MERCIA

MERCIA
83. Membangun Aliansi.



Lima hari kemudian.


Setelah pemakaman raja Valon dan pengangkatan Dior menjadi raja baru, suasana aktifitas kerajaan Galan mulai berangsur-angsur pulih dan kembali normal. sebagian masyarakat baik tua, muda, anak kecil tampak mengerubungi benda aneh yang mempunyai baling-baling itu. sedangkan Rafael dan Ellias tampak di kerubungi ibu-ibu muda garis keras, menawarkan cemilan kue-kue dan juga ehem.. lainnya, Ellias menegaskan bahwa Rafael lah orang yang membunuh naga itu, hingga membuat Rafael jadi pusat perhatian, tidak sedikit ibu-ibu muda yang sebagian besar janda itu meminta cap jempol untuk menambah koleksinya.


Di tempat lain, August dan lainnya berkumpul di aula kerajaan, Dior merasa canggung duduk di singgasana yang selama ini biasa di duduki oleh ayahnya. Dior pun bangkit dari tempat duduknya.


"Terima kasih atas bantuan kalian semua, aku tidak akan melupakan semua ini, jika tidak keberatan panggil saja aku Dior."


Semua tertawa mendengarnya.


"Kau tidak perlu canggung, nanti kau akan terbiasa." kata Myla.


"Mercia aku sudah mengirim beberapa orang untuk menyebarkan berita kemenangan ini, tapi aku belum mengerti apa maksudmu."


Semua mata menatap ke arah August.


"Setelah mereka mengetahui kematian raja Valon, aku yakin ada kerajaan lain yang akan mencoba memanfaatkan situasi ini, mereka tau Dior belum punya pengalaman, mereka akan mengirim utusan."


"ketua Nefia, ketua Myla, aku ingin meminta kesedianmu untuk tinggal di istana ini selama beberapa hari lagi."


"Kami bersedia, kami juga masih ada urusan di sini dan kami mungkin sedikit membutuhkan bantuanmu Mercia." kata Nefia.


"Terima kasih, aku dengan senang hati akan membantu kalian."


"Tapi Mercia jika boleh tau apa hubungannya keberadaan kami di sini?" tanya Myla.


"Galan hanyalah kerajaan kecil, aku meminta Ravenna menyebarkan berita kemenangan ini agar mereka penasaran dan mencari tau seberapa besar kekuatan kerajaan ini hingga berhasil mengalahkan Kallus."


"Aira mengatakan bahwa sebelumnya raja Valon mengirim utusan untuk meminta bantuan pada kerajaan lainnya, tetapi tak satupun yang datang membantu, Ketika mereka melihat kedua klan Armeda, elf dan helikopter itu ada di sini aku yakin mereka tidak akan pernah menganggap kalian dengan sebelah mata lagi, dan pada saat mereka ingin beraliansi dengan kalian, itulah kesempatan untuk Dior membesarkan kerajaan ini."


"Kau ingin menseleksi mereka?" tanya Lyra.


"Salah satunya, aku merasa serangan Kallus hanya sebuah awal."


Hening.


"Adakah di antara kalian yang pernah pergi ke kerajaan Gavaria?"


"Kerajaan Gavaria?"


Semua sedikit terkejut mendengarnya.


"Mercia, itu salah satu kerajaan besar di Proxima, kau pernah kesana?" tanya Lyra.


"Aku belum pernah, tapi kerajaan itu bisa di jadikan sekutu kita."


"Mercia, kerajaan Galan terlalu kecil, walau kami berdua yang menjadi utusan pun mereka tak akan tertarik untuk bersekutu dengan kita." kata Myla.


August tersenyum. "Ketua Nefia apa kau juga setuju dengan perkataan ketua Myla?"


"Apa yang dikatakan Myla memang benar, mereka segan pada kami bukan berarti mereka takut." kata Nefia.


"Maksudku apakah benar kalian berdua bersedia menjadi utusan?"


Myla dan Nefia saling berpandangan, begitu pula Aruna dan Aira pun berpandangan tak terpikir oleh mereka dan lainnya seseorang memerintah dua ketua Armeda untuk sebuah tugas.


Nefia dan Myla mengangguk.


"Kami bersedia, tapi aku punya dua pertanyaan." kata Nefia.


"silahkan." kata August.


