MERCIA

MERCIA
35. Hari yang Berat.



"Hey bukankah kita belum membunuh Gorran?" tanya August.


"tujuan kami berdua adalah kau, bukan lainnya, walau di awal tujuan aku dan Aira berbeda." kata Aruna


"Hey.. kalian harus senang bertemu keluarga kalian" kata August.


"Aku tidak bisa bertemu kau lagi." kata Aruna.


August mengerti. setelah mereka mengenal satu sama lain hubungan mereka semua sangat luar biasa. membuat perpisahan itu sangat berat. August merasakannya namun ia mencoba menutupinya.


"Hey Aruna kalian bisa mengunjungiku kapanpun kalian mau" kata August.


"kau tak mengerti, kami dari klan Armeda hanya bisa pergi jika kami di berikan tugas oleh ketua kami, mengenai Aira, klan Armeda terpecah di sana kami bermusuhan." air mata Aruna mulai membasahi pipinya.


August terkejut mendengar perkataan Aruna. kedua wanita ini menjalani kehidupan yang berat.


"August aku minta maaf, karena aku hubunganmu dengan wanita itu jadi.."


"Ssshhh.. tak ada hubungannya denganmu.." kata August.


Aruna menundukan wajahnya. August melihatnya mengangkat dagu Aruna menghapus air matanya.


"kapan kau kembali?"


"hari ini." jawab Aruna lalu membuka pintu mobil dan keluar.


August pun menyusulnya.


"Aruna tunggu." August mengejar Aruna meraih tangannya lalu memeluknya.


"Aruna aku ingin menanyakan satu hal" kata August.


"apa?"


"jika aku butuh bantuanmu dan aku minta Lyra menemuimu apakah kau bersedia membantuku? tanya August.


"aku akan datang, meskipun ketua melarangku." jawab Aruna dengan mata berbinar.


"terima kasih." kata August lalu memeluknya.


"Satu hal lagi yang kau perlu tau. aku tak pernah mencium Aira. aku hanya pernah mencium kau." kata August.


Aruna memerah mendengar pengakuan August.


"kau.. apa kau melakukannya saat aku pingsan?" tanya Aruna.


August tersenyum menggelengkan kepalanya.


"lalu.. kapan kau.."


"saat ini." potong August lalu mencium bibir Aruna.


Aruna terkejut namun ia membiarkan August ******* bibirnya. ciuman perpisahan yang panas. August mengakhiri ciumannya. wajah Aruna semakin merah.


"Aruna aku tak ingin kau kembali dengan sedih. kita pasti akan berjumpa lagi di masa depan." kata August.


"aku tak kan sedih, hey kau lah jiwa yang terpilih ingatlah namamu yang sekarang adalah Mercia." kata Aruna. portal di belakangnya terbuka ia pun masuk ke dalamnya.


August tercengang.


"Tunggu dari mana kau tau nama Mercia?" teriak August.


Aruna hanya tersenyum ia menghilang bersama portal itu. kita pasti berjumpa lagi. pikir August.


August mengemudikan mobil yang biasa Aruna bawa itu menuju ke sebuah pemakaman umum. dalam perjalanannya August masih teringat Aruna mengenang pertemuan mereka yang tak biasa.


empat puluh menit kemudian August tiba di pemakaman. rintik hujan turun perlahan, lama lama semakin deras. August tak memperldulikannya. ia tetap menelusuri area pemakaman, langkahnya terhenti di makam kedua orang tuanya.


"ayah.. ibu.. maafkan aku yang tak bisa melindungi kalian, aku tak bisa memenuhi harapan kalian, kalian susah payah untuk membiayai kuliahku, namun aku menghancurkannya. aku mengecewakan kalian."


air mata yang jatuh tersamar dengan air hujan, tetapi sebanyak apapun air yang terjatuh dari langit tak kan mampu menutupi kesedihan hatinya.


sebuah payung berwarna hitam muncul di atas kepalanya melindungi August dari derasnya hujan, walau pakaian August sudah basah kuyup, payung itu memberi arti tersendiri, seperti mengatakan biar terlambat aku masih tetap ingin melindungimu. Beberapa detik kemudian tercium semerbak aroma parfum yang sudah sangat ia kenal. jantung August mendadak berdegup kencang bagai kuda pacu. sudut bibir August mulai berkedut. mengumpulkan kekuatan dan keberanian untuk mengucap satu nama.


"Julia."


"Bagaimana kau tau itu aku?" tanya Julia. ia berdiri di samping kiri August dengan payung di tangan kanannya.


jika masih bersama mungkin Julia akan tergugah dan bersikap manja. tidak saat ini, Julia sudah menutup pintu hatinya.


