MERCIA

MERCIA
77. Sylvana dan Sonja.



Sylvana duduk berlutut di atas tanah, tiga orang mengelilinginya, satu tangan masing-masing dari mereka menyentuh pelipis kiri, kanan dan bagian belakang kepala Sylvana, sedangkan tangan lainnya mereka angkat ke atas dengan telapak tangan terbuka seperti layaknya sedang menyapa atau memanggil seseorang dari jauh.


August tampak semakin gugup penuh kekhawatiran ketika melihat tangan-tangan yang memegang kepala Sylvana mulai mengeluarkan cahaya putih. tubuh Sylvana bergetar bersamaan dengan munculnya bola sinar putih besar yang muncul di atas tangan mereka bertiga yang terangkat.


Hal yang terjadi selanjutnya benar-benar mengejutkan August yang pertama kali melihatnya, bola putih bersinar itu perlahan-lahan membentuk sebuah potongan gambar yang bergerak, seperti layar hologram yang menampilkan sebuah tayangan video, visual memori dari pandangan mata Sylvana sedangkan suara yang terdengar keluar dari mulut tiga orang yang mengelilingi Sylvana, semua mata melihatnya dengan penuh ketegangan.


"Ibu.. ibu.. tolong aku.. aku takut.. ibu.. dimana kau.."


"Sylvana tetap di belakangku...!"


"Bibi dimana ibu.. aku takut.. aku ingin bersama ibu."


"Ibumu akan segera kesini, tenanglah Sylvana aku akan menjagamu."


Seorang wanita yang tampak anggun dengan tiara emas berlari mendekat.


"Itu ratu Eirana." kata mereka bersahutan melihat visual memori.


"Ibuuu..." Sylvana berlari, Eirana segera memeluk Sylvana.


"Kau tidak apa-apa?"


"Ibu.. aku takut.."


"Semua berkumpul lindungi ratu dan putrinya." perintah wanita yang sebelumnya dipanggil bibi itu.


"Quenzie, mereka bukanlah manusia, mereka adalah pasukan iblis Clawrit, kita telah diperdaya oleh mereka untuk membenci manusia." kata Eirana.


"Apa yang harus kita lakukan kak?" tanya Quenzie.


"Bawa Sylvana pergi ke Enigma, kalian berdua akan aman."


"Tidak, kau ibunya kau yang bawa dia, aku akan menahan mereka di sini."


"Quenzie.. mereka telah merebut Moonheaven, dan masih mengejarku ke Proxima, kemana pun aku pergi mereka akan terus memburuku, aku tak bisa memaafkan diriku jika sesuatu terjadi padanya, Quenzie tolonglah aku mohon."


"Kau tetaplah hidup." kata Quenzie.


"Tidak.. ibu aku tak mau pergi dengan bibi, aku ingin pergi bersamamu."


"Sylvana dengarkan ibumu, kau akan pergi dengan bibi Quenzie menuju Enigma, disana kau akan menjadi kuat, kau akan bertemu dengan seorang kesatria hebat yang akan mendampingimu."


"Sylvana aku sudah melihatnya, bibi Luciana telah memberitahu bahwa kalian berdua akan menjadi penyelamat dunia ini, dan pada saat kau kembali aku akan memakaikan mahkota padamu, kau akan menjadi ratu dark elf terkuat yang pernah ada sepanjang sejarah bangsa kita. janganlah menangis Sylvana."


Sebuah bola api melesat ke arah mereka dan membuat semuanya terpental.


"Sylvana..."


"Quenzie cepat bawa dia pergi."


Quenzie segera menggendong Sylvana dan membawanya pergi. pandangan Sylvana mulai buram ia sekilas melihat sebuah panah menancap di pundak ibunya.


"Ibuu.."


"SUDAH HENTIKAN SEMUA INI.. TIDAK CUKUPKAH ITU SEBAGAI BUKTI UNTUK KALIAN SEMUA..?" kata August yang sangat emosi.


