MERCIA

MERCIA
98. Tombak Iblis.



Rasa lelah masih belum bisa membuat August tertidur. permintaan Hedya membuatnya sulit memejamkan matanya. ia lalu keluar dari kamarnya duduk di dekat air mancur memandangi langit malam.


"kau belum tidur?" suara wanita memecah lamunannya.


"Oracle.."


Oracle duduk di samping August.


"Kau merindukannya?"


"Sangat..!"


"Apa kau mengetahui darimana ia berasal?" tanya August.


"Mercia, ada hal yang bisa aku katakan, dan ada hal yang harus kau cari sendiri jawabannya, tetapi untuk Julia, aku tidak tau sama sekali, seperti halnya wanita itu."


"Oracle ceritakanlah siapa kau sebenarnya? kita sudah sering bertemu, tapi aku merasa masih belum mengenalmu."


"Aku akan menceritakannya, tapi tidak sekarang."


"Kau sepertinya sangat senang membuat orang penasaran, apakah itu hobimu?"


"Hahaha.. kau orang pertama yang membuatku tertawa."


"Apakah sepanjang hidupmu tak ada yang membuatmu tertawa?"


"tidak dari orang sepertimu."


"sepertiku? Apa aku begitu buruk?"


"sangat buruk."


"Hmm.. aku tidak tau kau sedang berkata jujur atau sedang mengejek."


"Mereka semua salah menilaimu, dan kau sangat buruk mengambil sikap."


"aku tidak mengerti."


"Aku tidak tau kau memang tidak mengerti atau kau sedang membohongi dirimu sendiri."


"Wanita memang kejam."


"Mercia.. kau sangat peduli dengan orang-orang disekitarmu, tapi mereka melihat itu semua dengan cara berbeda."


"Mungkin karena mereka tau kristal itu memilihku."


"Mercia.., dengan atau tanpa kristal itu kau tetap orang yang sama, aku ataupun Lyra tidak melihat alasan mengapa kristal itu memilihmu, wanita pembunuh dari Armeda itu yang pertama kali bisa melihat sesuatu darimu."


"Aruna..?"


"Sekarang istirahatlah, aku akan menceritakannya pada Lyra tentang permintaan Hedya padamu."


"Ba.. bagaimana kau bisa tau?"


"Apa kau ingat sebelum kau mencari bunga itu, aku memasukan sesuatu di keningmu? pikiranmu terhubung denganku, jika kau melamun."


"Hah..!"


'hmm.. wanita ini memang cantik, tetapi terkadang membuatku takut.' pikir August.


"Aku juga mendengar itu, kau tak perlu takut aku tak kan menggigitmu, kecuali kau yang minta."


"Hah..!"


glek.


'jangan dengarkan kata-katanya, pikirkan yang lain.'


tak lama August pun kembali ke kamarnya, ia pun akhirnya terlelap.


Kota Royan.


"Apakah ini tempat tinggal Julia?" tanya Amara, ketika portal membawa mereka berdua pada sebuah rumah yang sangat besar.


"Bukan, ini kediaman Elias, kita akan meminjam mobil miliknya."


"Apa itu mobil?"


"Kendaraan, kita akan pergi ke sana dengan kendaraan itu."


"Mengapa tidak langsung saja portal itu membawa kita kesana?"


"Orang-orang di dunia tidak pernah melihat portal, mereka semua akan panik ketakutan."


"Mengapa begitu?"


"sudah sifat manusia, mereka akan takut pada sesuatu yang tak bisa dimengerti."


"Kalu begitu terbang saja."


"kami terbang juga menggunakan kendaraan."


"kalian punya kuda terbang juga?"


"bukan kuda, tapi burung besi."


"aku ingin melihatnya."


"ya, mungkin nanti."


Tak lama Leo muncul, lalu mengantarkan mereka memasuki garasi.


"Tuan Ellias mempersilahkan anda untuk membawa mobil yang anda suka tuan Mercia."