"Ketua Myla ketua Nefia bukankah kalian berdua menginginkan klan Armeda bersatu kembali? bila kalian berdua bersedia semua akan melihat bahwa Armeda sudah tidak ada lagi perselisihan, Gavaria mungkin tidak takut pada Armeda karena kalian terpecah, bila mereka melihat kalian bersatu pasti mereka akan lebih berhati-hati."


Aruna dan Aira tersenyum. Myla dan Nefia pun mengangguk setuju.


"lalu apa yang membuatmu yakin?" tanya Nefia.


"Aku tau apa yang diinginkan Gavaria, kalian berdua akan menemui seseorang sebelum pergi menuju Gavaria."


"seseorang? siapa? dimana?" tanya Nefia.


Gavaria sangat ingin bersekutu dengan Innodale dan kita bisa membantunya untuk itu dan menerima tawaran kita tanpa syarat."


"Innodale? negeri para penyihir?" Nefia terkejut.


"Mercia tempat itu adalah tempat yang paling ingin semua hindari, kau pasti sudah tau apa yang menimpa Aruna?" kata Nefia.


August berjalan menghampiri Aruna.


"Aku tau, Aruna menceritakannya padaku, aku pun hampir kehilangan dirinya ketika kami berada di sana, karena itulah aku memintanya untuk pergi, namun setelah itu keadaan berubah, orang yang menculikku kini telah menjadi penyihir agung, Freya dan Minerva akhirnya menjadi pengikutnya, penyihir agung itu bernama Helena kalian akan menemuinya dan memintanya atas namaku untuk pergi ke Gavaria, katakan pada ratu Janessa, Drake atau Jasmine aku meminta hadiah dan hadiah itu adalah kesepakatan ini." kata August memegang kedua pundak Aruna.


"Bagaimana kau bisa mengenal mereka bertiga?" tanya Lyra.


"Aku tak sengaja bertemu mereka, lalu membebaskan ratu Janessa, Drake dan Jasmine membantuku menemukan gua cermin."


"Setelah itu Innodale bukan lagi tempat yang perlu dihindari, tempat itu adalah pusat kekuatan para penyihir putih."


Aruna semakin memerah, ia sudah tidak mendengar apa yang dikatakan August. tangan August yang berada di pundaknya membuat konsentrasinya buyar. Aira hanya mendengus kesal.


"Baiklah kami akan melakukannya."


Selepas pertemuan itu berbagai utusan dari kerajaan lainnya datang, sebagian ada yang mencoba mengintimidasi dan menekan Dior, mamun ketika melihat dua ketua Armeda dan pasukan elf, merekalah yang merasakan tekanan, banyak kesepakatan terjadi yang saling menguntungkan, tapi bagi mereka yang menolak untuk memberikan bantuan kala itu harus pulang membawa kesepakatan yang tak memberi keuntungan apapun.


Dior mengangkat Ravenna bibinya untuk menjadi penasihat, ia mengangkat Leth menjadi panglima perang. Legira membantu Emera untuk melatih di kuil, sesekali mereka membantu Leth dan lainnya melatih para prajurit.


Lyra dan lainnya sudah kembali ke bumi, August sudah mengatakan bahwa ia akan tinggal beberapa saat sebelum kembali pulang.


Di sebuah tanah lapang. sore hari


seluruh klan Armeda berkumpul hingga membuat lingkaran yang besar, tampak di tengah lingkaran berdiri Aruna dan Aira.


"Bersihkan hati kalian sebelum melakukannya." kata Myla.


August berdiri di antara ketua Armeda.


"Apa yang akan terjadi setelah ini?" tanya August.


"Jika mereka orang yang tepat kedua liontin itu akan melebur menjadi liontin emas dan akan memilih pemimpin tunggal." kata Nefia.


"Hanya mereka yang ingin bersatu yang bisa menjadi anggota Armeda, jika tidak mereka boleh pergi, bila mereka berpura-pura mereka akan tewas. itulah sumpah pendahulu kami ketika memecah batu liontin itu menjadi dua." kata Myla.


Kedua liontin berada di tengah telapak tangan Aruna dan Aira dengan tali yang tegulung di pergelangan tangan mereka. kedua liontin itu akan di satukan dengan cara berjabat tangan, Aruna dan Aira mengulurkan tangannya.


"Setelah ini kedua klan kita akan bersatu, kau menginginkannya Aruna?"


."Tentu saja Aira."


Namun ketika mereka ingin berjabat tangan terdengar suara teriakan.


"Tunggu..!"