahu ini untuk acara pesta atau apa?" tanya Daisha sambil membantu menurunkan bunga-bunga dari mobil.
"Pesta pertunangan tuan muda kami, Nona. Acaranya diadakan di dalam gedung ini dan tidak sembarangan orang bisa masuk," jawab salah satunya dengan ramah.
Dia seperti seorang mandor yang memerintah dua orang lainnya untuk membawa masuk bunga-bunga yang diantar Daisha. Gadis buta itu tidak menyahut, hanya tersenyum sambil manggut-manggut.
"Mmm ... Nona, kami memohon maaf karena tidak bisa melunasinya pagi ini. Itu karena nyonya kami ingin bertemu dengan Anda dan melunasinya secara langsung. Jadi, nyonya meminta Anda datang sore nanti saat acara akan dimulai. Bagaimana? Apa Anda tidak keberatan?" ungkap laki-laki tadi terdengar tak enak hati.
Daisha tertegun mendengar itu, berselang ia tersenyum lantas mengangguk tak apa. Lagipula, dia ingin mengajak Laila bermain terlebih dahulu. Lalu, beristirahat di villa menunggu waktu.
Laki-laki berseragam rapih itu menatap sendu sosoknya. Jauh di lubuk hati, ia merasa kasihan karena mereka datang dari jauh. Namun, mengingat perintah majikannya, ia tak dapat menolak.
Mobil yang membawa Daisha terus melaju meninggalkan halaman gedung megah tersebut, terus menuju villa untuk beristirahat sambil menunggu waktu.
"Maaf, ya, Pak. Kita harus menunda kepulangan karena pelunasan akan dilakukan sore nanti. Apa Bapak tidak apa-apa? Tenang saja, saya akan melebihkan bayaran Bapak," ucap Daisha penuh sesal.
Laki-laki tersebut tersenyum maklum, semua hal memang terkadang tak terduga.
"Tidak apa-apa, Nona. Saya bisa maklum," katanya tidak keberatan.
"Terima kasih."
Mobil itu melaju sesuai arahan dari Laila melalui GPS. Sebuah area pemakaman keluarga yang tak jauh dari gedung bercat putih dan bersih. Pemakaman tersebut berada di belakang bangunan, terawat dengan baik.
Pak Deni dan istrinya segera saja menyambut kedatangan sang majikan di teras. Di dalam sana, mereka bisa beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh.
"Pak, tolong bawa Bapak ini ke kamar tamu. Beliau harus beristirahat," titah Daisha kepada penjaga villa tersebut.
"Baik, Nona. Mari!" Ia menuntun sang supir menuju sebuah kamar tamu yang telah dirapikan.
Sementara itu, Laila menjatuhkan diri di sofa, berbaring sambil memainkan gawainya. Daisha duduk tak jauh darinya, menunggu panggilan dari Dareen untuk memberitahu laki-laki itu bahwa ia berada di Jakarta.
"Kakak tidak ingin menghubungi kak Dareen? Dia pasti senang mendengar Kakak ada di Jakarta," ucap Laila sembari melirik sang kakak yang duduk dengan gelisah.
Bukannya ia tak ingin, tapi ia tidak bisa memainkan benda pipih di sakunya. Jadi, dia hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum pahit.
"Nanti saja saat dia menghubungi Kakak, barulah Kakak akan mengatakannya," katanya dengan jujur.
Laila mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Melanjutkan kegiatannya bermain media sosial, memposting keberadaannya saat ini. Dasar memang anak remaja, semua hal yang mereka lakukan, pastilah terpampang di sosial media.
Berselang, ponsel milik Daisha berdering. Dering khusus untuk panggilan dari Dareen agar ia tahu siapa yang menghubungi. Daisha tersenyum, meraba benda di sakunya dan menggulir layar sesuai yang diajarkan Dareen.
"Hallo, Kak. Ada apa? Kau tidak sedang sibuk? Tidak biasanya menghubungiku di jam sekarang," tanya Daisha segera setelah telepon tersambung.
"Aku melihat status Laila, apa benar kalian di Jakarta sekarang? Jika iya, aku ingin bertemu," sahut suara Dareen yang terdengar antusias.
Daisha tersenyum, senang bukan kepalang akan bertemu sang kekasih hati.
"Iya, Kak. Kami mengantar pesanan bunga dan sekarang berada di villa. Jika Kakak tidak sedang sibuk, kami menunggu di sini," jawab Daisha dengan semu merah di pipi.
Diam-diam Laila melirik, tersenyum senang melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah sang kakak. Tujuannya membuat status memanglah untuk menarik perhatian Dareen agar dia menghubungi kakaknya itu.
"Baik, tunggu aku. Aku akan cepat menyelesaikan pekerjaan, setelah itu aku akan segera ke villa. Jangan ke mana pun, hanya tunggu aku."
Perintah dari Dareen sekaligus menutup sambungan telepon mereka. Daisha mengusap benda pipih di tangan sambil tersenyum manis.
Pada akhirnya mereka akan bertemu dan melepaskan rindu.