MERCIA

MERCIA
42. Kemenangan Berakhir Duka.



Ledakan keras membuat tanah bergetar, debu dan asap berterbangan. perlahan-lahan debu dan asap menghilang tampak kubah cahaya keemasan muncul.


"kau ini wanita bodoh, untuk apa kau datang kesini, mengapa kau selalu membuatku susah?"


Julia membuka matanya, ia terkejut matanya berkaca kaca.


"A.. a.. August.." Julia langsung memeluknya, air matanya berderai.


"maafkan aku.. aku terlalu cepat menyimpulkan.. aku.. aku.."


Kata kata itu terhenti ketika August ******* bibirnya. perasaan hangat muncul kembali, Julia tak kuasa menahan gejolak emosi di dadanya. beberapa saat lalu ia melihat August terbunuh, ia pun berada di ambang kematian, kini orang yang ia kira telah pergi itu kembali dan melindunginya.


"August jangan tinggalkan aku.. maafkan aku.." Julia dengan isak tangisnya.


"kita bicara lagi nanti, apapun yang terjadi jangan keluar dari kubah ini."


Julia mengangguk, August mengusap air mata Julia lalu mengecup keningnya. ia lalu berjalan keluar kubah itu. kini ia menatap tajam Gorran.


Gorran membelalakan matanya melihat August kembali muncul di hadapannya. bahkan Carrol, Lyra dan lainnya terkecuali Clara sangat terkejut. mereka semua melihat August terbunuh.


"ka.. kau.. aku sudah membunuhmu.."


"jika kau sudah membunuhku lalu dimana mayatku?"pqppp


Gorran dan lainnya melihat arah dimana sebelumnya ia melempar mayat August yang ia sudah hisap energinya. namun disana hanya terlihat sebuah batang pohon yang menghitam.


semua masih bingung dengan apa yang terjadi, tetapi Lyra tersenyum ia mengerti.


"Bibi apa yang terjadi?" tanya Carrol.


"Clara"


"August meminta Clara untuk membuat satu ilusi untuknya." jawab Lyra.


"Bagaimana kau melakukannya." Gorran terlihat kebingungan.


August tak menjawab, tangan kirinya mengeluarkan dua buah sinar berwarna hijau terang seukuran kelereng lalu mengirimnya ke arah Lyra dan Carrol. mereka berdua mengetahui itu adalah energi penyembuh, kejadian di kuilnya sangat membekas diingatan mereka, mereka pun membiarkan sinar itu mengenai tubuh mereka, seketika rasa sakit itu hilang, tenaga mereka pun pulih seperti semula.


"Katakan Brengsek.. bagaimana kau melakukannya?" Gorran mulaiq frustasi.


"Hanya temanku yang memanggilku August, Sampah sepertimu panggil aku Mercia."


August menerjang Gorran, tinju dengan kilatan cahaya merah, biru dan keemasan bertubi-tubi mendarat di tubuh Gorran. August melompat dan melayang sepuluh jarinya mengeluarkan kilatan cahaya berwarna hijau kearah Gorran.


treetet.. tretreet..


Gorran ingin menghindar tetapi kedua kakinya terbenam dalam balok es dan menguncinya hingga ia tak bisa bergerak, Lyra melecut cambuknya, melilit leher Gorran, Gorran menahan cambuk itu dengan tangan kirinya agar ia tidak tercekik. namun peluru emas yang di tembakan Hedya mengenai tangan kirinya, pegangannya pun terlepas ia semakin tercekik, Carrol melompat dan menghujamkan trisula miliknya ke arah jantung Gorran, bersamaan dengan itu, Lyra menarik kuat cambuk di tangannya. Leher Gorran terpotong, dan jantungnya tertikam trisula.


Crass... Jleb..


Tubuh Gorran mengejang sesaat dan akhirnya tumbang. membusuk lalu perlahan menjadi abu. Gorran dan seluruh kelompok kesatria merah telah dihancurkan.


Hedya dan lainnya keluar dari persembunyiannya. Julia berlari keluar dari kubah melompat kearah August dan memeluknya. August menahan bokong Julia menjaganya hingga ia tak terjatuh.


"satu tahun kita berpisah mengapa tubuhmu jadi berat seperti ini?" kata August.


"kau ingin bilang aku gendut?" tanya Julia mencubit pinggang August.


"aku akan memberimu pelajaran!" ancam Julia ia lalu mencium bibir August.


"bisakah kalian melakukannya setelah kami semua pergi dari sini?" kata Hedya memalingkan wajahnya.


