MERCIA

MERCIA
65. Perubahan Minerva.



Kembali ke dalam kastil hitam Sylvana melepaskan panahnya ke satu titik di langit-langit ruangan yang gelap.


Wuutt.. Blast..


Panah itu melesat dan mengakibatkan ledakan cahaya tanpa suara seperti cahaya guntur yang menerangi malam, sosok itu akhirnya terlihat, sebuah kepala seorang wanita tua berusia seperti ratusan tahun yang menyembul dari gumpalan asap hitam, kepala itu berputar-putar sesaat sebelum turun dan menjelma sebagai wanita berparas cantik dengan pakaian yang sangat minim dan transparan.


"siapa dia?" tanya Sylvana yang kini ia dan Helena telah bergabung bersama Freya dan Minerva.


"Gessora, guruku dia ingin membunuh Freya dan meminum darahnya.


"Untung saja Mercia tidak ada di sini." kata Helena.


Sontak Sylvana dan lainnya menatap Helena. Sylvana baru tersadar.


"dimana Mercia dan Aruna?" Sylvana mengarahkan panahnya ke wajah Minerva.


"Mereka sedang bertarung, aku tak tau dimana" kata Minerva.


"Wanita iblis, matilah.."


"Tenanglah Mercia baik-baik saja, dia sepertinya sedang menuju ke sini." potong Helena.


kembali ketiganya menatap Helena.


"Kau bisa membunuhku nanti, tapi saat ini ki.."


"Tidak ada yang saling membunuh, yang boleh di bunuh adalah penyihir tua itu." kata Freya memotong perkataan Minerva.


"Apakah kalian sudah selesai bicara?" tanya Gessora memandang tajam ke arah Freya.


Sylvana kembali melepaskan panahnya dengan gerakan cepat, tanpa diduga Gessora menangkap anak panah itu dengan kedua jarinya.


wuut.. tap..


Gessora mengamati anak panah itu sesaat, lalu ia menatap Sylvana.


"Bagaimana seorang elf bisa mendapatkan panah dewa?" tanya Gessora lalu melemparkan anak panah itu ke arah Sylvana.


Sylvana mencoba menghindar, tapi kecepatan panah itu lebih cepat dari gerakannya hingga menancap di pundaknya membuatnya terlempar membentur dinding.


wuss.. jleb.. brakk..


'bagaimana wanita terkutuk itu melakukannya?' pikir Sylvana mencabut panah itu lalu kembali bangkit berdiri.


Freya terkejut melihatnya, ia mulai mengeluarkan kekuatannya, kedua tangan Freya mengeluarkan cahaya kebiruan.


Gessora melambaikan tangannya ke samping, seketika tubuh Minerva terhempas ke dinding dan seolah-olah menempel, Sylvana yang baru bangkit berdiri juga mengalami hal yang sama, tapi tidak bagi Helena ia masih tetap berdiri di tempatnya semula tak jauh dari Freya, Gessora sedikit terkejut melihat Helena.


"Hihihi.. kau pikir trik anak kecil itu bisa berlaku padaku?" kata Helena.


Wajah Gessora yang tanpa ekspresi sebelumnya mulai terlihat marah mendengar perkataan Helena, pada saat itulah Freya menyerang Gessora, tiga bola kristal berdiameter lima belas sentimeter yang bercahaya putih, biru dan merah muncul bergerak mengelilingi tubuhnya, bola kristal merah melesat ke arah Gessora di susul dengan lainnya. Gessora mencoba menangkis dengan kedua tangannya yang mengeluarkan aura cahaya berwarna hitam, tetapi ia salah perhitungan, bola kristal yang terlihat tidak berbahaya justru memiliki daya hancur yang sangat besar. ketika kedua tangannya menangkis laju bola itu tubuh Gessora terpental dan begitu bola lainnya mengenainya, tubuhnya terhempas ke luar kastil menembus dinding yang hancur. Minerva dan Sylvana terlepas. Freya segera berlari keluar mengejar Gessora.


