MERCIA

MERCIA
78. Janji Terpenuhi.



Kuil Murcia.


"Ini enak sekali, siapa yang masak makanan ini?" tanya Rafael.


"Aku yang memasaknya." kata Lyra.


"Hedya seharusnya kau belajar memasak pada ibumu, ketika kau sedang tidak bertugas." kata Rafael.


"Aku bisa memasak tumis peluru dengan toping sianida? kau mau mencobanya?"


"Kejam sekali."


"Ellias dimana Leo? mengapa tidak kau ajak kesini untuk makan bersama?" tanya Lyra.


"Lady Lyra aku sudah mengajaknya. tapi dia merasa malu."


"Hedya kau panggil Leo, dia sangat takut padamu." kata Nora.


"Aku akan memanggilnya."


Hedya berjalan menuju pintu yang terbuka, hanya melihat sekilas ia telah menemukan keberadaan Leo yang sedang berbicara pada seseorang yang tengah berlatih.


"Leooo.. cepat kemari." teriak Hedya disambut gelak tawa seisi ruangan.


Leo mencari sumber suara yang memanggilnya, ketika ia mengetahui Hedya memanggilnya ia segera berlari.


"Carrol geserlah biar Leo duduk di tengah kita." kata Valery.


"Hahaha Ellias sepertinya anak buahmu akan di aniyaya oleh mereka semua." kata Rafael.


"Leo adalah orang yang setia, namun dia terlalu kaku, aku ingin ia sedikit santai agar ia bisa tau caranya mencari pacar, dia butuh bantuan."


"aku baru tau dia takut dengan wanita." kata Carrol.


"Hey Ellias orang di sampingmu itu juga butuh bantuan, kehidupan cintanya sangat menyedihkan." kata Nora.


"Nora kau jangan bicara omong kosong." kata Rafael.


"Bila memang kau butuh bantuan hubungi aku, aku bisa merekomendasikan tempat hiburan menarik untukmu semua biaya akan aku tanggung." kata Ellias.


"Dan kau sama gilanya dengan wanita-wanita ini." kata Rafael menggelengkan kepalanya.


"apa aku juga termasuk wanita gila Rafael." tanya Lyra yang terus tertawa menghadapi kekonyolan mereka semua.


"Lady Lyra tidak termasuk, karena masakanmu enak."


"hahaha."


"Ada yang bisa aku bantu nona Hedya?" tanya Leo gugup.


Hedya mencabut pistol glock emas di paha kanannya lalu menodongkan ke kepala Leo.


"Ibuku meminta Ellias untuk membawamu ikut makan bersama, mengapa kau menolak."


Glek.


Seketika keringat dingin muncul di kening Leo.


"a.. a.. aku ti.. tidak tau lady Lyra yang me.. me..ngundangku."


"Ellias benarkah kau tak mengatakannya?" tanya Hedya.


"Hey Leo aku sudah mengatakan bahwa kita akan makan bersama di tempat lady Lyra, kau ingin aku membawa bukti?" kata Ellias menutupi mulutnya menahan tawa.


"Ti.. tidak perlu Tuan, mungkin aku tidak jelas mendengarnya, maafkan aku nona Hedya, lady Lyra dan tuan Ellias." Leo membungkuk.


"Hedya sudah cukup, Leo masuklah kita semua akan makan bersama."


Setelah beberapa lama saling mengenal hubungan antar mereka semua semakin akrab seperti sebuah keluarga walau masing-masing dari mereka berasal dari latar belakang yang berbeda.


Seperti yang sudah direncanakan Leo menjadi bulan-bulanan mereka semua, bajunya basah dengan keringat dinginnya, mukanya sangat merah seperti kepiting rebus.


"Clara bisa kau ambilkan sebotol soda dingin untuk Leo?" kata Carrol.


"Tentu saja." Clara berdiri dan berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil beberapa botol soda lalu kembali menuju meja makan, tiba-tiba langkahnya terhenti.


Prang...


Botol-botol itu pecah jatuh ke lantai. semua mata menatap Clara penuh tanda tanya.


"Clara ada apa?" tanya Lyra.


"Mercia aku mendengarmu." Clara memejamkan matanya dalam pikirannya ia melesat terbang meninggalkan bumi melebihi kecepatan cahaya, melintasi bintang-bintang dan planet-planet di galaksi bima sakti, tubuhnya seperti terhisap menuju sebuah sistem tata surya dengan dua buah bintang dan beberapa planet yang mengitarinya ia masuk ke dalam sebuah planet yang ukurannya tiga kali lebih besar dari bumi, dengan cincin tipis mengelilingi, ia jatuh dalam sebuah hutan lebat, ia melihat sekelilingnya dan menemukan August bersama seorang wanita berkuping lancip.


Clara merasakan waktu terasa berhenti, ia melihat keduanya tak bergerak. ia berjalan menghampiri August.


"Mercia aku mendengarmu, aku akan membawamu pulang." Clara menyentuh keningnya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia letakan pada kening August.


