MERCIA

MERCIA
79. Darah Proxima Murni.



August menatap Valery bergantian.


"Rafael apa maksud kalian."


"August aku.. ehm.. kau pergilah dengan Valery, dia bisa menjelaskan semua lebih baik."


"Baiklah, lain kali cerita saja, aku masih temanmu yang dulu." kata August menepuk bahu Rafael.


"Mercia kita pergi ke Royan."


August dan Valery pergi meninggalkan Rafael.


"Hey kalian mau kemana?" tanya Hedya merasa tak nyaman melihat August dan Valery pergi bersama.


"Aku ada urusan di kota Royan, aku akan segera kembali." kata August.


"Aku tidak membawa peralatan, aku akan pulang ke rumah mengambilnya."


Hedya merasa tak puas dengan jawaban keduanya, tapi ia tetap berusaha menyembunyikan kegusarannya.


"Cepatlah kembali, aku butuh bantuanmu di sini Valery." kata Hedya lalu pergi.


"Aku rasa dia cemburu aku pergi denganmu." kata Valery.


"Kau jangan bicara omong kosong, sekarang katakan ada apa?"


"tidak di sini."


Lyra menciptakan sebuah portal khusus yang berada tak jauh dari gerbang kuil, memudahkan semua bila ingin kembali ke tempatnya masing-masing. August dan Valery memasuki portal itu, dalam sekejap mereka tiba di sebuah gang kecil di antara dua bangunan berlantai tiga.


"Apakah aman muncul tiba-tiba d tempat ini." tanya August.


"portal khusus itu akan memilih tempat yang aman, aku tidak tau bagaimana, mungkin kau bisa tanyakan langsung pada Lyra."


Mereka berdua berjalan menuju taman kota dimana Valery memarkir mobilnya.


"cepat masuk." kata Valery.


August masuk ke dalam mobil. "Kemana kita pergi?"


"Ke rumahku."


Tidak banyak yang dibicarakan dalam perjalanan, August hanya tertidur, Valery membiarkannya beristirahat. sekitar sembilan puluh menit kemudian mereka tiba di sebuah rumah berlantai dua. Valery membangunkan August.


"Mercia.., kita sudah sampai."


August menggosok kedua matanya. "Maaf aku tertidur."


"tidak apa-apa, kau terlihat lelah, aku biarkan kau tertidur."


"Ini rumahmu?"


"Ya.. bagaimana menurutmu?"


"Unik.. seperti orangnya."


"Hahaha.. ayo kita masuk."


Mereka berdua masuk ke dalam rumah.


"anggaplah rumah sendiri, ambilah beberapa minuman, aku akan segera menemuimu lalu bicara."


"baik."


August berjalan mengambil minuman bersoda dari balik lemari pendingin, ia mengamati poto-poto yang menggantung di dinding satu persatu. poto Valery kecil hingga beranjak dewasa, hingga menjadi seorang polisi. setelah beberapa saat August mencium aroma wangi ia membalikan badannya, seketika jantungnya berdegup kencang, matanya hampir tak berkedip melihat Valery menuruni anak tangga hanya mengenakan bathrobe, rambutnya basah dan meneteskan air. ia membawa sebuah peti kayu dengan kedua tangannya.


"Bantu aku bawa peti ini."


August segera menghampiri Valery dan mengambil peti kayu itu dari tangannya. tampak dua gumpalan ingin meloncat keluar ketika Valery sedikit membungkuk ketika menyerahkan kotak itu membuat August menelan ludah.


'fokus.. fokus.. fokus..' kata August dalam hatinya.


Mereka duduk di sofa ruang tamu, August menaruh peti kayu di atas meja.


"Kau tau Nora menjaga properti keluarga Lockhart?" tanya Valery.


"Aku tidak tau, tapi aku tak keberatan."


"sekitar dua minggu lalu, ada seorang keluarga yang tertarik untuk tinggal di rumah itu, mereka ingin menyewa untuk tinggal di sana. Setelah berdiskusi, semua sepakat untuk mengizinkan mereka menyewa, maaf kami tidak melibatkanmu."


"tidak masalah."


"Nora menyuruh Rafael untuk mengosongkan rumah itu, sebagian barang-barang sudah di jual tau di lelang dan hasilnya semua telah disumbangkan."


"Aku setuju."


"Tanpa sengaja Rafael menemukan sesuatu dalam rumah itu yang sangat mengejutkan."


"Sesuatu?"


Valery membuka peti kayu itu dan mengambil sebuah dokumen lalu menyerahkannya pada August.


"Rafael menemukan ini."


August membaca dokumen itu, ia pun sedikit terkejut.


"Benar. sekarang lihatlah ini!" Valery menyerahkan dokumen lainnya.


