MERCIA

MERCIA
40. Serigala Neraka.



Tok.. tok.. tok..


Rafael membuka pintu rumahnya ia terkejut.


"Julia?"


"Aku ingin bertemu Aruna." kata Julia.


"Aruna tidak ada, dia sudah pergi." kata Rafael.


"Dimana rumahnya? aku akan mengunjunginya." kata Julia.


Rafael bingung menjawab pertanyaan Julia.


"Mengapa kau diam?" tanya Julia.


"aku tidak tahu." kata Rafael.


"bukankah kau sepupunya? tolong aku.., ada yang ingin aku bicarakan dengannya."


"tidak ada yang bisa menemuinya." kata Rafael.


"apa kau tak mau membantuku karena sikapku terhadap August?"


Julia kecewa ia pun melangkah pergi, setelah beberapa langkah Rafael memanggilnya.


"Julia tunggu.., aku tak bisa mengatakan di mana Aruna tinggal, tetapi ia berpesan bahwa ia merasa bersalah, karena dirinya kau menjadi salah paham terhadap August, ia meminta maaf."


"aku rasa kau sudah tau kebenarannya, semua tidak sesederhana yang kau pikir, kau tidak bisa bersamanya dengan cara yang biasa."


"apa maksudmu?" tanya Julia.


"Menurutmu apa yang dilakukannya di kota Buckland?"


**


Gorran menyerang August dengan tinjunya, August menunduk berguling ke samping kirinya dan melompat ke udara lalu tangan kanannya mengayun setengah lingkaran dari bawah ke atas munculah sinar berbentuk bulan sabit mengarah ke arah lengan Gorran dan memotongnya. semua terjadi dalam sepersekian detik.


wusssh.. crass..


tangan kanan Gorran terpotong menyemburkan darah hitam. tapi anehnya ia justru tertawa bukan merasakan sakit.


"Hahaha.. boleh juga kemampuanmu." kata Gorran.


August dan lainnya tercengang melihat tangan yang telah terpotong dan jatuh di tanah itu langsung membusuk dan berubah menjadi tumpukan abu, sementara bekas luka potongan itu perlahan tumbuh tangan yang baru.


"apa kalian terkejut? huahaha.." tanya Gorran dengan suara tawa yang menyeramkan.


Gorran mengangkat tangan kirinya mencengkram ruang kosong. August yang melihat itu merasakan lehernya tercekik. tubuhnya yang sedang melayang itu tertarik ke arah Gorran. August kesulitan bernafas. Lyra dan Carrol tak tinggal diam mereka serempak menyerang Gorran bersama.


Carrol menghujamkan dua trisula miliknya ke tanah, dari balik tanah muncul bongkahan es yang sangat runcing bergelombang ke arah Gorran, ia lalu melayangkan tubuhnya menghentakan telapak tangannya ke depan, serpihan es yang tajam menerjang ke arah yang sama.


Sementara Lyra di tangannya muncul sebuah cambuk dengan sinar kemasan. Ia melecut cambuk itu ke arah Gorran. Melihat dua serangan ke arahnya, Gorran tersenyum remeh, ia menangkap cambuk Lyra dengan tangan kirinya, lalu kaki kirinya ia hentakan ke tanah dengan keras, dari dalam tanah muncul batu hitam bergelombang menuju bongkahan es, keduanya bertemu dan terjadi ledakan.


Duarrr.. serpihan es yang seperti mata panah ikut lenyap, Carrol terpental sepuluh langkah, sementara Lyra kehilangan keseimbangan karena efek ledakan barusan. Gorran melihat itu segera menarik cambuk yang terlilit di tangan kirinya, seketika itu juga tubuh Lyra tertarik ke arah Gorran, Gorran menghantam dada Lyra dengan sikutnya. kejadian super cepat itu membuat Lyra tak mampu menghindar, tubuhnya terpental, dadanya sesak seperti di seruduk banteng, darah keluar dari mulutnya.


Gorran kembali menatap August yang sudah mulai kesulitan bernafas mengarahkan kedua jarinya kearah Gorran secarik sinar biru keluar menghantam pinggang Gorran.


zap.. cras.. hegh..


Gorran mundur dua langkah, terlihat luka memar merah kehitaman di sekitar pinggangnya. August terlepas dari cengkramannya. ia terbatuk-batuk menahan sakit di lehernya, ia mengalirkan energi penyembuh ke lehernya, sakitnya perlahan mereda.


Gorran tak memberi kesempatan kepada August untuk memulihkan dirinya, ia melompat menerjang August dengan tinjunya. tapi tiba-tiba sebuah tanaman berduri muncul dari dalam tanah menangkapnya di udara dan melilit tubuhnya, bersamaan dengan itu terdengar tembakan sebuah peluru emas mengarah kepadanya.


dor.. ahh..


