
"Berhenti Jangan bergerak, kau memasuki wilayah kerajaan Healon."
"Siapa kau dan apa tujuanmu?" tanya salah seorang prajurit kepada seorang wanita yang hanya terlihat matanya. tubuh wanita itu dilapisi logam berwarna merah.
"Namaku Elda." ia lalu berjalan kembali.
"Aku bilang jangan bergerak. kalian tangkap dia."
Lima orang lainnya segera berlari ke arah wanita itu untuk menangkapnya, namun ketika mereka semua berjarak kurang dari dua meter, tubuh mereka semua terpental. Elda tetap berjalan tanpa memperdulikan mereka.
"Tahan.. kita laporkan saja pada raja atau putri." kata prajurit itu.
Salah seorang dari mereka akhirnya bergegas pergi menuju kerajaan Healon.
Sementara itu di dalam aula kerajaan Healon tampak Thurinor dan Nasyra serta beberapa petinggi lainnya sedang berkumpul di ruangan tersebut.
"Ayah bagaimana kau bisa memperbaiki bagian istana yang hancur itu dengan waktu secepat ini?" tanya Nasyra.
Kita sudah melupakan perselisihan dengan moon elves, dan mereka mengulurkan bantuan untuk memperbaiki semua ini, kau tau mereka sangat terampil.
"Berita apa yang kau bawa dari Proxima? dan kapan pacarmu itu mengunjungi kita lagi, katakan padanya aku minta maaf dan akan menyambutnya seperti seorang raja besar." kata Thurinor.
"Kau jangan mempermalukanku ayah, dia bukan pacarku."
"Hahaha.."
"Kami berhasil menggagalkan pasukan iblis menguasai Galan. tapi kemenangan itu harus di bayar mahal, raja Valon terbunuh."
"Aku memang tak begitu mengenalnya, karena Galan hanyalah kerajaan kecil. tapi dia tetap seorang raja, dan dia mati dengan cara terhormat membela kerajaannya."
"Apa ada hal lainnya?" tanya Thurinor.
"Armeda kini telah bersatu dibawah pimpinan Aruna."
"Itu sangat mengejutkan."
"Ada yang lebih besar lagi, Mercia berpikir serangan terhadap Galan hanyalah awal, dia berinisiatif mencegah hal yang sama terjadi lagi, pasukan iblis pasti mengincar kerajaan kecil lainnya, karena itu Mercia dan lainnya ingin membentuk Aliansi besar, dan saat ini ia telah mengirim dua ketua Armeda sebelumnya Nefia dan Myla untuk bernegoisasi dengan Gavaria."
"Ayah jika niatmu tulus untuk memperbaiki hubungan dengan manusia inilah saatnya."
"Apakah kalian punya pendapat lainnya?"
"Yang mulia kerajaan kita tak ubahnya, seperti Galan. selama ini kita berpikir manusia itu lemah tak layak dijadikan sekutu, tetapi kedatangan Mercia telah membuatku berpikir, mungkin secara umum mereka lemah, tapi tidak semuanya, ada di antara mereka yang sangat kuat." kata Raegel.
"Ada yang lain?"
"Yang mulia mungkin kita bisa mengamati terlebih dahulu apakah Gavaria menerima atau menolak bergabung baru kita mengambil keputusan." kata salah seorang petinggi.
"Aku tidak setuju. bila kita bergabung ketika Aliansi itu sudah kuat maka kita bukanlah prioritas, lebih baik kita bergabung secepatnya. Aliansi ini adalah bentukan Mercia, Kerajaan Galan hanyalah media, bukan berarti kita tunduk terhadap Galan."
"Bagaimana menurutmu Taflas, apakah kelompok kalian mengetahui hal ini?"
"Ketika aku kembali, aku menceritakan apa yang aku dan Aranthir alami ketika berada di dalam penjaramu, Raja Neldor bukanlah seeorang pengecut, ia adalah pemimpin terkuat dari moon elves yang pernah memimpin kami, aku sudah melihat sepak terjangnya di setiap pertempuran, tapi hanya pada saat itu aku melihat ketakutan di wajahnya ketika aku menceritakan tentang lelaki bernama Mercia itu."
"Taflas apa yang sebenarnya kau lihat?"
"Ia menguasai kekuatan penyembuh yang melebihi aku dan kelompok moon elves, ia memiliki kekuatan master Healer, dan ketika ia menghancurkan istanamu aku merasakan amarah pendragon."
"Karena ia memang memiliki semua kekuatan itu." kata Nasyra.
semua mata kini menatap Nasyra.
