MERCIA

MERCIA
56. Setia Menunggumu.



Lelaki itu melompat lebih tinggi dari wanita itu dan membuka kedua telapak tangannya dengan cepat. sebuah gelembung udara transparan muncul dan membungkus tubuh wanita itu dan mendorongnya dengan cepat ke bawah menuju sebuah pohon besar.


Wanita itu terkejut, ia berusaha mengontrol gerak tubuhnya untuk keluar dari gelembung tersebut. di tangan kanannya muncul sebuah tombak emas. siapa lagi wanita yang memiliki tombak emas? wanita itu adalah Aruna.


Aruna menikam gelembung itu dengan tombaknya, tapi usahanya sia-sia, gelembung itu berubah menjadi sebuah tali berwarna keemasan dan mengikat dirinya pada sebatang pohon besar.


Lelaki itu turun perlahan ketika melihat Aruna sudah tak berdaya dalam jeratan tali yang mengikatnya.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku? apakah kau tau darimana aku berasal." kata Aruna panik.


Lelaki itu tetap diam berjalan menghampirinya dalam keadaan menunduk, ia membuka buff yang ada di wajahnya lalu tiba-tiba ia mencium bibir Aruna dengan lembut. Aruna mencoba menghindari, tetapi tangan lelaki itu sangat kuat menahan kepalanya untuk tidak bergerak, tombak emas di tangannya pun tak bisa bergerak. ia hanya bisa pasrah lelaki itu mencium bibirnya.


setelah beberapa saat, lelaki itu menghentikan ciumannya dan membalikan badannya.


"Bajingan aku akan membunuhmu." kata Aruna penuh amarah.


"Apa kau tidak bosan selalu ingin membunuhku."


Mendengar suara lelaki itu tubuh Aruna merinding, Jantungnya berdegup kencang, suara itu sangat familiar di telinganya.


"A.. August?" suara Aruna bergetar.


August membalikan badannya dan tersenyum. amarah Aruna seketika lenyap matanya berbinar tombak dalam genggamannya menghilang.


"Benarkah itu kau?" tanya Aruna tak percaya.


"ini aku." kata August.


"lepaskan aku cepat." pinta Aruna.


"tidak mau, kau akan membunuhku." kata August.


"August ayolah jangan bercanda lagi." kata Aruna.


August menjentikan jarinya tali yang mengikat tubuh Aruna seketika menghilang, Aruna segera menghampiri August dan memeluknya.


"cium aku lagi." kata Aruna.


"aku sudah menciummu." kata August.


"tadi aku tidak tau itu dirimu, aku belum siap." kata Aruna.


'Sial mengapa aku jadi seperti ini dihadapannya.' pikir Aruna.


Lamunan Aruna terhenti ketika August ******* kembali bibirnya, perasaan hangat kembali ia rasakan. ciuman panas itu terhenti ketika terdengar suara wanita.


"ehem.. kau baik-baik saja Mercia?" kata Sylvana yang merasa tidak nyaman melihat August bersama seorang wanita.


Aruna melirik ke arah Sylvana, ia pun merasa tidak nyaman melihatnya, terlebih penampilannya Sylvana lebih sexy darinya.


"siapa dia? apa kau sekarang berpacaran dengan elf?" tanya Aruna. baginya dan wanita pada umumnya, kehadiran wanita cantik di hadapan lelaki yang disukainya adalah sebuah ancaman.


Mendapat pertanyaan seperti itu dari Aruna, August pun berhati-hati untuk menjawabnya. hubungan sebelumnya bersama Julia memberikan dia sebuah pelajaran tentang sifat cemburu seorang wanita. alarm tanda bahaya mulai berbunyi nyaring di kepalanya.


"dia Sylvana temanku, aku baru bertemu dengannya hari ini, kami berdua ingin mengunjungi tempatmu, kami butuh bantuanmu, aku akan perkenalkan kau padanya." kata August.


Senyum terukir di wajah Aruna, betapa senang mendengar August ingin mengunjunginya, namun Aruna menyembunyikan perasaannya.


