
August mengeluarkan amarahnya, aura kemerahan menyelimuti tubuhnya ia menyerang ke arah wanita dengan membabi buta. wanita itu kuwalahan menghindari serangan August. hingga sebuah sinar berwarna merah mengenai tubuh August.
Tubuh August mendadak tidak bisa bergerak, otot otot di tubuhnya seperti lumpuh.
"Siapa kalian?" tanya Lyra.
"kami utusan Clawrit" kata seseorang yang sepertinya pemimpin kelompok tersebut.
"Kallus ambil kristalnya" perintah orang itu.
seseorang yang bernama Kallus melesat ke arah August. ia mencengkram leher August dengan tangan kirinya lalu menancapkan lima kuku panjang berwarna hitam jari tangan kanannya ke dada August.
Lyra mencoba menghentikan apa yang dilakukan Kallus, namun sinar merah menghantam dirinya hingga membuat ia terpental dan tak sadarkan diri, Carrol mencoba membalas namun ia dihentikan oleh Hedya.
"Carrol jangan." pinta Hedya.
"sebaiknya kau ikuti nasihatnya, jika tidak aku akan membunuh kalian semua." kata orang itu.
"Arrrrgggghhhh..!" teriak August ketika kuku Kallus menancap di dadanya, seberkas sinar seukuran kepalan tangan bayi keluar dari dada August. sinar itu perlahan memudar dan berubah menjadi sebuah kristal.
Kallus melepaskan cengkramannya. August pun terjatuh. Kallus membawa kristal itu lalu menyerahkan kepada orang itu.
"kita kembali"
"Tunggu.. !" kata August.
"aku ingin tau siapa nama kalian?"
"untuk apa kau ingin tau nama kami?"
"aku akan mencari dan membunuh kalian" kata August.
"Hahaha.., menarik sekali makhluk hina sepertimu ingin membunuh kami, baiklah aku akan memberimu kesempatan."
"Namaku Alexys, wanita berpakaian merah itu Legira, lelaki dengan dua pedang dipunggungnya itu Leth, dia adalah Kallus, dan wanita yang membunuh pacarmu itu.."
"Javelyn.." ia memotong perkataan Alexys lalu berjalan ke arah August.
"Namaku Javelyn, kau tidak perlu khawatir, aku tidak seperti mereka menganggap rendah manusia dunia ini, aku bisa membantumu melupakan kesedihanmu, ikutlah aku dan jadi pelayanku, hihihi.. kamu pasti akan suka." ia lalu mengecup kening August.
August merasa jijik mendengarnya. mereka berlima akhirnya pergi. August mulai merasakan sakit di dadanya, tubuhnya terasa terbakar racun di kuku itu membuatnya jatuh tak sadarkan diri.
Dua bulan Kemudian.
August selama ini tinggal di kuil emas milik Lyra. Carrol telah mengobati luka di dadanya. tetapi luka dalam hatinya tak akan pernah terobati. hal yang paling ditakutinya benar-benar terjadi. Mereka menyerang orang yang dekat dengannya. ia merasa kekuatan itu adalah kutukan, semua orang yang berada di dekatnya menderita bahkan harus kehilangan nyawanya.
August duduk termenung di tepi kolam dengan tatapan kosong. seorang wanita dengan intan berwarna biru menghampiri dan duduk di sampingnya. dia adalah Oracle.
"lama kita tak bertemu." kata Oracle.
"kita tak saling mengenal, tak ada gunanya bertemu, dan kau orang terakhir di dunia ini yang ingin aku temui." kata August penuh amarah.
Oracle hanya tersenyum "kau membenciku?"
"aku hanya tak ingin bertemu denganmu lagi, Semua bencana ini dimulai ketika aku bertemu denganmu." kata August.
"Kau tidak kehilangannya, ia hanya berpindah ke tempat spesial di dalam hatimu, memori itu akan menjadi harta karunmu yang tak ternilai." kata Oracle.
"apa artinya semua ini, apa artinya punya kekuatan jika tak mampu melindungi orang yang kucintai? itu hanyalah omong kosong."
"apa maumu, mengapa kau menemuiku?" tanya August.
"aku ingin kau memimpin mereka." Oracle menunjuk kearah padang rumput dimana Ray, Valery dan Clara tengah berlatih.
"aku bukan orang yang tepat, aku sudah tak punya kekuatan kristal itu lagi." kata August.
"hmm.. ternyata kau belum mengerti, selama ini kau hanya melihat di permukaannya saja." kata Oracle.
"apa maksudmu?" tanya August.
"takdir" Oracle bangkit lalu berjalan di atas air kolam, tak ada riak air yang tercipta. tubuhnya menjadi transparan lalu menghilang.
suasana menjadi sunyi kembali walau hari masih pagi. Valery dan lainnya juga sudah kembali ke kuil.