"Aku baru mengetahuinya ketika melihatnya dalam pertarungan. Orang-orang Armeda mengetahui siapa jati dirinya, dia adalah orang yang di pilih kristal suci, bahkan naga emas telah bersamanya dan mengabdi pada dirinya, kalian bisa tanyakan pada pasukan yang aku bawa, mereka semua menyaksikannya."
"Apa?" semua terkejut mendengar perkataan Nasyra.
"Baiklah.., Aku sudah putuskan akan bergabung secepat mungkin dengan mereka, aku akan berkunjung ke kerajaan Galan, Nardual persiapkan semuanya.
"Baik.. yang mulia Thurinor." jawab Nardual.
tak lama berselang seorang prajurit muncul dengan tergesa-gesa.
"Tuan.. raja.. seorang wanita bernama Elda telah menerobos penjagaan kami, dia kini menuju danau Dorrior."
"Elda adakah yang mengenalnya?" tanya Thurinor, tapi semua diam.
"Yang mulia wanita itu seorang dari bangsa manusia."
"Aku akan menemuinya." kata Nasyra lalu pergi tanpa menunggu respon Thurinor dan lainnya."
"Nasyra tunggu.. ah.. Raegel susul dia."
Raegel mengangguk lalu pergi menyusul Nasyra dengan membawa pasukan.
Beberapa menit kemudian Nasyra tiba di danau Dorrior, ia melihat wanita itu hanya berdiri di tepi danau.
"Jangan menggangguku, maka aku tidak akan menyakitimu dan kalian semua." kata Elda membelakangi Nasyra.
Raegel akhirnya tiba, Nasyra memberi isyarat pada Raegel dan lainnya untuk bersikap tenang.
"Benarkah kau yang bernama Elda?" tanya Nasyra.
"Benar, mengapa telinga kalian berbentuk lancip? apakah kalian bukan manusia?" tanya Elda.
"Kami bangsa elf, tapi kami tidak membenci manusia." kata Nasyra.
"Begitu.."
"Tempat ini wilayah kerajaan Healon mengapa kau masuk tanpa izin?"
"Aku tak butuh izin dari kalian."
Raegel mencabut pedangnya. "kau jangan mencari masalah di sini, kami memang tidak membenci manusia, tapi bukan berarti kau bisa berbuat sesukamu!"
"Raegel tenanglah.., apa kau tidak belajar peristiwa sebelumnya tentang Mercia?"
"Mercia?" Elda membalikan badannya.
"Apa kau kenal dengan Mercia?" tanya Nasyra.
"Aku tidak mengenalnya, ini kedua kalinya aku mendengar namanya."
"Elda apa tujuanmu kesini?"
"Tidak ada hubungannya dengan kalian, ada sesuatu di danau ini memanggilku."
"sesuatu?"
Elda kembali membalikan badannya, lalu maju dua langkah. kini air danau telah menyentuh mata kakinya. tubuhnya mulai mengeluarkan cahaya kemerahan, bersamaan dengan itu air di salah satu bagian danau itu bergejolak, sesuatu di dalam danau itu bergerak dengan cepat ke arah Elda. melihat riak gelombang yang tercipta, Nasyra dan Raegel waspada.
"Kalian semua waspada." kata Raegel pada pasukannya.
"Sss.. Akhirnya kau tiba, sss . aku sudah menunggumu ribuan tahun.. sss.." ular itu bicara.
suara desis ular itu membuat pasukan elf menutupi telinganya, mereka merasakan sakit hingga sebagian dari mereka telinganya mengeluarkan darah, Nasyra dan Raegel juga merasakannya, namun mereka mengalirkan energi ke telinganya untuk meredam kekuatan desisan yang terdengar.
"Kalian semua mundur..!" perintah Raegel pada pasukannya.
"Tahan, aku akan melindungi kalian." Lelaki tua berambut putih muncul membuat kubah pelindung dan mengobati pasukan itu. kini Taflas bergabung bersama Nasyra dan Raegel.
"Mengapa kau menungguku?" tanya Elda.
"Sss.. menjaga milikmu.. sss... pedang Angerage.. sss.."
"Pedang Angerage?" tubuh Taflas gemetar.
"Paman kau tau pedang itu?"
"aku pikir itu hanya mitos, pedang itu dijuluki pedang dewa oleh manusia Proxima. pedang itu dimiliki seorang kesatria yang melindungi para penduduk langit puluhan atau ratusan ribu tahun yang lalu."
"Mengapa kau kira aku pemiliknya?" tanya Elda.
"sss.. pedang itu.. sss.. memanggilmu."
