MERCIA

MERCIA
39. Pertarungan Melawan Gorran.



Gorran dan pasukannya sudah memasuki kota Buckland. pemerintah Lumeria benar-benar tak berdaya.


"Hedya dimana Ibumu dan Carrol?" tanya August.


"kami di sini" kata Carrol yang baru saja keluar dari portal di belakang August.


"Apa rencana kita sekarang?" tanya Ray.


Semua melirik August.


"Kita harus menghabisi pasukan itu terlebih dahulu sebelum menghadapi Gorran."


"Carrol, James dan Lizzie serang mereka dari kiri, Hedya, Valery dan Ray dari kanan, aku, Clara dan Lady Lyra tetap di sini menjadi target mereka." kata August.


"Baik"


"Clara apa kemampuanmu selain membaca pikiran?" tanya August.


"Teleportasi dan membuat ilusi."


"Mengenai temanku apa kau bisa menyembuhkannya?"


"Aku bisa menghapus kenangan buruk yang menimpanya"


"apa kau punya baju tempur?" Lyra bertanya pada August.


"Aku tak punya, tapi aku punya ini!" August menunjukan lengan kirinya yang tiba-tiba terbungkus cahaya lalu muncul sebuah perisai segitiga.


Lyra tercengang. "perisai cahaya?"


"Aku tak sengaja menemukannya di danau biru Royan, warna biru danau itu ternyata aura perisai ini." kata August.


Lyra mengingat perkataan Oracle, tentang tiga buah simbol yang terlihat sebelum kekuatan kristal itu masuk ke tubuh August.


"aku juga menemukan jawaban mengapa kekuatan kalian sebelumnya berkurang."


"apa penyebabnya"


"sesuatu yang bukan berasal dari dunia ini, perisai ini salah satunya"


"salah satunya? apa kau menemukan lainnya?"


"aku menemukan sebuah kunci untuk membuka portal."


"kau bisa pergi ke proxima dengan kunci itu?"


"Tidak.. portal itu hanya bisa membawaku pergi ke tempat yang sudah pernah aku kunjungi sebelumnya."


"Tidak! kau salah." kata Clara.


"kau bisa pergi kemanapun bila kau mengetahui detil tempat yang kau tuju, membuka portal hanyalah tekhnik dasar dari teleportasi, aku bisa melakukannya hanya dengan melihat gambar atau memori seseorang. hanya saja membutuhkan energi yang sangat besar." tambahnya.


"apakah kau mau mengajariku?" pinta August.


"tentu." jawab Clara dengan senyum.


"mereka datang" Lyra melihat iring-iringan pasukan.


Gorran dan pasukannya sudah mengepung kota Buckland.


"Hahaha.. ternyata kau juga berada di sini Lyra." Gorran menatap Lyra dan lainnya.


"Ya.. hari ini aku akan membunuhmu." kata Lyra.


"Kau terlalu percaya diri, selama tiga puluh tahun aku membangun kerajaanku di sini, setelah menghabisimu aku akan mengambilnya kekuatan anak itu, menaklukan dunia ini dan kembali ke proxima untuk membalaskan dendamku."


"Pak tua.. kau ini ingin bertarung atau ingin mengisi kelas motivasi, aku ngantuk mendengarnya." August sengaja memancing amarah Gorran.


"Kau..! aku pastikan kau akan menyesal terlahir ke dunia ini." kata Gorran yang mulai tersulut emosinya.


"Hey pak tua.. lebih baik kau pensiun, pulang ke kampungmu lalu menanam sayuran." kata August yang terus memprovokasi Lord Gorran.


"Apa kau harus membuatnya marah" kata Hedya berbicara melalui alat komunikasi yang terpasang di telinganya.


"Hah..!"


Gorran semakin murka mendengar penghinaan August. "Habisi mereka semua" perintah kepada pasukannya.


"Clara kau jangan jauh-jauh dari kami." kata August.


Pasukan Gorran mulai menembak ke arah August, Lyra melebarkan kedua tangannya kesamping terbentuklah kubah pelindung yang tak tembus senjata mereka. Gorrran dan pasukannya belum mengetahui keberadaan Hedya dan lainnya, hingga ia hanya terfokus kepada August dan Lyra.


"Clara baca pikiranku, Carrol bersiaplah." kata August.


Clara mengangguk ia memejamkan matanya menadahkan kedua tangannya sejajar dengan pinggangnya. kabut tebal mulai menutupi area pertempuran itu. langit mulai dipenuhi awan mendung, hujan pun turun, bukan air melainkan es yang membentuk seperti mata anak panah yang runcing menghujani pasukan merah. sementara mereka yang terjebak dalam kabut mengalami halusinasi.. mereka melihat banyak monster dan binatang buas memakan rekan mereka dan berlari menyerang ke arahnya, mereka pun menembak membabi buta ke segala arah, akibatnya mereka saling tembak. teriakan kematian terdengar bersahutan. darah mulai menggenang.


Gorran geram, kurang dari lima menit hampir seratus orang pasukannya tewas dan puluhan lainnya terluka.