"Brengsek"


Gorran mencengkram tanaman itu dengan kuat dan mengalirkan energi dari tubuhnya, tanaman itu perlahan menjadi hitam, layu lalu menjadi abu. Gorran terbebas, namun tak lama sebuah angin tornado seukuran rumah menghantam dirinya, mengangkat dirinya ke udara lalu menghempaskannya ke tanah hingga membuat sebuah cekungan. belum sempat ia bangkit sebuah bola sinar dengan kilatan listrik menempel di tubuhnya sebelum meledak


Drrrt.. Drrrt.. blarr..


Gorran semakin terdesak, Carrol kembali menghujamkannya trisula miliknya ke tanah, sementara Lyra menghentakan kedua telapak tangannya bergantian berkali kali mengeluarkan sinar berbentuk cakram tipis berwarna putih keemasan. Gorran mengepalkan kedua tangannya lalu menyilangkan di depan dadanya. terbentuklah perisai tak kasat mata menangkis kedua serangan itu yang mengakibatkan terjadi ledakan berkali-kali.


Duarr.. duar.. duar..


Ledakan terhenti, Gorran mengira serangan bertubi-tubi itu telah usai, perkiraannya salah, ketika ia membuka perisainya sebuah samurai kecil menancap di perutnya.


wuut.. jleb. akhh.


Gorran menatap James dengan amarah, namun ketika melihat kearah atas ia melihat August mengarahkan tinjunya padanya. terlihat tangan August mengeluarkan kilatan berwarna biru. Gorran terlambat tinju August mengenai dadanya, ia terpental menembus bangunan dua lantai, lima belas meter di belakangnya.


August kembali melompat dan melayang di udara, ia membentuk segitiga dengan jempol dan telunjuk kedua tangannya didekat dadanya, keluarlah sinar biru melesat ke arah bangunan dua lantai tersebut.


BLARRR.. bruk.. bruk.. bruk..


Bangunan itu hancur tertutup asap dan debu.


"apakah dia sudah mati?" tanya Carrol.


hening.


August perlahan turun. ia tetap waspada mengamati reruntuhan itu, Carrol dan lainnya pun akhirnya mengerti ini belum berakhir.


tanah disekitar mereka perlahan bergetar, dan semakin kuat, puing reruntuhan bangunan itu terangkat melayang lalu terjadi ledakan.


Duar...!


Puing reruntuhan hancur, kini Gorran telah bangkit berdiri kembali. tubuhnya satu setengah kali lebih besar dari sebelumnya. saat ini tingginya sekitar dua setengah meter, otot tangan dan kakinya sangat besar dengan urat yang menonjol keluar.


"Aku tak menyangka harus menggunakan kekuatan puncakku untuk membunuh kalian semua." kata Gorran.


'darimana dia mendapatkan kekuatan ini' pikir Lyra.


Gorran mengambil lima buah batu hitam dari balik sakunya, ia meremasnya dalam genggaman tangannya lalu melemparkan ke tanah. batu itu bergetar terdengar suara 'krak' dari setiap batu. batu itu retak dan akhirnya pecah. terlihat sebuah gumpalan hitam padat yang melompat lompat, dan semakin besar setiap kali melompat. setiap gumpalan itu perlahan membentuk sosok hewan seperti serigala berwarna hitam seukuran mobil sedan dengan bulu yang runcing memenuhi sekujur tubuhnya dengan sorot matanya yang berwarna merah menatap tajam August dan lainnya.


"makhluk apa itu?" tanya Carrol.


"Warg.. serigala neraka, makhluk itu hanya mitos, aku tidak tau bagaimana bisa Gorran mendapatkannya." Lyra tak menyangka, setelah pertarungan terakhirnya melawan Gorran tiga puluh tahun lalu kini ia melihat kemampuan Gorran berada di atasnya.


"Bunuh mereka" kata Gorran.


Kelima monster serigala itu berlari menyerang target yang berada di depan mereka. August menghindar dari terkamannya dengan menggulingkan badannya ke samping kirinya lalu menendang setengah putaran kepala hewan itu. hewan itu terpental sejauh lima belas meter. Lyra dan Carrol pun berhasil memukul mundur serigala, tetapi belum bisa membunuh hewan tersebut.


dua ekor serigala lainnya berlari ke arah James dan Lizzie yang berdiri di belakangnya, Lizzie mengangkat tangannya sebuah tanaman berduri muncul dari dalam tanah melilit salah satu serigala, namun bulu runcing tubuh hewan itu mengoyak tanaman berduri miliknya, sebelum terlepas James mengayunkan pedang ke arahnya


Tringgg..


Percikan api muncul ketika pedang James mengenai tubuh hewan itu. James tercengang, naas baginya ia tak bisa menghindar serangan serigala lainnya yang menerjang ke arahnya, lehernya terkoyak, serigala yang terlepas dari tanaman berduri pun ikut mencabik-cabik tubuhnya. James tewas.


"James..!" teriak Lizzie syok.


"Lizzie cepat pergi..!" teriak Valery.


Lizzie tersadar ia melihat dua ekor serigala melompat menerkamnya.


"Lizzie...!"