
Setelah berpamitan dengan cara yang panas, August pergi meninggalkan Helena, hanya beberapa saat ia memutuskan untuk berhenti beristirahat di atas sebuah pohon besar sekitar sepuluh kilo meter dari kota Innodale.
'Brengsek, setiap kali bersamanya kakiku dibuatnya gemetar, sial aku tak bisa membuka portal.' ketika August mulai mengembalikan energinya, sayup-sayup terdengar rintihan seorang wanita dari kejauhan.
August sempat terkejut, namun rasa terkejut itu perlahan sirna ketika ia mengingat kejadian di hutan Royan dimana ia pun mendengar rintihan seorang lelaki dari jarak yang sangat jauh.
'hmm mulai kedepan aku harus melatih pendengaranku.' ia pun memejamkan matanya, mengunci arah sumber suara, ketika membuka matanya, ia pun melesat pergi. suara rintihan itu berjarak sekitar tiga kilometer dari tempatnya semula, hanya beberapa saat ia pun tiba, August melihat seorang wanita bersandar pada sebuah pohon besar, wanita itu menggunakan baju pelindung dan penutup wajah berwarna merah.
Melihat kedatangan August wanita itu tampak waspada.
"Kau terluka?" tanya August.
Wanita itu hanya diam, tiba-tiba di tangan kirinya muncul sebuah pedang kayu kecoklatan.
August hanya tersenyum.
"Aku tidak bermaksud jahat, aku mendengar suara rintihanmu dari kejauhan, aku memutuskan untuk pergi mencarinya."
Wanita itu tetap diam, namun ketika mengamati wajah August ia sedikit bingung, ia terlihat familiar.
"Jangan macam-macam." kata wanita itu mengarahkan pedangnya ketika melihat August berjalan menghampirinya.
"Berhenti atau aku akan membunuhmu..!" ancam wanita itu yang akhirnya bangkit bersiap untuk bertarung.
"Kau terluka bagaimana bisa kau bertarung?"
Pedang kayu di tangan kiri wanita itu seketika mengeluarkan aura kemerahan. August waspada.
Wanita itu berlari dan melompat mengayunkan pedangnya, August bersiap, waktu terasa melambat, dedaunan yang jatuh terlihat sangat lama menyentuh tanah, namun wanita itu masih bisa bergerak dengan kecepatan normal, August baru kali ini melihat seseorang yang mampu bergerak dengan kecepatan seperti itu pada situasi saat ini.
Ia bersiap menghindar dari serangan pedang itu, namun tanpa diduga ia dibuat terkejut tubuhnya tak bisa bergerak, ia melihat kakinya terlilit akar pohon yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah. akar itu sangat kuat, tak peduli seberapa besar kekuatan August untuk mencoba melepaskan lilitannya.
'sial aku tak bisa menghindar lagi.'
BLEGARRR!
Pedang kayu milik wanita itu menghantam perisai cahaya milik August, keduanya terpental belasan meter, kekuatan pedang dan perisai itu mampu meluluhlantakan area sekitar mereka hingga radius dua kilometer, sedangkan daya kejut dan suara ledakan terasa hingga belasan kilometer.
August segera bangkit ia memuntahkan darah, ia melihat wanita itu dengan rasa sakit yang sama, ia bangkit dan siap ingin menyerang kembali.
"Tunggu hentikan.., aku bukan musuhmu." kata August.
Wanita itu mengurungkan niatnya menyerang, tapi ia masih waspada. namun seketika ia terjatuh menahan rasa sakit di pundaknya.
"Tenanglah, aku akan mengobati lukamu." kata August berjalan perlahan menghampiri wanita itu.
'pedang wanita ini hanya terbuat dari kayu, tetapi tidak hancur ketika beradu dengan perisaiku.' pikir August.
'ular berkepala dua itu mengatakan hanya satu benda yang tak bisa dihancurkan oleh pedang Angerage, apakah perisai milik lelaki ini?'
"Biar kuperiksa lukamu." kata August. lalu berjongkok di samping wanita itu. August mengamati bagian pundak wanita itu.
"Darimana kau mendapatkan pedang itu?"
"Bukan urusanmu, dan jangan pernah berpikir untuk merebutnya dariku."
"Tidak, setiap senjata hebat memiliki tuannya sendiri, jika bukan pemilik sebenarnya, tak akan terlihat keistimewaannya."
"Termasuk perisaimu?"