"Tunggu Freya kita tak bisa membunuhnya dengan cara biasa." kata Minerva, namun sayang Freya tidak mendengarnya.


Helena dan Sylvana saling berpandangan.


"apa maksud perkataanmu?" tanya Sylvana.


"Aku akan jelaskan nanti." kata Minerva lalu pergi menyusul Freya.


Helena dan Sylvana akhirnya menyusul mereka berdua.


Melihat Freya bergerak ke arahnya Gessora mengeluarkan tongkat sihir miliknya, ia menggoyang tongkatnya, mulutnya terlihat bergumam tanpa suara, tongkat itu lalu ia arahkan ke tanah, seketika tanah bergetar seperti gempa seluruh Innodale merasakan getaran yang dahsyat, bangunan-bangunan mulai roboh, dari balik tanah di seluruh penjuru negeri itu muncul puluhan hingga ratusan makhluk berbadan manusia berkepala anjing bergerak menuju kastil hitam, makhluk itu menyerang siapapun yang berada di depannya, hingga akhirnya pertempuran pun terjadi, seluruh penyihir Innodale mulai melawan makhluk yang tiba-tiba muncul itu.


"Darimana mereka muncul?"


"Aku tidak tau, tapi sepertinya mereka menuju kastil hitam!"


"Apa ini perbuatan Minerva?"


"Tidak mungkin, seberapapun kuatnya Minerva dia tidak punya kemampuan untuk memanggil makhluk ini."


Freya dan lainnya mulai sibuk melawan makhluk yang tidak ada habisnya itu.


"Freya satu-satunya cara membunuhnya adalah menghancurkan jiwanya yang dia simpan dalam gua cermin."


"Aku tau caranya, tapi kekuatanku belum cukup aku butuh bantuan." kata Minerva.


"Pergilah kalian bertiga, aku yang akan menahannya disini." kata Sylvana.


Mereka bertiga melirik ke arah Sylvana.


"Apa kau yakin?" tanya Helena.


"Jangan meremehkanku." kata Sylvana.


"Hahaha.. murid durhaka, kau ingin membunuhku? tak ada dari kalian yang bisa keluar dari sini." kata Gessora lalu mengarahkan tongkatnya ke atas, sinar hitam melesat membuat ledakan, lalu terlihat sebuah kubah raksasa hitam pekat menutupi Innodale, tempat itu seperti malam hari gelap gulita, sinar matahari tak sanggup menembus kubah tersebut.


"Tenanglah ia sudah sampai." kata Helena.


Mereka bertiga kembali melirik ke arah Helena.


"Siapa maksudmu?" tanya Minerva.


"Mercia, penyelamat kita, penyelamat dunia ini." kata Helena.


Gessora terkejut mendengarnya. 'Mercia? penyelamat dunia ini? apakah semua itu benar?' pikirnya.


Gessora kembali memfokuskan perhatiannya kepada mereka berempat, ia mulai menyerang Freya, ia kembali merubah wujudnya menjadi sebuah kepala berasap, suasana yang gelap membantu menyamarkan dirinya.


"Dimana dia?" tanya Freya.


"Berhati-hatilah, dia ingin menyerangmu." kata Minerva.


Helena menancapkan tongkatnya ke tanah, dari ujung tongkat itu sinar putih muncul membentuk kubah kecil melindungi mereka berempat, setiap makhluk yang menyentuh kubah perisai itu hancur.


"kalian bertiga jaga tongkat ini tetap berdiri, aku akan bicara dengan Mercia." kata Helena lalu duduk bersila memejamkan matanya. tampak tanda sabit putih di keningnya mulai terlihat bersinar.


"Sa.. sa.. bit putih?" Minerva syok melihatnya.


"Aku juga pertama kali melihatnya terkejut, tunggu bagaimana kau bisa melihatnya? jangan-jangan.." kata Freya.