Tubuh Clara dan August seketika bercahaya lalu melesat dan menghilang. Violet tak bisa bisa melihat kedatangan Clara ia hanya sekilas melihat kilatan cahaya putih melesat naik ke langit dan selanjutnya tubuh August tiba-tiba menghilang dihadapannya.


"Mercia.. kau manusia spesial, kini aku mengerti mengapa putri Sylvana menyukaimu." kata Clara menatap langit malam dimana cahaya itu pergi.


Braakkk...


Clara membuka matanya. Lyra dan lainnya kembali terkejut ketika melihat seseorang berdiri di atas meja makan.


"Mercia..!" semua serempak.


August membuka matanya dan melihat sekelilingnya wajah-wajah yang sudah sangat ia kenal.


"Maaf aku tak tau kalau aku akan muncul di atas meja makan ini." kata August melompat dari atas meja.


"Aku yang salah, aku tidak memikirkan tempat dimana Mercia akan muncul, aku hanya ingat meja makan." kata Clara.


"Sudah.. tidak masalah, yang penting kau telah membawa Mercia kembali dengan selamat." kata Lyra.


"Lady Lyra kau telah sembuh?" tanya August.


"Mercia aku minta maaf.. aku.."


"Tidak perlu meminta maaf, aku senang kau sudah sembuh."


"Mercia aku tau Moonheaven sudah tidak ada, bunga itu juga sudah punah, tapi Oracle memintaku untuk tidak memberitahumu, aku tak tau alasan dia membohongimu, aku benar-benar minta maaf."


"Mercia aku dan lainnya baru mengetahuinya setelah kau pergi, maafkan kami semua." kata Hedya.


August memandangi semua satu persatu, semua tertunduk merasa bersalah.


"Kalian ini kenapa?"


"Aku tidak marah atau merasa dibohongi, Hedya satu permintaanmu sudah aku penuhi."


Lyra dan Hedya sangat terkejut mendengarnya.


"Apa kau berhasil mendapatkan bunga itu?" tanya Lyra yang memang mengetahui permintaan Hedya pada August.


"Hedya, aku memenuhi salah satu janjiku padamu." kata Mercia lalu menyerahkan sebuah kotak hitam pada Hedya.


Dengan tangan gemetar Hedya menerima kotak itu dan membukanya, terlihat cahaya bunga itu masih bisa menerangi wajahnya tampak mata Hedya berkaca-kaca.


"Setelah ibu sembuh, aku tak perduli lagi dengan bunga ini, karena aku pikir kau tidak akan menemukannya." Hedya memberikan kotak itu pada Lyra.


Carrol dan lainnya satu persatu mengamati bunga itu, mereka merasa beruntung bisa melihat sendiri keagungan bunga itu.


"Mercia bagaimana kau mendapatkannya?" tanya Lyra.


"Lady Lyra, Moonheaven itu ada, tapi tidak seperti yang kalian ketahui."


"Maksudmu?"


"Moonheaven bukanlah sebuah tempat, melainkan sebuah dunia."


"Sebuah dunia?" Lyra dan Carrol terkejut mendengarnya.


"Clara menjemputku ketika aku berada di dunia itu, Moonheaven ada dibelakang matahari kecil dunia Proxima.


"Bagaimana kau bisa sampai kesana?"


"aku bertemu seorang dark elf, dan dia adalah.."


"putri yang terbuang..!" Lyra melanjutkan.


"Oracle mengatakannya padaku, tapi aku tak menyangka kau akan bertemu dengannya, mungkin itu tujuannya meminta kau pergi ke Proxima."


"Aku bertemu dengannya di Enigma."


"Apa?" Lyra kembali terkejut.


"Mercia kau telah mengunjungi tiga dunia, bahkan seorang Proxima tak ada yang bisa melakukannya." kata Lyra.


"Lady Lyra aku harus kembali ke Proxima, aku butuh bantuan kalian semua?"


"Ada apa, apa yang bisa kami bantu?" tanya Lyra.


"Hedya sudah berapa banyak orang yang kau temukan?"


"kurang dari seratus orang, tapi tidak semua seorang petarung."


"Kumpulkan mereka kalian pilih siapa yang siap untuk pergi ke Proxima."


"Mercia apa yang sedang terjadi?" tanya Lyra.


"Kita menuju kerajaan Galan..., kita akan berperang."


Hening.


Suasana ruangan yang sebelumnya terasa sangat hangat kini berubah menjadi menegangkan.


"Baik, aku akan mengumpulkan mereka semua, mungkin butuh waktu satu hari untuk mereka datang kesini."


"Baiklah."


Satu persatu pergi meninggalkan ruangan itu, hanya tinggal August, Rafael dan valery. Valery melirik menatap ke arah Rafael. Rafael sangat mengerti maksud tatapannya, ia menghela nafas panjang lalu mengangguk.


"August ada yang harus kami katakan padamu, mungkin ini tak ada artinya bagimu, tetapi kau tetap harus tau kebenarannya." kata Rafael.


August membalikan badannya. "Rafael.., ada apa?"


"ini.. ehm.. ini.." Rafael ragu mengatakannya.


"Katakan saja, sejak kapan kau jadi begitu segan?"


Valery akhirnya angkat bicara.


"Ini tentang Julia."