"Benar, ini adalah perisai cahaya, ia memilihku, aku menemukannya di danau biru."
"Danau biru? ahhhh...!" wanita itu memegang kepalanya sesaat, lalu ia kembali menatap August ia seperti mengenalnya.
"Bisa kau perlihatkan luka di pundakmu itu?"
Wanita itu tersadar dari lamunannya, setengah dirinya seperti mengenal wajah lelaki di hadapannya, sisi lainnya penuh kecurigaan. ia menyentuh pundaknya, seketika sebagian baju pelindung di pundaknya menghilang.
August melihat luka guratan hitam yang sedikit menyembul keluar, semua terpusat pada satu titik.
"apakah luka ini karena tertusuk jarum?" tanya August yang sedikit terkejut melihat luka itu.
"Bagaimana kau tau?"
"Aku hanya menebaknya, titik pusat lukamu terlihat seperti itu."
"Aku bertarung dengan seorang wanita, dia melukaiku dengan jarum hitam miliknya."
"Jarum hitam? apa dia juga mempunyai tombak iblis?" seketika rasa amarah bergejolak di dadanya.
Wanita itu melihat perubahan ekspresi dari sorot mata August yang tajam, ia semakin waspada menggenggam erat pedangnya.
"Javelyn.. !" August mengepalkan tangannya.
"Kau kenal?"
"Aku ingin sekali membunuh wanita itu..!" kata August sambil mengambil botol air dari balik pakaiannya.
"Siapa namamu?"
"Elda, kau?"
"Mercia."
Degh.
Jantung wanita itu berdegup kencang, ia tak menyangka lelaki di hadapannya adalah orang yang sedang dicarinya, ia ingin mengetahui siapa Mercia, mengapa ia selalu mendengar namanya, namun entah mengapa lidahnya terasa kelu, bahkan ia mulai menyadari tidak ada alasan yang jelas mengapa ia harus mencarinya.
"Mengapa kau diam?" tanya August.
"Mengapa kau ingin membunuhnya?" Elda balik bertanya.
"Javelyn melukai kekasihku, aku tak tau apakah ia masih hidup atau sudah mati, ia menghilang ketika terluka dipelukanku." kata August lalu menuangkan air dalam botol itu pada luka di pundak Elda dan mengusapnya, luka itu perlahan-lahan hilang.
Elda terkejut melihat luka di pundaknya seketika lenyap.
'Jadi ternyata benar lelaki ini bisa menyembuhkan luka apapun.' pikir Elda.
"kekasihmu..., siapa namanya?"
"Julia..! Julia Lockhart."
"Julia.. Ahhhh..." kembali Elda memegang kepalanya yang seperti di tusuk puluhan jarum panas.
"Minumlah..!" kata August menyerahkan sisa air dalam botol pada Elda.
"Aku tidak haus."
"Racun jarum itu masih ada di dalam tubuhmu, jika kau tak meminumnya, aku khawatir luka itu akan muncul kembali atau akan membuat matamu buta, itu juga akan menyembuhkan sakit di kepalamu itu."
"Mengapa aku harus percaya padamu?"
"Kau tidak harus."
Elda menerima pemberian air itu namun ia tak segera meminumnya.
"Aku harus pergi, jaga dirimu Elda."
"Tunggu kau mau pergi kemana?"
"Kota Royan."
"Royan? akhhhhh...." Elda lagi-lagi memegangi kepalanya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya August.
"Kepalaku.. ahh.."
August menyentuh kepala Elda energi penyembuh miliknya meredakan rasa sakit kepalanya.
"Aku tidak apa-apa."
"Kau yakin?"
"Ya.. terima kasih."
"Minumlah segera air itu."
"aku akan meminumnya."
"Baiklah, maaf aku harus pergi semoga kita berjumpa lagi." kata August melesat pergi.
"Wajahnya.. suaranya... danau biru.., Julia Lockhart.. Kota Royan... mengapa semua terasa familiar? aku harus bertemu dengannya lagi."
"Hmm.. wanita itu.. sial aku telah membunuhnya."
Tiba-tiba liontin di dadanya bergetar pelan. ia membuka lalu mengamatinya.
"Aku tak menyangka ia masih hidup." Elda membuka penutup wajahnya tampak sebuah senyuman menghiasi bibirnya, ia lalu meminum air pemberian August dan menghabiskannya, ia kembali dibuat terkejut, kekuatannya kembali dengan cepat dan terasa lebih besar ia pun akhirnya pergi.