
"Jadi, dia hanya seorang penjual bunga?" Dewi tersenyum sinis setelah menerima informasi tentang Daisha yang dibawakan oleh mata-matanya.
"Yatim piatu ... begitukah? Apa kau tidak mendapatkan informasi tentang siapa orang tuanya?" tanya Dewi menatap laki-laki yang duduk berseberangan dengannya di sebuah cafe.
Ia menyesap cangkir berisi kopi dengan elegan, melirik tajam laki-laki di depannya itu.
"Tidak ada yang tahu, menurut kepala desa setempat mereka adalah pendatang yang tidak diketahui dari mana asalnya. Masyarakat di sana membantu mereka karena tidak memiliki tempat tinggal. Itu saja," jawabnya sembari mengangkat bahu tak acuh.
Ia melirik Dewi yang tampak berpikir, sepertinya dia harus lebih keras lagi mencari informasi mengenai gadis itu. Itu saja sudah cukup, dengan asal usul yang tidak diketahui dengan jelas sudah menguatkan keputusan Dewi untuk menolak gadis itu sebagai menantu.
"Baiklah, aku harap kau memberiku informasi lebih tentang mereka." Dewi beranjak sambil menenteng tas dan pergi meninggalkan cafe tersebut.
Ia terus berdiam diri di sepanjang perjalanan pulang menuju rumah. Berpikir bagaimana caranya menolak gadis itu dan membuat Dareen sadar bahwa dia tidak sepadan dengan mereka.
"Hmm ... hanya penjual bunga, apa hebatnya? Aleena bahkan jauh lebih baik dari dia, tapi kenapa Dareen begitu tergila-gila padanya?" Dewi bermonolog, tertawa getir harus menerima kenyataan putra bungsunya menginginkan seorang gadis buta.
Sementara itu, di rumah mereka Dareen dan Bardy sedang bermusyawarah di ruang kerjanya. Duduk saling berhadapan dengan secangkir teh hangat di hadapan masing-masing. Berbincang santai, selayaknya ayah dan anak.
"Bagaimana jika Ibu tidak menyetujuinya? Apakah Ayah akan mengalah?" tanya Dareen cemas.
Mengingat Dewi memiliki watak yang keras, segala apa yang dia inginkan harus terlaksana begitu pula dengan sesuatu yang tak disukainya, maka harus enyah dari hadapannya.
"Kau tenang saja, jika itu menyangkut kebahagiaan anak-anak Ayah, maka Ayah tak akan mengalah. Lagi pula, Ayah lihat dia wanita yang baik. Ayah akan membantumu mencarikan donor mata untuknya," jawab Bardy dengan yakin.
Laki-laki tua itu menyesap teh menenangkan hatinya yang berkecamuk. Bayangan wajah Daisha yang tersenyum terus hadir di pelupuk membuat hari-harinya terasa gelisah. Entah mengapa, kehadiran gadis itu seolah-olah akan membawa sesuatu yang besar untuk hidupnya. Apakah ...? Ia sendiri pun tak tahu.
"Terima kasih, Ayah. Lalu, bagaimana dengan Aleena?" Pertanyaan selanjutnya membuat dahi Bardy berkerut dalam.
Seingatnya, saat ia bertemu dengan gadis itu, dia mengatakan bahwa Dareen tidak mengingatnya.
"Kau ingat?" tanya Bardy penasaran.
"Tentu saja, aku tidak akan pernah lupa pada orang yang sudah berkhianat, Ayah. Dia berani bermain api di belakangku, dan ingin menghancurkan aku saat kami berhasil menikah nanti. Apakah aku harus mengingatnya?" geram Dareen dengan tangan yang terkepal dan tanpa sadar menghantam meja.
Kening Bardy semakin mengerut, ia pikir selama ini Aleena adalah gadis baik-baik dan setia. Jika kenyataannya seperti itu, maka dia memang pantas untuk dilupakan. Ia menghela napas panjang, permasalahan anak muda selalu berhasil membuat kepalanya berdenyut.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan terhadapnya?" tanyanya sambil kembali menyesap teh menenangkan pikiran.
Dareen menghela napas, genggaman tangannya pada cangkir menguat menekan kesakitan yang diciptakan Aleena. Dulu, Dareen amat mencintainya, tapi setelah ia mengetahui pengkhianatan itu rasa cinta di hatinya menghilang begitu saja.