"apa kau tau?"


"ini hanya laporan sampel darah." kata August.


"aku tak mengerti."


"Sampel darah ini bukan berasal dari manusia pada umumnya."


August tersentak. "Kau ingin mengatakan bahwa Julia adalah seorang hybrid?"


"Awalnya Rafael ragu, ia tidak yakin karena ia sangat mengenal Julia, ia lalu menghubungiku meminta bantuanku untuk menyelidikinya."


"Mengapa ia tidak meminta bantuan Hedya?"


"Aku pun menanyakan hal yang sama, ia beranggapan bahwa aku lebih paham dengan para hybrid."


"Aku setuju dengannya."


Valery tersenyum.


"Setelah aku menyelidikinya ternyata Julia bukan seorang hybrid."


"Jadi kalian hanya ingin mengatakan bahwa Julia bukan anak kandung keluarga Lockhart?"


"Mercia, aku belum selesai bicara. Julia memiliki darah Proxima murni."


"Apaa?"


"Tidak mungkin, Dia tidak punya kekuatan apapun."


"Aku berpura-pura mencari alasan untuk mendapatkan sampel darah dari Lyra dan Carrol untuk membandingkannya, tapi sangat jauh berbeda, karena itulah aku menyebutnya Proxima murni."


"Mercia ketika kau kembali, kau mengatakan telah mengunjungi tiga dunia, aku pikir kemungkinan besar Julia juga bukan berasal dari Proxima."


August tak percaya mendengar perkataan Valery.


"Bagaimana kau yakin dengan semua yang kau katakan?"


"Sampel darah ini ada dalam sebuah amplop, di dalam amplop itu aku menemukan beberapa buah angka, setelah aku menyelidikinya, angka-angka itu adalah sebuah koordinat, aku pergi ke tempat itu dan menemukan peti kayu ini."


August mengamati peti kayu itu yang tampak sangat tua.


"Aku membawa peti ini ke laboratorium, hasilnya tidak ada yang cocok dengan semua jenis kayu yang ada di bumi, walau terbuat dari kayu, tingkat kekerasannya melebihi sebuah baja."


"Bagaimana kau bisa membukanya?"


"Aku punya teman hybrid yang mampu membukanya, ketika ia membukanya energinya terkuras dan ia jatuh pingsan karena kelelahan."


"Lihatlah isinya."


August mengambil sebuah gulungan kertas yang sudah terlihat kecoklatan, ia membukanya, sebuah tulisan dengan huruf-huruf yang aneh. di bagian atas kertas itu terdapat sebuah logo atau simbol seekor naga yang melingkar.


"Aku tidak tau apa tulisan ini." kata August.


"Begitu pula dengan Lyra dan Carrol." Valery menambahkan.


"Aku tidak tau maksud semua ini." kata August.


"Mercia, Rafael tidak ingin mengatakan ini semua padamu, ia takut membuka lukamu yang telah lalu."


"aku mengerti, aku tetap menghormatinya."


August berjalan mendekati jendela, ia memandang keluar dengan tatapan kosong.


'apakah ada dunia lainnya? darimana kau berasal Julia? seandainya kau masih hidup, kita akan mencarinya bersama-sama.' kata August dalam hatinya.


"Mercia selanjutnya terserah padamu, kau bisa menepikan semua ini atau kau ingin mencari tau siapa jati diri Julia sebenarnya."


"Aku tau ini semua tidak akan mengembalikan dia padamu, tapi bila kau memutuskan untuk mencari tau, satu-satunya petunjukmu adalah token ini."


"temanku yang membuka peti kayu ini tidak mengerti isi tulisan pada gulungan kertas itu, tapi ia mengerti arti tulisan di balik token ini karena keduanya tertulis dengan bahasa berbeda, tulisan ini artinya adalah putri para naga."


August bagai di sambar petir mendengarnya, emosinya mulai campur aduk.


"Apa katamu?"


"Putri para naga."


August segera kembali duduk di samping Valery, ia mengambil token itu dengan tangan gemetar, ia melihat token kayu itu berbentuk persegi enam seukuran telapak tangan orang dewasa, terlihat ukiran dua ekor naga saling melingkar, ia pun membalik token tersebut, sebuah tulisan dengan huruf-huruf yang aneh. terlihat samar gambaran seekor burung.


"Mercia kau mengetahui sesuatu."


August tersenyum, "aku belum yakin tapi aku tau maksud tulisan ini."


"Valery aku sangat berterima kasih atas usahamu ini, ini sangat berarti untukku, aku tidak tau bagaimana aku bisa membalasnya."


"Kau bisa mengunjungi ruang tahanan khusus milikku."


Glek. August kembali menelan ludah.


"Se.. se..karang?"