"Kau tau aku sangat sibuk, mengapa kau tak minta bantuan Aira?" tanya Aruna.


August mengerti maksud pertanyaan jebakan ini. 'hmm.. wanita ini sangat merepotkan sekali.' pikirnya.


"Ketika kita berpisah, aku berjanji pada diriku sendiri jika suatu saat menginjakan kakiku ke duniamu engkaulah yang pertama aku ingin temui, lagi pula kau lebih kuat dari Aira." kata August.


"apa kau tidak ingin bertemu dengan Aira?" tanya Aruna.


"tentu saja aku akan menemuinya, tetapi tidak sekarang, situasinya mendesak, dan aku benar-benar butuh bantuanmu, bukankah kau telah berjanji padaku akan membantuku sebelum kita berpisah?" kata August.


"Baiklah, aku akan membantumu." kata Aruna.


"Ayo.. aku akan menceritakan padamu semuanya." kata August.


"tunggu." Aruna menahan wajah August yang ingin membalikan badannya, ia kali ini mencium bibir August. Aruna sengaja memiringkan tubuhnya agar aksinya dilihat oleh Sylvana sebagai pesan terselubung 'dia adalah milikku.'


Sylvana membuang muka 'Mengapa aku sangat membenci wanita itu.'


August pun terkejut 'wanita dingin ini mengapa jadi seperti ini.' August melepaskan diri dari pagutan Aruna.


"Aruna cukup." kata August.


Aruna tersenyum penuh kemenangan.


August mulai bercerita bagaimana perkenalannya dengan Sylvana dan juga Nasyra yang ia minta untuk menemui Aira.


"Aku pernah mendengar jika Moonheaven itu adalah wilayah dark elf dan tempat itu sudah hancur, tapi jika temanmu ini yakin tempat itu ada setidaknya ia memberitahu apa yang membuatnya yakin jika semua anggapan selama ini salah." kata Aruna.


August melirik ke arah Sylvana menunggu tanggapannya.


"Bibiku merasa bersalah telah kehilangan peta itu, beberapa tahun kemudian, bibiku mendapatkan sebuah petunjuk ketika ia bermeditasi bahwa peta itu tidak hilang, peta itu akan datang kembali padaku turun dari langit di danau Dorrior, bertahun-tahun aku menunggu setiap hari di danau itu, ketika rasa frustasi dalam diriku sudah memuncak, aku melihat kau Mercia terjatuh di danau itu." kata Sylvana.


"Kau berpikir aku memiliki peta itu?" tanya August.


"itu kemungkinan pertama, yang kedua adalah dengan bantuanmu aku bisa mendapatkan peta itu, dan itu bukan kebetulan karena kau saat ini ingin mencari bunga edianna." kata Sylvana.


"Bunga edianna, mengapa kau ingin mencari bunga itu?" tanya Aruna pada August.


"Setelah kepergianmu, aku, Lady Lyra dan lainnya bertarung melawan Gorran dan pasukannya. kami berhasil membunuh mereka semua. tapi setelah itu muncul lima orang utusan Clawrit."


"Mereka adalah Alexys, Kallus, Javelyn, Leth dan Legira."


"Javelyn?" Aruna terkejut.


"kau mengenalnya?" tanya August.


"aku punya dendam pribadi dengannya, lalu apa yang terjadi?" kata Aruna.


"Alexys melukai Lyra, Kallus melukai diriku, dan Javelyn..." August tak melanjutkan kata-katanya, ia mengambil sebuah gulungan kain lalu menyerahkan kepada Sylvana.


"Kau benar aku memiliki peta itu." kata August.


"August.. apa yang Javelyn lakukan padamu?" tanya Aruna.


Sylvana menerima peta yang diberikan August. tetapi ia dan Aruna melihat perubahan ekspresi diwajahnya. tampak mata August berkaca-kaca.


"aku ingin mencari udara segar, kalian carilah tempat untuk kita bermalam." kata August lalu melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.


Sylvana dan Aruna saling pandang.