August tercengang melihat garasi rumah Ellias, tampak barisan mobil supercar dari berbagai merk terparkir rapih.


"Leo.. adakah mobil yang biasa-biasa saja?"


"Tuan Mercia, anda tak perlu khawatir bila terjadi sesuatu dengan mobil-mobil ini."


"Baiklah.." kata August lalu menunjuk sebuah mobil Bugatti La Voiture Noire berwarna hitam.


August dan Amara memasuki mobil itu.


"Mercia dimana hewan penarik kendaraan ini?"


"sedang tidur siang, Leo akan membangunkan mereka." jawab August asal, ia lalu memasangkan sabuk pengaman di kursi Amara.


"Mengapa kau mengikatku, kau ingin berbuat nakal?"


"Ya.. biar kau tidak lari."


"aku tidak akan lari."


cup..


sebuah kecupan lembut mengenai pipi kiri August.


"kau jangan curi-curi kesempatan, nanti bisa aku balas." kata August, menyalakan mesin mobil lalu meninggalkan rumah mewah itu.


Kurang dari satu jam mereka tiba di sebuah Villa yang berada di dekat danau Royan.


"Apakah ini tempat tinggalnya?"


"ini tempat pribadinya, terkadang aku, Rafael dan Nora sering menghabiskan waktu di villa ini." kata August lalu membuka pintu, mereka pun masuk.


Ia melihat poto-poto Julia seorang diri, ataupun dengan lainnya dan yang paling menarik perhatiannya adalah poto-poto Julia bersama August tampak ceria penuh kebahagiaan, tak peduli ekspresi konyol keduanya. saat ini Amara berharap wanita di gambar itu adalah dirinya.


'dia.. dia.., wajahnya benar-benar mirip denganku.' Amara dalam hatinya.


Amara terus memperhatikan poto mereka berdua, ia menyadari sesuatu, ia tak pernah melihat ekspresi August seperti di poto itu, lelaki yang tengah duduk di sofa itu sangat berbeda, tampak kesedihan di raut wajahnya yang ia tutupi, terlihat lelah dengan beban dipundaknya.


"Mercia apakah August adalah namamu yang sebenarnya?"


"Benar, ketika aku menerima kekuatan kristal itu mereka memanggilku Mercia."


"Kau suka yang mana?"


"Ketika di Proxima aku lebih sering menggunakan nama Mercia."


"aku mengerti." kata Amara ia lalu menghampiri August dan duduk disampingnya.


"Maukah kau bercerita tentang kehidupannya?" pinta Amara.


"Kami tumbuh bersama sejak kecil, kami sudah saling mengenal, tidak ada rahasia, tidak ada yang kami tutupi, dia wanita luar biasa dengan kesederhanaannya, dia selalu ceria walau terkadang merepotkan, poto kami berdua yang kau lihat itu ketika hubungan kami masih sebatas teman. namun ketika kristal itu mulai hadir, kami berdua menyadari hubungan kami bukan hanya sekedar teman, kejadian yang aku alami telah mengahadirkan sesuatu yang selama ini terpendam."


"Waktu kita bertemu apa kau merasa kasihan padaku?" tanya Amara.


"Amara.. bagiku pertemuan denganmu seperti hadiah dari langit, obat dari kekeringan jiwa, aku telah gagal melindunginya, kau seperti kesempatan kedua yang langit berikan untukku."


"Jadi kau membantuku bukan karena kasihan?"


"Kau itu sama menyebalkan, untuk apa aku kasihan." kata August tersenyum. Amara mencubitnya tapi kali ini tidak pakai tenaga dalam.


"Siapa yang mencelakai adikku?"


"Adik?"


"Token itu mengatakan aku terlahir terlebih dahulu."


"Javelyn."


"APA...? JAVELYN?"


"apa dia juga yang membutakan matamu?" August balik bertanya.


"Ya.., Dia orangnya. aku melihatnya dia membunuh seekor naga tanpa alasan yang jelas. aku mendengar namanya dan kehebatan tombak iblis miliknya. Mercia walau kau memiliki kekuatan kristal itu kau tidak akan bisa mengalahkannya dengan tombaknya."