Ketiga wanita itu segera menghentikan aksinya. August berlari ke arah Sylvana yang masih duduk bersedih dengan air mata mengalir deras. August memeluk erat Sylvana dari belakang.


"Kau baik-baik saja?" tanya August.


"semua terlihat nyata." kata Sylvana.


"Itu memang kenyataan yang kau alami, kau akan baik-baik saja Sylvana."


"Violet apakah ibuku masih hidup?"


Violet lalu berlutut dihadapan Sylvana, dan akhirnya semua orang termasuk Pyriel berlutut, mereka akhirnya percaya wanita di hadapan mereka adalah Sylvana putri ratu Eirana, dan mereka juga meyakini kesatria yang dimaksud putri Eirana adalah seorang lelaki dari bangsa manusia yang saat ini tengah memeluk erat Sylvana.


"Putri ibumu masih hidup, tetapi kami tidak tau keberadaannya sekarang, apakah masih di tawan di istana emas itu atau di tempat lain."


"Mercia lepaskan aku, aku akan membebaskannya."


"Sylvana tenanglah.."


"Mercia jangan halangi aku."


"Aku akan membantumu membebaskan ibumu tapi tidak sekarang."


"semakin lama ibuku akan semakin dalam bahaya."


"Pikiranmu masih kacau Sylvana kau tidak berpikir dengan jernih."


"Kau tak mengenalku." Sylvana berontak dari dekapan August.


"Violet apa kalian memiliki bunga edianna yang mekar pada saat purnama?"


"Kami punya putri."


"Bawakan dua buah dan berikan pada lelaki ini."


"Sylvana apa maksudmu?"


Tak lama Sylvana kembali membawa sebuah kotak di tangannya, lalu ia serahkan pada August.


"Mercia kau boleh pergi, kesepakatan kita berakhir, dan aku ucapkan banyak terima kasih."


Perkataan Sylvana bagai belati yang menghujam hati August.


"Kau pikir aku membantumu hanya demi bunga ini?"


"pergilah.."


"Putri.."


"Diam Violet jangan ikut campur, kau ingin merasakan amarahku untuk kedua kalinya."


Violet kembali berlutut. "Maaf Putri."


"Apa yang telah kalian lakukan padanya?" tanya August pada ketiga wanita sebelumnya.


"Kami tidak melakukan apapun, hanya membuka ingatannya."


"Diamlah kalian tak perlu menjawabnya."


August tersenyum pahit. "Baiklah.., aku akan pergi, tapi izinkan aku bicara dengan Sonja."


Sylvana kali ini hanya mengedipkan matanya dan matanya berubah merah, August terkejut melihatnya.


"Kau ingin bicara padaku?"


"Sonja apa yang terjadi?"


"Apakah kau masih memegang kesepakatan kita sebelumnya?"


"Tentu.. maka aku akan tetap menjaganya, sekarang pergilah sementara waktu dan kembalilah padanya setelah beberapa lama, aku tercipta dari rasa kesedihan dan amarah, aku memendam kenangan buruknya selama ini tetapi ketiga wanita bodoh ini justru membukanya kembali."


"Maafkan kami putri."


"Apa dia bisa mendengar percakapan kita?"


"Tidak, saat ini ia sulit membedakan mana kenyataan dan ilusi."


"Apakah kau akan memegang kendali?"


"Tidak, aku harus berada di dalam untuk memperbaiki semua ini, jika tidak kau akan kehilangan kami berdua."


"Aku akan membuatnya merasa menjadi seorang anak kecil, setelah itu kau tak bisa bicara padaku sampai pikiran dan jiwanya kembali seperti semula."


"Apakah itu berbahaya?"


"Tidak ada cara lain."


"Bolehkah aku bicara" Pyriel memberanikan diri mengangkat kepalanya.


"Tu.. tuan Mercia..aku.."


"Panggil saja Mercia, bangunlah dan jangan takut, apa yang ingin kau katakan?"