"Kakak kau mau buah stroberi?" tanya seorang gadis kecil usia sekitar lima atau enam tahunan dengan senyum manisnya memecah kesunyian.
"aku tidak terlalu suka, buah itu sangat asam." kata August.
"stroberi itu buah termanis di dunia" kata anak itu sambil bertolak pinggang dengan wajah cemberut tampak tidak senang dengan perkataan August.
"pergilah tawarkan pada yang lain." kata August.
"aku tak akan pergi sebelum kau mencobanya.
"ambil dua" perintah anak itu sambil melotot.
August pun mengambil dua buah stroberi.
"makanlah"
August pun memakannya, wajahnya bergidik menahan rasa asam stroberi yang ada di mulutnya lalu memuntahkannya.
"sudah kubilang aku tak suka tapi kamu menyu.."
"makan lagi yang satunya" anak itu memotong perkataan August.
"tak ada orang lainkah yang bisa kau ganggu?" kata August kesal.
"hanya kau yang ada disini." ucap anak itu.
August hanya menggelengkan kepalanya. ia lalu memakan stroberi yang tersisa di tangannya. ia terkejut. rasanya sangat berbeda dengan stroberi yang sebelumnya ia coba.
"bagaimana?" tanya anak itu.
"mengapa bisa berbeda? ini sangat manis" kata August.
"pertama kali kau mencobanya mungkin kau tak suka, kau membuangnya, namun kau tetap mencobanya lagi, kau tidak menyangka selanjutnya akan terasa manis. itulah hidupmu kau tidak tau apa yang menantimu di masa depan." kata anak kecil itu.
August terkejut mendengar perkataan anak itu, ia memandang tajam anak kecil di hadapannya.
"apa maksud ucapanmu bocah?" kata August.
"Aku tau kau tidak bodoh, kau pasti mengerti apa maksudku."
August menunduk lesu, air matanya kembali terjatuh.
"bukan hanya kau yang kehilangan orang paling dicintai, teman-temanmu juga. mereka bangkit saling menjaga, apa kau tidak malu dengan mereka?" tanya anak itu.
August kembali melirik gadis kecil itu.
"aku tak tau siapa kau, tapi perkataanmu menyadarkanku, terima kasih." kata August lalu mengangkat anak itu dan memeluknya.
"siapa namamu?" tanya August.
gadis kecil itu tak menyangka ia akan dipeluk August. wajahnya memerah, ia lalu berbisik di telinga August.
"aku punya banyak nama.. namun orang-orang memanggilku.."
"Oracle.." potong August.
glek.
tubuh gadis kecil itu berubah bertambah besar, kakinya yang menggantung mulai menyentuh tanah, dadanya tumbuh mulai menekan August. August panik, namun ia belum melepaskan pelukannya. kini wajah Oracle tampak sejajar dengannya.
"Hey.. wanita-wanita di kuil itu menyukaimu, jika mereka melihatmu memelukku seperti ini mereka akan membunuhku." kata Oracle.
"ma.. ma.. maaf." August melepaskan pelukannya.
suasana menjadi canggung.
"kekuatan inti masih ada di dalam tubuhmu, kau hanya perlu mencari cara untuk mengeluarkannya, kristal yang di ambil darimu adalah pengecoh, seperti ilusi yang kalian ciptakan. aku harus pergi, kita akan bertemu lagi." kata Oracle ia pun langsung menghilang.
August hanya tersenyum. ia lalu memejamkan matanya berusaha memasuki alam bawah sadarnya.
tak lama ia kembali ke dalam sebuah aula yang di kenalnya. lima buah kursi tetapi kali ini hanya satu yang terisi. seorang yang duduk di bangku paling ujung kanan menghampiri August.
"siapa kau?"
"namaku Mercia."
"untuk apa kau kesini?"
"takdir, dan aku menerimanya."
"Namaku Pendragon, dan kuserahkan baju tempurku ini untukmu, baju ini terdiri dari dua lapis, lapis pertama bisa kau gunakan kapanpun, lapis kedua gunakan hanya jika musuhmu sangat kuat."
manifestasi Pendragon menghilang berubah menjadi baju tempur yang melapisi tubuh August. sesaat lalu menghilang. walau sesaat August merasakan kekuatannya naik berlipat-lipat.
August membuka matanya kini ia telah mengerti siapa dirinya dan rahasia kekuatan dalam dirinya. ia melompat tinggi ke udara menatap cakrawala dunia yang terbentang di hadapannya. ia lalu memandang ke arah kuil yang berada jauh di bawahnya, ia melihat Hedya, Valery dan lainnya. aku berjanji akan menjadi jembatan dua dunia untuk kalian.
'Proxima aku akan datang!'
August melesat turun ke arah kuil. kedatangannya mengejutkan semuanya.
"August..!"