"Kau cari tempat menginap, aku akan menyusulnya." kata Aruna pergi meninggalkan Sylvana.


Setelah beberapa saat mencari, Aruna menemukan August tengah duduk di atas sebuah batu didekat tepi sungai. Aruna perlahan menghampirinya.


"Apa kau keberatan aku menemanimu?" tanya Aruna.


"Lakukan apapun yang kau suka, ini duniamu." kata August dingin.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Apa yang Javelyn lakukan padamu?" tanya Aruna.


"Jika aku harus memilih, aku tidak ingin kekuatan ini, kekuatan yang ada dalam tubuhku adalah kutukan. aku kehilangan orang tuaku, teman-temanku menderita, dan aku juga kehilangan dirinya, apa artinya semua ini?" kata August.


"Aku berjanji akan menjelaskannya pada Julia, kau akan bersama lagi dengannya." kata Aruna.


"Julia.. telah pergi, wanita itu membunuhnya." kata August air matanya menetes.


Mendengar itu seketika emosi bergejolak campur aduk di dada Aruna, satu sisi ia berpikir senang kesempatan mendapatkan August semakin besar, tetapi satu sisi lainnya ia pun sedih apa yang menimpa August merupakan pukulan telak yang akan membuat August menutup diri, dan akan membuat semuanya terasa sulit. Aruna tidak tau harus bersikap seperti apa saat ini. ia hanya mengusap air mata August dan memeluknya tanpa banyak bicara.


"Apakah semua ini sepadan?" kata August menatap sungai dengan tatapan kosong.


"aku akan membantumu membalas perbuatan wanita itu, kita punya dendam pada orang yang sama." kata Aruna lalu memalingkan wajah August ke arahnya dan mencium lembut bibirnya.


"Aruna aku tidak bisa melakukannya, aku belum siap untuk ini." kata August.


"Hush.. aku tidak minta banyak, aku hanya ingin kau tau aku akan setia menunggumu sampai kau siap membuka diri, aku ingin meminta satu darimu, saat itu tiba aku ingin kau mengatakannya langsung padaku meski kau tak memilihku." kata Aruna.


"Mengapa kau bersikap seperti ini Aruna?" tanya August.


"Takdir."


"Takdirmu adalah penyelamat dunia, sedangkan takdirku adalah mencintaimu." kata Aruna.


"Sekarang biarkan aku menghiburmu, melupakan kesedihanmu, aku tak akan membiarkan kau bersedih ketika bersamaku." kata Aruna kembali mencium bibir August yang sontak setelahnya ikut terpancing mengikuti aksi agresif yang dilakukan Aruna.


"Aruna cukup.., kita harus kembali sebelum Sylvana mencari kita." kata August.


"kita hanya kembali ketika kau sudah merasa baik." kata Aruna.


"Aku baik-baik saja, itu semua karena kau, terima kasih Aruna." kata August.


Aruna tersenyum "kau lebih suka kupanggil August atau Mercia?"


"Terserah padamu." kata August.


"bagaimana kalau sayang." goda Aruna.


"Mercia saja kalau begitu, aku benar-benar tidak percaya ada seorang wanita pembunuh berdarah dingin menggodaku." kata August.


"Hahaha.. baiklah ayo kita pergi Mercia sayang."


August tersenyum dan menggelengkan kepalanya. di benaknya ia masih memikirkan perkataan Aruna yang akan setia menunggunya. tetapi bagi August walau ia belum membuka diri, jika harus memilih maka ia akan memilih Amara wanita buta yang mirip dengan Julia yang memaksanya menikah.


Sementara bagi Aruna, ia sudah mengetahui ramalan tentang kristal itu, ia semula memilih untuk tak percaya, tetapi keinginannya terbentur dengan realitas yang ada, seberapa pun kerasnya ia menolak, ia tak bisa menghadapi kenyataan bahwa August dan Mercia adalah orang yang sama, takdirnya hanya mencintai seseorang kesatria milik sang phoenix. Aruna hanya berpikir sampai saat itu tiba ia hanya akan menikmati hari-harinya bersama orang yang ia cintai.