"Aku mendengar di Proxima terdapat air kehidupan yang mampu mengembalikan pikiran dan jiwa seseorang yang terganggu, tetapi tempat itu sangat berbahaya."


"Kau tau dimana tempat itu? darimana kau mendengarnya?"


"Ayahku yang menceritakan padaku, air kehidupan itu berasal dari air sebuah danau di salah satu puncak gunung, mereka menyebutnya danau itu dengan sebutan danau naga karena di sanalah ratusan naga berada."


"Naga?" August tersentak ia teringat Nyx yang menyembuhkan Aruna.


"Nyx apa kau mendengarku? apa bisa kau menyembuhkannya?"


Kali ini semua kembali dibuat heran melihat August bicara sendiri.


"Jangan bilang kau juga seperti kami." kata Sonja.


tiba-tiba terdengar suara besar dan berat. semua mata menatap sekeliling mencari sumber suara.


"aku tidak bisa menyembuhkannya, dia berbeda dengan temanmu sebelumnya yang hanya terkena pengaruh sihir, tetapi aku bisa menunjukan jalan menuju danau itu."


"Sonja kau dan kalian semua jangan biarkan dia pergi dari tempat ini dan menyerang istana itu sendiri, aku akan kembali membawa air itu."


"Jangan lupa dengan kesepakatan kita." kata Sonja ia mengedipkan matanya mata merah kembali menghilang.


Sylvana melihat sekelilingnya. "Apa kalian melihat ibuku?"


Tidak ada yang berani menjawab.


"Mengapa kalian tidak menjawab? huuu.. huuu.. ibu.." Sylvana menangis tersedu-sedu layaknya seorang anak kecil.


August miris melihatnya. "Hey.. jangan menangis, ibumu dan bibi Quenzie sedang pergi ke kota besar untuk berdagang, sementara kau tinggal sama bibi Pyriel, ibumu akan membawakan hadiah yang banyak untukmu."


Pyriel tersedak mendengar Sylvana akan tinggal bersamanya.


"Benarkah itu paman, ibu akan memberikan hadiah banyak untukku?"


Kini August yang tersedak mendengar dirinya di panggil paman.


"Benar, asalkan kau berjanji tidak nakal dan menuruti apa kata bibi Pyriel dan bibi Violet."


"Uhuk.. uhuk.." Violet batuk.


"Aku tidak akan nakal, aku berjanji." Sylvana lalu berlari kecil mendekati Pyriel.


"Bibi.. aku lapar."


"Baiklah mari kita pulang ke rumah." kata Pyriel canggung.


Mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu.


"kalian semua ingatlah jangan menyinggung apapun tentang istana emas dan masa lalulnya, tetapi jangan menghindarinya. sekarang bubarlah." kata Violet.


semua membubarkan diri, kini di tempat itu hanya tersisa Violet dan August.


"Apakah kau akan pergi juga tuan.."


"Panggil saja Mercia."


"Aku minta maaf atas kecerobohanku, aku tidak tau kau adalah kekasih putri Sylvana."


'kekasih?' August menggaruk kepalanya.


"Tidak apa-apa."


"Jika kau ingin pergi aku akan mengantarmu tu.. eh Mercia."


August membuka kotak pemberian Violet, terlihat dua buah bunga edianna yang bersinar.


"Berapa lama bunga ini bersinar?"


"Selamanya."


"Apakah bunga ini bisa menyembuhkan kebutaan?"


"Bisa, masukan dalam air dan teteskan air tersebut pada mata yang buta, lalu minum air yang tersisa, kau bisa menyimpan kembali bunga itu."


"Baiklah terima kasih Violet, aku pamit pergi."


"Bagaimana kau pergi, apa kau tau arah keluar hutan ini?"


"Tidak perlu." kata August.


August meletakan dua jari tangan kanannya pada dahinya lalu memejamkan matanya.


"Clara"