"Untuk sementara aku akan berpura-pura lupa padanya sampai waktunya tiba, waktu untuk membongkar semuanya. Maka, aku tak akan segan membuka pengkhianatan yang telah dilakukan oleh wanita itu." Dareen berpaling pada ayahnya.
"Apa Ayah bisa membantu? Untuk tidak membocorkan ini semua. Kumohon! Aku tahu, orang tua wanita itu adalah sahabat Ibu dan Ayah, tapi aku tidak ingin melanjutkan pertunangan dengannya. Saat ini, aku mencintai Daisha, Ayah. Hanya dia yang aku inginkan untuk menjadi istriku," pinta Dareen.
Bardy tersenyum, apapun demi anaknya akan dia lakukan selama itu membuatnya bahagia. Ia mengangguk yakin, menepuk-nepuk punggung tangan sang putra memberinya dukungan.
"Apa pun yang membuat anak Ayah bahagia, Ayah akan selalu mendukungnya. Terlebih soal memilih pasangan, sepenuhnya Ayah serahkan padamu. Itu hakmu untuk memilih, kau bisa menilai sendiri mana yang terbaik untukmu dan mana yang tidak. Jadi, perjuangkan, gadis itu memang layak untuk diperjuangkan. Ayah mendukungmu," sahut Bardy tanpa keragu-raguan.
Dia sudah memutuskan menerima gadis itu sejak pertemuan pertama mereka. Tidak, bahkan sejak Dareen menceritakan tentangnya melalui sambungan telepon. Hati Bardy sudah terpikat, terlebih saat mereka bertemu siang tadi. Ia bertambah yakin dengan keputusannya.
"Terima kasih, Ayah." Dareen menggenggam tangan sang ayah, menyalurkan rasa terima kasih yang mendalam atas semua dukungan.
"Aku Ayahmu, jangan pernah sungkan untuk bercerita kepada Ayah. Karena dengan begitu, Ayah merasa dianggap dan berguna. Masalah ibumu, kau tidak perlu risau. Ayah yang akan berbicara padanya saat dia membuka bahasan tentang gadis itu. Kau tenang saja," ungkap Bardy dengan senyum meyakinkan.
Dareen tersenyum, mengangguk penuh semangat. Seberat apapun rintangan yang akan dia alami di masa mendatang, Dareen akan bersiap menghadapinya. Hanya kepercayaan yang dalam harus ia tanamkan dalam hubungan itu.
Tunggu aku, sayang. Secepatnya aku akan datang melamar. Kau tak perlu lagi bersusah payah bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup karena aku yang akan menanggung kehidupan kalian.
Hati Dareen bergumam senang, bahagia semakin menyelimuti rasa dalam jiwa. Tak sabar rasanya membuka musyawarah besar bersama keluarga. Membahas pernikahan mereka yang tak ingin berlama-lama.
****
Uhuk-uhuk!
"Kakak! Pelan-pelan!" pekik Laila sambil berdiri setelah menyambar gelas berisi air saat Daisha terbatuk.
Mereka berdua sedang menikmati makan malam yang sunyi. Selalu seperti itu disaat mereka kembali ke rumah. Rasanya sangat berbeda, biasanya terdengar celotehan Dareen yang bertanya ini dan itu. Atau membantu mencuci piring.
"Terima kasih," ucap Daisha usai menenggak air yang diberikan Laila padanya.
Ia berdiri, hendak berbalik padahal makanan di atas piringnya belumlah habis.
"Kakak mau ke mana? Habiskan dulu makan Kakak?" cegah Laila dengan cepat.
"Kakak sudah kenyang, bereskan saja semuanya jika kau telah selesai," ucap Daisha seraya melanjutkan langkah menuju kamarnya sendiri.
Laila tercenung, tak biasanya Daisha bersikap demikian. Ia melirik kursi yang biasa diduduki Dareen, seketika mengerti seperti apa perasaan sang kakak saat ini. Gadis remaja itu menghela napas berat, melanjutkan makannya dengan terpaksa.
Ia melirik pintu kamar Daisha yang terlihat dari ruang makan. kembali menghela napas sebelum membereskan meja. Lalu, menatap kursi kosong, membayangkan sosok Dareen yang terkadang menyuapi Daisha makan.
"Rumah ini sedikit berbeda, Kak. Kami sudah terbiasa dengan kehadiranmu, dan sekarang kau telah kembali pada keluargamu. Semoga kau tidak melupakan kami dan menepati janjimu, Kak." Laila bermonolog seraya membawa piring-piring bekas makan mereka.
*****
"Lakukan sesuatu untukku!"