
Kuil yang hancur kini sedang diperbaiki. kini August, Aira, Aruna, Lady Lyra dan Hedya berada dalam aula.
"aku ingin kembali ke Royan" kata August.
Aira dan Aruna tampak cemas.
"August sebelum kau pergi ada yang ingin kami sampaikan padamu" kata Lyra menghela nafas.
"ada apa?" tanya August.
hening.
"adakah sesuatu terjadi?" tanya August.
"apa yang kau ingat terakhir kali?" tanya Lyra.
"aku di keluarkan dari kampus, aku.. Julia salah paham padaku." tampak raut kesedihan di wajah August.
"aku harus menjelaskan kepada orang tuaku, juga Julia."
"August banyak hal yang sudah terjadi ketika kau tak sadarkan diri." kata Lyra.
"apa maksudmu?" tanya August.
"apa kau sudah bisa mengontrol kekuatanmu?" tanya Lyra.
"apa yang sebenarnya kalian coba tutup tutupi?" tanya August curiga.
"August kau sudah tak sadarkan diri selama satu tahun" kata Lyra.
"apa?" August terkejut tak percaya.
"itu tidak mungkin"
"mengenai kedua orang tuamu.. mereka telah meninggal." kata Lyra.
August syok mendengarnya.
"tidak.. aku tidak percaya.."
"Biarkan aku pergi dari sini, buka portal itu!" August dengan emosi di dadanya.
Lyra dengan berat hati membuka portal. ketika portal terbuka August langsung masuk ke dalamnya. Aruna menyusul di belakangnya. ketika Aira ingin menyusul Lyra menahannya.
"Jangan, kau tetap di sini, biarkan Aruna menjaganya, August butuh waktu."
Aira pun mengurungkan niatnya menyusul.
Kota Buckland.
sebuah portal terbuka, August dan Aruna keluar dari dalam portal tersebut.
"Tunggu sebentar, aku akan mengambil mobil" kata Aruna.
tak lama sebuah mobil sedan merah muncul di hadapan August.
"ayo masuk" pinta Aruna.
"mengapa kau memarkir mobil di kota ini?" tanya August
"kota ini penuh kenangan" kata Aruna.
"bukankah di sini tempat aku di sekap dan kau datang ingin membunuhku? kau sebut itu kenangan." kata August.
"benar" jawab Aruna.
August menggelengkan kepalanya.
"Mengapa kau ingin membunuhku? mengapa tidak di hutan itu? tanya August.
"Aku diberi tugas oleh ketuaku untuk mengawal utusan itu, tapi aku terlambat, aku mencari jejak kristal itu ternyata ada padamu, aku ingin membunuhmu, namun ternyata kau berasal dari dunia ini, menurutku tidak mungkin kau bisa membunuhnya, utusan itu pasti memintamu untuk menyerahkan kepada Oracle. itu satu alasan untuk tidak membunuhmu."
"bagaimana pertemuan kita yang kedua?" tanya August.
"aku mengetahui kristal itu telah memilihmu namun kau tidak menyadarinya, aku tak ingin kekuatan yang ada dalam tubuhmu, di ambil oleh Gorran atau lainnya, racun yang ia berikan padamu adalah cara ia untuk mendapatkan kekuatanmu, namun ia gagal kau akhirnya menguasai kekuatan itu dengan sempurna."
"August maafkan aku karena tak bisa menyelamatkan orang tuamu, ketika tak sadarkan diri, aku harus membawamu ke negeri murcia tanpa menggunakan portal atau mereka mengetahui keberadaanmu di sana. aku meminta adikku untuk menghindari kejaran kaki tangan Gorran." kata Aruna.
"adikmu?" tanya August.
"Namanya Arumi." kata Aruna.
"bagaimana dengan Rafael apa dia benar sepupumu dari proxima?" tanya August.
"bukan, dia hanya meneruskan pekerjaan orang tuanya sebagai informan, kau tak perlu meragukannya dia sangat tulus padamu dia teman baikmu." jawab Aruna.
"aku rela mati untukmu" jawab Aruna datar.
August melirik Aruna, ia terkejut dengan ucapannya. orang yang dulu ingin membunuhnya kini rela mati untuknya. ia pun berjuang melindungiku dari kejaran Gorran. August kini mengetahui sisi lain Aruna sangat luar biasa.
"Biarkan aku menggantikanmu menyetir aku sudah istirahat selama setahun." kata August.
Aruna tersenyum. "Baiklah"
Aruna menepikan mobilnya. lalu bertukar posisi.
