MERCIA

MERCIA
76. Persembunyian Dark Elf.



"Semua bersiap.. kuatkan diri kalian, kita tak akan kalah dalam pertempuran ini." Teriak Ravenna pada seluruh prajurit yang berada dalam istana. dihadapan mereka terlihat ribuan pasukan yang sebagian besar dari mereka bukanlah manusia.


Tiga dari mereka perlahan berjalan mendekat ke arah gerbang istana, Seseorang yang berada di tengah menaiki seekor hewan mirip serigala yang ukuran tubuhnya dua kali lebih besar dari seekor beruang, sedangkan dua orang di kanan dan kirinya hanya berjalan kaki. Mereka berhenti sekitar dua ratus meter dari gerbang istana.


"Raja Valon, orang yang di tengah itu adalah Kallus." kata Leth.


"Baik kita temui mereka, kau dan Ravenna ikut aku."


Leth dan Ravenna mengangguk. "Buka gerbang" kata seorang prajurit, gerbang terbuka, mereka bertiga menemui Kallus dan lainnya.


"Aku tak menyangka ada tamu besar berkunjung ke istanaku, tapi sayang kerajaanku tidaklah besar jadi aku tak bisa membiarkan semuanya masuk." kata Valon.


"Oh raja Valon, kau terlalu merendah, kau sangat baik sekali bahkan kau telah mempersiapkan bawahanmu untuk menyambutku, walau kulihat penyambutan itu tidak terlalu besar aku tetap menhargainya." kata Kallus yang mengamati para prajurit di sekeliling tembok istana itu.


"Maafkan aku tuan Kallus, penyambutan ini memang tidak terlihat mewah, tapi aku bisa meyakinkanmu, bahwa kau bukan tamu pertama, dan aku selalu punya hadian kejutan untuk tamu-tamuku sebelumnya, termasuk dirimu."


"Ahh.. aku selalu suka kejutan, bahkan saat ini aku sudah terkejut, aku jadi penasaran apakah raja Galan punya hobi menampung seorang pengkhianat?" tanya Kallus memandang Leth tajam dengan sorot mata ingin membunuh.


"Hahaha.. itu berita tidak benar, kalian pasti telah melihat mayat-mayat yang tergantung di pohon besar, mereka adalah pengkhianat, Leth telah membunuh semua, ia menyisakan beberapa orang saja pergi dengan membawa informasi yang salah."


"Tampaknya kau sangat sigap Leth." kata Kallus mengepalkan tangannya mengetahui informasi tentang kerajaan Galan yang ia dapat ternyata palsu.


"Anda terlalu memuji, aku belajar dari orang yang telah menipuku dan menyakiti adikku." kata Leth tanpa takut memandang Kallus walau ia tau Kallus jauh lebih kuat darinya.


"Aku sangat terkejut dengan Leth, ia bahkan memberikan sebuah informasi besar yang baru saja dapat." kata Valon.


"Informasi besar?" Kallus tampak penasaran.


"Karena kau tamu terhormatku aku akan memberitahu, seseorang yang sangat kuat sedang memburu pemimpin Leth sebelumnya, dia akan segera datang ke tempat ini, jika kau ingin tau siapa orang itu, kalian semua bisa menunggunya. kata Valon.


"Hahaha.. kau sangat menghibur sekali raja, baiklah cukup basa-basinya, kedatanganku adalah ingin membuat kesepakatan denganmu." kata Kallus.


"Kesepakatan apa?"


"Hanya kesepakatan kecil, kau tunduk dengan kami, dan jadikan kerajaanmu menjadi basis kekuatan pasukan Clawrit. bila kau setuju seperlima Proxima akan menjadi milikmu."


"Tawaranmu sangat menggoda, bolehkah aku meminta waktu untuk memikirkannya?"


"Aku akan memberimu waktu hingga tengah hari."


"itu terlalu cepat, bagaimana jika kalian menungguku di sini hingga aku menjadi kakek-kakek dan mati?"


"Jika begitu aku bisa membantumu untuk mati." kata Kallus merasa dilecehkan.


"Baiklah, tak ada yang bisa kita bicarakan lagi, Leth.., Ravenna.. kita kembali." mereka bertiga kembali ke istana.


Kallus memandang punggung mereka bertiga dengan rasa amarah didadanya.


"Apa perintahmu tuan Kallus?" tanya seorang yang berdiri di samping kanannya.


"Ratakan istana ini, tapi sebelum kalian menyerang bunuh semua informan."


"Baik." mereka bertiga pun kembali.


Kallus tampak gusar setelah mengetahui informasi yang ia dapat tidaklah akurat, ia memikirkan kartu apa yang Valon punya hingga membuat kerajaan kecil itu tidak takut padanya yang datang dengan delapan ribu orang pasukan, bahkan sebagian mereka bukanlah manusia, melainkan orcs, troll dan lainnya yang lebih kuat dari manusia.


Kallus mengangkat tangannya lalu ia gerakan ke depan.


"SERANG MEREKA...!!" teriak pengawal di sampingnya.


Lima buah ketapel besar bergerak maju lalu mulai melontarkan batu-batu yang sangat besar ke arah istana. pertempuran akhirnya pecah.


**


Moonheaven.