"Apa maksudmu Freya? tentu saja aku bisa melihatnya kau pikir mataku buta?" kata Minerva.


"Sylvana apa kau bisa melihat tanda di kening Helena?" tanya Freya.


"aku tak tau apa yang sedang kalian bicarakan, lebih baik fokus ikuti kata wanita ini, jika kita tak bisa keluar dari sini satu-satunya harapan adalah Mercia menemukan gua cermin itu." kata Sylvana.


Minerva tercengang. "Freya apakah Helena.."


"Benar.. dan kau telah berubah.." kata Freya tersenyum haru lalu memeluk Minerva.


Melihat kubah perisai melindungi mereka berempat, Gessora kembali merubah dirinya menjadi wanita cantik.


'mengapa aku tidak bisa melihat kekuatan wanita itu?' pikir Gessora melihat tajam ke arah Helena.


Ia mengayunkan tongkat ke arah kubah perisai, sinar berwarna merah menghantam kubah itu hingga membuat ledakan besar.


DUAARRR...


Kubah itu masih tetap utuh, Sylvana menahan getaran pada tongkat milik Helena.


Gessora terkejut tak percaya melihat kubah itu masih berdiri. ia kembali mengayunkan tongkatnya kali ini bukan sinar yang keluar dari ujung tongkat sihir miliknya melainkan asap kehijauan yang menyelimuti kubah itu.


"Awas asap itu beracun" Minerva mengingatkan.


Sementara August sudah tiba kembali di Innodale, ia sangat terkejut melihat tempat itu tertutup kubah hitam pekat.


'apa yang telah terjadi? apakah kekuatan Minerva sebesar ini?' pikir August. ia lalu mengepalkan tangannya sinar emas menyelimuti tangannya ketika ia ingin menghempaskan sinar di tangannya ke arah kubah hitam itu, bayangan Helena muncul di depannya.


"Tunggu.. jangan kau lakukan!"


August mengurungkan niatnya, tapi sinar itu masih di tangannya, ia tetap waspada berpikir bahwa bayangan itu hanya sebuah trik dari Minerva.


"Mengapa kau melarangku? aku bisa menghancurkan kubah ini" tanya August.


"Jika kau menghancurkannya sekarang akan sulit untuk mengatasi kekacauan ini." kata Helena.


"Aku tidak percaya padamu, kau bukan Helena." kata August.


"Aku Helena, aku melakukan perjalanan astral untuk bisa menembus kubah ini, waktuku terbatas tak bisa bercerita banyak."


"Buktikan bahwa kau memang Helena." pinta August.


"Kita sudah bercinta beberapa kali ketika kau dalam keadaan sadar dan tidak dan aku sangat suka."


"Apa tidak ada cara lain membuktikannya selain mengatakan itu?" August malu mendengarnya.


Helena hanya tersenyum.


"Baiklah apa yang kau ingin aku lakukan untukmu." tanya August.


"Kita bercinta lagi, tapi sebelum itu pergilah ke gua cermin, cari sesuatu di dalamnya yang memiliki energi besar lalu hancurkan, setelah itu kembalilah dan hancurkan kubah ini." kata Helena.


"Aku tak tau dimana gua cermin."


"Pergilah ke arah matahari terbenam, kau akan menemukan daerah perbukitan dimana tebing dan batu-batuan seperti sebuah kaca." kata Helena menunjuk satu arah.


"Berhati-hatilah, aku tak mau kau terluka, hingga membuat kita gagal bercinta."


Setelah mengatakan itu bayangan Helena kemudian menghilang. August hanya menggelengkan kepalanya memikirkan tiap kali ia bercinta dengan penyihir itu, tenaga serta energinya terkuras, seperti habis mencuci pesawat Boeing menggunakan cotton bud. August lalu bergerak melesat menuju ke arah yang d tunjuk Helena.