Air danau kembali bergejolak seperti air mendidih, lalu tiba-tiba berubah warna menjadi merah darah, dari tengah danau muncul sebuah pedang merah menyala melayang diatas permukaan air, perlahan pedang itu menghampiri Elda.
"Sss.. terimalah.. sss.. pedang itu bisa menghancurkan apapun kecuali satu.. sss.."
"Apa itu?"
"sss.. kau akan mengetahuinya.. sss.."
Elda mengambil pedang yang melayang di hadapannya, cahaya merah semakin terang menyilaukan. tangannya mulai bergetar dengan hebat.
Blast...
Hempasan energi tercipta Nasyra, Raegel Taflas dan kubah pelindung hancur membuat semua terpental, cahaya merah telah menghilang bersamaan dengan hilangnya ular berkepala dua, air danau pun kembali seperti semula. di tangan Elda kini terlihat sebuah pedang kayu dengan simbol atau huruf aneh di tengah bilah pedang di kedua sisinya yang sesekali bersinar merah.
Elda melepaskan genggamannya, pedang itu pun menghilang. ia menengok ke arah Nasyra di belakangnya.
"Ular itu sudah lenyap, danau ini sudah aman." Elda menatap langit lalu melesat dan menghilang.
"Apa yang sudah terjadi?" Nasyra pelan.
**
Danau naga, Keesokan harinya.
"Ryn.."
Ryn yang sedang membereskan ruangan dalam gua terkejut mendengar Amara memanggilnya, vas bunga di tangannya terjatuh, sontak membuat Draco dan lainnya yang berada di luar bergegas masuk ke dalam gua yang berada di atas tebing.
"Putri kau sudah sadar?" kata Ryn terharu senang.
Amara melihat sekelilingnya, Ia melihat Ryn, Draco, Famir dan Roza.
"Terima kasih paman Roza kau telah menyelamatkanku, Ryn bagaimana dengan Gaemo?"
"Tuan putri, Gaemo sudah bukan ancaman lagi. Draco, Famir terima kasih, jika bukan karena kalian bertiga aku dan Ryn mungkin sudah mati."
"Maaf tuan putri bukan kami yang melakukannya, dan bukan paman Roza yang menyembuhkanmu." kata Draco.
"Maksud kalian apa?" Amara tampak bingung. tiba-tiba terdengar suara yang sangat ia kenal di telinganya.
"Kau sudah baikan?"
"Mercia.. apa itu kau?"
Draco dan lainnya memberi jalan, August menghampiri Amara, Amara langsung bangkit meraba wajah August.
"Kau benar-benar Mercia-ku." kata Amara terus memeriksa wajah dan tubuh August.
"Hey apa yang kalian lihat pergilah dari sini." kata Ryn mengusir Draco dan lainnya, lalu ia pun pergi.
Roza pun meninggalkan mereka berdua, ia tersenyum geli melihat tingkah Amara.
"Hey Amara berhentilah berpura-pura menjadi wanita buta, pamanmu yang lain telah memberitahuku, bahwa kau sudah sembuh ketika kau menemuinya." kata Roza lalu meninggalkan mereka berdua.
"Paman.." wajah Amara memerah, namun ia segera memeluk August ketika Roza telah pergi.
"Syukurlah kau sudah sembuh, karena aku sudah berhasil menemukan bunga edianna untuk menyembuhkan matamu, aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk mengobatimu."
"Kau melakukannya untukku?"
"Ya tentu saja."
"Terima kasih." Amara senang sekali mendengarnya.
tiba-tiba August tersentak.
"a.. apakah paman lainnya yang di maksud adalah orang yang waktu itu ingin kita kunjungi?"
"Benar.."
Keringat dingin mulai muncul di kening August.
"a.. a.. apakah kau su.. dah sembuh ketika kau menemuinya?"
"sudah.."
Wajah August semakin memucat.
"se.. se.. jak.. ka.. k.. ka.. pan k.. kau.. sem.. semm.. buh?
"sejak kau memberi air dan memijit keningku sebelum kita menemukan pohon raksasa."
glek.
"HAH.. jadi kau melihat waktu aku.. anu.. em di pohon besar itu?"
"Aku melihatnya tapi tidak sejelas pada saat kau mandi di sungai." kata Amara menahan tawa.
August mengingat kejadian itu ia menanggalkan seluruh pakaiannya di hadapan Amara.
"Lepaskan aku" August berontak melepaskan pelukan Amara.
"Hey kau mau kemana hahaha..?" tanya Amara sambil tertawa lepas.
"BUNUH DIRI..!"