Violet menuntun August dan Sylvana masuk jauh ke dalam hutan yang sangat lebat itu, dengan kemampuan mereka bertiga gelapnya malam tak mempengaruhi penglihatan mereka. terlihat dari kejauhan titik-titik cahaya, setelah mendekat titik-titik cahaya itu bersumber dari obor yang berada di sebuah pemukiman.


"Ini adalah tempat persembunyian dark elf." kata Violet.


Jantung Sylvana berdegup kencang.


Beberapa orang muncul menyambut kedatangan Violet dan sebagian dari mereka tampak waspada melihat dua orang asing di belakang Violet.


"Mengapa kau baru kembali? Siapa mereka? apa kau lupa aturan kita untuk tidak membawa manusia ke tempat ini?"


"Pyriel.., kumpulan semuanya ada hal besar yang kalian semua harus tau." kata Violet.


"Apa maksudmu Violet?" tanya seorang lainnya.


"Lakukan saja, aku akan menjelaskan semuanya."


Wanita bernama Pyriel itu memberi isyarat pada pria elf di belakangnya, tak lama puluhan elf lainnya berkumpul.


"Semua sudah berkumpul, sekarang cepat jelaskan apa maksud semua ini."


Violet membungkuk ke arah Sylvana. Sylvana mengerti ia berjalan dua langkah, kini ia berada di samping Violet.


"Kalian semua dengarlah, penderitaan kita tak lama lagi akan berakhir, kalian lihatlah namanya adalah Sylvana dia adalah putri dari Eirana."


Sontak perkataan Violet membuat gaduh semua orang termasuk Pyriel. mereka saling berbisik, ada yang senang, ragu, banyak pula yang tidak percaya.


"betul.. betul..!" teriak lainnya, membuat mereka yang sebelumnya senang menjadi ragu, dan yang ragu akhirnya tak percaya.


"Mengapa kalian tidak mempercayaiku, aku tidak pernah berbohong pada kalian, setiap pertempuran aku selalu berada di depan. aku membangun tempat ini, tetapi setelah semua itu, kalian semua seolah-olah ingin mengusirku pergi?"


hening. semua merasa tertampar.


"Violet, tenanglah.., aku akan sangat senang jika semua yang kau katakan itu benar, tetapi dia harus membuktikan bahwa ia memang putri ratu Eirana." kata Pyriel.


"Kau ingin bukti apa?" Sylvana membuka tudung di kepalanya.


"Hanya ada satu cara, kami harus melihat sendiri isi pikiranmu, namun ada konsekuensinya, jika kau berbohong, pikiranmu akan rusak, kau akan menjadi gila."


"Bagaimana jika aku benar?"


"kami semua akan mengabdi padamu."


"Baiklah, silahkan lakukan."


"Sylvana tunggu.." kata August.


Sylvana menghampiri August yang memanggilnya.


"Apa kau juga tak percaya padaku?"


"Sylvana aku percaya padamu, tapi aku khawatir jika itu sudah menyangkut alam pikiran."


"Kau takut aku mengalami hal seperti Aruna?"


August mengangguk pelan. "ya."


"Aku tidak takut, karena kau selalu memegang janjimu, kau akan selalu menjagaku, bukankah begitu?"


"Aku pasti akan menjagamu, tetapi..."


"Tenanglah.., kau tak perlu khawatir, Mercia aku sudah sedekat ini dengan apa yang selama ini aku cari, aku harus melewati ini."


"Apa kata Sonja?"


"Dia tidak mengatakan apapun. bagaimana juga akulah pengambil keputusan untuk kami berdua."


"Bisa aku bicara dengannya."


"Tentu saja."


Sylvana memejamkan matanya, ketika membukanya kembali mata itu berwarna merah.


"Apa yang ingin kau bicarakan?"


"Sonja, walau kau membenciku, aku ingin kau menjaga Sylvana dari dalam sana, apakah kau bersedia?"


"Aku tidak membencimu, aku hanya muak melihatmu."


"Hah, kau kasar sekali, aku ingin berteman denganmu, aku ingin mentraktirmu makanan paling enak."


Pandangan Sonja yang terlihat acuh, kini menatap August dengan serius, "aku ingin makanan yang banyak."


"Kau boleh makan sepuasmu."


"Aku ingin baju baru, baju pilihan Sylvana seperti nenek tua aku malu memakainya."


"Jangan mengatakan itu kau membuatku malu di depannya."


"diamlah Sylvana, aku sedang bernegoisasi dengan pacarmu ini."


August bersusah payah menahan tawanya melihat wanita berbicara sendiri di hadapannya dengan dua sifat berbeda.


"Mengapa kau bilang aku seperti nenek tua padanya."


"Karena pakaianmu, membuatku sulit mendapatkan pacar?"


"Kita ini satu tubuh Sonja, tidak mungkin punya dua pacar mereka akan saling berkelahi."


"Biarkan saja mereka saling membunuh kita akan lihat pacarmu ini atau pacarku yang lebih kuat."


"Hey.. Sonja aku sedang bicara padamu, aku akan memenuhi semua permintaanmu bila kau menjaganya." kata August menghentikan pembicaraan mereka berdua yang sudah semakin absurd.


"Baik akan aku lakukan."


"Sekarang aku ingin bicara kembali dengan Sylvana."


Sonja memejamkan matanya, Sylvana pun kembali setelah membuka matanya.


"Apa kau mendengar semuanya?"


August tersenyum mengangguk.


"Ya ampun." Sylvana menepuk keningnya tertunduk menahan malu.