"Dimana Rafael?" tanya August.
"kau ingat pertemuan kita yang ketiga?" Aruna balik bertanya.
"taman lalu ke golden lane" jawab August.
"ia kini bekerja di tempat tersebut sebagai pelayan, Aira sudah menghubunginya bahwa kau akan datang." kata Aruna.
"Baiklah nanti aku akan menemuinya setelah aku pulang ke rumahku" kata August.
"mengenai rumahmu.."
"tidak perlu kau katakan sekarang, aku sudah siap menerima apapun, ceritakan nanti.' kata August berupaya menutupi kesedihannya.
dua jam kemudian August tiba di depan rumahnya. tak ada bangunan disana, hanya ada sisa reruntuhan dengan banyak tulisan cat tanpa makna. namun di benaknya, August masih melihat bangunan itu tegak berdiri, di dalamnya terdapat lukisan usang dengan poto keluarga di sisinya. ia juga melihat ibunya sedang membuat roti gulung terenak di dunia. di depan teras terlihat ayahnya sedang memarahi mobil tua miliknya yang selalu mogok. August tersenyum dalam tangis.
August kembali ke mobilnya, ia tak sengaja melihat sesuatu di jok belakang mobil.
"Bukankah itu tas milikku?" tanya August.
Aruna menengok kebelakang, "ya aku lupa memberitahu."
August membuka tasnya, didalamnya masih tersimpan uang beberapa ratus dollar pemberian Gorran dan ponselnya, ia buru buru menyalakan ponselnya. ia mengecek puluhan panggilan telepon, hanya ada nama Rafael dan Mr. Borris, pesan teks pun sama. tak ada nama Julia.
"Aruna ambil uang ini carilah tempat untuk kita bermalam, aku akan pergi sebentar mengurus sesuatu." kata August lalu keluar dari mobil.
"kau ingin mencarinya bukan? aku mengerti, aku akan mengabarimu." kata Aruna sedikit kecewa.
August tidak menjawab. setelah Aruna pergi August menyetop taksi. ia memberi petunjuk, supir pun membawanya pergi.
dua puluh menit kemudian August tiba di sebuah rumah yang megah. sedikit gugup ia lalu menekan bel di samping pagar rumah tersebut. tak lama seorang pelayan menemuinya.
"adakah yang bisa kubantu?" tanya pelayan itu.
"aku ingin bertemu Julia." jawab August.
"apakah dia pelayan yang bekerja di rumah ini?" kata pelayan.
"Bukan, dia anak pemilik rumah ini." jawab August ia sedikit kesal mendengar Julia dianggap pelayan.
"Maaf tuan, tidak ada yang bernama Julia di rumah ini." kata pelayan itu lalu pergi.
"tunggu apakah pemilik rumah ini adalah keluarga Lockhart?" tanya August.
"anda mungkin salah dengar pemilik rumah ini adalah keluarga Longstaf." kata pelayan.
August tercengang, ia teringat terakhir kalinya Bryan mengancamnya. Ia yakin Jacky kakak Bryan adalah dalang di balik semua peristiwa ini. August meninggalkan rumah itu. asa bertemu Julia gagal. ia menengok ke kanan kiri, setelah ia yakin tak ada orang dan mobil yang melintas. ia menggunakan kekuatannya melesat menuju danau biru. jarak beberapa kilometer dapat ia tempuh kurang dari dua menit.
August hanya duduk di sebuah gazebo memandangi danau itu dalam kesunyian. di sinilah ia mencurahkan perasaannya terhadap Julia, di sinilah ia berdansa dengannya.
Sedan merah berhenti di dekat gazebo tempat August berada.
"Darimana kau tau aku ada disini?" tanya August matanya tetap memandang ke arah danau.
"aku merasakan energimu, kekuatanmu sangat besar, kau harus belajar mengontrol daya tempurmu hingga tak terdeteksi oleh lawan." kata Aruna.
"ajari aku" kata August.
"tak masalah, sampai kau bisa jangan menggunakan kekuatanmu untuk bergerak" ucap Aruna.
"sepakat" kata August.
"aku kesulitan memesan kamar hotel, aku tak punya kartu identitas.
"baiklah kita pergi dari sini." kata August.
August dan Aruna lalu beranjak pergi, tetapi ketika August ingin membuka pintu mobil ia kembali menatap danau tersebut.
"ada apa?" tanya Aruna.
August tak langsung menjawab ia memejamkan matanya. setelah beberapa saat ia membuka matanya kembali.
"ada sesuatu di danau tersebut"