Lyra sangat mengerti perasaan anaknya. ia pun berbisik "kamu cemburu?"


sontak wajah Hedya memerah "ibu apa yang kau bicarakan?"


"apa yang harus kita lakukan dengan mayat mayat ini?" tanya Ray.


"kita harus memakamkan James dan Lizzie secara layak, aku tak bisa meninggalkan mereka di sini." kata Valery.


Hedya berjalan ke arah mayat James dan Lizzie, ia mengeluarkan dua sinar oranye lalu di arahkan pada kedua mayat itu. tubuh mereka yang terkoyak kembali utuh. sementara August berjalan menghampiri Valery.


"Val.. maafkan aku tak bisa melindungi mereka." kata August.


"Tidak perlu meminta maaf, kami semua tau resikonya berada di sini, aku dan lainnya ingin meminta sesuatu darimu." kata Valery.


"apa yang bisa kulakukan?"


Valery mencengkram kerah baju August.


"aku berjanji." jawab August memeluk Valery.


Julia sendiri pun tersentuh mendengar penuturan Valery. ia pun mulai sedikit mengerti, ada tanggung jawab besar di pundak August. ia tak cemburu ketika August memeluk Valery. dunia ini bukan hanya tentang dirinya semata.


"Aku akan menghubungi kapten sanders agar mengurus pemakaman keduanya dengan layak" kata Hedya.


"terima kasih." kata Valery menghapus air matanya.


"mari kita segera pergi dari sini" ajak Carrol.


semua mengangguk setuju.


"August tunggulah aku akan mengambil mobilku." kata Julia.


"dimana mobilmu? aku tak melihatnya." tanya August.


"sekitar bangunan di belakang mobil itu." kata Julia menunjuk sebuah mobil off road yang berjarak sekitar tiga ratus meter darinya.


"baiklah."


Julia tersenyum lalu pergi meninggalkan August berjalan untuk mengambil mobilnya.


"apa kalian masih terluka?" tanya August pada Carrol dan Lyra.


"Tidak.., kami baik-baik saja semua berkat bantuanmu." jawab Lyra.


"apa rencanamu sekarang?" tanya Lyra.


August tidak menjawab. Lyra melihat wajah August berubah, tatapannya sangat waspada.


"ada apa?" tanya Lyra kembali.


pertanyaan Lyra membuat lainnya melihat ke arah August. August memandang sekelilingnya, punggung dan tengkuknya terasa dingin.


'perasaan ini.. ada bahaya di sekitar sini' pikir August.


melihat August memandang sekelilingnya, Lyra pun waspada.


"ada orang lain di sini." kata Lyra.


Mendengar perkataan Lyra sontak Carrol dan lainnya menjadi waspada.


"Tidak.. JULIAAA.. AWASSS...!" August berteriak melesat ke arah Julia namun terlambat. sebuah jarum hitam sepanjang jari orang dewasa yang menyala berwarna biru melesat mengenai pinggang kiri Julia dan menembus keluar dari pinggang kanannya.


wut.. jleb..


tak ada teriakan. tubuh Julia roboh, August menangkapnya.


"Bertahanlah.. aku akan menolongmu.." kata August ia mengeluarkan energi penyembuhnya, sinar hijau keluar dari tangannya mengalir ke dalam tubuh Julia yang terbaring di pangkuannya.


"Hahaha... kau tak bisa menolongnya dengan kekuatan penyembuhmu itu." terdengar suara seorang wanita yang tiba-tiba muncul diikuti empat orang lainnya.


August tak perduli perkataan wanita itu dia tetap berusaha mengobati Julia. Darah kini keluar dari mulutnya.


"jarum itu akan menghancurkan sel-sel dalam tubuhnya, dia akan mati membusuk, hahahaha..!" kata wanita itu lagi.


Amarah August mulai terlihat, Aura kemerahan mulai bercampur dengan energi penyembuh yang ia salurkan ke tubuh Julia. Julia kini diselimuti energi hijau bercampur merah.


"Julia bertahanlah.." August mulai panik, melihat Julia semakin lemah.


"hey tenanglah, tidak apa-apa," kata Julia memegang pipi August yang sudah basah karena air matanya.


"a.. apa ka.. kau men.. mencintaiku?"


"aku mencintaimu!"


"apa kau akan menikahiku"


"aku akan menikahimu, kita akan menikah di gazebo tepi danau" jawab August.


Namun Julia tidak mendengar jawaban August, matanya sudah terpejam, tubuhnya mengeluarkan cahaya putih menyilaukan, perlahan menguap, seluruh sel tubuhnya terpecah seukuran atom. hilang tak berbekas.


"Julia jangan pergi...!"


"JULIAAA...!"