"Brengsek.. ada orang lain di sini! ada hybrid di sana habisi" kata Gorran menunjuk arah bangunan di mana Carrol dan lainnya bersembunyi.


Lizzie melihat puluhan orang menuju ke tempat mereka bertiga. ia mengambil sesuatu dari dalam sakunya. beberapa buah biji tumbuhan. ia menggenggamnya. terlihat cahaya di sela-sela jarinya. ia lalu melemparkan ke tanah melalui jendela. biji tumbuhan yan terjatuh ke tanah seketika berubah menjadi tanaman merambat penuh duri yang tumbuh semakin besar. menyerang orang-orang yang mendekatinya. sedangkan mereka yang lolos dari tanaman itu harus mati di tangan James, dengan pedang samurainya, ia mampu bergerak dengan kecepatan ekstrim. tak ada yang mampu memasuki tempat mereka.


Gorran hanya memandangi tempat dimana August dan Lyra berada. ia mengeluarkan bola sinar berwarna hitam dari telapak tangannya lalu melemparkan ke arah kubah pelindung yang dibuat Lyra. terjadi ledakan yang dahsyat. memecahkan kaca bangunan yang masih tersisa di sekitar area itu.


Blegarrr....!


Kubah itu lenyap, juga dengan kabut ilusi. kini pasukannya menerjang masuk ke dalam bangunan dengan beringas menuju atap bangunan dimana August berada, Lyra dan Clara menahan mereka yang naik ke atap gedung, sementara August menahan para hybrid yang mencoba melompat ke atap gedung


Gorran melihat sisi lainnya, tanaman berduri menyulitkan pasukannya, ia menghentakan kakinya ke tanah sekali, energi yang keluar dari kakinya masuk ke dalam tanah bergerak menghancurkan akar pohon itu, pohon berduri itu tumbang. James kewalahan menghadapi mereka semua, Carrol dan Lizzie memutuskan membantu James.


August dan lainnya benar-benar kerepotan, mengatasi pasukan yang tidak ada habisnya. langit kembali menghitam terdengar suara gemuruh, tiba-tiba muncul sebuah tornado besar berwarna kuning keemasan setinggi bangunan lima lantai di sekeliling tornado itu terdapat tiga buah bola yang mengeluarkan kilatan listrik menyapu pasukan Gorran. Hedya, Valery dan Ray telah menyatukan kekuatan mereka. tornado itu hanya muncul selama lima menit namun dua pertiga pasukan Gorran telah di habis dilumpuhkan, hanya tersisa kurang dari dua ratus orang.


August, Carrol dan Lyra tak menyianyiakan kesempatan ini, mereka menyerang membunuh semua yang tersisa. kini mereka bertiga dan Gorran saling berhadapan.


"Pak tua.. kesempatan terakhir, pulang kampung atau pulang ke neraka?" August mengejek.


"aku lebih suka mengirimnya ke neraka!" kata Lyra.


Gorran yang penuh amarah menyerang August dengan cepat. August hanya menghindar, tidak menangkis pukulan maupun tendangan dari Gorran.


"Mengapa ia hanya menghindar?" tanya Carrol pada Lyra.


"Dia sepertinya punya rencana, amati saja dahulu sebelum bertindak." kata Lyra.


Gorran sangat kesal pukulan dan tendangannya hanya mengenai ruang kosong.


"Hei bocah apa kemampuanmu hanya sebatas menghin..."


Perkataan Gorran terhenti ketika August dengan sangat cepat menghentakan telapak tangannya ke arah Gorran mengeluarkan sinar emas menghantam dadanya.


wusssh.. duar..


Gorran terpental sepuluh meter ke belakang, ia dengan reflek membalasnya dengan mengeluarkan sinar hitam dari tangannya ke arah August. kali ini August tidak menghindar ia menangkis sinar itu dengan perisai di tangan kirinya. sinar hitam yang mengenai perisai itu memantul balik lebih cepat dan lebih besar. Gorran terkejut melihatnya, ia tak sempat menghindar sinar itu mengenai dirinya sendiri.


Duarrr.


Ledakan lebih besar dari sebelumnya membuat ia kembali terpental ke belakang sejauh lima belas meter. tubuhnya mengeluarkan asap hitam dari mulut dan hidungnya keluar darah hitam. Gorran bangkit berdiri sambil memegang dadanya yang sesak.


"Bagaimana kau bisa memiliki perisai cahaya itu?" tanya Gorran heran.


"aku membelinya di marketplace COD, dengan seribu dollar pemberianmu" jawab August acuh.


"Brengsek" Gorran memejamkan matanya sesaat, ia mengeluarkan inti kekuatannya, tanah yang ia pijak menjadi cekungan seperti tak kuat menahan bobot badannya, tanah yang berwarna coklat kemerahan disekitarnya perlahan menjadi hitam.


"August jangan sampai kau tersentuh olehnya." kata Lyra.


August mulai waspada. Hedya dan lainnya melihat pertarungan itu dengan tegang.


'Clara apa kau bisa mendengarku?' August berbicara dalam pikirannya.


'aku mendengarmu' kata Clara. ia tiba-tiba terkejut.


'kau bisa melakukannya?' tanya August.


'beri aku waktu' kata Clara.