"bagaimana kau tau aku ada di sini?" tanya August.


"resepsionis hotel itu temanku, dan aku juga melihat kau di tv" kata Julia.


mendengar itu August sudah merasa harapan kembali bersama Julia. sudah pupus.


"Kau tak perlu khawatir aku sudah merelakan dirimu." kata Julia.


"ngomong-ngomong kemana Aruna aku tak melihatnya bukankah ia harus menemanimu saat ini?" tanya Julia.


"Hey mengapa kau diam saja? apa aku salah bicara?" tanya Julia.


"Dia sudah pergi." kata August.


"Maafkan aku, apakah karena ada orang ketiga? oh maaf seharusnya aku tak bertanya yang bukan urusanku" kata Julia.


"Apakah kau sudah sangat membenciku seperti ini?" tanya August.


"untuk apa membencimu?" kata Julia.


"Julia aku layak kau benci, karena aku kau kehilangan kedua orang tuamu, karena aku pula Nora dan lainnya menderita. aku minta maaf, dan aku mengerti bila aku tak layak engkau maafkan." kata August.


"saat ini aku bukanlah orang yang sama, tanganku sudah berlumuran darah. Jacky dan Bryan sudah membayarnya, semua aset keluargamu akan di kembalikan padamu, dalam tiga hari datanglah ke rumahmu yang lama, seseorang akan datang menemuimu, seluruh aset black eagle akan dibagi kepada Rafael dan Nora. untuk Nora sudah aku pindahkan ke sebuah rumah pedesaan di wliayah timur, aku menitipkan kepada Ellias orang yang saat ini menyewa villamu. dia akan menjaga Nora sementara waktu. dan mencari seseorang yang bisa menyembuhkannya kunjungilah sahabatmu itu.


"Julia aku tak bisa mengembalikan semuanya yang telah hilang, aku hanya bisa memperbaiki semua ini semampuku. aku akan meninggalkan Royan dan tak kan muncul dalam hidupmu lagi. selamat tinggal."


August meninggalkan Julia tanpa melihat lagi kebelakang. tragedi ini menjadi pelajaran bagi dirinya. dengan kekuatan yang dimilikinya akan banyak musuh yang mengincar dirinya. ia tak ingin lagi musuhnya menyerang orang yang dekat dengannya.


Sementara Julia tak kuasa menahan air matanya. ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh August, namun ia tak berani bertanya. Ia takut penjelasan itu nantinya benar-benar membuat ia membenci August. Julia kembali ke mobilnya tak jauh dari tempat pertemuannya dengan August. ia mengamati August yang sudah jauh berjalan menuju mobilnya.


Julia pun melihat seorang wanita berjalan menghampiri August seperti memberikan sesuatu kepada August. mereka berbicara sebentar lalu wanita itu pergi dengan mobilnya. lalu August membuang sesuatu yang diberikan wanita itu ke dalam sebuah tong sampah yang berada tak jauh dari mobilnya. August pun pergi.


Julia mengitari area pemakaman yang luas itu menuju tempat August terakhir memarkir mobilnya. begitu tiba Julia melihat sekelilingnya, ketika merasa tak ada orang di sana, ia membalikan tong sampah itu hingga isinya berserakan, ia mengorek sampah itu menggunakan ranting pohon, tak lama akhirnya ia menemukan sesuatu.


"flashdisk?"


Julia memungut flashdisk tersebut lalu pergi.


Sebelumnya.


"August"


August menengok.


"Hedya, bukankah kau pergi ke tempat ibumu?" tanya August.


"aku menundanya, ada janji yang belum kupenuhi." jawab Hedya.


"Janji apa?" tanya August.


"Rekaman cctv yang kau pinta." Hedya menyerahkan sebuah flashdisk. August pun menerimanya.


"Aku tidak membutuhkannya lagi." kata August.


"Hey bukankah itu bisa memperbaiki hubunganmu dengannya?" tanya Hedya.


"aku tidak ingin kejadian yang menimpaku terulang kembali. dia lebih aman jika aku menjauh darinya. aku tak bisa memafkan diriku jika sesuatu terjadi padanya jika bersamanya." kata August.


"aku mengerti, lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Hedya.


"sesuai rencana, aku menunggu Gorran di kota Buckland." jawab August.


"dimana Aruna dan Aira?" tanya Hedya.


"mereka kembali ke proxima, tugas mereka telah selesai" kata August.


"aku akan memberitahu ibuku dan menyusulmu, berhati-hatilah." kata Hedya lalu pergi meninggalkan August.


setelah Hedya pergi, August membuang flashdisk pemberian Hedya ke dalam tong sampah. ia pun pergi.


Hari ini terasa sangat berat.