"Maksudmu?"


"Tombak iblis itu bisa membunuhmu hanya dengan menancapkan ke tanah dimana bayangan tubuhmu berada."


"hah..?!"


"Mercia selain orang yang memiliki kekuatan iblis dan orang-orang dari kuil bayangan tidak ada yang bisa mengalahkan tombak iblis itu, Javelyn tidaklah kuat, tombak itu yang membuatnya sangat ditakuti, aku bertarung dengannya di tengah hari, ketika bayanganku berada di kakiku, namun ia sangat licik, ia hanya mengulur-ulur waktu dengan menghindar, hingga ketika bayanganku memanjang ia baru mulai menyerang, pada saat itulah aku terdesak hingga lengah ketika ia melemparkan jarum hitam miliknya."


"Kau barusan menyebut orang-orang kuil bayangan, seperti apa kekuatan mereka?"


"Mereka bisa menggerakan awan, mereka bisa menghilangkan bayangan mereka sendiri atau membuat bayangan itu hidup."


"Hah ada yang seperti itu?"


"Mercia.. aku lapar bisakah kita makan sesuatu?"


'Wanita ini aku sedang serius dengar ceritanya malah minta makan.' pikir August.


"Baiklah, tapi sebaiknya kau ganti bajumu dulu."


"Apakah ada yang salah dengan bajuku?"


"Kau seperti putri raja."


"Aku memang seorang putri, putri para naga."


"ya.. ya.. Sylvana juga seorang putri."


"Aww..." teriak August Amara mencubitnya.


"Jangan berani-berani menyebut nama wanita berkuping lancip itu didepanku."


"salahmu banyak protes."


"APA?"


"Awwwww... ya.. ya.. aku salah." kata August lalu melihat pinggang kirinya, terlihat luka kehitaman.


"sadis."


"kau bilang apa?"


"Pakaian modis.. di kamar itu ada pakaian milik Julia." kata August mengusap pinggangnya dengan energi penyembuh.


"Baiklah aku akan berganti pakaian, kau jangan mengintip."


"hey kau sudah melihatku semuanya, sekarang giliranku."


"Tidak boleh..!"


"sedikit saja."


"aku colok matamu."


"Curang...!"


Setelah beberapa saat Amara keluar dengan menggunakan gaun tidur, tampak paha putih mulusnya membuat mata August tak berkedip.


"Pakaian ini sangat nyaman sekali."


"Ya tentu saja.., karena itu baju untuk tidur, ganti lagi."


"Mengapa kalian tidak menggunakan satu pakaian saja untuk semua aktifitas? ini sangat merepotkan, kau saja yang pilihkan!"


August menggelengkan kepalanya, ia lalu masuk ke kamar Julia dan membuka lemari besar di kamar itu. senyum jahat muncul ketika ia melihat salah satu pakaian, ia mengambilnya lalu melemparkan ke arah Amara hingga pakaian itu menutupi kepalanya.


"Pakai itu."


"Hah.. kau gila aku tak mau pakai ini." kata Amara ketika ia diminta memakai baju dinas longnight.


"Hahaha.."


"Jangan bercanda.., cepatlah."


"Isi lemari ini lebih banyak pakaian untuk tidur." kata August sambil menyerahkan dress kasual pada Amara lalu menutup pintu lemari.


"Hanya ada itu, aku juga tak menemukan pakaian dalam untukmu."


"Tidak masalah, aku juga jarang memakai pakaian dalam."


glek.


Mendengar perkataan Amara, sontak membuat August tertunduk menatap dua paha mulus Amara, pikirannya langsung traveling lintas kota lintas provinsi. ia kembali tersadar ketika tongkat Amara beradu dengan kepalanya.


Tokkk..


"Apa yang kau lihat? jangan memikirkan hal aneh-aneh, aku ini calon kakak iparmu, pergi sana."


August lalu pergi sambil menggaruk kepalanya tanpa bicara.